
Rey kali ini berada di rumah sang Oma ketika tadi papanya menegurnya untuk mempercepat langkahnya ketika dia masuk ke dalam rumah tapi justru dia perlahan dan membiarkan istrinya menggendong Audri. Barang-barang yang dia bawa pun masih di dalam mobilnya.
Oke ini adalah hari di mana Rey akan mendapatkan hukuman yang mungkin saja akan dimarahi habis-habisan oleh Oma-Opa dan yang menyerbunya dengan ucapan mengenai kapan akan menambah anak. Padahal, dia memang masih ingin menikmati masa-masa indahnya bersama dengan Marwa tapi justru diminta untuk menambah anak dengan segera. Mereka pikir membuatnya itu tidak butuh waktu? Rey mendengus kesal dan masuk begitu saja.
Rey mengucap salam dan dibalas oleh tante Naura dan juga omanya yang duduk di ruang tamu sore itu. Memang papanya mengatakan bahwa dia tidak pernah menghubungi terlebih dahulu. Ini adalah keluarganya. Bagaimana jika nanti dia punya keluarga yang banyak. Bisa-bisa Rey akan langsung menghabiskan waktu lebarannya lebih dari seminggu untuk mengunjungi keluarga jika nanti Clara menikah dan semuanya akan dia kunjungi satu persatu.
“Ini anak yang paling bandel. Mentang-mentang punya istri, malah nggak pernah datangi kunjungi Oma dan nggak pernah lagi mau sapa omanya di sini,” ucap Omanya sambil menjewer telinga Rey. Memang dia yang paling menyebalkan ketika dihubungi oleh oma dan juga tante Naura ketika diminta untuk datang mengunjungi sang oma.
“Opa mana, Oma?”
“Tuh lagi di belakang main sama anaknya, Leo,”
Rey kemudian mencium pipi sang Oma seperti biasanya. Dia langsung berpamitan untuk bertemu dengan sang opa dibelakang bersama dengan anak Leo. “Bocah tengil itu ke mana, Tante?”
“Lagi ke dokter. Periksa kandungannya si Amanda,”
“Udah berapa bulan?”
“Baru dua bulan kok, tapi karena tadi Amanda ngeluh sakit perut jadi Leo bawa ke rumah sakit,”
Rey mengangguk cepat dan langsung menghampiri opanya yang ada di sana bermain dengan anaknya Leo. Oke, kali ini dia harus bersabar bicara dengan opanya yang memilki gangguan pendengaran seperti yang dikatakan oleh papanya tadi siang. Maka dari itu Rey harus sabar menghadapi Opanya. Tidak mungkin Rey membentak dan juga marah ketika diajak bicara oleh opanya yang memiliki pendengaran yang sudah tidak baik lagi.
Dia menghampiri dan kemudian mencium tangan opanya begitu saja.
Opanya tertawa begitu Rey dijambak habis-habisan karena beberapa kali opanya meminta untuk Rey datang tapi tidak pernah didengar oleh Rey.
Dia melihat anak kecil yang langsung menghampiri opanya. Baik, kali ini anak Leo pun takut kepada dirinya karena sudah lama tidak terlihat. Maka dari itu dia tidak memaksa untuk menggendong buah hati sepupunya itu. Rey membantu opanya berdiri dan menuju ke ruang tamu di mana keluarga yang lain ada di sana.
“Audri ikut?”
“Ikut, Opa. Lagi di ruang tamu,”
“Opa bilang ikut, kamu mlaah bilang takut,”
Hari pertama, Rey menghela napas panjang. Tidak akan pernah dia marah kepada opanya kali ini. Dia langsung mengajak opanya duduk di sofa ruang tamu. Dia tidak menimpali ucapan opanya tadi. Rey memang sadar jika opanya memang punya gangguan pendengaran.
“Clara, ambilin alat bantu Opa sana!”
Clara pun berlari begitu saja. “Di mana, Ma?”
“Di kamarnya,”
Clara mengacungkan jempol dan berlari begitu saja. Beberapa waktu kemudian dia langsung memberikan alat itu kepada opanya.
“Sekarang gimana, Opa? Apa kabar?” tanya Rey.
“Baik, kamu sendiri gimana?” tanya opanya yang mengelus kepalanya dengan perlahan. Ya, Rey akui jika dia selalu diperlakukan seperti itu oleh opanya. Rey yang memang tidak selalu tinggal di rumah ini dulu. Sekarang dia sedih melihat oma dan juga opanya yang semakin tua. Semua rambutnya juga sudah memutih. Sedangkan omanya sudah membungkuk. Cara jalan opanya pun tidak lincah seperti beberapa waktu lalu.
Rey menganggukkan kepalanya dan mencium tangan opanya. Tangan inilah yang dulu selalu mengelus kepalanya. Memintanya bersabar dan juga tangan inilah yang selalu mengelus pipinya yang memintanya tetap kuat dan tidak benci terhadap orang tuanya. Rey tahu bahwa dulu dia benci perpisahan itu. Ketika Om Dimas berusaha untuk membahagikannya. Rey ingat dengan baik ketika dia sakit dulu, papanya justru sibuk bekerja ketika Rey diantar ke rumah ini oleh Om Dimas. Dan dengan begitu sabar oma dan opanya merawatnya sampai sembuh.
“Opa sehat terus ya. Opa mau apa sekarang?”
Opanya menggeleng pelan. “Kamu bahagia itu sudah cukup buat Opa bahagia juga, Rey. Kamu kan dulu nggak pernah ngerasain gimana rasanya orang tua berkumpul seperti ini. Kamu tetap sama keluarga kamu ya! Apa pun yang terjadi kamu nggak boleh cerai sama Marwa,” perintah opanya. Seperti permintaan terakhir. Tapi Rey berharap bahwa itu bukan permintaan terakhir sang opa ketika dia merasakan tangan itu bergemetar saat mengelus pipinya.
Tangan opanya begitu dingin. Rey mencium tangan itu lagi. Sekalipun tangan itu begitu keriput. Dan juga mungkin penglihatannya sudah kabur. Tapi, Rey akan tetap sayang kepada keduanya. Layaknya orang tua kandugnnya sendiri. Karena ketika dia tidak mendapatkan kasih sayang yang lengkap. Orang inilah yang selalu menguatkannya dulu. Tidak akan pernah dia lupakan jasa kedua orang yang sudah tua ini.
“Rey, tinggal di sini ya!”
Dia pasti akan menuruti. Lagipula rumah ini sangat besar. Jadi tidak ada salahnya dia tinggal di sana. Agar Marwa juga tidak kesepian ketika dia pergi bekerja nanti. “Pasti Oma, Opa. Aku pasti tinggal di sini sama istri dan anak aku,”
“Azka juga tinggal di sini sama anak-anak!”
Papanya mengangguk pelan. “Pasti, Ma. Aku juga bakalan tinggal di sini sama Nagita dan juga anak-anak yang lain,”
“Papa pengin dari dulu kita makan malam bareng. Sarapan bareng kayak dulu,”
Tak berselang waktu lama. Om Reno pulang membawa kantong plastik kecil. “Ma, Pa, obatnya sudah ketemu,”
Rey menoleh ketika melihat Om Reno datang membawa obat yang sama sekali tidak diketahuinya. “Obat apa? Oma sama Opa sakit?”
Om Reno menggeleng. “Opa batuk, Rey. Sedangkan Oma lagi sakit beberapa hari yang lalu. Makanya kamu ditelepon tapi malah bilangnya sibuk. Papa kamu tiap hari ke sini. Kamu jangan sibuk terus sama pekerjaan sampai lupa keluarga,” tegur Om Reno.
Rey hanya bisa menganggukkan kepalanya. “Oma istirahat yuk! Nggak boleh lama-lama duduk di sini,” kata Rey ketika melihat omanya dengan syal yang dililitkan dilehernya.
Belum lagi ketika melihat opanya yang sudah menua. Rambutnya juga sudah putih semua dan juga kali ini rambut bagian depannya sudah rontok dan juga sudah sangat tua. Rey menghela napas panjang ketika dia melihat opanya tersenyum sedari tadi. Rey memang tidak pernah melihat senyuman dan tawa yang sebahagia itu.
“Ya Allah, semoga ini bukan hal yang buruk,” ucap Rey perlahan tanpa bersuara keras dan dia menggendong sang Oma ke dalam kamar begitu dia melihat omanya dalam keadaan tidak baik.
“Rey, Opa kangen sama kamu tahu,”
“Ya, Oma. Maaf ya kalau aku sibuk terus,”
“Iya, Oma ngerti banget. Apalagi kamu kan usaha sendiri tanpa minta bagian dari Papa kamu. Jadi Oma ya ngerti aja gitu,” sejenak dia berhenti di kamar ketika dia membiarkan sang Oma istirahat. “Besok nggak usah kerja ya! Pengin ditemani kamu,”
Rey menganggukkan kepalanya. Dia akan menuruti permintaan itu. Perlahan omanya mengelus kepalanya. “Sudah besar ternyata kamu, Rey,”
“Sudah punya anak juga, kan, Oma,” ucap Rey sambil menyeringai dan juga tersenyum begitu lebar ketika omanya berkata demikian.
“Oma tidur dulu ya, efek obatnya tadi kayaknya. Kamu di luar sama anak-anak yang lain ya!”
Rey mengangukkan kepalanya dan memilih keluar begitu sang oma tertidur. Rey mencium pipi dan kening omanya yang sudah keriput dan suaranya pun sudah sedikit berubah karena gigi dan juga nada bicaranya yang seperti kelelahan.
Begitu dia keluar dari kamar, dia mendengar opanya yang justru tertawa bercanda dengan anaknya. Rey berdiri dibelakang sang opa karena Audri yang memang mau digendong oleh siapapun dan sekarang ini justru sedang berada dipangkuan opa Rey.
Setelah Grand Opening tadi bersama keluarga yang lainnya. Papanya langsung mengajak kemari sore harinya.
Leo pun datang bersama Amanda yang terlihat begitu pucat. “Kapan datangnya?”
“Barusan, dih calon Papa baru. Makin jos aja nih adik,” ledek Rey ketika melihat Amanda yang berdiri dibelakang Leo.
“Situ sendiri kapan?”
“Santai, masih belum,”
“Hehehe, tahu nggak? Anak aku kembar dong,” tawa Leo.
“Walah, hebat juga nih cucu. Si Azka juga punya anak kembar. Eh sekarang kamu juga yang bakalan punya anak kembar,”
Leo menyeringai, “Baru USG terus dilihat ada dua itu, Opa. Duh semoga sehat sampai lahiran nanti,” Leo begitu bahagia mendengar kabar bahwa anak mereka kembar. Sejenak Rey melihat ke arah Marwa yang di mana mereka berdua akan ditanya seperti itu juga nanti oleh opanya.
“Rey juga jangan mau kalah sama Leo. Kamu juga harus nambah,” ucap Rey dan langsung tertawa begitu saja.
Sejenak dia menghela napas panjang “Siap, Opa. Pasti nanti akan nambah kalau anak udah besar,” kata Rey sembari bercanda kepada opanya. Tapi justru opanya menggeleng. “Kenapa, Opa?”
“Hahaha, bakalan kena semprot nih,” ledek Leo ketika melihat ekspresi opanya yang berbeda dari biasanya. Rey juga menghela napas panjang ketika Leo berkata demikian.
“Leo, nggak usah ngeledekin Abangmu kayak gitu,”
Rey mengacungkan jempolnya begitu dia dibela oleh sang Opa. “Jangan senang dulu! Kamu harus nambah beneran kalau Audri udah besar, Rey!”
Kali ini dia menyeringai mendengar ucapan perintah dari opanya dan dia menganggukkan kepalanya dengan cepat dan menjepit kepala Leo diketiaknya. Gelak tawa orang-orang rumah pun pecah karena tingkah Rey dan Leo yang bukannya melihat usia mereka yang sudah tua, tapi justru bertingkah seperti anak kecil.