RICH MAN

RICH MAN
JEBAKAN PAPA



Subuh telah tiba, baru saja perempuan itu membuka matanya. Tangan pria itu melingkar tepat pada perutnya. Perlahan dia menurunkan tangan kemudian berbalik dan melihat wajah tenang suaminya ketika sedang tertidur. Raut wajah yang sudah lama sekali tidak pernah dia lihat lagi.


Namun, baru saja Marwa menurunkan tangan suaminya. Pria itu langsung terbangun kemudian sedang mencari kesadarannya. “Udah subuh?” tanya Rey dengan ekspresi yang masih sangat kacau.


“Udah, Mas,” jawabnya kemudian bangun dari tempat tidurnya lebih dulu dibandingkan suaminya.


“Jama’ah ya!” ajak Rey.


Perempuan itu tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya dan mengambil air wudhu terlebih dahulu. Rey menggeliat mencari kesadarannya. Dia melihat istrinya tersenyum subuh itu. Ekspresi yang sudah lama sekali tidak dia temukan, bahkan mereka sering sholat sendiri-sendiri. Tapi kali ini dia ingin menjadi imam untuk istrinya seperti dulu lagi.


Pelan, dia akan berusaha untuk kembali lagi menjadi dia yang dulu.


Istrinya keluar dan langsung memasang mukenahnya sementara dia baru saja terbangun dari tempat tidurnya. Begitu melihat istrinya keluar, dia langsung beranjak dan bergantian ke kamar mandi.


Selesai berwudhu dia memasang sarung dan juga menggelar sajadah di sana. Ia berbalik sejenak, memandangi istrinya yang nampak semringah. Rey tidak ingin menyia-nyiakan waktu seperti ini lagi. Sulit memang melepaskan apa yang pernah hadir di dalam hatinya. Yaitu kehadiran Alin. Dia memang menyayangi perempuan itu, tetapi Marwa jauh lebih berharga. Selain menjadi cinta pertama, perempuan itu juga yang selalu sabar menemaninya. Barangkali jika dia kehilangan Marwa. Tidak akan pernah dia temukan perempuan sebaik istrinya saat ini.


Papanya yang selalu mengingatkan tentang penyesalan itu. Perlahan, dia menjadi mengerti mengapa selama ini papanya begitu bawel setiap kali Rey pergi bersama dengan Alin. Dia pun mengerti mengapa papanya hingga saat ini sangat berusaha menjaga hati mama Rey dan tidak pernah lagi mencari perempuan lain walaupun hanya untuk bersenang-senang.


Seusai sholat, dia membalikkan tubuhnya dan mengadap istrinya. “Jangan turun dulu!”


“Kenapa?”


“Mas pengin ngaji untuk dia,” jawabnya kemudian beranjak dari tempat duduknya.


Perempuan itu tersenyum tipis kemudian mengangguk dan tetap pada posisi duduknya dan Rey kembali lagi duduk kemudian benar-benar melakukan itu.


Beberapa menit berlalu, Rey mengelus perutnya. “Maaf selama ini nggak pernah nemenin kamu selama kamu hamil,” ucapnya tiba-tiba.


Marwa tidak tahu apakah ini tulus dari suaminya ataukah sebuah kedok untuk menyembunyikan perbuatannya di luar sana. Akan tetapi dia berusaha berpikir positif bahkan perempuan itu tidak pernah lagi mengirim foto ke nomornya.


“Hapus nomor aku ya!”


“Kenapa?”


“Mas pengin ganti nomor,”


“Kok mendadak?”


“Biar Mas yang tahu alasannya. Yang penting Mas sayang sama kamu,” ucap Rey kemudian mengelus perut istrinya dan memegang tangan istrinya. Dia mencium kening istrinya. Baru saja dia hendak mencium bibir Marwa. Perempuan itu justru menghindar.


Marwa ingat betapa mesranya Rey mencium perempuan itu di video. Ada rasa yang masih belum bisa pulih dari hatinya meskipun sikap Rey berubah. Yaitu dia masih belum mau disentuh oleh suaminya sendiri. Karena dia tidak pernah tahu apa saja yang dilakukan oleh suaminya di luar sana bersama perempuan lain.


Rey mengerti kemudian dia langsung mundur, “Ya sudah aku mandi dulu dan siap-siap ke kantor,” katanya sambil beranjak dan melepaskan sarungnya. Dia tidak menuntut apalagi memaksa Marwa untuk berciuman. Dia mengelus kepala istrinya. Perempuan itu menunduk tak menatap matanya sama sekali. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan istrinya hingga menghindar seperti itu.


Dalam rumah tangga memang selalu saja ada masalah. Akan tetapi bagaimana cara keduanya untuk menyelesaikan itu semua. Memperbaiki adalah salah satu cara yang paling baik untuk membuat segalanya menjadi utuh kembali.


Begitu selesai mandi dan menggunakan setelan dengan rapi dibantu oleh istrinya seperti biasa. “Apa pun yang terjadi, aku harap kamu masih bisa bersabar,” ucap Rey yang sedang memasang dasi untuknya.


Dia merasa aneh dengan suaminya yang tiba-tiba saja menjadi lebih perhatian kepada dirinya.


“Mas, kamu nggak sakit, kan?”


“Heh,” dia terkekeh kemudian menarik hidung istrinya. “Memang kalau mau sayang sama istri itu harus sakit dulu? Kalau gitu aku milih sakit aja, biar bisa mesra sama kamu,”


Pria itu tidak mau menyia-nyiakan waktu. Baru saja istrinya keluar dari kamar dan hendak turun. Rey mengangkat tubuh istrinya hingga perempuan itu memberontak. “Mas turunin!” pekik Marwa dan terus berusaha meminta kepada suaminya agar diturunkan.


“Nanti kamu jatuh,”


“Makanya turunin!”


Nagita mendengar suara jeritan langsung menoleh ke sumber suara yang di mana Rey mengangkat tubuh Marwa dari atas dan melewati tangga. “Hati-hati, Rey!” pesan papanya. Hingga tiba di ruang makan, Rey langsung menurunkan dengan perlahan.


“Dokter waktu itu kan bilang ya. Kamu ingat waktu kamu pingsan, itu karena kamu nggak makan. Jadi sekarang mulai hari ini juga, aku bakalan ngawasin kamu tiap kali makan. Makan siang harus video call sama aku. Nggak boleh lagi kejadian waktu itu terulang,” ucap Rey yang langsung mengambil beberapa lembar roti untuk istrinya. “Makannya yang banyak, karena yang makan sekarang ini adalah Mama dan juga si kecil,” ucap Rey dengan tenang sambil mengolesi selai untuk istrinya.


Nagita dan Azka saling tatap karena merasa aneh dengan perubahan anaknya yang tiba-tiba perhatian seperti itu kepada istrinya. Nagita yang jauh lebih heran dengan anaknya hanya bisa tersenyum.


“Kamu juga jangan lupa makan!” tukas Nagita sambil memberikan beberapa makanan kepada Reynand.


“Mas, aku sarapannya pakai telur rebus aja ya,”


“Nggak jadi makan roti?” tanya Rey yang mengolesi roti kedua dengan selai stroberi.


“Nggak, Mas. Pengin telur aja,”


Nagita beranjak dari tempat duduknya. “Kebetulan Mama udah masak tadi, kelebihan masak tadinya buat bekal. Tapi kelebihan, kamu makan yang banyak ya!” perintah Nagita karena Marwa memang sarapan jarang dengan nasi. Maka dari itu dia mengerti dengan menantunya selama menginap di sana.


“Tapi nggak makan kuningnya ya, Ma?”


“Iya dipisah aja, nanti Rey yang makan,” jawab Nagita dengan santai.


Rey langsung melirik ke arah Mamanya. “Mama ini masa suruh aku sarapan pakai kuning telur, enek yang ada,”


“Demi anak, toh kamu nggak pernah ngerasain gimana tersiksanya masa ngidam seperti, Papa,” ucap Azka sambil menyantap sarapannya. Dia ingin mengerjai anaknya bagiamana sakitnya masa ngidam dulu yang pernah dia rasakan ketika Nagita ngidam Rey.


“Emang benar, sayang?” tanya Rey kepada istrinya.


“Apanya, Mas?”


“Ya seperti yang dibilang sama Papa tadi, kalau aku makan kuningnya. Itu ngurangin rasa mual kamu selama ngidam?”


“Aku kan nggak pernah muntah lagi, Mas,” jawab Marwa.


“Tapi meski begitu kamu harus makan Rey, Marwa bilang nggak karena nggak mau ngrepotin kamu. Kalau kamu nggak makan, anak kamu ileran yang ada,”


 


 


Rey menatap istrinya “Oke aku makan.”