RICH MAN

RICH MAN
DIBATASI



Rey melihat ke arah jam dinding yang ada di kamar Leo, Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam yang artinya ia harus pulang karena perintah dari kedua orang tuanya untuk segera pulang membawa kedua adiknya.


"Sudah sampai sini aja dulu, ya?" ucapnya pada Leo.


"Kak Rey mau langsung pulang?"


"Iya, Mama nyariin nanti," Rey bangun dari tempat duduknya dan bergegas menuju kamar menuju kamar Clara yang di mana kedua adiknya sedang sibuk bermain.


"Kak Rey, mengenai tadi pembahasan kita barusan, jangan diambil hati ya! Aku enggak ada maksud apa-apa kok, kalau memang itu benar terjadi, kita berhak kok protes dan mengatakan bahwa kita tidak pernah setuju dengan hal itu, kita itu punya hak buat menentukan hidup kita,"


Rey hanya mengangguk dan langsung membuka pintu tanpa menghiraukan ucapan Leo. Dirinya pun membuka pintu kamar Clara dan menemukan adiknya tengah asyik bermain di sana. "Dek, pulang yuk! Nanti Mama nyariin,"


"Enggak mau, Kak Ley aja yang pulang,"


"Tadi kan sudah janji sama Papa kalau kita pulang cepat, Mama juga nanti nyariin kalian,"


"Enggak," jawab Nabila. Bagaimana tidak betah? Di kamar Clara begitu banyak boneka bahkan jumlahnya ratusan di kamar itu karena Clara membuat boneka itu sendiran.


Gadis itu memang sangat menyukai perihal boneka, maka dari itu semua bahan dan juga hasil buatannya sangat penuh di kamar. Tak jarang juga jika Reynand masuk ia akan disuguhi surga boneka di kamar Clara.


"Adek, ayo pulang dong!" rayunya. Tapi adiknya tetap tidak mau bangkit dari tempat duduknya dan tetap bermain boneka, sedangkan Clara juga sedang sibuk membuat boneka baru.


"Clara aja yang ikutan ke rumah, yuk!"


Gadis itu menoleh sejenak, "Emang boleh?"


"Nanti Abang izinin sama Mama Naura,"


Gadis itu langsung beranjak dari tempat duduknya dan menyiapkan beberapa perlengkapan sekolahnya, "Nginep kan?"


"Iya, harus nginap dong. Besok berangkatnya bareng Abang,"


Tidak ada pilihan lain lagi selain membawa Clara ke rumah, karena kedua adiknya itu memang dekat dengan Clara. Tak jarang pula kedua orang tuanya sangat kelelahan jika Nabila dan Salsabila menangis ingin pergi ke rumah Oma. Itu sudah dipastikan karena ingin bertemu dengan Clara.


Rey duduk di lantai bergabung dengan kedua adiknya sambil menunggu Clara menyiapkan barang-barang yang akan dibawa besok, "Jangan lupa sama buku PR, jangan sampai ada yang ketinggalan!"


"Siap Abang. Ngomong-ngomong Kak Leo izinin sama Mama nanti, ya!"


"Ogah, izin aja sendiri. Ngapain juga ikut? Nanti malah ngrepotin tante di sana,"


"Gini nih, gimana mau buat Clara nurut sama kamu kalau perlakuan kamu aja sebagai kakak sudah seperti ini, jangan sering berantem. Nanti malah kangen loh kalau jauh," Rey mencoba melerai pertengkaran keduanya. Bukan hal baru lagi jika melihat keduanya bertengkar, karena Leo dan Clara memang sangat jarang akrab.


"Nanti main cama Kak Ala?" tanya Salsabila.


Reynand mengusap rambut adiknya, "Iya nanti bisa main di sana. Kak Clara mau nginap di rumah kita, dek. Nanti juga bobok sama Kak Ara," ucap Rey menjelaskan kepada kedua adiknya bahwa Clara akan ikut ke rumah mereka.


Setelah selesai bersiap-siap, Rey membereskan boneka Clara yang berserakan karena perbuatan si kembar, ia pun merapikannya di atas ranjang milik Clara.


"Enggak usah, Bang. Nanti biar Bibi saja yang rapiin, ayo kita pergi Bang. Biarin aja alien ini di kamar, nanti lama-lama berubah jadi tuyul dia," sindir Clara pada Leo.


Reynand yang melihat Leo melempar Clara dengan bantalan sofa itu pun hanya menggeleng melihat kelakuan dua bersaudara itu. Sedangkan dirinya sibuk mengurus anak kecil yang masih belum bisa diajak bertengkar seperti Clara.


Reynand keluar dari kamar Clara bersama kedua adiknya, sedangkan tante Naura baru saja keluar dari kamar pribadinya, "Loh Rey mau pulang?" sapanya.


"Iya tadi Papa nyuruh aku pulang sebelum maghrib, aku bawa Clara ya tante, ini adik-adik aku enggak mau pulang kalau enggak ada Clara,"


"Mau nginap di sana?"


"Iya, boleh kan?"


"Boleh. Besok Abang antarin dia sekolah ya!" pesan tante Naura. Rey mengangguk dan bersalaman. "Kalau gitu tante turun dulu, ada teman Om Reno yang datang,"


Reynand tak menanggapi dan Leo menyusul mereka berempat. "Sering-sering kemari, Kak. Aku kadang kesepian loh,"


"Yakali aku tiap hari mau ke rumah Oma. Mau lihat aku dipelintir sama, Mama?"


"Mama Nagita itu kan baik. Mana mungkin dia marah,"


"Tadi juga waktu mau kemari dia nanyain aku mau ke mana. Karena aku tuh ya enggak mau buat dia khawatir, jadi aku jarang keluar juga karena dia selalu saja bersikap berlebihan sama aku, Leo. Kalau nonton berita anak SMA punya kasus ini itu, Mama itu langsung ngingetin. Papa juga sekarang lebih waspada sama aku,"


"Waspada?"


"Iya pergaulan aku dibatasi, dia tahu beberapa teman kita di sekolah punya geng yang sering nongkrong itu kan nah mereka kan selalu buat kerusuhan, nah karena dia tahu, aku jadi dibatasi. Makanya sekarang aku mainnya ke bengkel tempat Fendi kerja aja sih,"


"Aku juga gitu kok. Ya seenggaknya kita itu bisa jaga diri, Kak. Clara juga lagi proses menuju remaja karena usianya sekarang ini, sebentar lagi mau masuk SMA. Aku kurang ajar sama dia bukan karena enggak ada maksud, itu karena aku ingin dia jadi anak kecil aja, enggak usah remaja, itu ribet banget kalau urusan cinta," jelas Leo. Kali ini Reynand setuju, karena bagaimanapun juga dirinya akan membantu Leo untuk menjaga Clara yang sebentar lagi masuk SMA.


Mereka berlima turun dari tangga. Salsabila yang digendong oleh Leo karena khawatir jika anak itu terpeleset dari tangga. Reynand menggendong Nabila. Sedangkan Clara sibuk membawa barang-barangnya.


Setibanya di ruang tamu, "Clara, Leo bawa yang dua ini ke mobil ya, aku pamitan dulu sama Oma dan yang lainnya!" perintahnya.


Keduanya pun menurut dan Reynand pergi ke ruang tamu untuk berpamitan kepada keluarga yang lainnya.