
"Bro!" Rey tiba-tiba datang menghampiri Fendi yang duduk dibawah pohon ketapang sambil mencoba menghafalkan tugasnya, menghafal tugas biologi yang akan menjadi nilai praktik mereka nantinya, Rey beryukur jika semangat belajar sahabatnya menjadi lebih baik setelah pembicaraan mereka tadi malam.
"Lo udah hafal, Rey?"
"Udah, itu jam pelajaran terakhir. Jadi gue hafalinnya tadi pagi, semalam kan gue enggak hafalin, karena setelah pulang dari bengkel gue mandi, nemenin Clara sebentar, terus tidur,"
"Clara siapa? Adik lo bukannya Nabila sama Salsabila?"
"Clara adiknya Leo, semalam nginap di rumah gue, dia pengin ikut ke bengkel sih semalam, tapi gue larang karena enggak harus kan dia itu ikut melulu sama gue, lagian dia itu harusnya belajar, bukan ikut keluyuran,"
"Lain kali lo enggak usah ke bengkel, Rey. Belajar aja yang benar,"
"Selama nilai gue terselamatkan, santai saja!"
"Rey, makan yuk. Gue traktir deh, biar bukan lo doang yang traktir,"
"Gue udah makan kali, lo telat banget mau traktir,"
"Yaah, lo," ucap Fendi dengan ekspresi yang kecewa. Sebenarnya Rey tidak ingin membebankan Fendi karena perihal traktir tersebut menjadi hutang. Dia tahu betapa sulit sahabatnya mencari uang, dirinya hanya diberikan jatah bulanan yang cukup besar oleh kedua orang tuanya. Fasilitas apa pun juga pasti akan diberikan, tetapi dia ingin bergaul dengan siapa saja di sekolahnya.
Banyak yang ingin mendekatinya mulai dari geng basket, atau bahkan yang lainnya. Tetapi dia tidak terlalu memilih, siapa pun itu, asal jangan dijadikan sebagai alat untuk dimanfaatkan, maka Rey akan bersikap teduh kepada siapa pun.
"Ya udah lo belajar yang benar, gue mau ke perpustakaan dulu."
Rey pamit kepada sahabatnya dan berlalu begitu saja ke perpustakaan, tempat itu memang selalu saja sepi, hanya di isi oleh beberapa siswa-siswi. Sangat disayangkan jika perpustakaan besar seperti itu hanya di isi oleh segelintir orang yang belajar di sana.
"Kak Rey," Rey menoleh saat Leo langsung merangkulnya.
"Kenapa?"
"Bawa motor enggak?"
"Bawa mobil,"
"Numpang ya, motor disita sama Mama gara-gara kemarin pembicaraan kita, sekarang ada duit enggak? Lapar banget, uang jajan dipotong, bayangin aku cuman dikasih 20 ribu sama, Mama,"
"Ada," Rey mengeluarkan dompetnya yang bahkan uang jajannya pun sangat besar. Tetapi dia tidak pernah menyombongkan dirinya pada siapapun. Rey mengeluarkan uang senilai 50 ribu.
"Segini doang, Kak? Tambahin dong, nanti aku ganti, deh,"
"Enak banget, makanya jangan songong kalau duit aja masih minta sama orang tua," Rey memasukkan dompetnya kembali tanpa peduli dengan apa yang diminta oleh Leo.
Dia masuk ke ruangan kedua, yang di mana buku pelajaran khusus kelas sebelas, di sana buku di pisah sesuai kelas untuk memudahkan pencarian buku masing-masing kelas.
"Reynand,"
Rey menoleh saat Widya lagi-lagi mengganggunya, dia sudah sangat bosan jika berhadapan dengan Widya yang mengganggunya setiap hari, "Apa lagi?"
"Sayang kok gitu?"
Semua orang melihatnya saat Widya dengan keras mengatakan hal itu, membuat kening Rey berkerut dan kesal. "Wid, please jangan buat kekacauan. Panggilan itu bikin aku merinding tahu enggak?" ucapnya kesal.
Rey duduk di barisan bangku pertama di sana dan fokus membaca, sedangkan Leo duduk disampingnya. Widya yang sedari tadi mengganggunya pun hanya tersenyum.
"Widya, bagi duit dong. Gue sama Rey mau makan, lo mau jadi kakak ipar gue, kan?"
"Duh Leo, kacian banget sih, mau berapa?" jawab Widya. Rey sendiri tahu bahwa Leo sedang mengerjai gadis itu, bahkan pandangan Widya tak lepas dari Rey saat membuka dompetnya dan menyerahkan 200 ribu kepada Leo. "Segini cukup untuk makan siang, Leo?"
"Cukup kok, cukup, thanks ya kakak ipar. Gue balik dulu, lapar banget," Leo berpamitan dan mengedipkan matanya, Rey tak menanggapi adik sepupunya itu.
Rey yang tadinya menunduk membaca buku biologi, tiba-tiba tangannya digenggam oleh Widya. Bukannya Rey munafik, akan tetapi memang dirinya tidak suka bersentuhan dengan perempuan. Tidak ingin terjadi apa-apa dan justru menjadi kebiasaan nantinya.
"Widya, kamu apa-apaan sih?"
"Ya ampun, Rey. Lebay banget sih kamu? Dipegang doang udah kerasukan gitu,"
"Aku enggak suka,"
"Kamu tahu kan risikonya kalau terus-terusan sentuhan gini, yang ada nanti cowok malah nafsuan sama kamu, jangan anggap enteng! Aku enggak suka karena takut kalau suatu waktu aku itu menjadi kebiasaan pegangan sama perempuan terus lupa batas,"
"Udah kali Rey, lagian kita mau nikah, kan?"
Rey beranjak dari tempat duduknya, "Nikah sama kucing sana, aku mau lanjutin sekolah," jawabnya dingin. Rey sudah bosan dengan pembahasan yang diucapkan oleh Widya setiap harinya mengenai kedekatan orang tua mereka yang seolah benar-benar akan terjadi bahwa pernikahan itu pasti berlangsung."
Rey keluar meninggalkan Widya, ingin rasanya ia pergi jauh dari perempuan itu agar tidak terjadi masalah kedepannya. Ia tidak ingin namanya tercoreng hanya karena Widya menganggap bahwa mereka pacaran, jika itu terdengar sampai ke ruang guru, maka dirinya akan mendapat masalah besar.
Baru saja ia keluar dan hendak ke kelas, "Jadi lo beneran pacaran sama, Widya?" ucap salah satu teman perempuannya.
"Enggak, Jen," sekanya.
"Semua kelas sebelas tahunya lo pacaran sama, dia. Lo tahu kan Widya itu anaknya gimana? Lo enggak tahu apa dia dekat sama kelas dua belas, lo lihat tingkah mereka, kalau Widya kenapa-kenapa dan pastinya lo yang disalahin,"
"Maksudnya gimana?"
"Pacarannya bebas, dia ngincar lo juga pasti karena suruhan itu laki-laki. Jaga diri dan jaga jarak aja sih menurut gue, dia itu licik. Gue pergoki mereka ciuman kemarin sore, waktu si cowok ini main basket, dia kan pelatih gue. Seniorlah, lebih tinggi daripada lo. Cuman gue enggak tahu kelanjutannya mereka ngapain, yang jelas gue lihat mereka ciuman di kelas,"
"Lo enggak ngada-ngada kan?"
"Ya ampun, Rey. Lo itu benar-benar naksir ya sama dia? Enggak ada perempuan lain gitu? Atau mata lo buta enggak bisa bedain mana cewek baik-baik mana yang enggak, dia kelihatan polos depan lo doang,"
"Jenny, gue tahu lo teman sekelas gue. Tapi lo bisa kan rahasiakan ini? Soalnya ini menyangkut aib,"
"Iya, gue cuman ngasih tahu lo doang, kok. Gue juga enggak mau berurusan sama tuh orang, kayak enggak ada kerjaan aja gue,"
Rey mengangguk pelan, Jenny merupakan perempuan yang memiliki karakter keras kepala dan memiliki sifat yang menyesuaikan dengan pergaulannya. Dia tidak suka terhadap orang sombong dan akan berkata jujur di depan orang yang tidak dia sukai, bukan tipe perempuan munafik dan juga bukan perempuan yang ikut mengejar Rey, maka dari itu Rey lebih percaya dengan Jenny dibandingkan perempuan lainnya di sekolahnya.
"Ya udah, Rey. Gue balik ke kelas dulu,"
"Bareng sama gue, gue juga mau balik ke kelas. Fendi ke mana?"
"Elah, tuh kan pasangan magnet lo, Rey. Lo kok enggak tahu?"
"Tadi dia duduk di sana, lagi hafalin biologi,"
"Oh kalau itu sih dia udah di kelas, Rey."
Rey berjalan beriringan dengan perempuan yang tingginya hingga bahu Reynand. Dirinya bahkan tak pernah mempermasalahkan siapa pun yang berjalan dengan dirinya, kecuali itu adalah Widya, dia tidak suka dengan perempuan itu karena centil dan juga mendengar kabar seperti itu membuat Rey semakin risih berada di dekat perempuan itu.
"Biar lo enggak mikir gue fitnah, gue ada buktinya," Jenny menarik dasi Rey hingga mereka berada di lorong kelas yang memisahkan kelas dan juga kantin, perempuan itu mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Rey. Sama seperti yang diceritakan oleh Jenny, bahwa itu memang Widya.
"Percaya kan lo?"
"Iya, gue percaya kok. Tapi saran gue ya jangan disebar, kalau sampai itu kesebar, siap-siap aja lo dapat masalah, Widya itu bukan anak yang bisa memaafkan orang lain. Lo kalau mau sekolah ya sekolah aja, tanpa harus cari musuh. Karena kita ini teman sekelas, bisa kan lo itu simpan itu sendirian? Atau hapus, jangan sampai dia tahu kalau lo nyimpan foto itu, lo bisa ditolak semua sekolah karena Papa dia,"
Jenny mengangguk dan langsung menghapus foto tersebut. "Gue cuman mau ngasih lo lihat itu doang kok, gue enggak bermaksud nyebarin. Ya biar lo bisa sedikit lebih hati-hati. Dan gue udah kirim itu ke ponsel lo tapi lo enggak aktif dari semalam,"
"Di mana?"
"Di chat lah,"
"Oke nanti gue cek."
Rey memperbaiki ikatan dasinya yang dibuat berantakan oleh Jenny barusan. Akan ada bukti di mana ia nanti bisa melepaskan Widya jika memang perjodohan itu disetujui oleh orang tuanya.
pemeran Widya 😁
Pemeran Leo.
Sisanya nanti di masing-masing part ya 😊 Jangan lupa likenya ya. Hehehe