
Seusai makan malam, mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Malam itu juga mereka kedatangan Leo dan juga Fendi.
Dengan perjodohan itu, berakhir pula penantian Reynand pada Bintang. Perempuan yang telah membuatnya begitu jatuh cinta hingga saat ini. Tetapi, apa pun pilihan orang tuanya, Rey tentu saja tidak akan pernah menolak, karena sebagai tanda baktinya terhadap orang tuanya.
Mereka berkumpul di ruang tamu.
Rey yang duduk sambil menyatukan kedua tangannya.
"Kenapa Kak? Masih mikirin soal perjodohan itu?" ucap Leo yang langsung memecah keheningan di malam itu.
Rey mengangkat kepalanya sejenak dan menatap Leo yang sepertinya saat itu begitu tenang melihat ekspresi dirinya yang sedang kacau malam itu.
Siapa yang tidak sakit hatinya ketika menunggu sudah sangat lama, bahkan hampir sembilan tahun, tetapi perempuan yang dinantikan tidak pernah datang ke dalam hidupnya lagi.
Rey menghela napasnya, ia merasa hatinya terasa nyeri malam itu. "Kenapa kalian juga sangat semangat dukung aku nikah?" tanya Rey dingin.
Kedua orang yang ada dihadapannya itu saling tatap. "Karena cuman lo yang belum dapat pasangan hidup, kalau lo terus nyariin Bintang. Lo enggak bakalan pernah ketemu sama dia, gue yakin lo enggak bakalan bisa ketemu dia seumur hidup lo sekalipun," Jawab Fendi yang waktu itu sempat membuat Rey terlihat geram dengan pernyataannya.
"Apa yang dibilang sama Fendi itu benar loh kak. Ya udahlah, terima calon istri kakak. Kalau cinta kan bisa belakangan, yang penting sekarang itu terima, terus kalau udah nikah, pasti akan tumbuh cinta. Seperti yang dikatakan oleh Mama sama Papa kak Rey waktu itu, bahwa mereka nikah tanpa ada cinta. Sekarang mereka saling mencintai kok, intinya Kak Rey itu harus percaya tentang cinta itu hadir karena terbiasa bersama,"
"Kalau kita terlalu memilih kepada siapa kita jatuh cinta, tentu saja kita akan memilih mereka yang sempurna untuk dicintai, tapi apakah kita pernah memikirkan bagaimana diri kita sendiri? Kita ini enggak sempurna, masa mintanya yang sempurna. Enak banget dong? Jadi berusaha untuk terima dia aja, Rey. Lo juga sepertinya memang butuh itu perempuan untuk hidup lo selamanya," ucap Fendi yang juga ikut meyakinkan.
Nagita dan Azka sepertinya mengerti dengan ketiga pria itu.
Azka yang hanya diam mendengarkan ucapan mereka bertiga pun enggan untuk berkomentar. Barangkali Rey butuh waktu untuk menerima perempuan itu.
"Kak, calon kakak itu cantik banget sumpah. Aku enggak bohong, dia jauh lebih cantik dari Bintang. Dia pakai cadar gitu, jadi kalau Kak Rey mikirnya buat apa cantik dan bla bla bla, Kak Rey salah, kecantikan dia hanya akan dipancarkan untuk kak Rey saja nanti, toh waktu kita lamaran juga dia itu susah banget lepas cadar,"
Rey mendengarkan ucapan Leo yang ke rumah perempuan itu ketika lamaran beberapa hari yang lalu.
"Dia pakai cadar?"
"Iya, Rey. Dia pakai cadar, dan Mama sama Papa tentu saja memilih dia karena itu juga sepertinya sesuai sama kamu,"
Jawaban Mamanya cukup membuat Reynand terdiam. Kali ini sungguh, dia akan melepaskan cintanya. Menghalalkan perempuan lain sebagai istrinya, dan meninggalkan perasaannya pada Bintang. Memang begitu sulit, akan tetapi jika calon istrinya sudah seperti itu, artinya dia harus berusaha sangat keras untuk menerima perempuan itu nanti.
"Ngomong-ngomong kita balik ya, kasihan bini di rumah sendirian," ucap Fendi sambil melihat ke arah jam tangan yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Mereka pun berpamitan. Tinggal Rey bersama dengan kedua orang tuanya, adiknya sudah tidur terlebih dahulu karena akan sekolah besok pagi.
"Rey, gimana sama pernikahan itu?"
"Dia sudah menerima lamaran itu, artinya dia sudah menerima aku, jadi enggak ada alasan aku buat nolak itu semua, Ma. Kalaupun aku nolak, itu hanya akan membuat keluarga menjadi malu, bukan?"
Azka dan Nagita mengangguk pelan, mereka berdua menyerahkan kartu undangan.
Namanya terpampang di halaman depan. "Marwatul Aira,"
"Rey, kamu baik-baik saja?" tanya orang tuanya lirih saat Rey mengingat nama Aira yaitu nama tengah Bintang.
"Aku ke kamar dulu," Rey meletakkan kartu undangan itu.
"Rey, acaranya itu lusa. Kamu akan melaksanakan pernikahan lusa, jadi persiapkan diri kamu sebaik mungkin, besok jangan kerja," peringat Papanya. Rey mengangguk.
Pria bertubuh kurus itu langsung melangkah menuju kamarnya. Setibanya di kamar, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur karena mengingat lagi kenangan yang dahulu jika melihat nama calon istrinya memiliki nama yang sama seperti Bintang.
Rey terbangun tengah malam, yaitu jam dua dini hari. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum akhirnya memilih melaksanakan sholat disepertiga malamnya. Berdoa agar semuanya lancar dan tidak ada kendala saat pernikahan berlangsung. Apalagi kedua orang tuanya yang terlihat bahagia dengan pernikahan itu, jadi mau tidak mau Rey harus bahagia juga dengan itu.
Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu seseorang yang kabarnya hingga saat ini menjadi suatu tanda tanya besar dalam hidupnya. Karena waktu itu Bintang meminta untuk ditunggu, maka dari itu dia menuggu. tetapi setelah tahu bahwa kabar perempuan itu sudah mulai hilang, Reynand tidak tahu lagi harus mengontrol hatinya seperti apalagi.
Selesai sholat, Rey berdo'a. "Ya Allah, berikan kemudahan untuk pernikahan atas dirimu. Bukan karena cinta semata, hamba tahu bahwa pernikahan itu bukanlah suatu hal yang main-main. Maka dari itu, jika dia yang terbaik. Maka jadikan hamba pendamping terbaik yang bisa terus menghargainya meski perasaan itu belum ada. Jadikan hamba imam yang bisa membimbingnya hingga menuju surgamu. Jadikan pula hamba seseorang yang bisa menjaga hatinya dengan baik, atas kehendakmu hamba memohon izin untuk pernikahan ini. Jika memang Marwa yang engkau kirim, luaskan hatinya untuk terus bersabar. Dan kuatkan hati hamba untuk belajar melupakan masa lalu, jangan biarkan perasaan yang dulu menghancurkan pernikahan hamba dengan dirinya."
Rey mengusap wajahnya. Tentang Marwatul Aira, tentu saja dia tidak pernah tahu tentang perempuan itu. Bahkan mereka berdua akan bertemu nanti ketika pernikahan itu berlangsung. Sungguh itu merupakan pernikahan yang sama sekali bukan menjadi impiannya.
Rey duduk sambil menyangga lengannya di atas lututnya sambil bersandar diranjang. Dia duduk di lantai sambil mengarahkan kepalanya ke langit-langit.
Bayangan tentang pelukan Bintang waktu itu masih membuatnya merasakan sakit.
"Marwatul Aira, bersabarlah. Aku akan belajar menerimamu. Seperti kamu juga yang belajar menerimaku, meski kita tidak pernah tahu satu sama lain. Tapi semoga Allah benar-benar menyandingkan kita sebagai pasangan yang telah ditakdirkannya, meskipun aku pernah mengharapkan seseorang, aku akan belajar untuk tetap menerimamu, di sisiku."