
Pukul empat sore, Rey mengucek matanya mencari kesadaran, Rey berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya, punggungnya terasa berat dan seketika menoleh, dia melihat Clara menjadikan punggungnya sebagai Bantal, perlahan Rey memegang kepala Clara dan menggantikannya dengan bantal, sedangkan di bawah kakinya ada Leo dan juga si kembar yang ikut tidur di atas karpet tempat mereka biasa berkumpul.
Mamanya sudah mengingatkan untuk tidur di kamar, tetapi Rey menolak karena Clara juga lebih nyaman tidur sdi sana.
Perlahan dia menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya, dia menemukan tante Naura sedang berbincang mengenai kehamilannya pada mama Rey. Lelaki itu ikut bergabung di ruang keluarga, semenatara papa dan juga om Reno sedang pergi untuk mengambil ikan pesanan mama Rey.
"Rey, kok bangunnya cepat?"
"Udah sore, tante,"
"Clara sama Leo masih tidur?"
"Masih," Rey duduk disebelah mamanya, dia masih setengah sadar dan menempelkan wajahnya ke bahu sang mama.
"Nagita, beruntung ya kamu punya Rey. Coba aja Leo dekat gitu sama aku, pasti aku juga bakalan perlakukan dia seperti Rey. Lihat, dia enggak malu nempel gitu sama kamu,"
"Sama Papanya juga masih sering gini, Naura,"
Rey masih bermanja pada mamanya, dia menyembunyikan wajahnya dibelakang baju mamanya sambil memeluk lengan sang Mama. Lelaki itu jika sudah seperti ini, maka itu artinya dia benar-benar ingin bermanja dengan mamanya. Kepalanya di elus perlahan oleh mamanya, Rey membuka mata dan masih dengan posisi menempel pada mamanya.
"Papa belum pulang?"
"Belum,"
"Oma mana?"
"Oma lagi tidur di kamar, Rey,"
"Om Dimas kapan ke rumah?"
"Katanya sih jam 5 nanti, dia masih ngajakin anak-anaknya liburan,"
Rey ber-oh ria. Dia beranjak dari tempat duduknya dan langsung menuju ke dapur. Rey membuat jus apel untuk tante Naura dan membuatkan jus nanas untuk mamanya. Rey menemukan bahan-bahan itu di dalam kuklas, mungkin mamanya sengaja menyiapka apel untuk tante Naura, karena perempuan itu sangat menyukai jus apel dari dulu. Rey menyiapkan itu dengan senang hati. Dan dia juga membuatkan dirinya minuman dan bisa ikut bergabung bersama dengan mama dan juga tantenya.
Beberapa menit kemudian Rey selesai membuat minuman dan menyajikan beberapa makanan ringan yang dibeli oleh mamanya tadi. ia membawa makanan itu ke ruang keluarga, yang di mana ada mama dan juga tantenya yang masih sibuk mengobrol. Rey tahu bahwa mamanya sangat dekat dengan Naura sejak dulu, kebaikan hati tante Naura yang bahkan pernah dipanggil Mama oleh Rey dahulu ketika dirinya tinggal di rumah Oma.
"Tante, minum dulu!" Dia menyuguhkan minuman itu dan disambut dengan senang hati oleh tante Naura.
"Nagita, apalagi yang kurang dari hidup kamu sih? Rey yang baik gini, apalagi ya dia itu nurut banget sama kamu,"
"Semoga saja dia akan tetap seperti itu, Ra. Kadang aku juga khawatir karena dia udah remaja, bakalan punya teman bergaul di sana, takut jika pergaulanya salah. Tapi Papanya selalu ngingetin, dia juga nurut, cuman kita enggak tahu di luar kan. Kita cuman bisa mengawasi anak-anak kita ketika mereka berada di dalam pengawasan kita aja, nah kalau sudah diluar, beda lagi ceritanya. Kadang banyak orang tua yang membela anaknya walaupun sudah salah, karena apa yang tidak kita lihat bisa saja terjadi,"
"Dengerin, Rey!"
"Iya, tante, aku dengerin kok mama ngomong apa. Aku bakalan berusaha untuk tidak mengecewakan kalian berdua, Ma. Papa juga bakalan aku jaga nama baiknya,"
"Rey, bagaimana dengan Widya? Perempuan itu masih gangguin kamu?"
"Widya siapa, Naura?"
"Widya, dia anak rekan bisnisnya Mas Reno sama kak Azka. Dan pertama, dia itu minta Leo buat jadi calon tunangan anaknya. Tapi Mas Reno nolak, dan sekarang minta Rey sih kayaknya,"
"Oh Widya yang itu,"
"Kamu tahu?"
"Iya Mas Azka pernah cerita tentang anak itu, aku mana setuju sih anak aku di jodohin, Ra. Enggak bakalan mau, kalau mau, Rey bisa cari sendiri. Aku enggak mau batasi Rey hanya karena pasangan, yang penting dia tetap jaga nama baik keluarga, dia enggak rusak nama baik keluarga. Yang penting dia bisa jaga diri lah,"
"Iya, Ma. Aku janji enggak bakalan ngecewain kok,"
"Rey, apa pun yang terjadi sama Leo, tolong bilang sama tante. Beberapa hari lalu dia dihukum sama Papanya karena dia bawa ke mana tuh duit,"
"Duit apa?" tanya mama Rey.
"Biasanya kalau Leo pengin beli barang-barang mahal atas lima juta, dia pasti minta aku yang bayarin. Cuman beberapa waktu yang lalu, dia di kasih jatah gitu sama Papa dia untuk sebulan,"
"Berapa?"
"Ya lumayanlah pokoknya, di atas lima puluhan. Cuman waktu aku cek, uangnya enggak ada sama sekali, dia bilang waktu itu kalau dia beli barang, tapi enggak ada sama sekali. Papanya enggak pernah masalah dia mau beli barang mahal, tapi harus ingat juga kalau Papa dia itu kerja juga buat kebutuhan lain, apalagi Papanya udah siapin untuk pendidikan di luar negeri, Rey sendiri mau lanjut kuliah di mana?"
"Kalau Rey sih terserah dia aja, Papanya enggak maksa banget dia mau kuliah di mana. Yang pentng Rey nyaman, Papanya enggak mau maksa Rey,"
"Mas Azka memang suami terbaik. Dia bahkan mikirin masa depan anaknya, Mas Reno kalau udah bilang A ya harus tetap A. Leo juga keterlaluan sih, Nagita. Dia memang hambur-hamburkan uang,"
"Yang penting Leo enggak ngelakuin hal yang salah tante, mungkin dia pakai uangnya untuk bantuin orang di luaran sana,"
"Kalau mau bantu, dia harus ngomong ke tante juga, Rey,"
"Itu menurut aku, tante. Aku sih enggak tahu apa yang terjadi sebenarnya sama Leo,"
Rey berusaha untuk menenangkan suasana, tidak ingin tantennya mempermasalahkan hal itu. Barangkali nanti dia bisa mencari tahu apa yang dilakukan oleh Leo dengan uang yang jumlahnya sangat banyak itu. Selama ini dia tahu bahwa sepupunya itu tidak pernah menghambur-hamburkan uang.