RICH MAN

RICH MAN
GAGAL ROMANTIS



“Nagita? Kenapa melamun


aja sendirian di sana? Ada masalah yang kamu pikirin?”


Nagita kontan menoleh


ke arah Azka yang menuju ke arahnya. Pria itu mengenakan celana pendek dan kaos


polos setiap kali berada di rumah. Nagita menyambut suaminya dengan senyuman


dan langsung menghamburkan pelukannya kedalam dekapan Azka. Pria itu


menyambutnya dengan senang hati. Pernikahan yang waktu itu hampir saja berada


di ambang batas kehancuran, antara dilanjutkan atau diusaikan hingga saat itu


juga. Tetapi beruntunglah Nagita masih berbaik hati dan memberikan kesempatan


yang begitu baik bagi Azka untuk memperbaiki semua kesalahannya. Tidak semua


kesalahan itu terkadang ada kata maafnya, tetapi banyak dari kita memberikan


kesempatan untuk memperbaiki walau bukan untuk utuh kembali dan kembali pada


sedia kala. Ada saja yang membuat hati terkadang sulit untuk percaya seperti


sebelumnya.


Nagita duduk di taman


belakang rumahnya. Sudah seminggu lebih ia pulang ke rumah bersama dengan


keluarga kecilnya. Dan Reynand juga menyambut Azka begitu ceria, bahkan itu


adalah keinginan putra semata wayangnya, berkumpul dengan keluarganya seperti


sekarang ini. Tetapi Nagita baru bisa memenuhi keinginan itu sekarang. Semenjak


ia menghukum Azka dengan cara memisahkan Reynand dan Azka. Mungkin itu adalah


hal yang cukup membuat Nagita kini memahami, bahwa ia tak bisa terus egois


untuk membiarkan Rey kesepian dan terus saja bertanya perihal Daddynya. Mau tidak mau, Nagita harus


menerima kedatangan Azka lagi ke dalam hidupnya.


Mereka berdua duduk di


kursi taman belakang sambil membicarakan rencana kedepannya. Contohnya seperti


menuruti keinginan Reynand yang waktu itu sangat menginginkan seorang adik di


dalam rumah tangga mereka untuk melengkapi kesepian Rey. Namun mereka belum


juga untuk melakukannya, mereka masih sering berdiskusi untuk kedepannya. Dan


Rey memaklumi itu semua dengan cara diberikan pengertian oleh Nagita. Jika


menyangkut perihal adik, maka Nagita yang akan menjelaskan itu semua kepada


Rey. Jika Azka yang menjelaskan, semuanya tentu akan berantakan karena


pemahaman Azka tentang Rey tidak seperti Nagita. Sebab anak itu lebih dekat


dengan Nagita dibandingkan dengan Azka.


Sambil memperhatikan


Rey yang tengah berenang sendirian. Mereka berdua sesekali bersikap romantis.


“Kamu senang lihat Rey


seperti ini kan, Mas?”


“Orang tua mana yang


nggak bahagia lihat anaknya seperti Rey yang selalu ceria. Bahkan kalau Tuhan


menghendaki, aku mau nambah lagi. Biar rumah sepi.”


“Kamu, Mas.”


“Nagita bayangin, lima


tahun kamu puasain aku. Kamu nggak sayang sama aku? Lima tahun Nagita, itu


bukan waktu yang sangat sebentar jika kamu pahami itu dengan baik. Karena itu


memakan waktu yang sangat panjang. Aku harus bersabar, belum lagi setiap lihat


kamu rasa kangen itu selalu saja timbul. Apalagi kamu yang tambah cantik


begini, Nagita ingat aku itu suami kamu. Berhak atas kamu,”


Nagita mendongakan


kepalanya. “Terus aku yang salah?”


“Ah, ya ng-nggak gitu


juga maksudnya sayang.  Cuman jangan


dipuasain lagi, capek tahu nggak,”


“Biasanya kamu juga


nyari pelampiasan kalau pengin itu,”


“Aku mau lakuin itu


sama istri kesayangan. Nggak mau macam-macam lagi,”


“Aku mau nanya sama


kamu, boleh?” Nagita bangkit dari sandarannya tadi.


“Mau nanya apaan?”


“Selama kita pisah kamu


nggak pernah nyentuh perempuan lain?”


Azka terdiam, Nagita


tak menanggapi apa-apa bahkan saat melihat tangan Azka yang tadinya menggenggam


begitu erat kini terlepas begitu saja. Nagita hendak bangun dari tempat


duduknya tetapi ditahan oleh Azka saat itu juga.


“Kalau aku jujur, apa


kamu mau dengar?”


Nagita berbalik, “Aku


usahakan,”


“Tapi duduklah! Aku


akan ceritakan semuanya dari awal bahkan aku akan menceritakan hal yang memang


seharusnya nggak aku ceritain, tapi bakalan aku ceritain ke kamu, aku nggak mau


ada yang disembunyikan lagi tentang pernikahan kita, aku ingin kita terbuka


satu sama lain, kamu juga jika kiranya memang ada yang perlu aku tahu, kamu


harus cerita, bukan cuman aku yang cerita,”


“Memangnya aku


sembunyikan apa dari kamu selama ini?”


Azka terdiam, Nagita


duduk di depan Azka yang menundukkan kepalanya. Seharusnya memang tidak


menanyakan tentang rahasia suaminya. Karena tidak semua hal yang bersifat


rahasia dibagi kepada siapa pun, sekalipun itu dengan orang terdekat. Memendam sendirian


itu terkadang memang harus dilakukan.


“Iya aku akui, aku akui


bahwa selama kita berpisah, aku main sama perempuan, dalam arti hubungan yang


sering kita lakuin. Aku bayar mereka buat nemenin tidur, sikap brengsek itu


kembali lagi saat kamu pergi gitu aja dari hidup aku Nagita. Saat aku mencintai


kamu, kamu memilih pergi dan misahin aku sama Rey, aku lampiasin semuanya ke


sana. Aku seperti orang gila waktu itu, setiap malam mabuk dan main perempuan,”


“Terus kamu nggak pakai


pengaman?”


“Pakai, aku selalu ingat


itu Nagita, karena aku nggak mau khianatin kamu, nggak mau khianatin pernikahan


kita,”


“Kamu nggak mau


khianatin pernikahan tapi kamu main sama perempuan, itu apa namanya Mas? Apa itu


juga bukan khianatin? Lalu selama ini aku apa? Aku sama Rey itu apa? Aku misahin


kamu biar kamu bisa belajar dari kesalahan, bukan justru membuat kesalahan yang


seharunya nggak kamu lakukan lagi, aku kecewa sama kamu Mas,”


“Tapi itu dulu Nagita,


dulu banget waktu kita pisah. Aku tetap cinta sama kamu,”


“Tapi kamu bercinta


sama Deana, Mas?”


Azka mengangguk pelan. “Pengaman?”


Azka menggeleng.


“Terus sekarang kamu


masih berhubungan sama dia?”


“Dia yang ninggalin aku


terakhir kali kami melakukannya, Nagita. Dia nggak ada kabar lagi, ini kedua


kalinya dia pergi ninggalin aku gitu aja, pergi tanpa aku tahu tujuan dia


kembali waktu itu hanya untuk menghancurkan pernikahan kita atau apa. Aku nggak


tahu motifnya. Tapi percayalah Nagita, aku selalu mencintai kamu saat ini


sampai seterusnya, Rey bukti cinta kita bukan?”


“Rey ada saat kita


sama-sama tidak saling mencintai, dia ada hanya karena kesalahan yang kamu


perbuat. Saat aku benar-benar ketakutan waktu itu, Rey itu kesalahan. Bukan bukti,


walau begitu aku tetap mencintai dia apa pun statusnya, dia anak aku, anak


kita, anak kamu yang nggak sengaja kamu hadirkan,”


“Kamu nyesel pernah


ngandung Rey?”


“Nggak. Tapi kalau soal


nyesel, aku pernah nyesel. Waktu kamu dengan angkuhnya bilang kalau dia itu


harus digugurkan dengan uang 5M. Kamu ingat?”


“Mana mungkin aku lupa


harus ngomong apa,”


“Tapi aku takut jika


suatu waktu Deana datang lagi dan menghancurkan pernikahan kita. Tentang itu


juga, kamu bilang bercinta sama Deana nggak pernah pakai pengaman waktu marahan


sama aku, kamu yakin dia nggak hamil?”


Nagita menghela napas


berusaha beranggapan bahwa semuanya baik-baik saja meskipun dalam hatinya ia


merasa sangat ketakutan akan kejadian tersebut yang menimpa Azka suatu saat


nanti. Berulang kali ia berusaha menghela napas, tetap saja di hatinya terselip


ketakutan yang tidak bisa disembunyikan.


“Apa pun yang terjadi,


kita hadapi bersama. Nggak ada lagi yang pergi, nggak ada lagi yang boleh pergi


dari sini. Aku dan kamu nggak boleh pisah lagi. Kadang aku mikir kalau selama


ini kamu pergi juga karena nggak sayang sama aku. Misahin aku sama Rey, tapi


kamu juga ngehukum aku,”


“Makanya jangan bandel


lagi. Ingat ya, sekali lagi kamu buat kesalahan seperti itu, bukan cuman ninggalin


kamu, tapi aku bakalan beneran pisahin kamu sama Rey, tentunya aku juga,”


“Ngancem nih?”


“Bukan, tapi biar kamu


kapok sedikitlah pokoknya. Aku serius kali ini,”


Nagita menatap Azka


yang sedikit terlihat cemberut. Pria yang saat ini rambutnya sudah sedikit


memanjang membuat Nagita sangat gemas dan beranjak dari tempat duduknya,


perempuan itu duduk di atas meja hingga berhadapan langsung dengan Azka.


“Sayang mau ngapain?”


“Nggak ada Mas. Kangen aja


gitu, memangnya aku nggak boleh kangen sama kamu?”


“Boleh,” Azka


melingkarkan kedua tangannya dipinggang Nagita dan mereka berdua beradu tatap. Sementara


itu kedua tangan Nagita sudah berada dileher Azka.


“Yakin sayang sama Rey?”


“Sayang sama Mommy


juga, bukan cuman Rey,” perlahan Azka mulai mencium Nagita. Saat ciuman


pertama, Nagita mendorongnya.


“Ada Rey Mas, jangan


sekarang ya,”


“Ciuman aja nggak


apa-apa kan?”


“Iya sayang. Hmm, nggak


berubah,” selidik Nagita.


“Berubah apanya?”


“Ciuman kamu, Mas,”


“Ciuman aku tetap untuk


kamu, rasanya juga masih sama,”


“Mas mulai gombal lagi,”


Nagita terkikik dan memainkan hidungnya dengan hidung Azka namun sesekali


suaminya itu mencuri ciuman dan menggigit bibir atasnya.


“Kamar yuk!” ajak Azka.


“Rey mau ditinggal?”


“Kita suruh asisten


yang jaga, ayolah Nagita. Jangan puasa lagi ya, please,”


Mereka berdua berjalan


hendak meninggalkan Reynand. “Daddy temenin Rey renang!”


Nagita


langsung menoleh ke sumber suara. Melihat ekspresi Azka yang sudah berubah


seperti itu membuat Nagita menahan tawanya. “Jangan tertawa Nagita, kamu nggak


tahu gimana sakitnya aku, udah puasa lima tahun, sekarang baru aja mau mulai


bocah itu malah manggil, aku mana bisa nolak kalau dia yang manggil,”


“Ya


udah sana temenin, dia juga butuh waktu sama kamu, Mas.”


Dengan


perasaan dongkol Azka tetap pergi. Nagita melihat itu menggelengkan kepalanya


dan mengikuti Azka yang berjalan ke tepi kolam.


“Rey,


katanya mau dibuatin adek. Tapi setiap kali Mommy sama Daddy berduaan. Ada saja


yang rey suruh Daddy lakuin. Serius Rey itu pengin adik atau gimana sih? Jangan


buat Daddy kewalahan Rey, kapan punya waktu, tidur di temenin, sekarang main di


temenin,”


“Siapa


suruh Daddy sibuk, Daddy jemput Rey sekolah aja nggak pernah, protes mulu deh,”


“Tapi


Rey itu nggak bisa gitu pisah sekali aja sama Daddy?”


Nagita


menggeleng dan mengelus punggung Azka yang tengah berdebat dengan putra kecil


mereka. Jawaban Rey terkadang memang menyentil Azka. Hingga membuat suaminya


itu terkadang menyerah jika berbicara dengan Rey. Belum lagi jika perihal adik,


Rey akan terus-menerus mengacaukan moment romantis mereka. Terlebih saat malam


hari, anak itu selalu saja bergelantungan memeluk lengan Azka tiap kali tidur.


Ditengah


usaha Azka menenangkan diri karena tadi sempat ngotot mengajaknya untuk ke


kamar. Nagita meminta suaminya untuk turun ke kolam menemani putranya bermain


agar bisa menenangkan Azka sebentar saja.


“Sayang,


beneran ya mau dibuatin adik?”


“Daddy,


kalau memang mau buat, ya udah sana. Rey bisa main sendirian kok,”


“Beneran?”


“Ada


syaratnya?” anak kecil itu menyeringai memperlihatkan gigi susunya.


“Apaan?”


“Nggak


boleh bawa Mommy masuk!” Azka langsung menenggelamkan dirinya di kolam dan membuat


Nagita menahan tawanya.


Azka


tak lama kemudian memunculkan diri lagi ke permukaan air.


“Suasana


sekarang beda, jika dulu saat kamu bilang pengin, tentu saja aku bakalan


ngasih. Tapi ingat, sekarang kita punya Rey. Nggak bisa seenaknya kamu itu


bilang pengin, terus di turutin. Aku nggak mau juga kita sembunyi-sembunyi dari


Rey kayak gini. Nanti kita jelasin sama dia biar tidur pisah. Kasihan juga


kamu, tapi harusnya kamu juga sadar diri. Itu tandanya anak kamu mau Daddynya


nggak nyakitin hati Mommy lagi.” Bisik Nagita sambil menenggelamkan kakinya di


kolam.


“Ikut


turun yuk!” ajak Azka saat memeluk perutnya.


“Dingin,”


“Hitung-hitung


pemanasan, nanti ada alasan mandi bareng kan di kamar mandi. Biar Rey juga di


kasih pengertian,”


Nagita


turun ke kolam setelah menyetujui perkataan suaminya. Azka menariknya begitu


saja hingga tercebur ke dalam kolam renang. Melihat hal itu Rey begitu semangat


untuk bermain air bersama mereka berdua. Selama mereka kembali menjadi keluarga


utuh lagi, Rey sekolah selalu ditunggu oleh Nagita.


Nagita


menatap lamat-lamat ke Reynand. Tidak ada gurat kesedihan seperti dulu yang ia


selalu temui pada Rey ketika ia beralasan bahwa Azka sibuk bekerja demi


Reynand. Kini tawa lepas Rey sudah cukup membuat Nagita begitu  bahagia dengan keutuhan keluarganya lagi.