RICH MAN

RICH MAN
JANJI PULANG



“Mas ayo bangun! Udah sore nih,”


Rey masih bermalas-malasan ditempat tidur saat istrinya membangunkannya. “Mas katanya mau bantuin adik buat tugas sekolah,”


“Bentar, lima menit lagi sayang,”


“Kamu belum mandi, belum sholat,”


“Emang udah ashar?”


“Astaga Mas ini jam 4 sore lebih. Kapan bantuin adik buat tugas?”


Rey membuka matanya dan melihat istrinya yang sudah cantik di sana. Perlahan dia mengelus punggung tangan istrinya dan ia membuka selimut ingin pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. “Nih pakai handuknya dulu, Mas! Kamu nggak pakai apa-apa, loh,”


Rey baru ingat dia tidak menggunakan apa-apa karena percintaannya tadi. Marwa menolak karena Rey meminta saat dirinya benar-benar mengantuk, akan tetapi dia tidak ingin menjadi istri yang menolak keinginan suami dan akhirnya ia pun menurut.


“Aku mandi dulu. Tunggu di luar,”


“Siapa juga yang mau ikut kamu ke kamar mandi?”


“Barangkali kamu minat buat ikut,”


“Ogah. Aku pergi,” Marwa beranjak dari pinggiran ranjang dan langsung bangun dari tempat duduknya.


Rey yang baru saja melilitkan handuk di pinggangnya dan langsung mengejar istrinya. “Cium dulu sebelum keluar,” Rey menyambar bibir istrinya hingga Marwa memukul dadanya.


“Kebiasaan banget ngagetin, Mas. Setidaknya bilang baik-baik,”


“Ya udah aku bilang ya, Marwa aku mau cium kamu boleh?” ucapnya menggoda istrinya. Bukannya menjawab, Marwa melepaskan tangan Reynand dan berlalu begitu saja. Dia tahu bahwa kali ini istrinya sedang merona. Sampai hamil seperti sekarang ini Marwa masih malu-malu kepadanya.


Marwa keluar dari kamar dan menuju kamar adiknya. Di sana adiknya sudah membereskan barang-barang yang digunakan untuk menyelesaikan tugas. “Loh kok diberesin?”


“Tugas kita udah jadi,”


“Siapa yang bantuin?”


“Kak Erlangga, tuh di bawah. Dari tadi dia di sini. Tadinya mau nyari Kak Rey. Tapi karena kakak sama Kak Rey lagi tidur kita suruh bantuin ngerjain tugas,” Marwa mengangguk pelan dan menghampiri adik iparnya kemudian membantu membereskan barang-barang sisa mengerjakan tugas itu.


“Maafin Kak Rey ya! Dia ketiduran,”


“Nggak apa-apa kok kak. Pasti kakak juga capek kan karena udah ke rumah baru. Terus belum lagi tadi Kak Rey nyetir jemput kita sekolah,”


Dia tidak tahu lagi harus berkata apa di saat seperti ini justru adiknya mengerti dengan keadaan Rey yang kelelahan. Dia bersyukur memiliki keluarga baru ini seperti keluarga kandungnya sendiri apalagi perlakuan mertuanya yang selalu saja baik. Marwa jarang bicara dengan papa mertuanya jika tidak ada mamanya. Jika mamanya pergi, papanya pasti mengajak si kembar belajar di ruang keluarga sedangkan Marwa hanya menyiapkan minuman untuk ketiganya dan kembali lagi ke kamar. Dia tahu bagaimana mertuanya menjaga sikap saat tidak ada Rey di rumah.


Selesai membereskan barang-barang yang berserakan di sana. Marwa turun ke ruang tamu di sana sudah ada Erlangga dan Lyla yang duduk disuguhkan kue oleh mertuanya. “Rey mana?” tanya mertuanya.


“Mas Rey lagi mandi terus sholat, Ma,” mamanya hanya mengangguk dan menyuruhnya duduk bergabung bersama mereka bertiga. “Kalian kapan datangnya? Baru aja Mama tuh ngomongin kalian,” ucap Marwa kepada Erlangga dan Lyla yang ada di sana. Lyla langsung bersalaman kepada Marwa dan duduk disamping perempuan itu.


Lyla tersenyum dan menempel pada bahu Marwa. “Kak Marwa bakalan punya anak, terus nanti aku jadi tante,”


“Jelas dong. Kamu jadi tante muda,” Erlangga menyahuti dan beberapa saat kemudian si kembar turun dari kamarnya dan langsung menyambar Erlangga dengan pelukannya. Sudah lama sekali tidak bertemu hingga pada akhirnya keduanya mengalah ke rumah.


“Gimana kabar Mama sama Papa?” tanya Nagita yang juga belum sempat ke sana. Ia menunggu anak-anaknya libur sekolah dan ingin menginap di sana seperti biasanya. Karena satu-satunya keluarga tempat dia berpulang adalah Dimas.


“Baik, tante. Ngomong-ngomong ada salam dari Mama dan Papa. Tante kapan ke rumah?”


“Nunggu yang dua ini libur dulu ya. Tante juga kangen, nggak pernah ke makam nenek sama kakek kalian,”


“Kalau Papa kalian sering ke sana?”


“Iya, tante. Papa masih sering ke sana kok. Kadang tiap seminggu sekali. Intinya dalam sebulan itu Papa nggak pernah nggak ke sana,”


Nagita mengangguk dia tahu bahwa Dimas selalu menyempatkan waktu untuk ke makam kedua orang tuanya. “Aku juga sering ke sana sama Mama, kalau misalnya Papa dinas ke luar. Ya kami bertiga yang ke sana,” jelas Erlangga.


Nagita cukup paham dengan ucapan itu. Suaminya juga sering menyinggung soal Nagita yang jarang pulang. Bukan karena tidak ingin pulang, tetapi dia takut jika kedua anaknya tidak menemukan siapa-siapa di rumah. Mengingat bahwa Nabila dan Salsabila selalu saja dekat dengannya.


“Nanti tante sama Om ke sana hari minggu deh,”


“Papa lusa berangkat dinas,”


“Ke mana?”


“Surabaya, sih katanya. Kalau Papa dinas, aku bakalan di suruh jagain Mama,”


“Nanti kalau Papa kalian dinas biar tante yang nginap di sana. Mungkin Om kalian nggak bisa nginap,”


Erlangga cukup tahu bahwa omnya yang selalu sibuk dengan pekerjaan dan terkadang masih sering mengunjungi papanya di kantor. Papanya pernah bercerita dahulu sebelum menikah dia bekerja di kantor om Azka akan tetapi setelah Rey lahir dia memilih untuk pindah ke tempat lain.


Beberapa saat kemudian Rey turun dari kamarnya dengan pakaian santainya. “Weeeeshh baru aja diomongin ini bocah udah di rumah aja, kapan datangnya?” Rey langsung duduk disebelah Erlangga dan langsung merangkul bahu adik sepupunya.


“Kakak aja yang terlalu sibuk. Gimana sih sama keluarga sendiri lupa. Mentang-mentang udah nikah gitu, kakak nggak pernah ke rumah lagi,”


“Bukannya lupa. Tapi belum sempat aja,”


“Itu karena Kak Rey sok sibuk,”


“Bukan sok sibuk. Tapi emang sibuk beneran,”


“Sibuk rayu istri paling,” celetuk mamanya. Rey menyeringai dan meletakkan telunjuknya di depan bibirnya kemudian Erlangga memukul dada Rey.


“Jadi sekarang jadi raja gombal? Dulu aja jarang pulang pas baru nikah. Sekarang malah nggak mau pisah setelah tahu istri ngidam,”


“Hehehe nggak gitu juga kali, Angga. Ngomong-ngomong Papa sama Mama apa kabar?”


“Kalau mau tahu kabar mereka berdua, minimal kakak tuh pulang! Jangan cuman pengin tanya kabar terus nggak mau pulang. Papa tuh sering nanyain kakak. Aku sering disuruh mampir ke kantor kakak buat nanyain kabar kakak,”


“Lusa ke rumah ya! Ajak yang lain juga. Besok kakak bakalan pindahan ke rumah baru,”


“Papa sibuk,”


“Ya kamu sama Mama dan adik kamu dong kalau Papa sibuk,”


“Tapi janji kalau udah pindahan. Kakak harus pulang setelah Papa pulang dinas nanti!”


 


 


“Janji.”