RICH MAN

RICH MAN
SUDAH CUKUP



Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi lebih. Reynand yang telat bangun tadi hanya sempat mandi dan bersiap-siap bahkan tidak ikut sarapan di meja makan bersama dengan orang tuanya.


Dia melahap roti yang sudah diolesi selai cokelat itu. setelah memakan dua lembar roti, lelaki itu minum susu dan bergegas bersalaman kepada kedua orang tuanya kemudian berlari keluar.


Nagita melihat anaknya yang terlihat buru-buru hanya menggelengkan kepala. Sudah berapa kali dia mengingatkan agar Reynand jangan melanjutkan tidurnya setelah subuh, anak it masih dengan kebiasaan buruknya.


Azka demikian, nampaknya dia terlihat kesal karena anaknya itu terus saja terlambat ke sekolah akhir-akhir ini. Setelah mengetahui bahwa sikap anaknya berubah karena ada kehadiran seorang gadis di hati anaknya, Azka berusaha memahami karena itu adalah hal yang tidak bisa dihindari oleh anak seusia Reynand.


Dia menatap ke arah suaminya, "Mas, Rey pacaran? Bukannya dia curhat?"


"Mulai panggil, Mas, nih?"


"Eh iya salah. Papa maksudnya, Rey curhat sama Papa, dia cerita apa?"


"Rey memang jatuh cinta, Ma. Tapi Papa enggak tahu itu perempuan siapa, kalau memang dia baik, ya udah terserah dia, cuman yang Papa enggak setuju itu, dia patah hati tapi justru diami kita semua, itu sikap yang enggak pernah Papa suka. Dia punya masalah sama orang, merembet sama keluarga, enggak pantas, Ma,"


Nagita mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Azka. Akhir-akhir ini sikap Reynand juga berubah karena setelah kejadian di mana anak itu meminta maaf. Nagita berusaha untuk mengerti keadaan Rey. Bahkan Azka sudah memperingatinya beberapa kali.


Beranjak dari tempat duduknya dan mencium kedua buah hati yang tengah ikut sarapan di sana. Azka mendekati istrinya dan mencium kening Nagita. "Papa berangkat,"


"Pa, bagi duit dong!"


"Tumben, biasanya juga nunggu transferan,"


"Papa kan pengin lihat Mama tuh cantik, mau ke salon, diajak Naura semalam,"


Azka tersenyum dan mengelus pipi istrinya, "Iya sayang nanti Papa transfer ya, sekalian potong rambut yang dua itu, Ma. Buatin poni terus di kepang, ada keriting-keriting itu apa sih namanya, Ma?"


"Iya, Papa iya. Nanti Mama turutin, bagi duit ya," rengek Nagita.


"Iya sayang, nanti Papa transfer kok. Mau pergi jam berapa?"


"Jam sepuluh, Pa,"


Azka mengeluarkan ponselnya dan menyerahkan kepada Nagita. "Transfer berapa yang Mama mau!"


Nagita tersenyum, padahal dia bukannya ingin pergi ke salon. Tetapi ingin merayakan ulang tahun Azka nanti malam.


"Papa, sini cium dulu!"


"Mama cium Papa melulu," protes anak mereka. Azka dan Nagita salah tingkah, lupa dengan kehadiran yang dua itu sedang memperhatikannya. Nagita pun menyerahkan ponsel suaminya.


"Papa berangkat, Ma. Cium sekali lagi," Azka menarik dagu Nagita dan mencium bibir istrinya.


Azka pun berpamitan kepada istrinya dan melenggang keluar.


Di tempat lain, Reynand telah tiba di sekolahnya. Dia berusaha untuk tetap terlihat seperti orang yang tidak merasakan patah hati pada umumnya. Dia membaca semua diary dari Bintang.


Dari sorot mata yang jauh, dia melihat Bintang sedang duduk bersama dengan Jenny. Baru saja dia tiba di kelas, Widya telah mendekatinya.


"Sayang, kenapa waktu itu enggak jadi ajakin aku pergi?" ucap Widya yang menarik kursi dan duduk di dekat Reynand.


Lelaki itu melihat Bintang dan Jenny masuk. "Itu karena aku antarin Mama pergi, jadi maaf kalau aku batalin itu tiba-tiba dan buat kamu jadi kecewa,"


Rey mengangguk pelan. Dia pun membiarkan Widya pergi begitu saja.


"Rey, lo lihat enggak sikap Bintang berubah sama lo?" ucap Jenny, dia melihat Bintang keluar lagi dari kelas bersama dengan Rista.


"Iya lihat, dia mau bagaimana pun juga gue enggak peduli lagi, Jen. Gue tuh udah capek, lo tahu enggak waktu kita muncak itu dia udah nolak gue, seusai saran kalian berdua kan, gue tanyain gimana perasaan dia sama gue, enggak mesti dia tuh jadi pacar gue, gue cuman pengin dia tuh jadi orang yang bisa jujur sama perasaan dia sendiri, dan dia akui bahwa perasaan dia itu ada sama gue, dan setelah itu, dia pergi ninggalin gue cuman ngasih diary, terus apalagi coba?"


"Fendi tahu soal ini?"


"Gue udah cerita. Dan kalau emang dia mau hindari gue, ya silakan. Lo tahu sendiri maksud gue dekati Widya itu cuman buat dia cemburu sesuai sama perintah Bayu dan Fendi. tapi lo lihat kelakukan dia, cemberut dan pura-pura gitu sama gue. Pura-pura enggak lihat gue, ya udah kalau dia emang enggak mau enggak masalah, tapi jujur! Gue enggak mau hanya karena ini gue sama dia renggang,"


"Rey, mau lo jujur atau gimana pun juga sama dia. Tetap aja bintang bakalan seperti itu sama lo, enggak bakalan ada yang berubah,"


"Satu hal yang bisa gue pahami dari dia, Jen. Yaitu ketika dia peluk gue, untuk apa dia peluk dengan begitu erat kalau pada akhirnya dia ngajarin orang buat memeluk dirinya sendiri dengan rasa sakit itu?"


"Gue enggak tahu mau bilang apalagi. Tapi rencana lo buat dia cemburu udah cukup berhasil kok,"


Reynand mengangguk dan beberapa saat kemudian Fendi datang dan langsung mengambil posisi tidur di mejanya.


"Lo kenapa, Fen?"


"Semalam gue pulang ke rumah, gajian kan ya. Gue kasih mereka semuanya, hari ini gue kekenyangan karena ibu gue masak banyak banget, Rey. Perut gue sakit, enggak dimakan sayang, karena gue milih untuk jauh dari orang tua juga biar bisa mikir gimana rasanya tanggung jawab. Dan tadi beliau masak enggak tanggung-tanggung,"


Jenny mendekati Fendi dan duduk di sebelah lelaki itu. "Ini antara ngantuk apa kekenyangan?"


"Ngantuk karena kekenyangan, Jen," jawab Fendi dan menutup kepalanya dengan tas.


"urusin pacar lo tuh! Itu karena perbuatan calon mertua lo, Jen," ledek Reynand.


Lelaki itu pun keluar dari kelas dan menemukan Bintang duduk di teras depan kelasnya sambil duduk bersama dengan Rista.


"Rey!"


Dia berbalik setelah Bintang menariknya dari belakang.


"Kamu marah sama aku?"


"Enggak ada alasan aku untuk marah sama kamu, Bintang. Jadi tenanglah,"


"Tapi kamu cuekin aku?"


"Aku cuman enggak mau Widya itu cemburu setelah lihat kita seperti ini," ucapnya sambil menurunkan tangan Bintang dari lengannya.


Dia meninggalkan Bintang bersama dengan Rista di sana.


"Rey marah sama Bintang?"


Rey terkejut ketika Widya datang begitu saja. "Enggak, aku jauhi dia demi kamu, Widya. Jadi jangan mikir apa-apa lagi, aku enggak mau lihat kamu cemburu aja,"


'Terima kasih, Reynand."


Lelaki itu mengangguk dan mengajak Widya ke kantin sekolah sebelum jam pelajaran di mulai. Dia ingin membeli air minum karena dia merasa begitu haus karena hanya minum susu sebelum berangkat sekolah tadi.