RICH MAN

RICH MAN
AKU PEDULI



"Karena aku peduli sama kamu, bagaimana mungkin kamu mendapat perlakuan seperti ini? Kamu hanya diam, kamu anggap aku ini apa?"


"Rey, maksud aku bukan kayak gitu. Aku enggak pernah mau libatin orang lain ke dalam hidup aku,"


"Orang lain? Kamu anggap aku orang asing dalam hidup kamu gitu?" suara Rey meninggi. Bintang menunduk lesu, di dalam mobil keduanya terus saja ribut dengan masalah yang sedang dihadapi oleh Bintang.


Bintang melirik sesaat dan mendapati Rey mengeratkan rahangnya, tidak pernah ia temui Rey yang seperti ini, dalam diamnya, ingin sekali merasa baik-baik saja dengan Reynand, tapi lelaki itu justru terdiam yang membuat Bintang mengurungkan niatnya untuk meminta maaf lagi.


Bintang menatap ke arah luar sambil menyenderkan punggungnya, begitu pahit yang dia rasakan semenjak kepergian mama kandungnya dan harus dipaksa menerima mama tirinya di rumah itu. Hampir saja air matanya terjatuh, Bintang menoleh ke tangannya saat Rey menggenggamnya erat.


"Jangan sembunyikan apa pun lagi dari aku, kamu harus cerita!" ucap Rey dengan suara parau. Bintang mengangguk pelan dan membalas genggaman Rey.


'Jangan pergi dari sisiku sekalipun ada orang yang baru hadir ke dalam hidupmu. Mungkin kelak akan kamu temukan seseorang yang jauh lebih pantas dibanding aku, bukan inginku untuk menjadi yang istimewa. Tetapi tolong kuatkan aku saat tak ada satupun tangan yang mampu menopangku dari rasa sakit ini, aku membutuhkanmu, untuk selalu berada di sisiku.'


Bintang berusaha menampilkan wajah cerianya. Menahan sakit yang dia rasakan dibahunya, itu memang sangat perih, apalagi setelah diobati tadi. Rasa syukurnya masih ada orang yang peduli dengannya walaupun itu adalah teman sekelasnya sendiri.


"Kita pulang ke rumah aku, nanti aku jelasin ke Mama,"


Bintang terkejut mendengar ucapan Reynand. "Enggak, Rey. Yang ada aku mendapatkan masalah yang lebih besar lagi kalau kamu bawa aku ke sana,"


"Lalu apa jalan keluar dari semua ini,"


"Kamu hanya perlu nunggu kabar dari aku,"


"Janji enggak bakalan main rahasia lagi?"


"Aku janji,"


Mereka telah tiba di depan rumah Bintang, sejenak mereka berdua mengobrol, malam sudah mulai larut, Rey membawanya ke klinik untuk mengobati lukanya, dan kini mereka berdua telah kembali ke rumah Bintang.


Rumah yang besar, namun nampak begitu sepi.


"Yakin bakalan baik-baik saja?"


Bintang yang tadinya mau keluar dari mobil Rey mengurungkan niatnya, ia menoleh dan berbalik menghadap Reynand. "Percaya sama aku," Bintang keluar begitu saja. Ia berpamitan kepada temannya dan hendak melenggang menuju dalam rumah.


"Bintang!" Panggil lelaki itu.


Bintang menoleh sesaat. "Ada apa?"


"Enggak ada, selamat istirahat!"


Lelaki dengan rambut rapi kedepan dan juga senyum khas yang menenangkan bagi Bintang. Pertama kalinya menemukan seorang lelaki yang peduli terhadap hidupnya, apalagi bereaksi yang sangat berlebihan ketika dirinya mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari mama tiri dan juga kakak tirinya.


Tidak semua orang mampu memberikan perhatian dengan tindakan. Terkadang orang hanya ingin tahu dan terlihat simpati, lalu tidak peduli dengan hidup orang lain pula. Setiap orang memiliki cara pandang hidup masing-masing. Berusaha untuk percaya pada orang lain juga tidak ada salahnya, akan tetapi harus lebih hati-hati lagi dalam memberikan kepercayaan pada orang lain.


Tetapi pada Rey, Bintang ingin memberikan kepercayaan itu sepenuhnya.


Bintang masuk ke dalam rumahnya dan mendapati papanya yang sedang duduk di ruang tamu bersama mama dan juga kakak tirinya. "Kamu ke mana?"


"Bintang keluar bentar, Pa," ucapnya pelan sambil duduk di sofa bersebrangan dengan papanya.


"Pundak kamu kenapa ada darah?"


Bintang menoleh ke arah mama tirinya, jika mengadu, percuma saja karena papanya akan jauh lebih percaya dengan mama tiri dibandingkan dengan Bintang sendiri. "Ini, tadi Bintang nemuin orang di jalan kecelakaan, Pa. Terus aku bantuin,"


"Orangnya selamat, Pa. Cuman kekurangan darah,"


"Tuh Ulfa, Bintang itu baik selalu bantuin orang," ucap mamanya. Bintang merasa miris setelah mama tirinya berkata demikian.


Suasana kembali diam dan saat Bintang ingin berpamitan kepada papanya, "Jauhi Reynand!" Bintang menoleh ke arah mama tirinya. Ada apa dengan Reynand? Mengapa Mama tirinya memintanya untuk menjauhi lelaki itu?


"Rey siapa?" tanya papanya.


"Papa enggak tahu, Rey anaknya Azka, pengusaha terkenal itu?"


"Yang istrinya desainer dan punya beberapa butik ternama itu?"


"Iya, anak kamu dekat sama dia, yang harusnya dekat sama anak itu, Ulfa, Pa. Bukan Bintang,"


"Kan enggak ada salahnya,"


"Mama enggak suka, Papa enggak tahu apa kalau diam-diam Ulfa suka sama Rey,"


Bintang pergi begitu saja, dia tidak peduli lagi dengan perintah mama tirinya. Tapi saat itu juga tangannya ditarik oleh Ulfa, "Apalagi sih?"


"Dengar kata Mama enggak, sih?"


"Terserah,"


"Bintang! Sejak kapan kamu berani melawan sama orang yang lebih tua?" bentak papanya. Bintang menatap ke arah papanya karena pertama kali dia dibentak seperti itu, dia yang dulunya mendapatkan kasih sayang dengan begitu baik justru sekarang ini sedang berhadapan dengan orang lain, bukan lagi papanya yang dulu. Semenjak kehadiran mama tirinya, Bintang merasa seolah asing di keluarga itu.


Harusnya dia juga ikut pergi bersama dengan mamanya waktu itu, bukan bertahan dengan kemewahan akan tetapi tidak mendapatkan kasih sayang seperti yang biasa dia dapatkan dari kedua orang tuanya seperti dulu. Jika saja bukan karena paksaan dari papanya, tentu saja dia sudah pergi bersama mamanya dan pergi jauh dari pria yang sekarang di hadapannya.


"Pa," ucapnya lirih.


"Mau ngelawan, Papa?"


Bintang kesal, ingin sekali memaki. Tetapi dia memilih diam karena tidak ingin mamanya berada dalam masalah jika melawan terhadap papanya. Waktu itu Bintang mengingat bahwa pesan mamanya adalah, dia harus berbakti kepada papanya apa pun yang terjadi.


Bintang tidak ingin terlihat cengeng didepan mama tiri dan juga kakak tirinya, jika saja dia menangis saat itu, tentu saja mereka berdua akan sangat senang untuk menyiksa Bintang lebih kejam lagi.


"Papa, aku boleh minta sesuatu?"


"Apa?"


"Aku boleh minta apartemen ke Papa? Aku bakalan hidup mandiri, Pa,"


"Enggak betah di rumah? Padahal kamu bisa jalan-jalan sama kakak tiri kamu, kenapa minta apartemen?"


"Aku pengin mandiri, Pa. Enggak apa-apa kok kalau pakai pengawal, yang penting aku boleh tinggal sendirian, aku mau fokus belajar. Sebentar lagi kenaikan kelas, Pa,"


"Besok, Papa pasti bakalan turuti, Nak. Sekarang lebih baik kamu bersihkan badan kamu dari darah itu. Terus istirahat, besok kita omongin lagi, sayang."


Bintang mengangguk, berharap papanya menuruti kemauannya untuk pindah ke apartemen. Sejujurnya dia ingin menghindar dari mama tirinya dan juga kakak tirinya. Berat meninggalkan papanya, tetapi bagaimana lagi jika ia terus mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang tua yang begitu asing baginya.


Dia tidak ingin berlaru-larut dalam kesedihan, barangkali dia juga bisa bertemu dengan mamanya jika tinggal di luar.


Like ya. Author bakalan crazy up kalau banyak yang like 😁