
Seperti janji yang telah dia ucapkan semalam kepada dua adiknya itu. Rey menepatinya, bahkan dia mengantar dan menjemput adiknya sekolah. Sepulang sekolah ia membiarkan adiknya istirahat terlebih dahulu sebelum membantu mengerjakan tugas sekolahnya. Sedangkan saat itu ia baru saja pulang dari rumah barunya bersama istrinya, melihat sudah sampai tahap mana dibersihkan serta mencari beberapa barang baru yang akan di isi di rumah itu.
Ia melemparkan diri ke sofa dan istirahat di sana. Sedangkan istrinya sedang membantu mamanya di dapur untuk membuat kue kesukaan adiknya yang selalu dibuatkan setiap kali salah satu dari mereka ingin makan kue buatan mamanya. Rey tahu bahwa mamanya sangat pandai membuat kue karena pernah memiliki usaha toko kue dulu selagi dia masih kecil.
Kali ini yang jadi beban pikirannya adalah bagaimana caranya agar dia bisa lebih akrab lagi bersama dengan mertuanya. Setelah pengakuan dari mertuanya, Rey cukup canggung jika harus berbicara panjang lebar lagi seperti sebelumnya.
Ia beranjak dari sofa dan menghampiri mama dan istrinya di sana. Pria itu mendekati istrinya yang tengah mengaduk beberapa bahan dan mencicipi cokelat yang sedang dipotong oleh mamanya. “Kalian berdua sudah makan?”
“Belum, Ma,”
“Kenapa kamu suruh adik kamu tidur kalau belum makan siang?” ucap mamanya. Rey tidak menanggapi hal itu. Akan tetapi lebih sibuk dengan mencicipi cokelat yang dipotong oleh mamanya tadi. “Marwa juga belum makan?”
“Udah sih tadi pengin makan di jalan. Nggak tahu deh sekarang masih lapar atau nggak,”
“Kamu ajak makan!”
“Udah kenyang, Ma. Kan nanti sore aku sama Mas Rey mau ke tempat orang tua. Jadi biar makan malam sekalian di sana,”
“Besok-besok kalau pengin pulang enggak perlu izin sama suami kamu yang keterlaluan ini,”
“Kok gitu, Ma?” jawab Marwa yang melihat suaminya justru menyeringai saat mamanya berkata demikian.
“Iya iya, masa ada suami yang ngelarang istrinya pulang ke rumah orang tuanya sendiri. Apa nggak sayang sama istri sampai mau pulang aja harus dikekang gitu,”
“Nggak gitu juga, Ma. Mama sendiri kan tahu kalau dia lagi hamil,”
“Emangnya nggak ada masa-masa ngidam? Ya pasti gitu kalau ngidam pengin masakan mamanya atau apalah, intinya jangan dilarang. Mama aja kesal dengarnya kalau kamu larang dia pulang,”
“Kerja sih kerja. Tapi jangan lupain tanggung jawab. Dan jangan pernah pisahin anak sama orang tua kalau udah nikah. Masa sih kamu nggak bolehin, apalagi Marwa nggak ada saudara. Jangan egois, Rey. Papa kamu aja nggak pernah larang Mama pulang ke rumah Om Dimas,”
Rey mengangguk dan mendengar setiap ocehan mamanya. “Ngomong-ngomong, Ma. Kok aku nggak pernah ke tempat Om Dimas ya,”
“Nah itu, jangankan ke rumah Om Dimas. Ke rumah mertua kamu aja nggak pernah. Apalagi mau ke rumah Om Dimas,”
Banyak hal yang terjadi setelah dia menikah. Banyak waktu yang tidak pernah dimanfaatkan dengan baik walaupun hanya berkumpul dengan keluarganya. “Nanti kalau ada waktu aku bakalan mampir ke rumah Om Dimas. Kasihan Tante Viona nggak pernah aku jengukin,”
“Erlangga nggak pernah kabari kamu?”
“Nggak, Ma. Dia paling mampir ke kantor sih pulang kuliah. Biasalah dia, Ma. Sibuk banget sama tugas kuliahnya,”
“Saking sibuknya jangan pernah lupa sama keluarganya. Bagaimanapun juga dulu semasih kecil Om Dimas rawat kamu dengan baik, Tante Viona nggak pernah banding-bandingin kamu. Erlangga teman yang selalu setia sama kamu. Padahal ya kamu itu selalu lupa kepada mereka,”
“Bukan lupa sih, Ma. Tapi karena belum ada waktu aja,”
“Lyla sering nanyain kamu kalau kita ke sana, Rey. Katanya dia pengin ketemu kamu, tapi kamu nggak pernah ada waktu main ke sana. Clara juga sering tanyain kamu kalau di rumah Oma. Kalau Mama ke sana, dia pasti pulang dan berharap bisa ketemu sama kamu,”
“Dia kan bisa kesini kapan aja, Ma,”
“Mana bisa seperti itu. Barangkali dia ngerti karena kamu udah nikah, terus kalau mau ketemu nggak sebebas dulu. Dia jaga perasaan istri kamu, tahu kan kalau Clara udah ketemu sama kamu dia kayak gimana, mungkin aja dia nggak mau kelolosan dan nggak mau kelewatan tingkahnya kalau sama kamu,”
“Minimal ya kamulah yang cari dia. Masa dia terus yang cariin kamu, jangankan sama kamu. Sama Leo aja dia kangen banget, sampai-sampai kalau Leo ke sana dia peluk Leo dan nggak mau lepas,”
“Dulu aja berantem tiap hari. Saling lempar dan saling gigit,”
“Itu kan dulu. Sekarang beda lagi, ya kamu juga bakalan ngerasain hal yang sama nanti sama adik kamu kalau kamu udah punya anak. Mama juga dulu gitu, pengin banget pulang tiap hari. Ketemu sama Om Dimas. Om kamu dari dulu selalu aja baik, tapi kalau udah kumat ya ngeri. Jarang marah, sekalinya marah nyari Mama menciut, apalagi Papa kamu pasti nggak bakalan berani macam-macam,” Nagita mengingat bahwa dulu bagaimana tindakan Dimas ketika dirinya bercerai dengan Azka dan saat itu juga Dimas mengusir Azka tidak mau menerima suaminya lagi ke rumah itu. Akan tetapi usaha Azka yang tidak pernah main-main pada akhirnya membuat Dimas luluh juga.
Tidak peduli bagaimana dulu Dimas menolak. Hingga pada akhirnya luluh juga dan membiarkan Nagita kembali lagi pada pelukan Azka.
“Mama melamun, mikirin apa coba?”
“Papa kamu,” ucapnya spontan. Nagita tersipu karena anaknya menggodanya setelah dia mengatakan hal seperti itu.
“Mama sama Papa selalu romantis ya. Apalagi Papa yang selalu ngalah sama Mama,” jawab Marwa yang ikut bergabung dalam pembicaraan mereka. Rey yang mendengar itu langsung mendekati istrinya.
“Memangnya selama ini suamimu ini nggak ngalah sama kamu?”
“Apaan sih, Mas. Malu tahu, main peluk-peluk,” istrinya protes saat Rey memeluk Marwa.
Nagita menggeleng dan tersenyum melihat anaknya yang selalu saja menggoda istrinya. “Mending kalian istirahat aja, Mama nggak apa-apa sendirian. Nanti kan kalian mau pergi,”
“Beneran nggak apa-apa?” tawar Rey.
“Mas mending tidur sana. Aku bantuin Mama di sini,”
“Tidur itu artinya berdua, kalau sendiri bukan tidur namanya,”
“Terus apa?”
“Merana, mikirin istri yang sibuk. Sedangkan suami sendirian di kamar, nggak asyik tahu,”
Marwa geram mendengar suaminya yang berkata demikian, dia langsung mencubit perut Rey hingga suaminya itu mengaduh kesakitan. “Ya ampun kamu tuh galak banget ya semenjak hamil,” protes Rey membalas istrinya dengan mencubit pipi istrinya.
“Memangnya siapa yang hamilin?” celetuk mamanya.
Rey menggaruk kepalanya kemudian mencium mamanya dan menarik Marwa kabur dari dapur membiarkan mamanya sendirian di sana. “Bi, bantuin Mama bikin kue ya!” ucapnya kepada bibi yang baru saja mengangkat jemuran.
“Teriak-teriak kayak orang di hutan aja kamu, Mas.”
“Bawel. Ayo buruan!”