
Azka berkunjung untuk kedua kalinya ke tempat Eva bekerja. Sudah beberapa hari setelah kepulangan Nagita ia merasakan mimpi buruk dan juga seolah di kejar dengan kesalahannya. Beberapa lama setelah menunggu perempuan itu selesai bekerja, ia langsung mengikuti langkah kaki Eva yang membawanya masuk ke dalam ruangannya.
"Jadi lo mau gugurin itu bayi?"
"Niat gue udah bulat banget, Va."
"Az, coba deh lo pikirin lagi! Bukannya gue enggak mau bantuin lo. Cuman lo mikir lagi deh, siapa tahu setelah gugurin ini Tuhan enggak ngasih lo keturunan lagi. Dalam arti ****** lo enggak normal. Terus lo enggak bisa punya anak lagi, belum lagi tuh perempuan bisa jadi di kasih kesempatan cuman sekali untuk hamil," Azka menarik napas panjang mencerna apa yang dikatakan oleh Eva. "Tapi lo tahu sendiri kan. Gue cintanya bukan sama dia,"
"Az, ngomongin cinta itu bisa belakangan. Jangan hanya karena lo hamilin dia. Terus lo alasan enggak cinta. Lo bercinta pakai nafsu cinta juga kan? ****** banget kalau lo itu bilang enggak ada cinta. Secara lo itu udah bercinta sama dia,"
"Lo enggak ngerti banget. Posisi gue sekarang itu enggak aman. Orang tua gue gimana?"
"Risiko lo sendiri. Lagian ya, kenapa lo bisa bodoh banget ngelakuin hal itu, saran gue ya tanggung jawab,"
"Enggak bakalan,"
"Terserah lo. Cuman gue enggak mau aja gitu nanti lo nyesel. Az, orang yang pernah gue bantu di sini itu adalah orang yang mempertahankan hidupnya dan rela gugurin kandungan. Kadang ada yang pertahanin kandungan dan ibunya meninggal saking cintanya sama si anak, dan lo masih mikir untuk sia-siain darah daging lo sendiri? Bayangin suatu waktu lo jadi ayah, anak lo nyambut lo pulang kerja. Atau bisa jadi kalau anak itu tetap dipertahankan dan tetap mau hidup atas kuasa Tuhan. Kemudian dia hidup bersama ibunya, berdua lagi. Tanpa ada lo, terus orang nanyain siapa ayahnya? Ada hati yang lo sakitin, pertama perempuan itu mungkin enggak bakalan nikah lagi karena trauma dan ngerawat anaknya dengan baik. Kedua, anak lo. Dia enggak tahu siapa ayahnya, terus lo enak-enakan sama istri lo suatu saat nanti. Seumur hidup lo bakalan dihantui rasa penyesalan,"
Azka melipat kedua tangannya di depan dada, "Intinya gue enggak bakalan tanggung jawab. Bodo amat dia mau rawat, gue bakalan pindah. Gue enggak mau ya hidup gue berantakan gara-gara anak itu dan perempuan itu,"
"Mikir enggak? Lo yang buat dia menderita. Ngandung anak lo, hamil adalah masa yang paling menyakitkan dan morning sickness itu buat orang kadang-kadang lemas. Enggak kuat, ada yang ngesot karena enggak kuat jalan. Masa depan dia hancur juga karena lo. Lo mau jadi ******** buat dia?"
"Gue kemari buat minta solusi. Bukan buat berantem,"
"Gue enggak setuju lo gugurin tuh kandungan. Terserah lo deh, gue enggak bakalan mau bantuin lo, gue berubah pikiran,"
Ia mendengus kesal dan langsung keluar untuk segera pulang.
****
"Daddy, maaf Daddy. Daddy ini sakit, aku mohon Daddy, aku janji tidak akan pernah nakal Daddy,"
"Tidak bisa, kamu akan membuat masalah nanti,"
"Daddy, tolong Daddy ini sangat sakit. Aku enggak bisa napas, Daddy kalau Daddy tidak sayang
sama aku, tolong sayang sama Mommy. Mommy sudah cukup menahan derita karena Daddy."
"Tahu apa kamu tentangku hah?"
"Daddy jahat. Daddy orang jahat, Daddy kasih sayang itu enggak bisa dibeli dengan uang Daddy. Kalau Daddy mau aku pergi, aku pergi Daddy. Aku titip Mommy."
Ia terbangun untuk kesekian kalinya dengan mimpi yang sama. Kejadian itu sudah sering ia rasakan. Tidak seharusnya ia memikirkan hal itu, akan tetapi mimpi buruk itu seolah menyerangnya dan tak memberinya izin untuk tidur nyenyak sepanjang malam.
"Azka sayang bangun! Buka pintunya!"
Suara isakan mamanya mampu membuat Azka segera keluar dari kamarnya dan langsung menemui perempuan itu.
"Ada apa sih, Ma?"
"Adik kamu mau bunuh diri. Dia belum bisa terima kegugurannya dan kehilangan bayinya, telpon adik ipar kamu untuk segera pulang!"
"Dek, apa yang kamu lakuin sih?"
"Kak, aku enggak bisa sama kejadian ini. Gimana kala Mas Fatir nyari perempuan lain lagi?"
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kamu masih bisa hamil lagi," ia berusaha untuk menenangkan adiknya. Dengan segala usaha dan berhasil menenangkan adiknya Azka memeluk perempuan itu penuh kasih sayang. Hatinya begitu teriris ketika melihat luka di lengan adiknya yang tergores. Sebegitu kehilangan adiknya.
Beberapa lama setelah membuat adiknya tertidur. Azka keluar bersama dengan mamanya.
"Az, kamu kalau nikah dan punya istri tolong di jaga dengan baik. Mama harap kamu bisa punya istri yang benar-benar bisa jaga kandungannya. Adik kamu depresi atas keguguran itu,"
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Ketika seseorang keguguran itu sakit. Bukan hanya perutnya yang sakit, hatinya juga akan terasa terisis. Kegagalan karena merasa tak bisa menjaga kandungan pasti akan menghampiri,"
"Mama pernah ngalamin?"
"Pernah. Untuk hamil di kamu saja mama nunggu lama banget. Papa mulai berubah. Mama pikir papa akan cari perempuan lain, tapi justru papa tetap nguatin mama. Hingga kamu hadir, jadi tolong jangan pernah nyakitin apa lagi buat perempuan nangis!"
Ia hanya mengangguk dan menyetujui apa yang mamanya katakan. Akan tetapi di luar sana ada seorang perempuan yang sedang mengandung bayinya yang ia sendiri tidak tahu apakah perempuan itu akan benar-benar menjaga anaknya atau hanya sekadar memanfaafkan keadaan.
****
"Gue mau nikahin, Nagita,"
"What? Lo serius? Lo enggak lagi mimpi kan?" Damar terkejut ketika mendengggar pernyataan dari Azka. Yang ia tahu bahwa tidak akan pernah tanggung jawab untuk menjadi ayah dari bayi yang dikandung oleh Nagita.
"Pertama gue dihantui sama mimpi anak kecil yang memohon sama gue. Kedua, adik gue keguguran. Ketiga, gue takut enggak bisa menghasilkan anak lagi saat Tuhan ngehukum karena mau gugurin darah daging gue sendiri, gue tahu kehadiran dia karena kesalahan. Tapi gue akan tanggung jawab, minimal dia punya identitas seorang ayah, setelah tanggung jawab. Gue enggak yakin bisa jatuh cinta. Ya seenggaknya gue akan tanggung jawab, lepasin Nagita. Terus gue bakalan rawat anak gue, pendidikan Nagita terhenti karena hal itu. Jadi setelah anak itu lahir dia bakal tetap kuliah. Dengan catatan gue ambil anak gue,"
"Berhadapan dulu sama, Dimas! Niat lo udah enggak baik,"
"Gue bakal ngomong kok. Jadi gue bakal ngakuin,"
"Lo belum pernah lihat, Dimas itu marah?"
"Terserah. Yang penting gue mau tanggung jawab itu aja udah cukup,"
"Otak lo dangkal banget. Kaya tapi ****, ganteng tapi brengsek."
Azka hanya mengangkat kedua bahunya bertanda bahwa tidak peduli dengan ucapan Damar.