MIRNA

MIRNA
episode 189



Tubuh Yanti melesat karena dipaksa oleh Nini Maru yang bersemayam didalam raganya.


Ia ingin menerkam tubuh Angkasa dan membalas semua perbuatan bocah tersebut. Namun tanpa sadar sebuah hempasan selendang membuatnya terpental, dan tiba-tiba saja Mirna muncul, lalu meraih tubuh Angkasa dengan cepat.


Sementara itu, Yanti tehempas ditembok pagar rumah Satria, dan membuatnya meringis kesakitan.


Saat bersamaan Satria keluar dari rumah dan melihat apa yang terjadi.


Melihat kehadiran Satria, Yanti merasa sangat malu dengan kondisi tubuhnya saat ini. Ia segera memaksa Nini Maru agar segera pergi meskipun tubuhnya penuh luka dan benjolan bertambah parah akibat lemapran batu bata dari Angkasa tadi.


Saat Satria ingin mengejarnya, terdengar suara Bu Ratna yang meminta bantuan dan itu membuat Satria bergegas ke rumah Bu Ratna untuk melihat apa yang terjadi.


Setelah mendapati Bu Ratna yang menangis karena Raisya semakin mengerang kesakitan, akhirnya Satria dengan cepat mengeluarkan mobil dari garasi, dan terpaksa menggendong Raisya ke dalam mobil dan ditemani oleh Bu Ratna menuju puskesmas


Sementara itu, Mirna membawa Angkasa kembali masuk kedalam rumah dan memintanya untuk masuk ke kamar dan tidak lagi berkeliaran di luar.


Di sisi lain, Yanti nangkring di dahan pohon. Kepalanya yang benjol terkena lemparan batu bata dari Angkasa membuat kulitnya yang penuh luka borok itu terkelupas dan memperparah buruk wajahnya. Ia sangat malu saat terlihat oleh Satria saat tadi.


Ia masih terus menggaruk rasa gatal tersebut, dan semakin membuatnya semakin buruk saja.


Satria terus menyetir dan membawa Raisya ke puskesmas. Sesampainya di sana, para staf memberikan sambutan yang cepat, dan ranjang troli terus datang menyambut tubuh Raisya.


Saat itu, Satria melihat jin Qorin Syafiyah menatapnya disana. Ia terlihat tersenyum kepada suaminya, sebab kini Samudera sudah tumbuh menjadi anak yang baik dibawah asuhan Mirna, sesaat jin Qorin Syafiyah menghilang.


Setelah memastikan Raisyah ditangani dengan baik oleh tenaga medis, maka Satria bergegas pergi dan kembali ke rumah.


Ditengah perjalanan menuju pulang. Ia melihat sekelebatan bayangan hitam menuju sebuah perkebunan jagung. Satria melihat jika disana akan terjadi sebuah petaka. Satria tak menduga jika masih ada saja warga yang tidak juga merasa takut akan berbuat maksiat, meskipun sudah berulang kali terjadi peristiwa yang mengerikan dan peringatan yang berulang kali.


Namun tampaknya naluri hasrat membuat manusia gelap mata.


Satria mempercepat laju mobilnya, Ia harus segera sampai ke rumah dan mencegah peritiwa itu jangan sampai terjadi.


Sedangkan kelebatan bayangan hitam yang tak lain adalah Rey, merasa mendapatkan satu mangsa yang sangat ditunggunya.


Dua remaja yang sedang kasmaran dan dimabuk cinta berhasil kabur dari jendela kamar karena sudah hampir sebulan tidak bertemu akibat aturan dan juga pengawasan orang tua agar menjaga para putera dan puteri yang ada didesa ini supaya tidak berbuat kemaksiatan.


Namun masa pubertas yang membuat rindu mereka terpendam karena terhalang aturan desa saat ini memaksa keduanya mencuri cara untuk dapat bertemu dan bercinta.


Dan naasnya ialah mereka ternyata telah melakukan pacaran tidak sehat dengan berbuat maksiat sebelum aturan desa ditetapkan.


Hal yang pernah mereka lakukan sebelumnya, mendorong naluri hasrat mereka untuk tersalurkan kembali, hingga membuat mereka ingin mengulangi dosa yang sama.


Saat Rey akan menemui sepasang remaja yang sedang melepaskan rindu dengan cumbu rayu mereka, tiba-tiba Yanti muncul dihadapannya dengan wajah yang semakin hancur dan aroma amis beserta anyir yang membuat siapa saja akan merasa mual jika melihatnya.


Nini Maru yang bersemayam ditubuh Yanti menatapnya marah dan mencegah Rey untuk memberikan cairan madunya kepada Yanti agar dapat mengurangi rasa gatal dan perih yang kini menyiksa wanita setengah iblis tersebut.


Kekuatan Nini Maru memaksa Rey harus mengikuti perintahnya.


Namun karena Ia tidak berhasrat dengan Yanti, Ia tidak juga membangunkan senjatanya, dan dengan geram Nini Maru mencengkram erat senjata Rey dengan mengeluarkan kuku runcingnya hingga membuat makhluk itu terpekik kesakitan.


Disisi lain, Satria melepaskan raganya, dan menuju kepada sepasang remaja yang sedang dimabuk asmara terlarang tersebut.


Dengan menggunkan kekuatannya, Satria menghampiri sepeda motor milik remaja putera yang masih duduk dibangku SMA tersebut, dan menyalakan mesinnya serya menarik tali gasnya hingga menimbulkan suara yang mengagetkan sepasang remaja itu.


Melihat motornya hidup sendiri, seketika mereka membeliakkan matanya, lalu membenahi pakaiannya dan ngacir meninggalkan lokasi tempat mereka memadu kasih terlarang, bahkan meninggalkan motornya.


Disisi lain, Rey masih mengerang kesakitan karena paksaan yang diberikan oleh Nini Maru kepadanya.


Yanti berupaya membangkitkan senjata yang melehoi tersebut. Namun semua usaha mereka sia-sia, dan akhirnya Nini Maru melayangkan tendangan kepada Rey hingga terpental jauh.


Nini Maru merasa sangat kesal, lalu Ia mencari Kakek Nugroho yang juga menghilang beberapa hari ini.


Seketika Ia merasa sumringah, saat melihat sabg genderuwo ternyata sedang bercinta dengan Lela.


Dengan memaksa raga Yanti, Ia melesat menuju warung Lela yang kini sudah tutup suasana larut malam.


Ia sengaja menunggu momen saat Genderuwo itu mencapai puncaknya dan akan menyerobot cairan milik makhluk iblis berbulu tersebut.


Namun kehadiran Nini Maru tercium oleh Genderuwo. Tanpa menunggu lama, Ia menyudahi percintaannya dengan Lela tanpa pelepasan, lalu menghilang secepatnya sebelum Nini Maru sempat mendapatkan apa yang diinginkannya.


Seketika Nini Maru tersentak kaget karena genderuwo itu berhasil melarikan diri dan tak sempat Ia mengejarnya.


Saat bersamaan, kuntilanak kuning sang kuntil yang mati karena patah hati, melihat peristiwa tersebut.


Dengan cepat Ia tertawa sembari mengejek penderitaan Yanti saat ini, dimana para makhluk iblis itu tidak ada yang sudi dengan tubuhnya yang penuh borok dan kudis tersebut.


Melihat kuntilanak kuning menyertawakannya, Yanti merasa sangat kesal. Ia mengambil sebuah sendal dan melemparkannya kepada kuntilanak kuning yang tengah mentertawakannya.


Dan dengan tepat sendal itu masuk kedalam mulut kuntilanak kuning yang membuat kuntilanak itu terdiam sejenak.


Bebera saat kemudian, kuntilanak kuning meraih sendal yang menyumpal dimulutnya, lalu kembali melemparkannya kepada Yanti, dan tepat mengenai benjolan yang tadi dilempar Angkasa menggunakan batu bata.


Seketika kedua mata Yanti membola dan merasa tidak terima dengan apa yang dibuat kuntilanak kuning tersebut.


Lalu dengan cepat kuntilanak kuning melesat pergi sebelum tertangkap oleh Yanti.


Yanti memaki kuntilanak kuning yang kini sudah kabur terlebih dahulu, dan tentunya dengan meninggalkan suara gelak tawa yang semakin membuat Yanti merasa sangat kesal.


Yanti mendenguskan nafasnya dengan kesal, Ia merasa bingung kemana harus mencari tumbal janin dan ****** ***** yang serupa dengan Rey.