RICH MAN

RICH MAN
TENTANG RASA



Dua hari perjalanan karena mereka terlalu sering beristirahat. Akhirnya mereka berenam tiba di puncak Rinjani. Di sana begitu jelas terlihat semua pemandangan. Bahkan mata sudah dimanjakan dengan keindahannya semenjak mereka tiba di sana. Mereka tiba sore menjelang magrib dan mendirikan tenda langsung di sana.


Tugas memasak diambil alih oleh para perempuan dan tugas ketiga lelaki itu adalah mendirikan tenda dan juga menyalakan api unggun untuk jaga-jaga karena dinginnya malam. Di sana selalu saja tampak ramai. Tenda-tenda yang terang dan terlihat begitu sangat indah pada malam hari. Apalagi pada saat bulan purnama. Puncak dari segala keindahan. Nampak bintang-bintang juga berkelip dan jaraknya terlihat sangat dekat bahkan bisa dilihat dengan mata telanjang bahwa cahayanya yang jauh lebih terang dibandingkan jika hanya melihat dari tempat biasa. Dengan ketinggian 3000 meter lebih. Tidak salah jika lelah itu terbayar dengan keindahan yang mereka nikmati malam itu.


Sebelumnya, tadi ketika mereka hendak sampai. Kaki Jenny terkilir dan harus di papah oleh Fendi, barang-barang itu pun menjadi dua kali lipat menjadi beban untuk Bayu dan juga Reynand. Karena terjatuh saat mereka hendak sampai tadi. Kaki Jenny terpeleset dan akhirnya jatuh, mengakibatkan gadis itu terkilir dan dipapah oleh kekasihnya.


Setibanya di puncak. Mereka membuat tenda, dan setelah selesai. Jenny dibiarkan beristirahat untuk menghilangkan lelahnya, apalagi gadis itu baru saja diurut hingga menangis oleh salah seorang pengunjung di sana. Akan tetapi keadaan gadis itu lumayan membaik dan tidak separah ketika mereka tiba tadi.


"Rey, Bintang mana?"


"Ada di tenda, memangnya dia mau ke mana coba?" tanya balik kepada Bayu yang sedang menikmati mi instan untuk mengisi perutnya malam itu. Rey duduk di dekat api unggun sambil minum cokelat panas dan menghangatkan tubuhnya dari dinginnya malam yang begitu menusuk bahkan rasanya wajah Reynand membeku karena dingin.


Di sana begitu banyak yang tengah asyik dengan teman-temannya mulai dari bermain gitar, bermain tebak-tebakan untuk menantikan puncak keindahan malam nanti yang di mana bulan akan begitu nampak jelas tepat di atas kepala mereka. Mereka tidak salah ketika menghitung hari dan puncaknya malam itu, malam bulan purnama. Semua sudah bersiap-siap menunggu, namun tadi yang tidak dilewatkan adalah ketika senja sore tadi. Itu merupakan pemandangan yang sangat indah. Diam-diam tadi Reynand mengambil foto Bintang dengan kamera yang sengaja dia bawa. Gadis dengan baju hitam dan juga celana hitam panjang. Ditambah dengan rambut yang dibiarkan terurai, langit oranye dibagian barat itu menandakan hari akan mulai gelap. Dia menyimpan kameranya lagi setelah berhasil mengambil foto tadi.


"Bintang lagi duduk sama orang lain, Rey," Fendi datang memberitahukan hal itu kepada Reynand yang tengah asyik bersama dengan Bayu. Antara percaya atau tidak percaya, karena dia tahu bahwa sikap Bintang yang pemalu itu sangat tidak meyakinkan bagi Reynand untuk tidak percaya.


"Kayaknya lo enggak percaya banget sama gue?"


Rey hanya membalas dengan senyuman. Dia masih tetap berada di dekat api untuk mencari kehangatan. "Mending lo lihat sendiri, deh!"


"Di mana?"


"Dibelakang tenda mereka, di sana ada tenda cowok dan Bintang ngobrol di situ sama cowok,"


Rey bangun dari tempat duduknya. Semakin dingin, bahkan ketika dia mengembuskan napas pun sudah terlihat uap begitu jelas karena dinginnya malam itu. Rey membuktikan apa yang dikatakan oleh Fendi, melihat Bintang yang asyik bercanda dengan lelaki asing itu membuat dada Reynand sesak ketika melihat gadis yang begitu membuatnya kacau beberapa hari yang lalu kini sedang asyik dengan lelaki lain.


Rey tetap berdiri di belakang kedua orang itu. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya dalam-dalam. Tidak seharusnya dia merasakan sesak itu begitu sakit, karena Bintang sudah menolaknya. Tetapi setiap kali ia melihat gadis yang dia sayang itu bersama dengan lelaki lain. Rasa sakit yang dirasakan oleh Reynand kian menjalar ke seluruh tubuh.


Ia membiarkan Bintang mengisi hatinya berharap bahwa gadis itu adalah satu-satunya cinta yang dia cari dan dia jadikan sebagai orang yang akan menetap selamanya dalam hatinya. Tidak mencari lagi apalagi memberi kesempatan bagi gadis lain. Hatinya sudah memantapkan untuk membiarkan Bintang di sana.


"Rey, sejak kapan kamu di situ?" Bintang berdiri membersihkan celananya dan langsung menghampiri Rey. Sama dengan lelaki yang bersama dengan Bintang tadi. Lelaki itu pun menghampirinya dan mengulurkan tangan hendak memperkenalkan diri.


Bintang menggeleng, "Bukan, itu bukan pacar aku. Aku sama dia teman sekolah,"


"Lanjut ya, Bintang. Aku tadi mau panggil kamu doang sih, tapi karena lihat kamu sama orang lain. Ya udah dilanjutin gitu, maaf aku ganggu," Rey menampilkan senyuman terpaksa dan tetap terlihat seperti orang yang sudah menerima kenyataan tentang dirinya yang patah hati karena gadis itu.


"Rey, aku ikut," Bintang berlari dan bergelantungan di lengan kirinya. Lelaki itu tak bergeming dan tetap melangkah menuju api unggun yang di mana ada Rista dan juga Bayu.


"Fendi mana?"


"Lagi nyuapin si Jenny makan, udah bangun barusan. Jadi tuh orang lagi asyik berduaan,"


"Enggak usah dibiarin berduaan nanti macam-macam lagi," ucap Bayu yang membuat Reynand mengangguk.


"Macam-macam gimana? Tenda di buka gini, yakali gue mau berbuat aneh-aneh. Gue denger lo Bayu, yang ada nanti lo yang berbuat macam-macam sama Rista dengan segala kepolosannya yang kadang buat iman lo goyah," protes Fendi sambil melemparkan permen ke arah Bayu.


"Ada-ada aja sih kalian itu?" jawab Jenny.


Bintang dan Reynand tak sadar bahwa empat orang itu mengamati mereka yang tengah bergandengan. "Apa?" tanya Reynand saat mereka semua seolah ingin melemparkan pertanyaan dengan tatapan seperti itu.


"Hehehe, udah ada kode mau bareng?" ucap Fendi.


"Apanya?"


"Kalian gandengan,"


Rey dan Bintang segera menjauhkan diri dan langsung duduk terpisah begitu saja. Rasa canggung setelah tadi mereka bergandengan tangan membuat Reynand merasa dirinya sangat bodoh karena membiarkan Bintang menggandengnya dan membuat semua teman-temannya salah paham.


Rey sebenarnya hanya ingin meyakinkan perasaan mereka berdua, bukan ingin mengikat Bintang hanya dengan status itu. Dia ingin tahu apakah gadis itu juga memiliki rasa yang sama seperti dirinya atau tidak. Rey sendiri mengerti bahwa ucapan Bintang tadi itu sudah membuatnya paham bahwa cintanya memang bertepuk sebelah tangan dan barangkali akan menghindar. Setelah penolakan, mungkin Rey tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi. Teman-temannya meyakinkan bahwa Bintang memiliki rasa yang sama seperti dirinya, hanya satu cara untuk membuktikan hal itu. Yaitu dengan cara dekat dengan Widya, ingin mengetahui bagaimana respon Bintang nantinya jika dia dan Widya menjadi lebih dekat. Atau barangkali Rey akan menjadikan Widya kekasihnya hanya untuk membuat Bintang merasa cemburu. Dia butuh kejelasan perihal perasaan itu, dia ingin sekali meyakinkan gadis itu bagaimana perasaannya terbalas atau tidak.


'Jika memang perasaanku sama seperti yang kamu rasakan. Harusnya jauh-jauh hari saat kamu memiliki rasa yang sama itu, lebih baik kamu katakan, jika tidak juga harusnya kamu katakan. Jangan menggantungku dengan harapan yang semu ini. Barangkali aku berusaha untuk menggapaimu, kamu berusaha untuk pergi jauh dariku. Atau mungkin aku sedang mengharapkanmu, justru kamu merapalkan nama orang lain dalam doamu. Dan aku butuh waktu untuk bisa mengembalikan itu semua, tentang rasa yang tak terbalas belajar untuk ikhlas. Jika nyatanya bukan aku yang kamu pilih untuk menjadi seseorang yang istimewa memiliki tempat terindah dalam hatimu, maka aku persilakan kamu untuk pergi. Tetapi, tolong pikirkan baik-baik perihal perasaanku'