
Setelah benar-benar
sembuh. Nagita merasa sangat gugup, pasalnya malam itu ia akan bertemu
dengan seluruh keluarga Azka. Yang awalnya ia menolak beberapa kali,
tetapi Azka selalu memohon. Bahkan mama mertuanya itupun tak pernah
luput ikut berperan untuk mengajaknya pulang. Dengan berat hati dan
menuruti keinginan suaminya, ia menyanggupi permintaan Azka.
Hari itu juga, ia
membantu suaminya untuk berkemas. Meski beberapa kali Azka melarangnya
untuk melakukan pekerjaan berat, tetapi ia ingin sekali membantu
suaminya untuk sekadar melipat baju yang akan dibawanya nanti ke rumah
mertuanya.
Nagita menatap suaminya yang terlihat begitu meyakinkan. Nagita beberapa kali berusaha untuk meyakinkan diri.
"Mas, bisa nggak kita tunda dulu ke rumah orang tua kamu?"
Azka menoleh, "Nggak bisa. Mau sampai kapan?"
"Belum siap, Mas."
"Dengar! Itu artinya
saya serius sama kamu. saya akan perkenalkan dengan seluruh keluarga,
bukan lagi hidup berdua seperti sekarang ini, saya mohon Nagita. jangan
pernah tunda lagi, saya ingin kamu dikenal oleh keluarga saya. Saya
ingin semua keluarga tahu bahwa saya sudah menikah, apa kamu nggak mau
berjuang sama saya?"
Nagita menatap Azka penuh keraguan, "Papa kamu nggak galak, Mas?"
"Papa sedikit keras Nagita! cuman kita harus berusaha yakinkan itu. Makanya saya ajak kamu pulang, mau ngenalin kamu ke beliau."
"Kalau nggak direstui gimana?"
"Pasti direstui,"
"Aku takut,"
"Ada saya. Apa pun yang
Papa lakukan nantinya saya akan terima. Meski Papa marah. Saya akan
hadapi, saya tanggung jawab soal kamu sama Papa, jadi ayo kita berjuang
bareng. Kita yakinkan Papa,"
Nagita mendekati Azka
yang masih sibuk merapikan pakaian mereka. "Mas," Nagita menyandarkan
kepalanya di paha Azka yang tengah duduk di atas ranjang.
"Kenapa, Mommy?"
"I love you, Daddy," Nagita justru semakin menempel pada Azka.
Ia merasakan kepalanya di elus oleh Azka dengan sangat lembut, "Me too, Mommy,"
Tangan Nagita yang
tadinya menempel pada paha Azka tiba-tiba dipegang oleh suaminya dan ia
mengangkat kepalanya. Ternyata Azka memintanya untuk bangun dan lelaki
itu memintanya untuk duduk di pahanya. Nagita menuruti keinginan Azka.
"Lihat mata saya! Saya nggak mau ada yang ditutupi lagi. Saya mau kamu selamanya, jangan pernah ragu. Saya sayang kamu, Nagita."
Nagita hanya membalas dengan senyuman dan Azka justru mengecup bibirnya singkat. "Percaya sama saya, semuanya membaik sayang,"
Nagita memeluk Azka yang masih memangkunya.
"Kenapa manja banget sekarang, hm?"
"Kamu yang ngajarin, Mas,"
"Karena saya nggak mau jauh-jauh dari kamu,"
"Aku juga, Mas,"
Ia merasakan pelukannya
dibalas Azka dan Nagita tersenyum bahagia saat suaminya yang dulu tak
pernah ia bayangkan akan bersikap seperti itu terhadapnya. Jika dahulu
Nagita selalu berusaha menahan tangis, tetapi saat ini yang ia rasakan
adalah suatu kebahagiaan atas tangis yang pernah tumpah dahulu.
Jika berada di apartemen
dahulu ia selalu di lewati oleh suaminya sendiri. Kini, Azka seolah tak
mau jauh dari pelukannya sepanjang hari. Ditemani dalam keadaan apa
pun.
"Sekarang kita berangkat, sayang."
Nagita beranjak dari
pangkuan Azka. Lelaki itu langsung bangun dari tempat duduknya dan
menurunkan koper yang sudah lengkap berisi pakaian mereka selama berada
di sana nantinya. Tangannya tak pernah lepas dari genggaman Azka selama
menuruni anak tangga.
*****
Tiba di rumah orang
Azka. Nagita terus menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar untuk
menghilangkan kegugupannya. Tetapi semua itu sia-sia. Kegugupan itu
tidak bisa hilang begitu saja. Ada rasa takut, khawatir dan juga bahagia
sebab Azka selalu menepati janjinya.
Ia merasakan tangan Azka
menggenggamnya dengan erat. Sementara barangnya sudah dibawa masuk oleh
asisten rumah yang ada di sana. Nagita menatap Azka sekilas dan
meyakinkan semuanya akan baik-baik saja. Belum tiba di ruang tamu, Azka
memintanya untuk berhenti.
"Tunggu di sini. Kalau saya suruh masuk, baru kamu masuk. Keluarga saya semuanya ada di sana,"
Nagita mengangguk
berdiri dibelakang tembok pemisah antara ruang tamu dan ruang keluarga.
Ruang keluarga tempat semuanya menunggu, sementara Nagita berada di
ruang tamu sendirian sambil mengintip suaminya yang duduk bersimpuh di
depan orang tuanya.
"Kamu ini kenapa Azka!" ucap Papanya yang mulai penasaran dengan sikap Azka yang berbeda dari biasanya.
Di sana sudah ada Naura
dan mamanya yang tahu tentang semua ini. namun mereka masih bisa tutup
mulut dan membiarkan Azka yang menjelaskan itu semua.
"Azka minta maaf, Pa,"
"Maaf apa? Bangun Azka!"
"Nggak Pa, Azka nggak akan bangun sampai Papa tahu semuanya,"
Nagita masih
memperhatikan suaminya yang menunduk sambil bersimpuh di lantai.
Sementara papanya duduk di atas sofa bersama yang lainnya. Mata Nagita
sudah perih, ia sangat gugup.
"Azka minta restu dari Papa,"
"Restu apa? Kamu mau menikah?"
Azka menggeleng.
"Lalu apa? Perusahaan kamu bangkrut?"
"Nggak Pa,"
"Terus apa?"
"Restui hubungan Azka dan istri aku, Pa."
"Azka, kamu belum menikah. Kenapa tiba-tiba menyebut istri?"
"Aku kemari nggak sendirian, Pa. Azka datang bawa dia, bawa istri dan calon cucu Papa,"
Nagita sangat ketakutan
dengan ucapan Azka. Ia mengintip dan melihat Azka beranjak untuk
mendekatinya. Saat bertemu, Nagita rasanya ingin kabur dari tempat itu.
Tetapi Azka menarik tangannya berusaha meyakinkan.
Nagita benar-benar
merasa gugup dan menunduk sepanjang jalan menuju ruang keluarga
tersebut. Azka mengajaknya duduk bersimpuh di depan semua keluarganya.
"Kenalin, Pa. Ini
Nagita, istri Azka yang Azka nikahi kurang lebih empat atau lima bulan
yang lalu," Nagita mendengar ucapan Azka parau. Namun tangannya terus
digenggam memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Apa yang kamu maksud?"
suara itu meninggi. Nagita menutup matanya menahan tangis. Ia tahu bahwa
papa mertuanya kini sudah sangat murka.
Nagita duduk di sebelah kanan Azka, sementara lelaki itu berhadapan dengan papa mertuanya.
"Kalian mau buat saya malu?"
Nagita terdiam.
"Bukan begitu, Pa. Azka yang salah bukan dia,"
"Kalian pacaran melebihi batas?"
"Nggak, Pa. Kami tidak pernah pacaran,"
"Lalu apa? Azka kamu ngomong! Apa kamu membayarnya dan justru perempuan ini hamil dan meminta pertanggung jawaban kamu?"
Nagita sudah tidak
tahan. Air matanya lolos terjatuh membasahi pipinya. Namun sama sekali
ia tidak bisa mengangkat wajahnya karena takut dengan mertuanya.
"Nagita hamil karena
Azka perkosa, Pa. Bahkan Azka yang merusak dia, Azka orang pertama yang
menghancurkan dia, dia tidak pernah meminta pertanggung jawaban. Tapi
semua itu terjadi begitu saja, Pa."
Papa yang sudah
benar-benar tidak tahan. Dia beranjak dari sofa dan menarik salah satu
tongkat kayu yang terletak di dekat guci pojok ruang keluarga tersebut.
Seketika benda itu terhantam ke punggung Azka. Mama yang terkejut dengan
"Anak sialan. Siapa yang mengajari kamu seperti itu?"
Nagita melihat kejadian itu tubuhnya langsung lemas. Mamanya segera menarik tangan Nagita dan memeluknya.
Namun di sana Azka tak
bergerak sedikit pun. Membiarkan kayu panjang itu terus terhantam pada
punggungnya. Karena tahu ia salah, ia hanya bisa menunduk tanpa
perlawanan.
"Apa yang kamu pikirkan
pada perempuan yang masih muda begini, Azka? Ingat umur kamu bukan anak
kemarin sore yang gede. Kamu sudah dewasa, bisa-bisanya kamu
menghancurkan masa depan dia. Apa kamu nggak mikir perasaan orang
tuanya, sekarang orang tuanya di mana? Mau taruh di mana harga diri Papa
saat meminta maaf sama mereka?" papanya tak berhenti melayangkan
pukulan.
"Mereka sudah nggak ada, Pa."
Pukulan itu semakin
keras di punggung Azka dan langsung membuat Azka mengernyit saat itu
juga. Punggungnya benar-benar sakit saat papanya semakin brutal
memukulnya. Namun ia sadar, rasa sakit itu tak sebanding dengan perasaan
Dimas saat menerima kenyataan Nagita hamil.
"Om, udah!" Nagita menangis berusaha melepaskan diri dari pelukan mama mertuanya.
"Papa nggak bisa maafin orang yang sudah menghancurkan hidup orang lain, Nagita!"
"Tapi dia sudah bertanggung jawab, Om,"
"Bertanggung jawab itu
nggak menyelesaikan semuanya. Bagaimana dengan keadaan kamu? apa pernah
dia mikir perasaan kamu saat kamu harus menerima aksi bejatnya?"
"Gita sudah maafin dia,"
"Tapi Papa nggak bakalan maafin, dia."
Nagita tak tega melihat
kaos putih yang dikenakan Azka penuh dengan bercak darah. Ia pun berlari
dan memeluk kaki papa mertuanya.
"Pukul Gita, Om. Jangan Mas Azka, apa itu nggak cukup? Lihat badannya sudah seperti itu?"
"Lebih baik dia mati daripada harus menyakiti perempuan,"
"Aku mohon!"
Nagita terus memohon kepada papa mertuanya dan seketika tongkat itu terjatuh.
"Nagita, bangun!"
Nagita langsung terbangun dan terisak di depan papa mertuanya. Ia merasakan pelukan hangat itu melingkar di tubuhnya.
"Maafin Papa yang nggak bisa didik anak Papa sendiri dan buat kamu seperti ini,"
"Om nggak salah,"
"Nagita, saya Papa kamu. Papa mertua kamu, jangan pernah panggil saya Om,"
"Pa, Gita nggak pernah benci sama Mas Azka, tapi Gita mohon jangan seperti itu lagi sama Mas Azka,"
"Papa nggak akan lakuin
itu jika dia meminta kamu dengan cara baik-baik. Apa yang bisa Papa
lakukan agar bisa menebus kesalahan anak sialan itu?"
"Papa nggak harus lakuin apa-apa. Gita sayang sama Mas Azka. Gita sama Mas Azka cuman pengin minta restu,"
Pelukan itu dilepas oleh
papa mertuanya. Nagita hampir putus asa dan ia dituntun dan mertuanya
menyatukan tangannya dengan tangan Azka.
"Jaga dia! Dia jauh lebih berharga dari harta kamu, Azka!"
Seketika keduanya menoleh ke sumber suara.
"Nggak ada alasan Papa
mau marah. Semua terserah kalian, Papa nggak mau cucu Papa nggak bersatu
dengan dengan orang tuanya. Jadi, lanjutkan!"
"Pa?"
"Azka jangan bertanya. Lanjutkan pernikahan kalian, jangan pernah kehilangan harta kamu yang paling berharga?"
"Maksud Papa?"
"Bawa dia istirahat!
Papa nggak mungkin misahin kalian. Nanti malah cucu Papa nanya siapa
ayahnya, Nagita nggak bisa jawab apa-apa. Masuk kamar sekarang! Sebelum
Papa berubah pikiran,"
"Jadi Papa?"
"Masuk Azka, Nagita!"
Azka bangun dari tempat
bersimpuhnya dan langsung bersujud di depan Papanya. Nagita hanya
tersenyum bahagia mendengar ucapan papa mertuanya.
Sementara itu mamanya
berusaha menjelaskan secara detail. Sedangkan Azka dan Nagita berada di
kamar untuk mengobati luka Azka dipunggungnya.
"Kenapa kamu lakukan semua ini? kenapa kamu nggak ngomong kalau kamu sudah tanggung jawab sih?"
"Saya nggak mungkin jujur kan,"
"Nggak jujur gimana?"
"Saya nggak mungkin jujur kalau saya berbuat baik sama kamu. biarlah saya mendapatkan konsekuensi dari perbuatan saya,"
"Kamu gila, Mas,"
"Karena kalian berdua,"
"Kalian?"
"Kamu dan calon anak kita, sayang."
"Masih bisa bercanda kamu, Mas?"
"Saya serius. Saya sayang kamu, takut kamu hilang. Seperti yang Papa bilang, kamu harta saya,"
"Harta berarti harus di jaga kan, Mas?"
"Tentu."
"Kalau gitu jaga hati aku saat kamu jauh dari aku kelak. Semisal bekerja, jangan pernah lirik perempuan lain!"
"Iya sayang. Pasti."
******
Azka terbangun dari
tidurnya setelah mendengar suara ribut berasal dari bawah. Ia segera
beranjak dan mencuci wajahnya. Dia tak menemukan Nagita disisinya,
perempuan itu pasti sedang membantu mamanya di bawah. Karena ia tahu
bahwa istrinya sudah mulai dekat dengan mama dan juga adiknya.
Azka turun dari kamarnya
menggunakan pakaian yang sedikit longgar agar lukanya tak menempel pada
kaosnya. Meski semalam sudah diobati oleh Nagita dan penuh perban,
tetapi ia takut untuk bahwa luka itu menempel karena akan terasa sakit
perih.
Ia langsung ke ruang
makan. Di sana sudah ada semua keluarganya yang menunggu di meja makan.
Terlebih Papanya yang begitu antusias.
"Azka duduk sini, buruan!"
Azka mendekat dan langsung duduk di samping Nagita yang nomor tiga dari barisan sang Papa.
"Nagita harus sehat. Calon cucu Papa harus sehat. Jadi harus makan banyak,"
Azka memperhatikan
Papanya yang menaruhkan beberapa makanan di piring Nagita yang bahkan
sudah penuh oleh masakan mamanya pagi itu. Mereka tak seperti yang
lainnya, ketika menyambut tamu, mamanya pasti akan masak banyak untuk
keluarga mereka.
"Pa udah dong! Nanti nggak bisa abis, lho," keluh Nagita.
"Nggak. Pokoknya Nagita sama Naura harus makan banyak. Biar kedua cucu Papa sehat,"
Azka mengernyit mendengar kata 'kedua cucu' yang ia tahu bahwa istrinya hamil satu bayi.
"Nagita hamil satu bayi, Pa,"
"Bukan Nagita. tapi Naura hamil,"
"Hamil?"
"Kakak nggak tahu? Kakak sibuk peluk istri terus sih, jadi nggak tahu kalau adik sendiri hamil,"
Azka mengerjapkan matanya berkali-kali. Di sana ada Reno, suami Naura yang tersenyum.
"Hebat juga lo, Naura hamil lagi,"
"Emang lo doang yang bisa buat anak? Gue bahkan udah dua kali gol,"
"Setelah melahirkan kita buat lagi, Nagita!"
"Awww, sakit tahu," ia merasakan pahanya dicubit oleh Nagita dari bawah.
"Mampus puasa lo bentar lagi, Az."
"Diam lo!"
"Kalian berdua akan merasakan puasa itu, bahkan sebulan setengah. Itu pun kadang dua bulan," ledek papanya.
"Dua bulan, Pa?" tanya Reno yang terlihat sepertinya tidak terima dengan ucapan itu.
"Paling sedikit dua bulan. Bahkan ada yang empat bulan, tergantung kapan sembuhnya,"
"Naura, berarti sebelum puasa. Aku harus sering-sering dapat jatah,"
"Nggak boleh! Bahaya, apalagi Naura baru hamil, jarang-jarang, Reno!" protes sang mama.
"Rasain. Gue dong, merdeka. Bebas," jawab Azka menyombongkan diri.
"Sebentar lagi kamu puasa, Azka. Jangan ngeledek adik ipar kamu!"
Semuanya tertawa. Pun
sama dengan Nagita. pagi itu suasana keluarga Azka berubah. Yang awalnya
jarang berkumpul tetapi saat itu juga langsung berkumpul dan terasa
kehangatannya. Azka pun ikut bergabung dan sambil menceritakan kisah
perjalanan cintanya agar bisa meyakinkan Nagita. di sana ia menjadi
bahan ledekan papanya karena beberapa kali gagal membuat Nagita percaya.