
“Adik, kok bengong di sana?” panggil Rey kepada kedua adiknya ketika dia tiba di depan sekolah adiknya. Si kembar langsung menghampiri dirinya.
“Kakak jemput kita, kan?”
Mereka berdua bersalaman kepada dirinya, “Mau pulang ke rumah kakak? Ketemu sama Kak Marwa dan keponakan kalian,”
Keduanya tersenyum riang karena sangat jarang diajak ke rumahnya oleh kedua orang tuanya. Dia langsung membuka pintu mobil untuk adiknya. “Kak Marwa nggak ikut, kak?”
Rey menutup pintu mobil belakang dan masuk begitu saja, “Lho, Mama?” kata adiknya yang paling kecil. “Mama kapan di sini?”
“Mama dari tadi di sini. Kakak kalian doang yang turun. Mama mau ke rumah kakak kalian,”
Lama Rey tak menjemput adiknya sekolah seperti sekarang ini. “Mama tadi sudah bilang ke sopir kalau kalian nggak usah dijemput karena Kak Rey mau jemput kalian dan ngajakin kalian ke rumahnya,”
“Audri sehat, kak?”
“Alhamdulillah sehat. Niatnya kakak minggu depan mau ke sana. Tapi lihat nih, Mama sendiri yang nyuruh ke sana dan ngajakin mereka berdua nginap,”
“Kakak sih, kayak orang nggak mau ketemu keluarga,” protes adiknya yang satunya lagi.
Ia memilh mengalah ketika adiknya protes seperti sekarang ini. Nabila dan juga Salsabila memang selalu protes dengan dirinya ketika dia sudah lama tidak membawa anak dan juga istrinya pulang ke rumah. Mereka berdua memang dekat dengan Marwa. Tapi Rey yang ingin menghabiskan waktu bersama dengan keluarga kecilnya ketika di rumah justru diganggu oleh kedua adiknya itu yang mengatakan bahwa dirinya lama tidak membawa keponakannya pulang.
Setibanya di rumah, Rey melihat orang yang mengantarkan mobilnya yang sedang menurunkan mobil berwarna merah itu. Body kecil yang lebih pantas untuk perempuan. “Kak Rey beli mobil?” tanya Nabila.
“Diam-diam ya! Jangan berisik, ini hadiah ulang tahun kakak kalian!” ucap mama menjelaskan. Ia tak perlu lagi menjelaskan itu kepada kedua adiknya dan begitu turun dari mobil. Rey meminta orang tersebut meletakkan mobilnya di depan garasi dengan pita yang cantik juga. Tapi, Rey ingin menutup mobil itu terlebih dahulu membiarkan istrinya menganggap bahwa dia lupa dengan ulang tahun sang istri.
Begitu mobil selesai ditutup, orang yang mengantarkan mobil itu juga berpamitan kepada dirinya dan ia langsung mengajak keluarganya masuk.
Perlahan, dia masuk ke dalam kamar ketika dia sudah mempersilakan mama dan kedua adiknya menunggu di ruang tamu. Asisten mereka juga sudah dia minta untuk menyiapkan minuman dan juga makan siang untuk kedua adik Rey.
Benar seperti dugannya bahwa anak dan istrinya sedang tidur siang. Rey mencium pipi istrinya yang sedang tidur terlelap. Dia merasa bersalah karena dari tadi pagi dia melihat ekspresi istrinya yang cemberut. Belum lagi sepertinya Marwa memberikan kode ulang tahun dengan membahas mengenai hari apa ini. Rey tetap pura-pura lupa dengan semuanya.
Di restoran tadi dia menjelaskan kepada sang mama bahwa dia memang pura-pura lupa dengan tanggal ulang tahun, Marwa. Perlahan, istrinya membuka matanya dan mengerjapkannya dengan pelan agar tidak pusing. “Kamu kapan pulang?”
“Tidur aja nggak apa-apa!”
“Kamu sudah makan?”
“Udah tadi sama, Mama. Mama ada dibawah sama si kembar,”
Marwa berusaha bangun dari tempat tidurnya dan mengambil jilbabnya. Dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Begitu selesai, Marwa mengabaikan dirinya. Dalam benak Rey, “Kamu beneran marah sama aku?” tanyanya pada diri sendiri ketika dia melihat istrinya keluar begitu saja. Sedangkan Audri yang tidur di ranjang miliknya sendiri yang sudah ada pembatasnya.
Rey mengikuti ke mana istrinya keluar. Begitu dia masuk ke dalam dapur dan melihat istrinya duduk di ruang tamu bersama dengan mamanya. Ekspresi itu memang begitu baik dikondisikan oleh Marwa yang ngambek karena Rey lupa dengan hari ulang tahunnya. Mamanya juga sepertinya paham dengan maksud itu.
“Kak, Audri mana?”
“Lagi tidur sayang,”
“Bangunin ya?”
“Adik, nggak usah ya! Nanti nangis, lho,” peringat mamanya.
Marwa kemudian beranjak dari tempat duduk dan meminta izin ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk keduanya. Karena dia tidak tahu kalau mama mertua dan juga adiknya akan datang ke rumah ini pada siang hari.
“Rey, istri kamu beneran marah? Buktinya dia cuekin kamu kayak gitu,” kata mamanya yang kemudian dibalas dengan anggukkan oleh kedua adiknya. Rey kemudian memilih keluar dari ruang tamu untuk membuka penutup mobil itu dan membiarkan pita itu menjadi penyambut Marwa nantinya yang dihias diatas mobil dan juga di depannya. Rey memang ingin membiarkan Marwa yang membuka penutupnya. Tapi ketika melihat istrinya yang ngambek seperti itu, Rey menjadi merasa tidak nyaman dan memilih untuk membuka penutupnya saja.
“Marwa, sibuk nggak?”
“Aku lagi masak, Mas,” jawab Marwa dari dapur. “Dipanggil, Mama nih!” bohongnya. Justru mamanya tersenyum ketika melihat Rey hendak memberikan hadiah itu kepada sang istri.
“Ada apa, Ma?” tanya Marwa dengan sopan.
“Bisa ambilkan Mama tas yang ketinggalan di mobilnya Rey?” mamanya seolah bisa diajak kerja sama kali ini. Rey memang sangat ingin memberikan hadiah itu sekarang untuk istrinya.
Marwa pun mengangguk dan pergi begitu saja. Tapi tidak menatap Rey sedari tadi. Nagita sadar karena menantunya mungkin memang marah dengan sikap Rey yang pura-pura lupa dengan ulang tahun, Marwa itu.
Begitu keluar dari rumah, dia menundukkan kepalanya karena dia masih kesal dengan Rey yang lupa dengan ulang tahunnya. Marwa berhenti sejenak ketika dia mengangkat kepalanya dan menjatuhkan kunci mobil yang diberikan oleh mama mertuanya tadi ketika melihat benda merah yang warnanya sangat mencolok begitu mengkilap dihiasi dengan pita yang begitu cantik. Di bagian plat ada tulisan namanya disertai dengan tanda love berwarna merah juga.
Rey tidak bercanda mengenai hadiah ulang tahunnya. “Mas!” panggilnya lirih. Tapi Rey berdiri dibelakangnya bersama dengan mertua dan juga kedua adiknya. Tubuhnya lemas, ketika itu suaminya langsung memeluknya. “Aku sudah bilang kalau aku nggak bakalan lupa sama hari penting kamu. Jadi nggak usah mikir yang nggak-nggak sayang! Aku mana mungkin lupa sama kamu sih? Aku nggak bakalan pernah lupa sama janji aku sendiri, lagian kamu kenapa ngambek?”
Marwa meneteskan air matanya karena tidak percaya dengan hadiah yang diberikan oleh Rey. Dia pikir bahwa Rey memang lupa dengan ulang tahunnya.
“Nggak usah nangis! Malu sama adik aku tahu nggak,”
Marwa tersenyum tapi air matanya tidak bisa berhenti keluar. Rey mencium kening istrinya, “Selamat ulang tahun sayang. Maaf aku buat kamu kesal karena seharusnya mobilnya datang beberapa hari yang lalu. Tapi aku sengaja belikan hari ini dan bisa diantar hari ini. Aku sudah pergi kok waktu itu, aku sudah ngomong juga, tapi warna yang kamu mau memang belum ada. Jadi diambilkan dari pusat dulu. Alhasil, aku bisa ngasih kamu diwaktu yang tepat,”
Tanpa malu, Marwa memeluk Rey dan pria itu tetap mencium kening istrinya sekalipun di depan mama dan juga kedua adiknya.
Terdengar suara tangisan Audri yang bangun.
“Audri, bangun, Mas,”
“Nggak usah nangis lagi sayang! Aku nggak sengaja buat kamu sedih. Maaf nggak ada kue dan sebagainya, aku cuman punya ini,” Rey mengeluarkan bunga dari tadi yang berusaha dia sembunyikan. Dia lihat bahwa istrinya berdiri tercengang di depan mobil yang dia berikan itu. Dia sempat membelikan bunga kepada istrinya tadi tapi dia sembunyikan.
“Terima kasih, Mas,” isak Marwa yang masih tidak percaya dengan kado yang diberikan oleh Rey itu.
“Terima kasih juga sama, Mama!”
Marwa mengusap air matanya dan langsung menghampiri sang mama mertua dan memeluknya begitu saja. “Makasih banget, Ma!”
“Sama-sama sayangnya, Mama. Semoga kamu selalu bahagia sama anak dan juga keluarga kecil kamu. Selamat ulang tahun sayang ya. Semoga diusia yang semakin bertambah ini kamu diberikan umur panjang, kesehatan dan juga kebahagiaan yang tidak akan pernah terputus. Mama sayang sama kamu, Nak. Mama nggak bisa ngasih apa-apa sama kamu,”
Nagita sengaja berucap demikian. Tapi dia dan juga suaminya sudah menyiapkan butik juga untuk Marwa. Dia tahu bahwa menantunya itu punya usaha untuk busana muslim. Maka dia dan suaminya sudah menyiapkan toko baru untuk menantu kesangannya itu. Marwa yang sudah berjuang sejauh ini untuk kebahagiaan Rey juga. Maka, itu tak sebanding dengan apa yang ia dan suaminya berikan.
Azka memang punya rencana ini, dia juga yang menyiapkan itu untuk menantunya sejak lama. Mereka tidak pernah memberikan apa pun untuk Marwa selama ini. Jadi, inilah saatnya mereka memberikan hadiah ulang tahun kepada sang menantu. Rey juga tidak tahu mengenai hadiah itu. Biarkan saja keduanya tidak tahu mengenai hadiah yang akan diberikan oleh dia dan juga Azka.
Rey mengajak istri dan juga mamanya masuk lagi karena kedua adiknya belum juga makan siang sedari tadi pulang sekolah. Pasti mereka berdua menunggu sangat lama untuk dijemput pulang sekolah tadi.
Begitu mereka masuk ke dalam lagi. Mereka melihat si kembar sedang bermain bersama dengan Audri di ruang tamu.
“Cucu kesayangan udah bangun,” sapa Nagita ketika melihat Audri yang sedang duduk diatas karpet dan bermain bersama dengan si kembar.
“Dek, makan dulu yuk! Kakak sudah siapin makan siangnya,” ajak Marwa. “Mama juga makan ya!”
“Udah sayang. Mama sudah makan siang tadi sama Rey. Jadi biar adik kamu aja, sekalian kamu juga makan siang sayang!”
“Sudah, Ma,” ucap Marwa kemudian adiknya berdiri setelah Audri diambil oleh mama mertuanya. “Sholat udah?”
“Udah dong kak. Di sekolah tadi,”
Marwa merangkul kedua adik iparnya yang tingginya sudah hampir sama dengna dirinya. Keduanya begitu tinggi dan juga tubuh mereka pun hampir sama berisinya.
“Ma, makasih banget ya,”
“Buat apa?”
“Yang tadi itu, Ma. Karena aku merasa bersalah banget sama dia. Padahal aku mau ngasih kejutan,”
“Mama sudah pernah dikerjai begitu sama Papa kamu dulu, Rey. Jadi mama sudah tahu akal-akalan cowok. Makanya kan Mama bilang mobilnya itu banyak banget. Itu semua karena hadiah dari Papa,”
“Aku benar-benar berterima kasih karena Mama barusan bantuin aku. dan mengenai Papa, itu juga sangat membantu, Ma. Karena Papa selalu bilang kalau aku harus penuhi janji aku sama istri aku,”
“Kalau kamu sudah tahu itu, berarti Mama nggak perlu bilang lagi sama kamu, Rey! Ya udah, kamu bahagiakan semampu kamu ya!”
Benar saja, tak lama kemudian Rey mengambil anaknya yang sedari tadi merentangkan tangannya meminta untuk digendong oleh dirinya. Audri dekat dengannya dan kali ini justru meminta digendong.
“Anak kamu sudah besar aja ternyata,”
Rey mengangguk pelan. “Iya, Ma,”
“Berarti jatah hidup Mama sama Papa semakin berkurang ya,”
Rey menundukkan kepalanya. Semakin waktu berlalu, dia tidak sadar jika usia orang tuanya semakin menua. Dia juga tidak sadar bahwa usianya juga semakin berkurang di dunia ini. Tapi tidak ada yang tahu kapan kematian itu akan menghampiri. “Ma, jangan bicara seperti itu ya!”
“Setelah orang tua tidak ada. Mama harap kamu bisa jagain adik-adik kamu. Seperti Om Dimas yang selalu jagain, Mama,”
Rey mengangguk pelan. “Insya Allah, Mama,”
“Rey, maafin masa lalu yang pernah kamu rasakan dulu ya!”
“Mama kenapa berkata seperti itu? Aku nggak mau bahas hal yang sudah lewat, ya, Ma. Aku nggak mau kalau itu cuman buat Mama sedih,”
Mamanya mengangguk pelan, “Mama sayang sama kalian semua,”
“Aku juga sayang sama Mama. Sayang sama Papa dan juga adik aku,”
Entah kenapa dia merinding ketika mamanya berkata demikian. Dulu, dia sempat mendengar cerita mengenai papanya yang enggan menikah karena terlalu senang bermain perempuan. Bahkan dia juga hampir digugurkan oleh sang papa karena tidak menginginkan kehadiran Rey waktu itu. Tapi dengan ketangguhan hati mamanya. Akhirnay dia ada di dunia ini. Rey tidak pernah benci kepada papanya yang dulu. Dia sadar jika memang pernikahan kedua orang tuanya yang pertama adalah karena kehadiran dirinya akibat perbuatan sang papa. Biarlah semua itu hanya dia dan orang tuanya yang tahu.
Sejenak dia menghela napas ketika dia melihat istrinya kembali lagi dan juga membawa makanan lainnya ke meja makan. “Ma, cicipin ya! Nastar buatan aku,”
Nagita mengangguk dan melihat nastar buatan menantunya menggugah selera. Selain pintar untuk bidang lainnya, kelebihan Marwa adalah ini. Membuat makanan di rumah dan jarang melihat Rey makan makanan ringan karena Marwa selalu membuatkan makanan di rumah.
Tidak salah ketika itu Dimas mengatakan ingin menjodohkan Rey dengan anak temannya yang ternyata adalah perempuan yang selama ini dicari oleh Rey. Memang jodoh itu tidak akan pernah pergi ke mana. Karena Tuhan telah menggariskan takdir untuk mereka berdua. Maka dari itu mereka berdua berhak bahagia dengan cara mereka sendiri dan tidak akan pernah ada yang memisahkan, selain Tuhan. Itulah yang dipercayai. Sama halnya dengan diirinya dan Azka dulu yang pernah berpikir bahwa dia tidak akan pernah kembali lagi. Tapi, Tuhan berkata demikian. Justru Tuhan memberikan kesempatan lagi untuk mereka berdua bahagia dan kali ini hidup menua bersama.