
Hari terakhir Marwa di rumah sakit. Rey meminta izin agar istrinya dibawa pulang ke rumahnya saja. Karena dia tidak mau merepotkan siapapun. Dia sudah cukup merepotkan mama mertua dan juga mamanya yang tinggal di rumah oma dan bolak-balik membawa Audri ketika berkunjung.
Malam ini, dia sengaja mengajak Audri tinggal di sana atas izin dokter juga. Besok pagi, Marwa sudah diperbolehkan untuk pulang. Maka dari itu hanya ada mereka bertiga yang ada di ruangan tersebut. Tidak ada lagi pihak keluarga yang menunggu seperti biasanya. Apalagi mama mertua ataupun papa mertua yang keras kepala ingin menunggu anaknya. Sekalipun Rey sudah mengingatkan agar dia saja yang menunggu Marwa di sana. Tapi, sebagai orang tua apalagi anak satu-satunya yang mereka miliki pasti akan sangat disayangi dan tidak peduli dengan perintah Rey untuk istirahat itu. mertuanya keras kepala dan memilih untuk menjaga bergiliran sekalipun dia juga ada di sana.
Malam ini, mereka masih berkumpul di brankarnya Marwa. Audri yang dibaringkan di sana sambil memegang botol susunya dan berusaha untuk tidur. “Kalau sakit lagi nanti bilang sama aku! nggak boleh sembunyi-sembunyi lagi. Lihat sekarang si kecil juga malah ikut nungguin,” Rey protes kepada istrinya yang tidak mau mengatakan bahwa dirinya sedang sakit dan justru berbohong kepada orang lain mengenai dia yang baik-baik saja.
Marwa mengelus kepala si kecil yang tidur disebelahnya. Ukuran tempat tidurnya juga sedikit lebih luas dibandingkan biasanya. Maka dari itu, dia bisa membaringkan Audri di sana dan kemungkinan akan tidur disamping Marwa. Ruangan khusus yang tidak ada bau obat sangat menyengat di sana seperti ruangan lainnya. Tempatnya bersih, sehingga dokter memberikan izin untuk anaknya menginap juga.
“Kan kita berantem waktu itu, sayang,”
“Bawel. Ngeles melulu, dicabut infusnya awas nangis lho!” peringat Rey yang tahu betul tentang istrinya paling takut dengan jarum suntik. Ketika di infus, Marwa justru tidak tahu bahwa dirinya sedang di infus, bahkan ketika bangun. Dia protes kepada Rey kenapa harus di infus seperti itu.
Marwa terkekeh mendengar omelan Reynand. “Mas, maafin aku ya ngrepotin kalian semua,”
“Ya, biar nggak ngrepotin tuh kalau sakit ya ngomong!” singgung Rey agar istrinya lebih jujur lagi jika terjadi hal serupa.
“Ya Mas, nggak bakalan rahasia lagi deh,”
Rey mengecup kening istrinya. “Tidur ya! Audri udah tidur juga,” Rey menaikkan selimut istrinya dan mencabut botol susu yang ada di mulut anaknya yang sudah terlelap tidur. Pasti anaknya sangat kesepian selama Marwa sakit. Tapi yang membuatnya bersyukur adalah anaknya yang tidak menangis ketika ditinggal oleh keduanya. Rey yang sibuk kerja dan menjaga istrinya sehingga tidak punya waktu yang lama untuk anaknya. Terlebih juga karena dia Audri berada di rumah Oma di sana ada anaknya Leo yang jadi teman bermainnya. Dan juga kedua adik Rey yang pasti akan sangat bahagia ketika Audri tinggal di sana.
“Lekas membaik sayang. Kangen kumpul di rumah,” kata Rey yang kemudian dibalas dengan senyuman oleh istrinya.
Keesokan harinya.
Karena barang-barang yang dibawa Rey ke rumah sakit seperti selimut untuk Marwa dan juga pakaian yang digunakan selama di sana. Istrinya memilih untuk tetap mengenakan pakaian yang dia punya di rumah. Maka Rey tidak akan bisa menyangkalnya selama istrinya meminta. Dia hanya bisa menuruti. Semalam, dia menyuruh asistennya untuk datang ke rumah sakit untuk mengambil semua barang mereka untuk dibawa pulang.
Hari ini, tepat istrinya boleh dibawa pulang karena sudah dalam keadaan membaik. Di dalam mobil, anaknya yang terus ngoceh sedari tadi entah apa yang dikatakan oleh anak itu. Mereka berdua hanya tersenyum ketika anaknya terlihat begitu ceria.
“Nanti kalau Mama sakit kita tarik hidungnya ya, Nak. Kita tarik hidungnya biar mancung, biar Mama nggak pesek lagi. Sampai-sampai peseknya nurun ke anaknya, Papa,” jelas Rey. Padahal istrinya mancung. Tapi dia memang senang meledek istrinya dengan sebutan pesek sehingga ekspresi Marwa pasti akan sangat berubah.
Mereka masih bercanda diperjalanan. Hingga Marwa bertanya, “Mas, Hana gimana?”
Rey terdiam sejenak. Dia tahu bahwa hidup Hana sekarang jauh lebih baik. Karena Zibran mengatakan bahwa istrinya bisa menerima dengan baik juga. Tapi, hanya sampai Hana melahirkan saja. Dan itu pasti akan sangat menyedihkan. Hana akan menjadi korban. Dan juga anaknya pasti akan merasakan sakit ketika besar nanti. Ibu dan juga ayahnya yang tidak menyatu. Rey sudah pernah merasakan kepedihan itu. Hadir di dalam kandungan sebelum pernikahan itu memang menyedihkan. Dibully bahkan selalu dikucilkan oleh siapa pun. Rey tahu sakitnya. Tapi dibandingkan dengan itu semua, Rey juga mengerti bagaimana sakit hatinya istri pertama Zibran yang menerima kehadiran anak itu. jika dibandingkan dengan Rey dan anak Zibran. Ceritanya itu sangat berbeda. Namun, tetap saja kesalahan papanya akan tetap diingat oleh orang lain. Terlebih Mamanya pernah dianggap sebagai perempuan murahan oeleh orang lain dulu. Namun, Rey tetap percaya bahwa apa yang dilakukan oleh orang tuanya itu sudah benar. Yaitu memperbaiki diri ketika mereka sama-sama salah.
Setibanya di rumah, Rey melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Ketika dia keluar dan meminta istrinya masuk. Seorang perempuan keluar dari mobil tersebut dan menghampiri Rey. “Mas Rey, kan?” tanya perempuan itu yang kemudian Rey menganggukkan kepalanya.
Perempuan itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Tapi, dia menolaknya dengan sangat sopan. “Maaf,” ucap Rey yang kemudian memberikan salam hanya dengan menyatukan telapak tangannya di depan dada. “Kalau boleh tahu, ada keperluan apa?”
“Saya Nita, Mas. Istrinya Mas Zibran,”
Kali ini Rey paham dengan kedatangan perempuan itu. apakah kedatangan perempuan ini untuk menanyakan keberadaan Zibran ataukah Hana. Ini yang tidak diinginkan oleh Rey ketika istrinya terlibat dengan perempuan yaitu istri pertama Zibran. Didatangi seperti ini ketika Marwa baru saja pulang dari rumah sakit.
“Masuk dulu!” pinta Rey mempersilakan tamunya untuk masuk.
Di ruang tamu, Rey tidak memberikan izin kepada istrinya untuk keluar karena Marwa yang baru saja dipulangkan dari rumah sakit. Bahkan perempuan itu belum juga pulih dari sakitnya. Sekarang didatangi langsung oleh istri pertama Zibran. “Kalau boleh tahu, ada keperluan apa?”
Perempuan itu menunduk. “Mas Rey tahu tentang pernikahan Mas Zibran kan?”
Rey mengangguk, “Ya, tahu. Bukannya Zibran pernah izin waktu itu?”
“Ya, dia bilang kalau pacarnya hamil. Apa itu benar?”
Sekali lagi Rey membenarkan pertanyaan perempuan itu. “Ya, dan perempuan itu pernah tinggal di sini selama beberapa hari sebelum menikah. Dia teman baiknya istri saya. Tapi, saya sudah ingatkan beberapa kali melalui istri saya kalau mereka harus menyudahinya,”
Perempuan yang ada di depan Rey itu menangis. Siapa pun pasti akan menangis jika berada diposisi istri pertama Zibran yang dikhianati. Apalagi sampai menghamili perempuan lain. Mau tidak mau dia menerima itu semua. Zibran yang tidak mau menceraikan istri pertamanya. Kedua, Zibran tidak mau untuk memutuskan Hana dan meminta untuk menerima kehadiran Hana di dalam kehidupannya.
“Zibran itu dulu nggak punya apa-apa. Saya yang kerja, saya yang cari uang waktu dia jadi pengangguran. Dia pernah dipecat dari perusahaan karena perusahaan memang mengurangi karyawan dulu. Setelah itu, dia dapat kerja lagi. Dia berjanji untuk berjuang waktu itu dengan saya. Karena dia tahu kalau saya nggak ada siapa-siapa lagi untuk bertahan,”
“Terus?”
“Pertengkaran itu terjadi. Ketika Mas Zibran punya proyek besar dan akhirnya dia pacaran dengan Hana. Saya tahu, saya tahu semuanya tentang Hana. Bahkan saya tahu juga kalau Mas Zibran pernah bilang ke Hana kalau dia akan menceraikan saya dengan segera waktu itu. padahal posisinya saya dan dia lagi bertengkar hebat,”
“Saya nggak tahu kalau hal itu, Mbak. Saya cuman tahunya mereka itu pacaran dan saya pernah ingatkan kalau mereka nggak bisa lanjutkan hubungan ini,”
“Saya bertahan karena anak-anak yang terus nyariin Papanya. Tapi kalau memang dia milih Hana. Saya nggak apa-apa. Saya sudah pernah minta dia buat pergi jauh dari saya,”
“Mbak, saya nggak berani komentar apa pun. Saya laki-laki, nggak tahu bagaimana rasanya jadi perempuan yang di duakan. Tapi, kalau boleh tahu. Apa Mbak sudah tahu ini sejak lama?”
“Sudah, sangat lama. Bahkan saya tahu kalau Mas Zibran itu sampai belikan Hana apartemen. Saya juga tahu kalau Mas Zibran sudah sering liburan ke luar kota sama Hana,”
“Hana tahu kalau Mbak itu istrinya?”
“Tahu, bahkan dia sering hubungi saya dan bilang kalau saya harus jauhi Mas Zibran,”
Rey tidak ingin ikut campur untuk urusan rumah tangga orang lain. Apalagi sampai melibatkan istrinya lagi nanti. Perempuan bernama Nita itu mengeluarkan ponselnya dan memberikan Rey bukti bahwa Hana seringkali menghubunginya. Bahkan di sana tertera bahwa Hana mengatakan jika Nita harus meninggalkan Zibran segera karena sedang mengandung anak Zibran. Berarti, selama ini Marwa membela orang yang salah. Istrinya hampir saja membela perempuan itu mati-matian. Bahkan tidak peduli dengan dirinya sendiri. Rey terkejut waktu itu. dia tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran istrinya ketika Marwa hendak membela Hana yang jelas-jelas merupakan perempuan yang memang ingin menghancurkan rumah tangga orang lain.
“Apa yang Mas Zibran katakan waktu dia datang kemari? Saya memang dengar kok kalau Hana tinggal di sini,”
“Yang ngasih tahu Mbak siapa?”
“Mas Zibran, dia yang bilang kalau dia jemput Hana di sini,”
Rey tak ingin banyak bicara lagi. Sudah banyak sekali masalah yang dia hadapi bersama dengan Marwa. Ditambah lagi ketika istri pertama pria itu datang kemari untuk menanyakan Hana saja. Padahal mereka berdua sudah tidak ada hubungan lagi. Rey yang tidak ingin istrinya terlibat, terlebih karena dia benci ketika istrinya disangkutpautkan dengan keluarga pria itu lagi.
“Salah saya menggugat Mas Zibran?”
Rey mengangkat kepalanya dan melihat perempuan itu terisak. Dia menyodorkan tisu untuk istri pria yang sudah dia percayai untuk urusan proyek mereka. “Kalian mau cerai?”
“Apa gunanya saya di sini, Mas? Kalau saya nggak bisa maafin dia. Hana bukan perempuan pertama yang jadi korban Mas Zibran. Dia juga punya istri dulu, dan satu anaknya saya bawa. Yaitu anak perempuan yang saya bawa. Terus, belum lagi satunya dibawa oleh ibunya,”
“Zibran berapa kali nikah, sih?”
“Empat, termasuk Hana. Itulah kenapa saya paling benci kenapa saya selalu nerima dia. Demi anak-anak, bahkan anak-anak itu nggak pernah tahu papa mereka ke mana. Kalau Mas Zibran jarang pulang. Mungkin saya maklumi, tapi kenapa saya selalu jadi korbannya?”
“Apa dia perhatian sama anaknya?”
“Ya, kadang-kadang dia jauh lebih perhatian kepada anaknya dibandingkan dengan saya. Tapi, bagaimanapun juga, Mas Zibran itu tetaplah pria yang nggak baik. Saya bukannya mau buka aib suami sendiri. Saya menggugat dia hari ini, entah dia terima atau tidak. Nggak ada perempuan yang mau di madu, Mas Rey,”
“Sudah pikirkan bagaimana nasib anak-anak?”
“Saya bawa anak saya sendiri, biarlah anak dia dia dari perempuan lain itu saya serahkan sama dia, saya nggak mau lagi berurusan sama dia, Mas,”
“Apa yang terbaik buat, Mbak. Maka saya nggak bakalan berkomentar. Jika mbak merasa itu yang terbaik. Silakan saja.”
“Nggak semua perceraian itu buruk, Mas. Apalagi Mas Zibran secara gamblang ketemu sama perempuan itu bawa anak-anak, gimana mereka yang tiba-tiba diberitahu bahwa Hana adalah perempuan yang akan menjadi mama tiri mereka? Apa yang mereka rasakan? Mas Zibran itu banyak berubah. Mengenai dia yang selalu menganggap bahwa istrinya selalu salah, apa dia lupa? Saya begini juga karena tingkah dia yang selalu merasa bahwa dia itu benar untuk mencari pasangan. Diluar sana, dia bilang kalau saya itu perempuan nggak becus, seoalah saya selalu dijatuhkan dihadapan orang lain,”
“Selama anak-anak nggak nyariin ayahnya, ya nggak apa-apa. Dan juga kalau memang mau rawat anak berdua. Ya nggak masalah juga, pikirkan baik-baik gimana nanti keadaan mereka. Apakah mereka akan terima atau bagaimana,”
“Anak saya ya anak saya, Mas. Saya hanya akan bawa anak saya, saya nggak mau urus anak dia yang dari perempuan lain. Selalu saja hamil menjadi alasan Mas Zibran buat nikah. Tapi, setelah anaknya lahir, Mas Zibran bakalan pergi gitu aja,”
Benar seperti yang diceritakan oleh Marwa waktu itu. bahwa Hana yang pernah dilarang oleh orang tuanya itu berarti memang sudah tahu mengenai Zibran. Tapi Hana selalu membela Zibran seolah pria itu selalu benar. Sekarang ini, hanya ada penyesalan yang akan mereka rasakan. Tidak akan ada lagi penyesalan jika seperti ini masalahnya.
“Terus, Mbak sudah pikirkan ini baik-baik?”
“Sudah, Mas. Bahkan saya juga sudah bekerja untuk menghidupi anak saya. Saya juga sudah siapkan rumah, dan juga masa depan dia pasti akan saya penuhi selama saya masih hidup,”
“Lakukan yang terbaik, Mbak. Kalau memang itu yang Mbak anggap terbaik, mengenai hati Mbak saya nggak tahu apa-apa. Karena yang lebih tahu pasti kalian sebagai perempuan apalagi yang merasakannya itu adalah, Mbak. Saya nggak bisa banyak membantu. Apa yang bisa saya bantu untuk kali ini?”
“Hentikan kerjasama Mbak sama Mas Zibran. Pasti dia nggak bakalan lagi seperti itu lagi. Karena saya tahu kalau proyek dia itu besar banget dari, Mas,”
“Zibran ke mana sekarang?”
“Dia pergi sama Hana, mereka liburan,”
Rey paham kali ini. Berarti waktu itu mereka terlihat sedang menyedihkan adalah hal yang bohong. Di sini istri Zibran yang pertama menjadi korban brengseknya pria itu. yang dulunya diperjuangkan oleh istrinya. Kali ini justru membuang istrinya.
“Kalau boleh tahu, apa benar Mbak itu nyuruh Mas Zibran nikah sampai Hana melahirkan?”
“Bohong, dia dari dulu seperti itu. dia ceraikan istrinya kalau istrinya sudah melahirkan,”
Rey memijit pelipisnya. “Sudah, Mbak. Kepala saya pusing banget,”
Rey tidak tahan lagi mendengar perempuan itu menangis. Kedatangan Nita hanya untuk mengatakan jika Rey harus berhenti bekerjasama dengan Zibran hanya karena pria itu sering menikah dan akan menceraikan istrinya ketika sudah melahirkan.
“Saya pamit kalau begitu, Mas. Sebentar lagi saya ada rapat di kantor,”
“Kantor Mbak di mana?”
“Saya kerja di perusahaan telekomunikasi, Mas,” perempuan itu kemudian berdiri.
Rey mengeluarkan kartu nama. “Kalau ada yang Mbak tanyakan. Telepon sekretaris saya ya, itu nomor sekretaris saya. Mungkin Mbak butuh pekerjaan lain atau apa pun itu. asal jangan libatkan urusan rumah tangga lagi dengan urusan pribadi. Kepala saya sudah sangat pusing, Mbak,”