
Perjalanan rumah tangga yang dipenuhi dengan lika liku ujian dan juga suka duka yang sudah mereka alami berdua. Jika awalnya Marwa menerima suaminya dengan terpaksa karena masih sakit oleh luka masa lalu tersebut. Tetapi anaknya menjadi alasan mengapa dia harus menerima suaminya kembali sekalipun di dalam hatinya belum sepenuhnya bisa memaafkan karena satu kali pria berselingkuh, besar kemungkinan akan terjadi lagi. Begitulah yang dia ingat ketika papanya dulu pernah berselingkuh dan itu terjadi sangat sering. Tapi mamanya bertahan hanya karena demi dirinya. Sekalipu pernah dipukuli, tapi mamanya tetap memilih bertahan.
Marwa menoleh ke arah suaminya yang sedang sibuk menyetir. Raut wajah suaminya yang selalu terlihat tenang tanpa dilihat ada masalah sedikitpun. Tapi tidak ada yang tahu bagaimana sebenarnya yang terjadi pada hati seseorang.
Perlahan, mobil mereka memasuki pekarangan rumah mewah milih orang tua Marwa. Di sinilah dulu tempat di mana awal pertemuan itu. Di mana dia tidak pernah tahu bagaimana rupa suaminya yang tidak pernah tahu juga bagaimana orang tuanya yang dulu menerima perjodohan itu dengan sangat baik. sekalipun Marwa tidak pernah tahu bagaimana dulu rupa calon suaminya yang melamarnya. Tidak pernah dibayangkan jika dia bertemu dengan orang yang pernah mengatakan bahwa mereka akan bertemu lagi setelah mereka sama-sama memperbaiki diri. Dan benar, jika mereka bertemu lagi ketika sudah menjadi lebih baik dibandingkan yang dulu.
Namun, ada saja yang menguji mereka kala itu. ketika Rey yang tidak pernah melihat dirinya seperti seorang istri. Justru sikap suaminya yang begitu dingin dan cuek. Hampir bercerai beberapa kali juga hanya karena suaminya mengatakan bahwa dia menginginkan seseorang. Tanpa diketahui bahwa perempuan yang dimaksud oleh suaminya itu adalah dirinya.
“Hmm, kok melamun sih? Ayo turun!”
Marwa menoleh ketika pintu mobil dibuka dan di sana ada suaminya yang begitu tampan sedang berdiri membukakan pintu mobil dan membantunya turun karena dia sedang menggendong anaknya. Dia hanya mengulas senyuman ketika suaminya membantunya turun barusan.
Rey mengambil barang-barang yang dibawa untuk menginap nanti malam. Ya, memang mereka berdua sangat jarang untuk pulang ke rumah orang tua Marwa karena kesibukan Reynand. “Mas, nanti malam usahakan pulang lebih awal ya!”
“Mas usahakan. Kalau nggak sibuk ya. Memangnya mau dibeliin apa?”
“Ya nggak dibeliin apa-apa. Aku khawatir aja kalau Mas pulangnya telat,” memang benar jika Marwa selalu mengkhawatirkan suaminya yang pulang terlambat. Takut jika perselingkuhan seperti dulu itu terulang lagi. Tidak ada salahnya trauma masa lalu membuat Marwa begitu jera ketika suaminya kedapatan berselingkuh dengan perempuan lain di luaran sana. tapi Marwa adalah tipe anak yang tidak pernah mengadu kepada orang tuanya jika terjadi masalah dengan suaminya. Dia tahu batasan di mana orang tua harus ikut campur dan juga tidak. Namun, dia selalu berusaha menutupi apa pun yang menyangkut rumah tangganya. Rey juga beruntung jika istrinya bisa melakukan hal tersebut.
Bagi Marwa, jika ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan baik. maka dari itu orang tua adalah jalan penengah untuk menyelesaikan. Dia juga percaya kepada mertuanya karena mertuanya selalu membantu untuk menyelesaikan masalah selama ini. Terlebih papa mertuanya yang keras kepala. Dia pernah melihat suaminay dipukuli oleh papa mertuanya karena kesalahan Rey yang pernah berselingkuh dan menyebabkan dia dan suaminya tidak pernah saling tegur lagi. Tapi karena usaha dari mertuanya yang ingin melihat mereka berdua baik-baik saja akhirnay membuahkan hasil.
Marwa melamun sedari tadi dan juga tidak sadar jika pintu rumahnya sudah dibuka oleh sang mama. Perempuan paruh baya itu berdiri di depannya dan dia langsung bersalaman. “Bengong? Kenapa? Ada yang dipikirin?” tanya sang mama.
Marwa menggeleng kemudian masuk ke dalam rumah dan melihat suaminya memberikan barang yang dibawa untuk Audri nanti selama menginap diberikan kepada asisten yang ada di sana.
“Udah lama banget nggak pernah kemari?” tanya sang papa mertuanya.
Rey tersenyum tipis. “Sibuk, Pa. ini juga mau berangkat kerja sekarang,”
“Kamu nggak ngopi dulu?”
“Semoga nanti pulangnya cepat. Kita bisa ngobrol, Pa,”
“Ya sudah kamu hati-hati kalau begitu. Ohya, kamu kapan liburnya? Papa pengin mancing,”
Rey melihat ke arah istrinya sebentar kemudian melirik ke arah mertuanya lagi. “Hari sabtu depan kalau nggak salah,”
“Kamu nginap sampai sabtu depan kalau begitu,”
“Dia mana ada waktu sih, Pa. dia itu sibuk banget kalau di rumah. Sama anaknya sendiri juga jarang ketemu. Dia pulang kalau anaknya udah tidur,” timpal Marwa mencoba membela suaminya ketika diajak memancing oleh sang Papa.
Padahal yang Marwa takutkan adalah suaminya menyimpan perempuan lagi. Jika dulu dia ditinggal dan selalu bersabar. Kali ini dia takut jika kejadian yang dulu terulang lagi. Apalagi Rey masih sangat muda. Ditambah lagi suaminya itu sangat sukses. Bisa beli apa pun yang dia mau.
“Tapi sebanyak apa pun harta. Satu hal yang nggak bisa dibeli yaitu hati seseorang, Marwa,” ucap papanya. Seolah papanya bisa membaca hati Marwa yang sedang gelisah ketika melihat suaminya hendak berangkat bekerja. “Hati seseorang itu nggak bisa dibeli. Sekalipun wajahnya sangat cantik atau sangat tampan. Tapi jika hatinya tidak membawa pada kebaikan, itu nggak bakalan ada gunanya. Kadang orang selalu menilai si A ini baik dan juga cantik atau misal ganteng. Tapi yang mereka lihat hanya luarnya saja. Tanpa mereka lihat dalamnya itu seperti apa. Jadi ya nggak salah nanti kalau udah ada masalah terus baru kelihatan tuh dia orangnya kayak gimana,”
“Kan nggak bisa kita lihat orang itu hanya dari gantengnya, Pa. sama juga kayak Papa yang nggak mungkin dibela sama Mama karena gantengnya aja ‘kan?”
“Kamu ngomong seolah nggak khawatir aja diluar sana tentang suami kamu. Papa tahu kalau kamu itu lagi khawatir suami kamu direbut sama perempuan lain. Dilihat dari tatapan kamu ke suami kamu itu kayak ada sedih gimana gitu mau ditinggal. Tapi jangan berpikiran seperti itu juga Marwa. Nggak baik berpikiran buruk sama suami sendiri. Papa itu sayang sama kamu. Papa nggak mau lho kamu berpikiran yang nggak-nggak sama suami kamu. Dilihat dari mata kamu ada yang kamu mau bilang ke suami kamu?” tanya Papanya.
Marwa menyeringai kemudian berdiri dari tempat duduknya. “Aku tidurin Audri dulu, pa,”
“Ya udah sekalian mau ngomongin apa di kamar! Kamu sama suami kamu ya komunikasi dengan baik,”
Marwa dan Rey ke kamar berdua untuk menidurkan Audri.
Tiba di kamar. Rey menutup pintu. “Kamu khawatir karena apa? Papa bilang begitu karena dia pasti tahu kalau kamu simpan sesuatu, apa yang kamu takutkan?”
Marwa berbalik dan duduk dipinggiran ranjang. “Aku takut kamu selingkuh lagi kayak dulu. Salah nggak kalau aku itu takut kamu yang seperti itu?”
Rey menggeleng pelan. “Itu wajar. Luka kamu belum sembuh total karena perbuatan aku dulu. Jadi khawatir yang kamu rasakan itu memang nggak bisa aku hindari. Kalau meang itu kenyataannya, aku bisa apa? Aku nggak mau kalau kamu sedih! Aku pasti jagain hati kamu, ya memang aku pernah salah. Tapi kali ini buka hati buat aku! Buat anak kita, buat kebahagiaan kita juga. Karena aku nggak mau kalau kita itu harus sedih karena nggak bisa selesaikan masalah lagi kayak dulu. Andai aku bisa putar waktu, demi apa pun aku nggak mau selingkuhi kamu. Aku nggak mau nyakitin kamu. Nggak mau cuekin kamu juga. Tapi itu adalah pelajaran buat aku. Bahwa kecewa aku sama kamu yang dulu nggak bisa aku balas. Ketika dulu aku anggap kamu ninggalin aku, tapi salah. Justru kamu sedang nungguin aku. Yang berkhianat justru aku. Tapi, aku nggak mau ungkit yang dulu,”
“Aku ngerti Mas. Aku ngerti banget sama yang kamu bilang barusan,”
“nggak usah pikirkan apa yang nggak seharunsya kamu pikirkan. Kamu asuh si kecil aja udah banyak banget tenaga dan emosi yang terkuras. Nggak usah bebani pikiran kamu lagi ya! Aku nggak mau kamu malah nanti kurus karena mikirin masalah begituan. Lagian aku di sini, aku jagain hati kamu. Lihat kan!” Rey menunjukkan cincin pernikahannya. “Ini adalah bukti kalau aku itu milik kamu. Aku janji sama kamu kalau aku nggak bakalan buka lagi. Jadi nggak usah pikirkan macam-macam lagi, oke! Nanti kalau Audri udah besar, kita bakalan tahu bagaimana perjuangan rumah tangga kita. Baik itu yang pernah sakit, ataupun bahagia. Tapi yang aku inginkan adalah ketika kita bahagia, kita lupakan apa yang pernah sakit dulu. Bukan karena kita lupa. Tapi ini juga demi apa yang yang pernah begitu menyakitkan bisa kamu kubur dalam-dalam sayang,”
Marwa tersenyum begitu Rey mencium pucuk kepalanya. “Udah sana, kamu berangkat! Kamu pagi-pagi bikin aku senyum sendiri terus,”
“Nggak masalah. Nanti malam kita cerita masa-masa sekolah kita. Lucu dan juga alay yang pernah aku sesali,” canda Reynand yang seketika membuat senyuman Marwa juga padam. Dia juga ingat dengan banyak hal mengenai masa lalunya dengan Rey yang dulu pernah begitu menyakitkan ketika masih sekolah. Belum lagi karena mereka itu pernah jatuh cinta. Tapi tidak pernah berani saling mengungkapkan. Tapi Tuhan menjodohkan mereka berdua ketika sudah sama-sama memperbaiki diri.