
"Rey, libur kenaikan kelas kapan?"
Azka sibuk dengan ponselnya di ruang tamu. Sedangkan Reynand sedang main PS sendirian. Suasana rumah yang nampak sepi, mereka berdua bebas untuk bercengkrama mengenai Nagita. Satu tahun lebih Azka harus menjalani hubungan diam-diam dengan Nagita. Setiap kencan pun mereka hanya pegangan tangan, pelukan, ciuman hanya satu kali ketika ia menitipkan Rey dulu sebelum berangkat ke luar negeri.
"Seminggu lagi, Daddy ambilin raport ya!"
"Kapan?"
"Sabtu depan,"
"Oke,"
"Ajak Mama!"
"Iya bawel,"
"Yaaak, gara-gara Daddy ngajak ngobrol jadi kalah kan nih,"
Azka meraih bantal di sofa dan melemparkan ke arah Rey. "Daddy!"
"Marah? Sini lawan Daddy!"
"Ngelawan itu artinya nggak dapat jatah uang jajan ke sekolah,"
"Itu tahu,"
Azka terus berkirim pesan dengan Nagita layaknya sepasang pemuda yang tengah kasmaran. Sesekali Azka tertawa, Rey menoleh dan menganggap Azka seperti orang sinting. "Ingat anak udah gede, jangan baperan!"
"Bodo amat,"
"Sekarang ketawa, nanti berantem malah nyuruh aku ngerayu Mama, dasar,"
"Rey, ikut nggak?"
"Ke?"
"Bali,"
"Kapan?"
"Makanya Daddy tanya kapan kamu libur kenaikan kelas. Jadi karena kamu libur minggu depan, kita pergi minggu depan, oke?"
"Awas mesra,"
"Memangnya siapa yang mau marah kalau Daddy sama Mama mesra?"
"Daddy, ingat punya anak cowok yang nggak kecil dan cengeng lagi. Ohya boleh bawa pacar aku nggak Daddy?"
Azka yang tadinya sedang es stick seketika menggigit plastik tersebut dan memasang raut wajah tak suka ketika Rey menyebutkan kata pacar. Ia pun melempar Rey untuk kedua kalinya dengan bantalan sofa.
"Siapa yang ngajarin, hah?"
"Pengin aja,"
"Nggak ada pacaran-pacaran, Rey. Daddy nggak suka,"
"Bercanda, Daddy. Gitu aja marah, duh gini banget sekarang. Dilempar melulu, dulu dipeluk-peluk, sekarang dilempar-lempar. Besok siapa tahu ditendang terus dihajar sama orang tua sendiri,"
"Nilai semester kenaikan kelas kamu gimana?"
"Bagus Daddy. Di atas rata-rata semua,"
"Pintarnya Mama nular, bagus, Nak,"
"Iya bandelnya Daddy nular ke aku,"
"Nggak usah di contoh!"
"Aku bakalan dapat hadiah loh, Daddy,"
"Dari siapa?"
"Om Dimas,"
"Udah akur sama dia? Kata Mama kamu sering dimarahi kalau ke sana?"
"Nyubit pipi anaknya yang paling kecil, Daddy. Aku sering gigit, waktu itu sampai merah pipinya. Tangannya aku pakai ngupil, Om Dimas langsung marah. Tapi gitu-gitu dia sayang sama aku,"
"Iyalah, dia yang rawat kamu. Harusnya berbakti sama dia, malah nyiksa anaknya, untung Om Dimas nggak sunat kamu lagi,"
"Idih, sunat. Udah cukup satu kali, Daddy,"
"Nambah lagi,"
"Daddy stress,"
"Gini-gini orang tua kamu, Rey,"
"Daddy cerita dong awal ketemu sama Mama gimana? Kok bisa Mama juga suka sama orang yang gilanya kayak Daddy?"
Azka tak ingin menjawab, justru ia ingin menghindar dari pertanyaan itu. Tidak mungkin dia menceritakan bahwa Nagita dulu ia perkosa hingga Rey ada di dalam kandungannya Nagita. Azka membuang sampah esnya dan menelepon Nagita.
"Iya sayang, katanya minggu depan liburnya,"
Azka hendak ke kamar.
Bruugh
Kakinya di lempar oleh Rey dengan menggunakan boneka Clara yang ada di dekat Reynand. "Awas nggak ikut ke Bali kamu, Rey. Udah berani lempar Daddy sekarang?"
"Ditanya itu jawab, Daddy!"
"Uang jajanmu Daddy potong, Rey,"
Baru saja Azka menaiki tangga. Rey sudah naik ke atas punggungnya. Saat melakukan video call, mantan istrinya hanya tersenyum melihat tingkah Rey. Rencananya di bali ia akan melamar Nagita, bukan hanya berdua. Melainkan di depan Rey juga nantinya. Anaknya yang hendak naik ke kelas dua SMP. Bukan usia anak-anak lagi. Rey sudah mengerti tentang hidup mereka berdua. Hanya anak itu yang menjadi teman curhat Azka saat bertengkar dengan Nagita. Pun sebaliknya dengan Nagita yang curhat pada Rey.
"Anak Mama selalu manja gitu sama Daddy?"
"Nggak, Ma kenapa bisa naksir sama orang semacam Daddy, sih?"
"Daddy itu baik, Rey,"
"Kenapa milih dia? Kayak nggak ada orang lain aja, apa cuman Mama yang naksir sama Daddy dulu?"
"Banyak, tapi balik melulu sama Mama,"
"Oh berarti itu artinya Daddy yang nggak bisa lupa sama Mama,"
Azka merebut ponselnya dari tangan Rey. Ia hendak masuk dan mendoron kepala Rey agar tidak ikut masuk. Akan tetapi anaknya selalu saja mengganggunya setiap kali mereka teleponan. Bahkan tak segan-segan menaiki tubuh Azka untuk merebut ponsel sekadar mengganggu orang tuanya yang hendak bermesraan. Rey terus melawan hingga akhirnya Azka mengalah, "Ya udah, kunci tuh pintu! Awas ketahuan Oma,"
"Daddy, kapan nikah lagi sama Mama? Sepi banget nggak punya adik,"
"Kode nih kode," ledek Azka.
"Beneran, aku pengin punya adik, Daddy. Ma, kapan nikah sama Daddy? Kalau udah SMA aku ogah punya adik, Ma. Yakali udah bisa buat anak, malah punya adik, nggak banget,"
Pletak.
Rey mengaduh dan menggosok kepalanya yang dijitak begitu keras oleh Azka. "Daddy kenapa sih? Seriusan nyebelin banget main pukul-pukul segala,"
"Ngomong disaring. Siapa yang ngajarin ngomong gitu? Bergaul yang baik, Daddy nggak suka kamu ngomongin hal yang nggak sepatutnya kamu bicarakan,"
"Denger dari teman-teman,"
"Jangan ikuti, nggak baik!"
"Iya Daddy, maaf,"
"Keluar sana! Daddy mau ngomong sama Mama,"
"Kunci mobil mana, Daddy?"
"Nggak boleh nyetir, masih kecil,"
"Pakai sopir Daddy, mau ke tempat Mama,"
"Daddy ikut. Udah ya sayang, aku ke tempat kamu. Kita ketemu, i love you,"
"Idih, pengin muntah. Daddy bisa gombal?"
Azka menutup teleponnya dengan Nagita. "Rey, tahu nggak Mama kamu susah banget Daddy dapatin, jangan rusak suasana. Daddy sayang banget sama Mama kamu,"
"Nikahin, jangan dikasih tanda melulu makanya!"
"Tanda? Tanda apa?"
"Di leher, Mama. Daddy pernah ngasih tanda di leher Mama waktu itu, tahu nggak aku lihat Daddy cium Mama waktu itu, saking takutnya ketahuan aku suruh Mama buat di lengannya untuk bohong, karena takut kalau ditanya sama Om Dimas. Aku harus jadi kambing hitam gara-gara perbuatan Daddy,"
"Oke anak pintar. Udah ngerti yang itu?"
"Ngertilah. Tapi ya Daddy tenang aja, senakal apa pun Daddy, aku nggak mau nurunin sifat Daddy yang nyakitin perempuan,"
"Terus?"
"Cukup satu yang disayangi. Sekarang Daddy perjuangin Mama banget, itu artinya Daddy emang cinta sama Mama. Nggak kayak Syakila dulu, Daddy ketemu pertama dan terakhir waktu dia mau meninggal,"
"Rey udah jangan bahas, Syakila!"
Azka selalu berusaha menghindari percakapan jika menyangkut Syakila. Suatu kesalahan yang tak bisa dia maafkan atas sifatnya dahulu. Semenjak kepergian anak itu, Azka menjadi pria yang lebih menghargai keluarganya kini. Bahkan tidak main-main ingin melamar Nagita. Mereka seringkali bertengkar dan putus-nyambung. Rey sampai bingung harus membela yang mana. Ujung-ujungnya keduanya balikan dan kembali lagi pada sedia kala.
Keduanya pun segera turun dan berencana pergi ke tempat Nagita. Penghuni rumah sedang pergi ke acara nikahan adiknya Reno, suaminya Naura. Tetapi Azka dan Rey justru disuruh menunggu rumah. Namun keduanya juatru akan pergi juga. Di sana ada asisten yang akan menunggu rumah.
Di dalam mobil mereka terus berbincang mengenai liburan.
"Sayang," Nagita menghampirinya dan memeluknya.
"Mulai dramanya,"
"Sana Rey jadi kasir dulu! Mama mau ngomong sama Daddy, di dalam,"
"Mama, aku mau hilangin bosan,"
"Ya udah bersih-bersih!"
"Astaga Mama. Kenapa semenjak pacaran sama Daddy aku nggak disayang lagi sih? Tapi boleh minta duit jajan?"
"Boleh, tiga ratus ribu. Awas lebih, Mama botakin kamu, Rey,"
"Astaga punya orang tua ganas-ganas. Tadi di rumah aku di lempar, di sini malah jadi kasir,"
"Potong jadi seratus ribu,"
"Nggak, Ma. Sana pergi, aku yang jaga!"
Azka tersenyum puas melihat anaknya yang takut terhadap Nagita dibandingkan dirinya. Anak itu pun menurut. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan khusus Nagita. Di sana begitu banyak gaun pengantin yang sedang dikerjakan oleh Nagita. Sebagai seorang desainer yang namanya cukup terkenal sekarang, Azka kadang diabaikan oleh Nagita.
"Duduk sini sayang!"
Azka duduk disofa dan kedua pahanya dibuka, memberikan ruang untuk Nagita. Sebelum duduk, ia sudah mengunci pintu, tak ingin anaknya yang super resek itu mengganggu kegiatannya bersama dengan Nagita.
"Harum," Azka memeluk tubuh Nagita saat perempuan itu duduk menuruti kemauannya. Ia mencium bahu Nagita yang terbuka akibat pakaian Nagita yang memang terbuka.
"Mau sampai kapan main kucing-kucingannya, Mas?"
"Aku akan ke rumah kamu sama Mama dan Papa nanti,"
"Kapan?"
"Nanti tunggu saja. Rey masih sibuk,"
"Anak itu beneran buat kamu capek?"
"Kadang otaknya miring, sayang. Tapi aku nggak salahin dia sayang, dia mau jadi dokter. Itu cita-cita kamu yang tertunda. Hmm, aku udah desaign rumah sakit untuk dia,"
"Maksud kamu?"
"Dia minta dibuatin rumah sakit gratis, sayang,"
"Terus?"
"Kalau Reynand nggak bisa jadi dokter di sana nanti. Aku akan ajari dia berbisnis, biarlah rumah sakit itu dia yang kelola, semuanya gratis,"
"Eh, sejak kapan?"
"Sejak pertama kamu titip dia ke aku. Dia sudah minta untuk dibuatkan rumah sakit gratis untuk orang kurang mampu. Senakal-nakalnya dia, dia itu baik banget, sayang,"
"Makanya jangan marahi terus!"
Azka perlahan mulai mengeratkan pelukannya. Mengabsen bahu sampai leher Nagita dengan kecupan. Bahkan tak segan-segan menyingkap rambut Nagita dan mencium leher Nagita dengan mesra. "Mas?" Panggil Nagita parau. Saat ingin melepaskan diri, justru Azka menariknya semakin erat.
"Aku tahu kamu takut kejadian kedua kalinya, aku nggak bakalan hamili kamu lagi Nagita. Kita akan menikah," Azka memeluk Nagita dan memposisikan dagunya di bahu Nagita, "maaf, sayang?"
Azka tak pernah semesra itu bersama mantan istrinya sebelumnya. Ia hanya pergi jalan-jalan berdua dan berpegangan tangan. Berpelukan saat keduanya berpisah. Saat memeluk Nagita semakin nyaman, justru gundukan kenyal milik Nagita terlihat dari posisinya yang seperti itu.
"Pakai pakaian yang lebih tertutup sayang! Jangan buat pria bergairah hanya karena pakaian kamu, termasuk aku,"
"Kamu jaga nafsu!"
"Kamu bantu aku jaga pandangan!"
"Caranya?"
"Jangan pakai pakaian seksi lagi, Nagita! Aku nggak mau kesalahan dulu terulang lagi,"
"Aku juga nggak mau hal dulu terulang lagi,"
"Nagita, aku akan segera ke rumahmu,"
"Hmm, aku tunggu,"
"Rey sudah besar Nagita. Kita bersatu karena dia, aku jadi ingat waktu kamu hamil dulu. Berjuang karena dia, menyayangi dia meski aku nggak pernah bisa terima dia dulu,"
"Jangan bilang gitu, nanti dia dengar!"
"Mana mungkin dia dengar, di luar dia putar musik kencang gitu, memang sudah gila itu anak,"
"Mas, jangan begitu!"
"Tapi aku bersyukur Nagita, bukan dia yang menjadi alasan aku balik sama kamu. Tapi karena aku mencintai kamu, sayang sama kamu,"
"Aku juga nggak mau hanya karena Rey kita balik,"
"Kita balik, itu karena keinginan kita masing-masing. Kita punya masa lalu masing-masing, jangan pergi lagi dari hidup aku! Kamu nggak tahu gimana sulitnya ngelupain kamu,"
"Maaf, ya?"
"Jangan pergi lagi. Aku nggak bakalan lepasin kamu, apa pun yang terjadi,"
"Hati kamu?"
"Ada kamu dan anak kita,"
Azka mengeratkan pelukannya dan merasakan kenyamanan saat bersandar dipunggung Nagita. Satu tahun berpacaran, bukan karena Azka ingin berlama-lama. Tetapi itu adalah keinginan Nagita karena ingin melihat kesungguhan dirinya. Azka telah berusaha membuktikan cintanya pada Nagita. Segala kesibukannya ia tinggalkan jika Nagita sudah memintanya untuk menjemput ke toko atau bahkan menjemput Rey pulang sekolah dan di antar ke rumah Nagita.
Sulit bagi Azka mendapatkan perempuan itu. Pada awalnya Nagita menolak bahkan setelah berciuman waktu itu, mereka putus dan nyambung lagi. Azka tak pernah berhenti sampai di situ.
"Aku ganti baju dulu, Mas. Kamu kan nggak suka aku pakai yang begini,"
Azka melonggarkan pelukannya dan membiarkan Nagita pergi mengganti pakaiannya. Sejenak ia beranjak dari tempat duduk, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ruangan itu ia dekor dengan sendirinya. Selama pergi ke sana, tak pernah bertemu dengan Dimas maupun istrinya. Justru itu adalah hal bagus bagi Azka agar bisa menyembunyikan statusnya dengan Nagita.
"Kamu suka?"
Nagita keluar dengan setelan yang membuat Azka terpana. "Cantik," pujinya. Namun ada yang tidak Azka sukai dari Nagita, yaitu perempuan itu sering mengucir rambutnya.
"Mau di kasih tanda lagi biar nggak kucir rambutnya, hmmm?" Goda Azka sambi menarik ikat rambut yang dikenakan Nagita. "Aku suka calon istriku seperti ini,"
"Bisa aja kamu, Mas,"
"Tunggu sini, Nagita. Aku cari makan siang sama Rey bentar,"
"Nggak makan siang di luar?"
"Di sini saja. Aku nggak suka milik aku dilihat orang lain,"
"Hati-hati ya!"
"Pasti sayang,"
Azka mendekat dan mencium kening Nagita dengan penuh kasih sayang. "Andai kamu seperti ini dari dulu, Mas,"
"Anggap saja ujian kita sayang, yang dulu biarlah berlalu. Aku pergi dulu ya,"
"Iya, Mas,"
Azka keluar dari ruangan Nagita dan menemui Reynand. "Rey, ayo pergi bentar!"
"Tunggu dulu Daddy,"
"Mau ngapain?"
"Minta duit sama, Mama,"
"Ayo Daddy yang kasih, jangan ambil duit Mama!"
Mereka pun pergi dari butik Nagita. Keduanya mampir di sebuah toko elektronik.
"Daddy mau beli Hp lagi?"
"Buat kamu,"
"Emang boleh?"
"Biar Daddy bisa hubungi kamu nanti, kita mau ke Bali. Tapi ingat ya gunain yang baik,"
"Siap Daddy. Nanti boleh ikutan les online?"
"Selama itu untuk proses belajar kamu, Daddy dukung,"
"Daddy memang yang terbaik,"
"Ayo pilih yang mana?"
"Yang tiga jutaan aja Daddy,"
"Yakin?"
"Iya, lagian bakalan jarang dipake kok, Daddy. Paling hubungi Mama sama keluarga yang lain,"
"Oke, jangan main game ya! Ingat tujuan kamu pengin jadi apa,"
"Iya Daddy, jangan mahal-mahal Hpnya, Daddy."
Azka langsung membayar ponsel yang diinginkan oleh Reynand. Meski banyak yang mahal dan Azka sanggup membelikan, tapi sifat anaknya jauh beda dengan dirinya yang selalu saja boros. Bahkan kadang membelikan Nagita perhiasan, meski tahu kekasihnya tak suka barang-barang mahal seperti itu. Akan tetapi Azka berusaha menyenangkan Nagita apa pun caranya.