RICH MAN

RICH MAN
MENDUGA



Oma yang tengah duduk di teras depan sambil merajut kaos kaki untuk cicitnya nanti. Aktivitasnya sekarang ini hanya duduk di rumah bermain dengan Clara yang memilih tinggal di rumah setelah dia memutuskan berhenti tinggal di apartemennya.


Tiba di sana, Clara langsung memeluk dan mencium Omanya. “Kamu tuh masih aja suka gangguin Oma,”


“Ayo tebak aku bawa siapa?”


“Paling yang dua itu,”


Marwa pun berjalan pelan dan Oma memasang kaca matanya. Dia berjalan ke arah Marwa karena begitu senang bertemu dengan istri dari cucu kesayangannya itu. Dia langsung memeluk Marwa dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.


“Oma apa kabar?” tanya Marwa dan bersalaman langsung kepada perempuan paruh baya itu.


Usianya lebih dari setengah abad. Dan kini penglihatannya sudah mulai kabur. “Rey mana?”


“Kak Rey lagi sibuk sama urusan kerja, Oma. Biasalah,” timpal Salsabila yang di sana memang mengerti dengan kesibukan kakaknya yang selama ini jarang bisa pulang ke rumah. Tidak seperti janjinya pada waktu itu yang akan menemani mereka berdua ke manapun mereka mau. Justru waktu Rey tidak pernah ada lagi untuk saat ini.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah dan langsung mengajak Marwa duduk di ruang keluarga. Sementara Oma melanjutkan aktivitasnya menyelesaikan rajutan kaos kaki untuk anak Marwa nantinya.


“Oma mau buat apa?”


“Kaos kaki untuk anak kamu,” jawabnya dengan senyuman. “Ngomong-ngomong orang tua kamu sehat-sehat aja, kan? Mama kamu udah pulang dari rumah sakit?”


“Udah, Oma. Beberapa hari lalu aku juga di sana untuk rawat dia,”


“Terus kandungan kamu bagaimana? Baik-baik aja, kan? Jangan sampai kamu nggak peduli sama kandungan kamu hanya karena urusin Mama kamu di sana,”


“Aku selalu jaga kandungan aku Oma,”


“Oma nggak bermaksud ngomong jelek ya sayang. Tapi Mama tahu betul kamu seperti apa, ingat waktu suami kamu sakit, kamu malah nggak makan, sampai Mama mertua kamu khawatir sama kandungan kamu waktu itu,”


“Karena aku khawatir Oma,”


“Khawatir boleh aja, Oma nggak pernah larang kamu khawatir sama suami kamu. Tapi ingat kamu lagi hamil. Dia juga butuh asupan yang baik,”


Selama berada di rumah mertuanya waktu itu. Rey pernah demam, bahkan semalaman dia menunggu Rey untuk menjaga suhu badan suaminya. Akan tetapi dia lupa terhadap kehamilannya yang waktu itu baru saja berusia beberapa minggu. Dan kekhawatiran mertuanya pun berlanjut, hingga pada akhirnya untuk pertama kalinya memarahi Marwa karena tidak makan seharian.


Dia ingat bagaimana rasa sayang mertuanya saat itu juga. Merasa seperti di sayangi oleh keluarga barunya. Dia pun bersyukur karena telah memiliki keluarga baru seperti keluarga suaminya itu.


“Kamu ajak ke kamar ya. Pasti capek banget, dia juga butu istirahat. Nanti siang Oma bangunin untuk makan siang sayang,” ucap omanya. “Oma mau kelarin rajut ini dulu,”


“Opa mana Oma?”


“Apalagi yang dilakukan sama Opa kamu selain mancing coba,”


“Pergi sama siapa?”


“Sama Pak Maman, tadi dia ngajakin Pak Maman pergi,” Maman merupakan sopir yang mengabdi sejak Azka pergi dari rumah itu. Dan hingga sekarang, pria yang telah memiliki cucu itu masih mengabdi kepada keluarganya.


Marwa berpamitan karena diperintahkan oleh omanya. Beberapa saat kemudian Naura keluar dari kamarnya. “Loh ada si kembar?”


“Tante,” panggil keduanya kemudian bersalaman.


“Tadi tante dengar suara Marwa. Dia di mana?” tanya Naura kepada putrinya yang di sana sedang menemani si kembar dan juga mamanya.


“Kak Marwa di suruh istirahat sama, Oma,”


Dengan sedikit keberanian walaupun pada awalnya dia begitu takut untuk menceritakan itu, akhirnya Nabila menarik bahu Clara dan membisikkan sesuatu yang dia lihat di ponsel kakaknya. Clara yang mendengar itu langsung mengajak adik sepupunya masuk ke kamar untuk informasi yang lebih lengkap lagi.


Setibanya di kamar, Salsabila yang ikut juga ke sana karena diajak oleh Clara. Dia pun mengunci pintu kamar itu dan langsung menanyakan tentang kejelasan apa yang dilihatnya di ponsel Rey beberapa waktu lalu.


“Terus, apalagi yang Nabila lihat?”


“Fotonya tuh gini,” ucap Nabila sambil memperagakan pose yang dilihatnya di ponsel kakaknya. Nabila mempraktikan itu dengan Salsabila dan langsung membuat Clara berpikir yang tidak masuk akal mengenai kakaknya.


“Terus Mama sama Papa tahu?”


“Nabila menggeleng, “Nggak, waktu itu aku sama adik lihat waktu main game, ya kan dek,” tanya Nabila memastikan bahwa apa yang dilihatnya itu memang benar. “Tapi Mama bilang nggak boleh ikut campur urusan orang dewasa,”


“Terus Mama bilang apalagi?”


“Pokoknya Mama nggak bolehin kita ngurusin hal begituan, Kak Clara,”


“Tapi ini juga kan nggak bisa dibiarin, kalian kenal siapa perempuan itu?”


“Nggak, tapi kalau nggak salah namanya itu, Alin terus ada tanda love gitu disebelah namanya,”


“Yang benar saja?”


Clara tahu bahwa tidak mungkin kedua adik sepupunya itu mengada-ngada. Bahwa sebenarnya Rey sedang bermain dengan beberapa perempuan di luaran sana untuk menyembunyikan semua permasalahan yang ada. Begitu rapinya dia menyembunyikan semua itu dari istrinya. Bahkan Clara tidak pernah menyangka bahwa kakak sepupunya akan berlaku seperti itu.


Atau barangkali, Rey izin pergi ke luar negeri berlibur dengan perempuan yang bernama Alin itu. Nabila baru ingat bahwa nama perempuan itu adalah Alin. Ketika dia hendak memberitahu mamanya, akan tetapi mamanya justru tidak memperbolehkan mereka ikut campur dalam urusan orang dewasa.


Suatu kejahatan yang paling hina adalah berkhianat. Maka bagi siapa saja yang melakukan pengkhianat, dia adalah orang yang tidak bisa lagi dipercayai. Apalagi telah mengkhianati janji sendiri. Mengingkari apa yang telah diucapkan. Dan mulai berbohong demi kelancaran rencana untuk menghancurkan masa depannya.


Sebuah pesan masuk diponselnya, Clara yang saat itu sedang mendengarkan cerita adik sepupunya terkejut ketika Leo menanyakan posisi Marwa di mana. Tidak biasanya kakaknya akan bertanya seperti itu apalagi mengenai istri kakak sepupunya. Pesan itu membuat Clara langsung menjauhkan ponselnya dari kedua adik sepupunya saat yang dua itu hendak mengintip isi pesan Leo.


Rey yang memiliki paras tampan, tidak heran jika banyak perempuan yang rela menjadi yang kedua karena kebaikannya. Kadang terlalu baik kepada seseorang bisa membuat orang lain salah mengartikan kebaikan itu. Bisa saja dia yang menganggap kebaikan itu adalah suatu hal yang istimewa dan akan menganggap bahwa kebaikan orang itu hanya dilakukan kepadanya. Kemudian berniat untuk memiliki tanpa peduli bahwa yang ingin dimiliki itu adalah milik orang lain.


“Ah, kalian tidur dulu ya! Nanti kakak bakalan balik lagi. Kakak ada urusan sebentar sama Kak Leo, jadi kalian di sini. Nanti pulangnya kakak bawain makanan,” ucap Clara kemudian pergi begitu saja dari kamarnya dan berlari melewati anak tangga bahkan dia melompati beberapa agar segera sampai di lantai dasar.


“Ya ampun Clara, kamu kayak orang kejar maling, tahu nggak,” protes omanya. Akan tetapi Clara tidak mempedulikan itu.


“Oma, Mama aku pergi bentar. Kak Leo nungguin diluar, aku pergi sebentar aja,”


Dia membaca pesan tadi karena ada yang mengatakan bahwa seseorang melihat Reynand berjalan dengan seorang perempuan dan berani bermesraan di depan umum. Clara berlari dengan terengah-engah hingga mobil. Dia masuk begitu saja dan membiarkan pria itu mengendarai tanpa berucap apa-apa.


“Kakak yakin itu Kak Rey?”


“Kamu pikir kakak nggak punya orang yang bisa dipercaya? Kakak sudah muak dengan tingkah dia. Apalagi sekarang ini? Apa dia nggak bisa sedikit saja menghargai perasaan istrinya,”


Clara ingat bahwa Marwa bilang kalau Reynand akan pergi ke korea selatan.


“Kakak, aku baru ingat kalau tadi Kak Marwa bilang Kak Rey mau ke korea selatan,”


“Nah benar berarti,”


“Teman kakak lihat Kak Rey di mana?”


“Di bandara. Dia baru pulang nugas dari luar kota. Jadi dia langsung hubungi kakak begitu dia lihat Rey,”


“Kakak jangan kebut! Ingat sama keselamatan,”


“Clara, ini nggak bisa dibiarin gitu aja. Kak Rey sudah berani bermain seperti ini. Apalagi dia mesra sama perempuan lain, teman kakak bilang kalau dia itu gandeng tangan perempuan itu, dan si perempuan tadi berpegangan pada pinggul Rey,”


Gadis itu tidak salah lagi dengan ucapan Nabila yang tadi menceritakan mengenai perempuan asing yang tiba-tiba hadir dalam rumah tangga Reynand dan juga Marwa. Apalagi di saat istri kakak sepupunya itu tengah hamil. Justru kakak sepupunya berlaku seperti orang yang tidak bisa menghargai hati istrinya.


Setibanya di bandara, mereka menerobos masuk meski sudah dilarang, akan tetapi mereka tidak menggubris sedikitpun perintah penjaga di sana. “Tolong, Pak. Ini sangat penting,”


“Anda mencari tujuan mana?” tanya penjaga siang itu.


“Korea,”


“Jakarta menuju Seoul sudah berangkat 2 menit yang lalu,”


Leo dan juga Clara langsung menjambak rambutnya. “Bajingan itu benar-benar sudah kelewatan,” ucap Leo yang tidak bisa lagi menjaga ucapannya di sana.


“Ayo pulang kak, nggak ada gunanya kita di sini,”


Leo emosi dan benar-benar tidak bisa menahan emosinya ketika Reynand sudah berani pergi ke luar negeri bersama dengan perempuan lain.


Hingga pada akhirnya Leo mengajak Clara ke kantor Reynand.


Satu jam lebih diperjalanan, keduanya tiba di sana. Tanpa berpikir panjang lagi, Leo langsung masuk ke dalam ruangan dan mencari keberadaan sekretaris dan juga beberapa orang penting yang menjadi tangan kanan Reynand.


“Maaf, Pak. Kami tidak bisa memberikan laporan keungan kepada Bapak,”


“Kenapa, Hah? Kalian mau saya pecat hari ini juga? Kalian mau saya buat jadi pengangguran semuanya, jangan pikir saya nggak bisa hancurkan perusahaan ini dalam sekejap,”


Kemudian satu orang langsung memberikan map itu kepada Leo. Melihat hasil kerja Rey selama ini apakah benar-benar sesuai dengan apa yang terjadi saat ini atau justru menurun.


Leo tersenyum sinis ketika melihat laporan itu. Keuangan perusahaan Rey cukup membaik dari sebelumnya. Akan tetapi dia tidak tahu bahwa selama ini kakaknya bermain dengan perempuan. “Sekretaris mana yang pergi sama Rey ke Korea?”


Mereka semua terlihat seperti orang kebingungan. “Bukan sekretaris, tapi itu sepertinya adalah pacarnya Pak Rey. Secara mereka nggak pernah malu memperlihatkan kemesraan. Kalau kita mau protes, yang ada dipecat,” ucap salah satu perempuan yang berkata tanpa menyaring semuanya hingga mereka semua memandangi satu orang itu. Termasuk Leo.


“Sejauh mana yang kalian tahu kalau direktur kalian sering bawa perempuan ke sini?”


“Itu sih perempuan yang selalu ngasih dia kerjaan, Pak. Dia nggak selingkuh kok, setahu saya setiap kali ada proyek besar. Nah perempuan itu ngasih ke dia,” ucap sekretarsinya.


Clara menarik Leo. “Mungkin kita sudah salah paham sama kak Rey,” bisik Clara.


 


 


Mendengar penjelasan dari sekretaris Reynand membuat Leo sedikit lebih tenang dari biasanya. Tadinya dia mengira bahwa kakaknya itu benar-benar berkhianat dan sudah keterlaluan kepada istrinya. Tetapi mendengar penjelasan barusan, Leo sadar bahwa emosinya yang terlalu tinggi membuatnya salah paham dengan itu semua.