
Pukul delapan pagi, Azka terbangun dari tidurnya, menatap lekat ke arah Nagita yang masih terlelap begitu saja dalam pelukannya. Tingkah aneh yang diperlihatkan oleh Nagita membuat Azka tersenyum saat melihat kelakuan istrinya semalam yang memprotes dirinya yang mandi. Namun setelah menjelaskan bahwa ia sangat merasa gerah, akhirnya Nagita mengalah dan tidak lagi mempermasalahkan dirinya yang mandi malam itu juga.
Sepasang suami istri itu tengah bermanja-manja di atas ranjangnya. Nagita yang memeluk erat Azka dan membuat dirinya begitu merasa merindukan istrinya. Meski kini mereka telah bersama.
“Ayo bangun sayang!” Azka membangunkan Nagita dengan begitu pelan. Takut jika istrinya itu merasa pusing nantinya. Hingga akhirnya ia menciumi istrinya berkali-kali dan membuat perempuan itu tersenyum begitu manis di pagi harinya. Membuat suasana hati Azka begitu membaik setelah mendapatkan pelukan dari sang istri.
“Ayo sarapan, Mama nungguin di bawah!”
Nagita langsung beranjak dari tempat tidurnya dan berlari ke kamar mandi. Azka melihat tingkah istrinya langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia heran dengan tingkah Nagita yang tadinya manja kini langsung panik seketika mendengar dirinya yang menyebutkan bahwa mamanya sudah menunggu.
“Kenapa kamu nggak ingatin aku sih, Mas? Kita berada di rumah Mama, aku belum siapin sarapan untuk mereka semua,”
“Aku yang salah? Kamu yang tidur nyenyak banget, terus nggak mau jauh-jauh dari aku, sekarang aku yang disalahin karena nggak bangunin kamu, dasar kamu itu memang suka banget nyalahin aku Nagita,”
“Kamu marah?”
“Nggak, ngapain marah sama istri, mending sini kita sarapannya di sini.” Azka menepuk sebelah tempat tidurnya dan dibalas dengan ekspresi cemberut oleh Nagita. Hal itu membuatnya terkekeh begitu saja saat melihat raut wajah Nagita yang berubah begitu saja.
“Aku duluan ya sayang, mau di masakin apa?”
“Apa aja yang penting kamu yang masak sayang, pasti aku makan kok, ngomong-ngomong kamu nggak mandi? Biasanya juga kamu itu paling awal mandinya. Jangan hanya karena kita udah baikan terus kamu nggak mau mandi pagi lagi lho sayang,”
“Nanti. Kamu lupa kalau aku belum siapin sarapan untuk Mama dan juga yang lainnya. Kamu jangan protes hal sepele kayak gitu sayang, nanti aku nggak kasih jatah lho,”
“Ngomel aja terus, aku cuman nanya doang. Sinis banget, kayak orang lagi PMS aja, ya udah sana pergi,” Azka melempar Nagita dengan bantal dan dibalas oleh Nagita yang menjulurkan lidahnya kemudian berlari menjauhinya.
Azka menumpukkan kepalanya dengan kedua tangannya yang dilipat dibelakang kepalanya. Pikirannya terulang lagi dan tertumpu pada pertemuannya beberapa waktu lalu dengan Deana. Meski waktu itu Deana adalah penyebab dari segala bencana dan hampir saja menghilangkan nyawa Rey saat berada dalam kandungan Nagita. Tetapi baginya, perempuan itu mampu membuatnya merasa sangat nyaman selama Nagita pergi.
Tidak semua orang mampu melupakan cintanya dengan waktu yang begitu singkat. Mungkin melupakan adalah soal waktu, tetapi bagaimana dengan perasaan yang belum benar-benar pulih dari kisah masa lalu yang belum usai hingga saat ini juga.
Hubungan lawan jenis antara dirinya dengan dua wanita sekaligus kini membuat Azka merasa bahwa rumah tangganya sangat rumit. Nagita kembali, begitupun dengan Deana yang tiba-tiba saja Azka temui direstoran waktu itu. Saat Nagita dulu pergi, bahkan Deana juga meninggalkannya tanpa alasan.
Azka tersenyum sambil berusaha menenangkan diri dari semua pemikiran itu.
Ia beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri.
Di antara dirinya dengan Naura, tentu Azka adalah orang yang paling keras kepala di rumah. Bahkan Reno seringkali tidak pernah satu pemikiran dengan dirinya. Mereka berdua selalu saja berbeda alur dengannya jika itu menyangkut perihal rumah tangganya. Reno yang lebih condong untuk melungkan waktu bersama dengan Leo. Berbeda dengan Azka yang selalu sensitif perihal menemani Rey bermain. Terkadang mereka berdebat saat dititipi anak-anak oleh para istri mereka.
Azka menghela napas saat melihat Nagita yang masih sibuk bergelut dengan kegiatannya. Acara sarapan pagi jika berada di rumah mamanya, semuanya Nagita yang menyiapkan meski tidak pernah disuruh. Tetapi itu seolah menjadi kebiasaan yang hingga kini orang tuanya juga sangat menyukai masakan Nagita. Terlebih Leo yang selalu meminta Nagita yang memasak.
“Kalau capek jangan pernah dipaksain ya sayang. Kasihan kamu, jangan paksain diri kamu untuk siapin semua ini. Kita punya asisten, bisa minta mereka yang lakuin ini kan? Nggak harus kamu,”
“Mas jangan dipeluk pagi-pagi begini ah. Kamu itu kebiasaan ya sekarang, ngomong-ngomong kamu nggak kerja?”
“Kerja, tapi maunya gangguin istri dulu. Emangnya nggak boleh?”
Azka memeluk Nagita yang tengah memanggang roti. Ada beberapa yang sarapan dengan nasi, dan beberapa sisanya lagi adalah mereka tetap sarapan dengan nasi. Sebenarnya Nagita kesulitan memilih menu yang pas untuk keluarga di sana dan pernah mengeluh waktu itu kepada Azka. Tetapi Azka memaklumi itu semua dan menjelaskan apa saja yang diinginkan oleh keluarga besar Azka.
“Duduk sana! Aku siapin ini dulu. Ngomong-ngomong orang rumah masih pergi ajakin anak-anak keluar cari udara segar, kamu malah di sini ganggu, mending kamu itu bantuin aku Mas,”
“Nagita kamu PMS?”
“Nggak,”
“Kenapa kamu itu marah-marah melulu perasaan dari kemarin. Apa kamu nggak suka diganggu sama suami kamu? Nggak suka gitu dipeluk sama suami pas lagi masak kayak gini? Padahal aku pengin kita romantis sayang, jangan di marahin gitu, nggak seru ah,”
“Aku nggak marah. Cuman ini belum waktunya, kamu tuh ya.”
Azka melepaskan pelukannya dan mencium pipi Nagita dan dibalas dengan kecupan singkat yang membuat Azka menyeringai dan itu menandakan bahwa suasana hati Nagita memang begitu baik. Jika tidak, maka ia tidak akan pernah ditanggapi oleh istrinya.
Azka berlalu ke meja makan dan sambil bermain ponselnya di sana.
“Sayang, kapan kita liburan sama Rey?”
“Memangnya kamu punya waktu?”
“Aku kan direkturnya,”
“Uh sombong,” jawab Nagita ketus.
Setelah selesai menyiapkan itu semua, Nagita duduk di sampingnya. Mereka mulai berbincang dan merencanakan liburan keluarga yang nantinya akan benar-benar meluangkan waktu untuk Rey.
“Damar apa kabar?”
Mendengar hal itu, Azka langsung meletakkan ponselnya dan langsung mengeraskan rahangnya karena tiba-tiba saja Nagita menanyakan pria lain saat mereka tengah berbincang untuk membahas liburan.
“Kamu malah nanyain pria lain, kangen kamu sama dia?”
“Ya ampun, Azka. Aku nggak mau berantem pagi-pagi karena hal sepele ya. Aku cuman nanyain kabar dia, dia selalu saja baik sama aku. Kalau bukan karena dia juga kamu nggak bakalan sadar jadi suami, mungkin kamu masih di sana keluyuran tidur sama jalang-jalang kamu itu. Kamu nggak bakalan di sini sama aku, nggak bakalan ingat hasil perbuatan kamu, kalau bukan karena dia, mungkin anak-anak kamu sudah berojol dari perempuan berbeda-beda. Aku baru nanyain itu doang kamu sudah ngamuk, kamu berhubungan sama Deana saat dia yang nyelakain aku waktu itu, apa pernah aku itu protes sama kamu? Pernah aku marah sama kamu, Mas?”
Braaaak
Azka menggebrak meja makan hingga membuat Nagita begitu terkejut karena untuk pertama kalinya Azka bersikap seperti itu kepada istirnya sendiri.
“Jangan pernah kamu bahas tentang Deana. Apa salah dia hingga kamu berani mengungkit dia dihadapanku?”
Nagita tercengang dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Lupa kamu, Mas? Dia penyebab aku masuk rumah sakit, dia hampir hilangin nyawa Rey, ingat Rey itu anak kesayangan kamu,”
“Rey memang anak kesayangan aku. Tapi jangan bawa Deana hingga ke ranah pertengkaran kita, aku tidak suka,”
“Kamu masih cinta sama dia?”
“Nggak.”
“Kamu bilang nggak. Tapi jauh di dalam lubuk hati kamu, kamu masih memikirkan dia. Lalu apa gunanya aku di sini? Apa gunanya aku nemenin kamu di sini? Apa gunanya kita kembali lagi jika memang kamu itu masih mencintai dia? Nggak semua orang bisa cintai kamu beserta masa lalu kamu, Mas. Terlebih aku, aku ini apa?”
“Nagita kenapa bicara seperti itu?”
“Aku sadar diri, kamu menikahiku karena Rey. Bukan karena mencintai, tentu saja hati kamu masih sama dia, bodoh aku Mas. Aku bodoh percaya sama kamu gitu aja, bodoh aku itu percaya bahwa kamu mencintai aku dan ingin membangun rumah tangga itu dan belajar dari kesalahan. Nggak cukup waktu lima tahun itu buat kamu belajar dari kesalahan kamu Mas? Sekarang apalagi? Kamu bela perempuan lain saat aku bahas dia,”
Plak
Nagita menunduk saat Azka melayangkan tamparannya ke arah Nagita.
“Cukup! Sekarang apalagi alasan aku untuk bertahan dalam rumah tangga kita jika kamu sudah mulai bertindak kasar, aku capek Mas. Aku capek harus terus menerima kamu, aku juga butuh kejelasan dari rumah tangga kita mau di bawa ke mana? Kamu pengin turutin Rey punya adik, bahkan aku setujui. Sekarang, kamu seperti ini? Apa yang ada di dalam otak kamu hanya ada nafsu dan juga perempuan jalangmu itu?”
“Lihat! Tadi kamu menyebutkan dia dengan sebutan bahwa dia perempuan baik-baik. Sekarang aku paham, posisi aku dihatimu memang tidak ada artinya lagi, aku di sini hanyalah pelampiasan, bukan pemeran sesungguhnya. Apalah artinya kita bertahan jika memang hatinya sama orang lain? Mana ada perempuan yang mau diduakan hatinya, memang ragamu sama aku, tapi hati kamu, Mas. Hati kamu sama perempuan lain yang bahkan ninggalin kamu gitu aja. Sekarang pilihan ada ditangan kamu, kita usai dan aku bawa Rey tanpa pernah akan melibatkan kamu lagi. Aku janji, aku nggak minta apa-apa. Kak Dimas di sana pasti senang jika aku pulang. Terlebih selama ini dia selalu pengin tinggal sama Rey. Tetapi aku berusaha bertahan itu juga semua demi kamu, aku nggak mau pisahin kamu sama anak kamu.”
Azka terdiam. Posisinya kini terpojokkan. Ia telah berani menampar istrinya sendiri saat Deana dikatakan dengan sebutan ‘jalang’ oleh Nagita. Azka akui, selama ini ia sangat benci bagi siapa saja yang mengusik tentang kehidupannya bersama dengan Deana. Meski mamanya sekalipun.
“Nagita, bukan itu maksudnya. Aku nggak pernah main-main perihal pernikahan ini,”
“Aku capek. Selama ini aku berusaha untuk terima kamu apa adanya. Bahkan beserta dengan masa lalu kamu, waktu itu aku bertahan demi Rey. Demi dia aku tahan hatiku dan pura-pura tidak tahu bahwa selama ini kamu masih bermain di belakang aku sama Deana,”
Azka terkejut dengan hal itu. “Jangan pernah datangi perempuan yang mencintaimu dengan mengatakan bahwa kamu juga mencintainya, apa artinya aku didekatmu, sementara bayang-bayang tentang dia masih ada. Kalau dari awal kamu ngomong, aku sudah menyerah saat itu juga,” Nagita menangis. Dan itu membuat Azka tidak suka. Ia langsung bangun dan mendekap tubuh Nagita.
“Aku akui, aku mencintai kamu dan dia. Di hatiku ada kamu dan dia yang tidak bisa aku kendalikan, saat denganmu. Aku memikirkan dia, saat dengan dia, aku memikirkan kamu. Dan itu terus saja menyakiti hatiku, sekarang kamu paham kan?”
“Maka dari itu, kembalilah sama dia. Jangan sama aku, lepasin aku sama Rey, aku juga capek terus berada di sisi kamu dalam keadaan seperti ini. Nggak semua perempuan itu rela dimadu. Terlebih saat cinta kamu lebih besar sama dia. Mas, please, lepasin aku sama Rey,”
“Nggak.”
“Aku capek sakit hati,”
Azka melepas pelukannya saat Nagita berkata seperti itu. Tubuhnya lemas dan ia menatap ke arah Nagita yang sepertinya sudah benar-benar putus asa. “Kamu serius nggak mau bertahan sebentar saja. Bantu aku lupain masa lalu aku,”
“Kamu nggak butuh aku untuk lupain masa lalu kamu. Karena nggak semuanya kehadiran orang baru itu mampu membuat kamu lupa dengan masa lalu. Justru kehadiran orang baru itu membuat kamu menghancurkan hidupnya, sama halnya dengan aku,”
“Nagita, sekarang apa lagi? Kita baru saja kembali beberapa bulan yang lalu, sekarang kamu bilang capek? Apa pernah aku lelah untuk mencintai kamu?”
“Sayangnya hatimu memiliki dua wanita, dan itu yang membuatku tak habis pikir dan tidak bisa berpikir jernih tentang semua ini. Andai saja kamu paham bahwa mencintai kamu beserta masa lalu kamu itu sangat sakit, dan andai saja kamu di posisi aku. Aku yakin kamu sudah menyerah saat itu juga, sekarang aku tanya, apa yang buat kamu begitu mencintai Deana?”
Azka terdiam antara tidak ingin menjawab atau memang tidak tahu jawabannya. Ia hanya merasa sangat nyaman, itu saja. Rumah keduanya setelah Nagita. Dan kini ia telah menghancurkan kepercayaan istrinya lagi.
Belum sempat Azka menjawab. Nagita melepaskan kedua tangan Azka yang memegang tangan istrinya tadi. Dan Nagita berlalu begitu saja, hingga Azka diam mematung di ruang makan.
Ia merenungi semuanya sendirian. Pertengkarannya terus saja tanpa ujung dengan Nagita. Sejujurnya ia berlaku seperti ini juga karena tidak tahu dengan perasaannya sendiri.
‘kamu benar bahwa aku ini mencintai dua hati sekaligus. Mungkin jika kamu pergi, aku akan benar-benar paham bahwa kamu mencintaiku Nagita. Tetapi hingga saat ini aku masih saja benci menjadi aku yang tidak pernah tegas pada pilihanku sendiri. Selalu saja bertindak pengecut. Apa memang inilah yang harus terjadi? Rey, adalah alasanku untuk tetap berada di sisimu. Aku takut jika semua ini membuatnya berantakan dengan masa depannya. Tetapi hatiku memang masih untuk dia’ Azka mengusap wajahnya gusar. Nagita ia buat menangis lagi untuk kesekian kalinya. Harapannya untuk memiliki anak lagi hingga saat ini masih. Namun dengan tindakannya yang baru saja berani menampar Nagita ia rasa keterlaluan.
Pagi itu saat semuanya belum kembali ke rumahnya Azka langsung naik ke kamarnya. Ia hanya mendengar isakan Nagita. Ia duduk di depan pintu sambil menekuk sebelah kakinya. ‘kamu benar, bahwa aku ini adalah pengecut yang hanya bisa menyakiti kamu selama ini Nagita.’
Azka mendengar barang-barang mulai dihancurkan di dalam. Bahkan Nagita menangis sejadi-jadinya. Ia merasa sangat bersalah dengan kejadian itu.
“Nagita?” Azka perlahan masuk ke dalam kamarnya dan mencari keberadaan Nagita yang duduk di pojok kamar sambil memeluk lututnya.
Azka perlahan mendekati istrinya. “Mau apalagi? Belum puas?”
“Nagita, maaf kalau selama ini saya selalu buat kamu menderita, maaf kalau saya selalu buat kamu tersiksa selama berada di sisi saya. Mengertilah saya juga tidak ingin ini terjadi, tetapi perasaan itu tidak bisa dibohongi,”
“Maka dari itu, lepasin aku sama Rey. Aku capek!” isak Nagita.
Azka mendekati Nagita, “Saya tidak akan melibatkan kamu lagi, Nagita.”
Perempuan itu mendongakan kepalanya. Azka menangkup wajah Nagita dan mencium bibir Nagita. Kemudian mencium keningnya. “Dengan ini, saya menjatuhkan talak untukmu Nagita. Dan saya tidak berhak lagi atas kamu,” tangan Azka meluruh begitu saja. Perempuan itu terkejut. Namun itulah yang harus dilakukan oleh Azka dibandingkan menyakiti Nagita terus menerus. Perihal Reynand, mungkin ia akan membiarkan anak itu tumbuh bersama Nagita. Air mata Azka meleleh begitu saja saat menjatuhan talak.
“Pulanglah, sayang. Saya tidak akan melihat air matamu lagi seperti sekarang. Kamu berhak bahagia, biar saya yang menanggung semua ini sendirian. Perihal menamparmu tadi, maaf. Saya rasa memang kamu harus bahagia, tidak mungkin berada di sisi saya saat hatimu terus saja saya sakiti,”
Perempuan itu bangun dari tempat duduknya tadi dan langsung membereskan barang-barangnya.
“Pulang ke rumah di mana tempat kita tinggal. Biar saya di sini,”
“Aku pulang ke rumahku sendiri,”
“Nagita?”
“Maaf, kamu bukan suamiku lagi,”
Azka terdiam sebelum akhirnya angkat bicara, “Baiklah, saya akan menghubungi pengacara untuk mengurus perceraian kita,”
Tubuh Nagita meluruh dilantai. Azka sungguh sakit melihat itu. Hal yang tidak seharusnya ia katakan dan membiarkan keputusan itu benar-benar terjadi. Tetapi ia tidak ingin melihat Nagita terus berada dalam ruang lingkup masalahnya dan tersakiti seperti sekarang. Dihatinya, masih sangat utuh tentang Deana.
Saat Nagita keluar dengan membawa kopernya, Azka hanya terdiam. Keluarganya berkumpul di ruang tamu seusai jalan-jalan. Beberapa menit yang lalu mereka berdua masih terlihat romantis, namun menit berikutnya ia membuat Nagita menangis hingga perempuan itu tak kuasa menahan rasa sakitnya karena ia tampar.
“Kalian mau pulang?”
“Aku sama Rey aja yang mau pulang,”
“Terus Azka nggak ikutan? Kalian kenapa? Sepertinya habis nangis?” selidik Novi.
“Ayo sayang kita pulang ke rumah Om Dimas ya!” ajak Nagita kepada Rey. Anak itu menurut dan bersalaman.
“Azka ini ada apa?” ucap Novi berusaha mencari tahu tentang hubungan keduanya.
“Aku menjatuhkan talak untuk Nagita. Dan aku akan mengurus semua perceraian dengan dia,”
Plak
Azka mendapat tamparan dari mamanya pagi itu. Rey langsung memeluk erat Nagita yang menyaksikan hal itu. “Kamu pria nggak tahu diri Azka. Berani-beraninya kamu menceraikan Nagita, apa yang kamu tahu usaha dia selama ini buat keluarganya utuh? Kamu nggak pernah tahu bagaimana dia tersiksa sama kamu tapi berusaha untuk kuat,”
“Ma, aku sama Rey pamit.”
Azka mengelus kepala Rey saat bersalaman kepadanya. Ia tak kuasa membendung rasa sakitnya setelah kejadian tadi. Mungkin itu adalah pilihan yang sangat tepat membiarkan Nagita bahagia dengan hidupnya tanpa ada dirinya lagi yang membuat perempuan itu tersiksa. Walau sebenarnya dalam hati Azka juga ada Nagita, tetapi ia tidak ingin perempuan itu tersiksa karena telah mencintainya.
Barangkali melepas adalah pilihan terbaik saat salah satunya tersiksa dengan suatu ikatan.
*Dear readers, cerita ini belum usai. Masih banyak part yang akan di update. Barangkali sekali update akan update gila-gilaan. Nggak semua pembaca bisa author bahagiakan, mulai dari cerita yang begini begitu, komentar yang terkadang menyakiti hati. Tapi percayalah bahwa nyari ide itu sangatlah sulit. Mohon jaga jari-jarinya agar tidak berkomentar seenak jidat. Nyari ide nggak pernah gampang. Barangkali hanya beberapa yang bisa disenangkan, ada beberapa yang tidak suka. Jika tidak suka tak apa, jangan berkomentar jahil.
Mari saling menghargai.