RICH MAN

RICH MAN
SULIT ADA WAKTU SEPERTI INI



Marwa baru saja selesai menuaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Rey yang memasang kembali pakaiannya kemudian memilih keluar dari kamar untuk mengambil air minum yang lupa dibawakan oleh istrinya tadi. dia tidak bisa jika ketika dia terbangun justru tidak ada air putih yang disediakan.


Baru saja Rey beranjak dari tempat tidur, anaknya justru menangis karena Marwa lupa membuatkan susu tadi ketika tidur. Rey menoleh ke arah jam dinding di kamar istrinya yang baru saja menunjukkan pukul sebelas kurang.


Marwa sesegera mungkin mengenakan pakaiannya lagi. “Biar aku yang keluar, Mas,” panggil Marwa begitu Rey hendak keluar.


Marwa buru-buru turun dari kamarnya dan membuatkan Audri susu karena dia lupa membawakan Audri ke kamar. Biasanya dia sudah menyiapkan susu untuk anaknya sebelum mereka tidur karena takut jika anaknya bangun tengah malam karena haus.


Marwa kembali lagi ke kamarnya dan menemukan mamanya yang berdiri di depan pintu dan hendak mengetuk pintu. “Anak kamu kenapa nangis?”


“Lupa dibuatin susu, Ma,”


“Rey di dalam kan?”


“Iya, Ma. Tapi kalau dia lapar ya memang begitu, nggak mau berhenti nangis sebelum dotnya ada sama dia,”


“Kasih makan juga sayang, siapa tahu Audri lapar, kan?”


“Nanti yang ada dia nggak bisa tidur kalau disuapin jam segini, Ma,”


“Dikit aja toh dia tidur sebelum isya kan?”


Marwa kemudian menganggukkan kepalanya. “Ya udah, Ma. Nanti aku suapin,”


“Bawa buburnya?”


“Bawa, Ma,”


“Kalau nggak bawa, Mama mau buatin dia,” ucap mama Marwa. Beginilah perempuan yang selalu menginginkan anaknya baik-baik saja dan berharap anaknya tidak menangis seperti barusan. “Kalau gitu Mama tidur dulu ya,” pamit mama marwa.


Perempuan itu kemudian kembali lagi ke kamarnya dan menghampiri Rey yang sedang menggendong Audri, “Anak Mama kok nangis?” Marwa memberikan botol susu dan juga minuman untuk Rey yang katanya tadi kehausan.


“Mas, aku suapin dia nggak apa-apa jam segini?”


“Ya kalau dia mau nggak apa-apa,”


“Nanti kalau dia kekenyangan dia nggak mau tidur, Mas,”


“Nggak apa-apa, nanti aku yang jagain dia. Lagian dia nggak bakalan nangis kok kalau sama aku,”


“Aku buatin buburnya dulu, ya,” pamit Marwa lagi ketika dia diminta oleh mama dan juga suaminya untuk menyuapi buah hati mereka.


Rey yang mengambil botol susu anaknya ketika Audri sudah tidak menangis lagi. Beruntunglah anak itu tidak menangis lagi dan mau bermain dengannya. Rey mengajak anaknya bermain yang di mana anaknya justru tertawa terbahak ketika Rey mengajaknya bermain.


“Anak Papa cepat banget besarnya,” Rey mencium pipi anaknya dengan gemas sambil menunggu Marwa datang membawakan bubur yang akan dimakan oleh Audri nanti.


Dia membaringkan anaknya diatas kasur, anaknya memang anak yang baik dan jarang sekali menangis kecuali lapar. Anaknya yang tidak pilih-pilih ketika digendong. Buktinya tadi dia mau digendong oleh kakeknya sampai tertidur.


marwa masuk lagi ke dalam kamar dan mengaduk bubur di pinggiran ranjang. “Maaf sayang ya, maemnya jam segini,”


“Ya kan tadi dia tidur,”


“Tadi sore nggak sempat suapin juga karena dia nggak mau,”


“Nggak apa-apa, jangan dipaksa ya! Biarin aja dia mau atau enggaknya. Yang penting dia nggak nangis aja sih,” jawab Rey yang mengambil bubur yang ada ditangan istrinya. “Pangku Audri sayang, biar aku yang suapin,” kata Rey.


Namun ketika dia rasa bubur anaknya masih terlalu panas, Audri juga masih tidak sabaran ingin makan. “Tiupin aja, Mas!”


Rey menggeleng, “Nggak baik, sayang. Mending diangin-anginkan dulu, atau kalau nggak ya dikipas, nggak baik kalau ditiup,” Rey beranjak dari pinggiran ranjang kemudian mengambil kipas portable yang dibawanya untuk Audri. Bubur Audri pun dikipas hingga dingin, “Nggak boleh maem yang panas-panas, yang panas enggak boleh ditiup sayang,”


“Kenapa, Mas?”


“Nggak baik untuk kesehatan, misalnya kita bawa bakteri ketika niup otomati pindah ke makanan dia kan? Jadi kalau udah tahu sekarang nggak usah tiup lagi oke!”


Marwa menganggukkan kepala. “Iya, Mas,”


“Ingat juga sebelum nyuapin dia itu jangan lupa baca doa! Ya kan sayang?” Audri dengan begitu riang ketika Rey menuntun doa sekalipun anaknya belum bisa melafalkan. Anaknya makan dengan lahap. “Setelah pulang dari sini kita nginap di rumah orang tua aku, oke?” tanya Rey kepada istrinya.


“Aunty ciliknya pasti juga udah kangen nih sama dia,” kata Marwa menimpali.


“Pastinya dong, nanti kita ke rumah nenek juga. Biar sekalian berkunjung,”


“Kapan diajakin ke rumah Om Dimas?”


“Hmmm, ya setelah kita dari rumah nenek,”


“Borongan banget kita ngunjunginnya,”


“Enggak masalah. Yang penting kamu suka. Nggak ada salahnya kunjungi keluarga. Lagipula Om Dimas itu Papa kedua aku. Karena dari kecil aku kan sudah di sana, waktu kita sekolah pun aku di sana sama dia,”


“Tau kok tau,”


“Ngantuk nggak?” tanya Rey yang masih sibuk menyuapi anaknya sambil bertanya demikian kepada Marwa.


Marwa menggeleng karena dia tahu pasti suaminya ingin mengajaknya membahas mengenai masa lalu karena dia sempat mengatakan hal itu tadi pagi bahwa mereka berdua akan bercerita banyak banyak hal tentang mereka berdua. Marwa juga ingat ketika dirinya dulu jatuh cinta ketika masih muda di usia masih SMA.


“Mas kenapa senyum sendiri?”


“Nggak nyangka aja kalau aku bisa nikah sama kamu dan sekarang ini buktinya,” kata Rey mencubit pipi Audri dengan gemasnya. Bukti cinta mereka berdua adalah pernikahan dan juga Audri. Rey menepati janjinya untuk menikahi Marwa seperti janjinya waktu itu. ketika di mana Rey berjanji bahwa dia akan serius dengan hubungan ini bersama dengan Marwa. Begitupun juga dengan Marwa yang kala itu juga berusaha untuk percaya dan benar juga apa yang mereka harapkan akhirnya terwujud.


“Nanti beneran Mas yang gendong ya?”


“Iya, kamu tidur aja dulu. Nanti dibangunin kalau suami minta lagi,”


Rey tersenyum, “Minta apa memangnya?”


Marwa cemberut ketika melihat ekspresi suaminya yang sedari tadi sepertinya memang sangat suka menggodanya. “Udah, itu bekas buburnya taruh diatas meja, besok aku yang cuci,”


“Ngundang semut yang ada, aku bersihin nanti di kamar mandi bentar,”


“Suami serba guna banget memang,”


“Ohya dong harus, aku juga mau cuciin kamu kalau kamu mau dicuciin. Aku juga siap banget lho cuci apa pun itu, nggak masalah. Jangankan bekas makanannya Audri, sekalian mamanya Audri dengan senang hati dibersihin,”


“Apa sih, Mas?” keluh Marwa yang kemudian mengajak Audri menjauh dan memberinya minu. Rey tertawa ketika melhat ekspresi istrinya yang langsung menampilkan ekspresi yang begitu malu. Padahal jarang-jarang mereka bisa seperti ini lagi dulunya sangat canggung dan sekarang bisa menjadi dekat seperti ini juga karena keberuntungan berpihak kepada Reynand. Yaitu ketika istrinya memberi kesempatan untuk kembali.


Rey kembali lagi setelah dia membersihkan bekas makanan Audri dan mengambil anaknya dari gendongan sang istri. “Sayang istirahat aja! Dari tadi kamu udah capek banget jagain dia selama aku kerja,”


“Nggak apa-apa aku tinggal tidur?”


Rey menggeleng, “Memangnya aku pernah marah kalau kamu ketiduran?”


Perempuan itu menyeringai dan justru memeluk Rey ketika pria itu mengambil anaknya. “Sayang banget kalau kayak begini,”


“Besok uang bulanan pasti naik nih,” ledek Rey kepada istrinya.


“Memang suami peka ya kalau begini,”


“Memangya beneran pengin uang belanja naik?”


“Hmm, iya. Karena kebutuhan kan banyak, belum lagi anak kamu tuh susu yang besar habis cuman empat hari, belum lagi popoknya,”


“Itulah kenapa nikah itu butuh modal,”


“Modal apa? Kita nikah biaya siapa dulu?”


“Aku lah, tanya Mama tuh. Aku nabung sendiri lho, berharap bisa nikahi Bintang,”


“Nih orangnya ada di depan kamu, Mas,” Marwa cemberut memanyunkan bibirnya.


Rey mencium bibir istrinya sekilas kemudian tersenyum. “Iya, ini orangnya yang bikin aku kayak orang gila waktu itu. ngerasa aku paling berkhianat tahunya kamu adalah perempuan yang aku cari selama ini. Lucu adalah ketika aku nganggap kamu itu orang lain. Yang ternyata orang yang aku cari selama ini ada di depan aku,” kata Rey sambil tersenyum tipis.


“Tapi kadang kamu itu nyebelin loh, Mas,”


“Kenapa? Toh aku juga sayangnya sama kalian berdua sekarang,”


“Perasaan dari awal kita bertemu kamu paling nyebelin,” ucap Marwa yang duduk dipinggiran ranjang. “Papa itu dulu masih muda nyebelin, modus juga iya. Belum lagi Papa tuh disukai banyak perempuan, Mama udah cemburu dari kamu belum ada sayang,”


Rey masih menggendong anaknya dan mengayunkan Audri agar tertidur. “Nggak apa-apa dulu kan memang aku tuh ganteng,”


“Sekarang juga masih, makanya kalau keluar itu kamu pasti cemburu, kan?”


“Enggak banget,”


Rey mencolek hidung istrinya. “Perempuan itu minta dimengerti, tapi ketika ditanya cemburu apa enggak pasti jawabannya enggak. Padahal aslinya pengin ngamuk. Nanti pas lagi cemberut, ditanya kenapa, pasti jawabannya enggak kenapa-kenapa. Padahal minta cowok buat ngerti, kadang ya perempuan itu lucu kalau cemburu. Ngaku gengsi, enggak ngaku tapi minta dipekain,”


“Kamu kayak remaja aja, Mas,”


“Baru juga punya anak satu, ya otomatis masih remaja,”


“Eiiiits, ingat tuh anak hasil kamu. Jadi jangan macam-maca, kita smackdown kalau kamu macam-macam lagi, Mas,”


Rey tertawa dengan keras ketika melihat istrinya mencubit perutnya. Sementara Audri sudah tertidur digendongannya. “Mas, aku tadi buat buburnya dikit banget, biar dia tidur nggak kekenyangan, susah napas nanti. Eh sekarang malah tidur beneran,”


“Jadi waktunya Mama dan Papanya pacaran nih,”


“Rey, Marwa tidur! Suara kalian kedengaran sampai kamar Mama lho!!” ucap mama mertuanya dari luar.


Mereka berdua saling menyalahkan ketika ditegur. Jam juga sudah menunjukkan pukul dua belas. Mereka lama menidurkan anaknya dan juga menyuapi Audri yang butuh kesabaran karena lama ketika makan. “Tuh dimarah, Mama,” kata Rey.


“Iya, Ma. Ini juga mau tidur,” jawab Marwa yang kemudian menyalahkan Rey atas teguran dari mamanya tadi.


Selesai mengatakan itu Marwa menyuruh Rey menidurkan anaknya. “Tidur, Mas! Jangan bercanda lagi deh, nanti aku dimarahin lagi lho!”


Marwa mengeluh dan setelah Rey menidurkan Audri dia menarik Marwa agar diposisi tengah. “Kamu tidur ditengah biar aku peluk sampai subuh,”


“Mas,”


“Hmm?”


“Kamu lagi nggak sakit, kan?”


“Sakit gimana?”


“Aku cuman curiga kalau kamu kayak gini tuh kamu lagi sakit apalah. Soalnya jarang-jarang kamu bersikap seperti ini,”


 


 


“Karena aku udah bilang aku nggak mau ngelakuin hal bodoh yang pernah buat aku berantakan banget dulu. Jadi nggak usah heran kalau aku kayak gini sama kamu. Itu artinya aku juga sayang banget sama kamu. Yang nggak mau kalau kamu dan juga anak aku kenapa-kenapa.”