RICH MAN

RICH MAN
TAK INGIN BERTAHAN LAGI



Alexi Reynand, dia adalah seorang laki-laki yang kuanggap adalah orang yang sombong dan tidak mau bergaul dengan orang seperi aku. Tetapi semua yang aku pikirkan itu ternyata berbanding terbalik dengan kejadian sebenarnya. Tidak ada yang bisa menebak seseorang sepertinya, dia begitu teduh. Dan terkadang begitu membuatku menjadi seorang wanita yang beruntung karena bisa berteman dengannya. Satu sisi, ada hal yang tidak bisa dihindari ketika bersama dengannya. Yaitu sebuah perasan yang harus dibunuh karena aku tidak mau membuat pertemananku dengannya menjadi renggang setelah perasaan itu nanti tumbuh dan menguasai kepalaku.


Reynand membaca lembar demi lembar halaman diary yang ditulis oleh Bintang. Tetapi semua sudah terlambat, hatinya yang sudah terlanjur kecewa karena cinta yang bertepuk sebelah tangan tidak membuatnya ingin melanjutkan perasaan itu. Bintang, adalah seorang gadis yang sudah berhasil mengacaukan pikirannya seteiap malam. Tetapi semakin dia berusaha untuk mendekat, semakin jauh pula Bintang darinya.


"Kak, Mama manggil!" Reynand menoleh dan menutup diary tersebut setelah mendengar Salsabila memanggilnya. Reynand beranjak dari tempat belajarnya dan menggendong adiknya turun ke ruang makan karena sudah pasti dia dipanggil oleh orang tuanya untuk makan malam bersama. Karena besok dia akan aktif sekolah lagi dan tinggal menunggu hari untuk semester kenaikan kelas.


"Rey, besok kan kembali sekolah. Terus malam ini kamu enggak ada rencana kunjungi Amanda?"


"Reynand, sebenarnya apa yang membuat kamu jadi pendiam gini, Nak?"


Ucapan kedua orang tuanya mampu menyadarkan Reynand semenjak pulang mendaki dia menjadi orang yang jarang berbicara, barangkali tidak mau menceritakan tentang patah hatinya karena seorang gadis yang sudah menghancurkan harapannya dan tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa.


"Rey, Mama perhatiin kamu itu jarang banget ngomong. Lebih banyak di kamar, apa yang terjadi? Jangan hanya karena ada masalah lalu kamu pendam, Nak!"


"Mama, aku enggak apa-apa," ucapnya dan menyantap makanannya. Berusaha memberikan senyum untuk kedua orang tuanya. Reynand tak ingin memberitahukan bahwa dirinya sedang patah hati hanya karena gadis yang tidak membalas cintanya dan bertepuk sebelah tangan itu. Reynand hanya ingin menyimpannya sendirian, barangkali menyimpannya sendiri adalah cara terbaik untuk tidak membuat kedua orangnya tidak khawatir terhadapnya. Seusai makan malam, Reynand memilih untuk duduk di ruang keluarga bersama kedua adiknya untuk menemani si kecil bermain. Sudah lama sekali dia tidak bermain bersama dengan adiknya semenjak memprioritaskan Bintang dan selalu menuruti apa yang diinginkan oleh gadis itu.


"Rey, minum susu dulu, Nak!" panggil mamanya yang langsung meletakkan susu di atas meja dan kedua adiknya pun ikut bangun dari tempat duduk untuk mengambil bagian masing-masing.


"Kakak, itu punya Nabila," Protes Nabila ketika Reynand jahil terhadap adiknya dengan cara megambil dua gelas susu dan tidak memberikan Nabila bagian.


"Ayo ambil dari tangan kakak!"


"Papa," Nabila mendekati papanya dan dengan tatapan yang berkaca-kaca sambil menggigit bibir bawahnya. Tiba-tiba tangis anak itu pecah dan membuat Reynand tertawa melihat kelakuan adiknya yang sangat dia rindukan.


Nabila terus menangis walaupun Reynand sudah memberikan susu itu, tetapi adiknya masih memeluk papanya sambil mengadu kejahilan Reynand. Di sana tampak Salsabila justru mendukung tingkah Reynand yang sudah membuat adiknya menangis.


"Kebiasaan banget kalau udah kumpul gini buat adiknya nangis, Rey,"


Reynand justru mendekati Nabila dan jongkok tepat di depan papanya yang sedang mengelus punggung Nabila yang menangis. "Adik, kakak sudah minta maaf. Enggak boleh marah sama kakak lama-lama, kakak baru pulang beberapa hari kok udah marah gitu?" ucap papanya sambil menenangkan Nabila.


Nabila berhenti menangis dan masih menggigit bibir bawahnya sambil berbalik dan memeluk Reynand. Lelaki itu membalas pelukan adiknya kemudian menggendongnya. Niatnya ingin bercanda justru membuat adiknya menangis hingga seperti itu.


"Maafin kakak ya, kakak cuman bercanda kok. Kakak sayang sama Nabila, jangan marah lagi, kakak enggak mau kalau Nabila sampai benci sama kakak," ucapnya dan terus mengelus punggung adiknya di gendongannya. Reynand menyayangi kedua adiknya, walaupun hatinya terluka, tidak mungkin dia melampiaskan kekesalannya terhadap adiknya.


"Minum susu dulu, dek," Reynand menyodorkan susu itu dan diminum oleh Nabila. Dia mencium pipi adiknya hingga anak itu memeluknya lagi begitu erat setelah minum susu.


"Ikut bobok cama kakak,"


"Iya, nanti bobok sama kakak. Terus nanti kita main,"


"Iya, dadek juga bobok cama kakak?"


"Iya kalian berdua yang bakalan bobok sama kakak,"


Orang tuanya tersenyum melihat tingkah adiknya yang bermanja seperti itu. Sudah beberapa hari dia meninggalkan rumah, tapi justru dia membuat adiknya menangis. Keusilan Reynand terhadap adiknya juga sudah seringkali ditegur oleh papanya. Akan tetapi dia selalu berusaha untuk menenangkan adiknya setelah membuat salah satunya menangis. Kadang Reynand membuat keduanya menangis dan itu membuat mamanya menjadi geram terkadang memarahinya.


Malam semakin larut, Reynand sudah berhasil menidurkan Nabila dalam gendongannya sedangkan Salsabila ditidurkan oleh papanya lebih dulu di kamar Reynand. Keduanya memang dekat dengan lelaki itu, hingga orang tuanya tak perlu bersusah payah mencari pengasuh sebab mereka tak ingin terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan melupakan tanggung jawab mereka sebagai orang tua, begitu pula dengan Rey yang tak mau adiknya tak mendapatkan kasih sayang yang layak.


"Tidur gih! Kalau ada apa-apa cerita! Jangan pendam sendirian!"


Reynand mengangguk dan meninggalkan kedua orang tuanya di ruang keluarga sambil menuju kamarnya dia mengelus punggung Nabila. "Selamat tidur, Princess," Reynand mencium kedua adiknya bergiliran. Sudah lama sekali dia mencium adiknya ketika tertidur seperti sekarang ini. Perannya sebagai seorang kakak bisa dia buktikan dengan cara memberikan kasih sayang dengan baik kepada keduanya. Rey ingat bahwa dulu ketika masih TK dia begitu menginginkan seorang adik. Akan tetapi rumah tangga orang tuanya diterpa masalah yang begitu besar dan ketika SMP impian itu baru terwujud.


Melihat ke arah jam yang ada di dinding, jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Reynand tak mendapatkan kabar sama sekali dari Bintang semenjak kejadian di gunung waktu itu. Yang di mana Bintang memeluknya dan dia membalas pelukan Bintang kemudian meninggalkan gadis itu, pelukan yang harusnya terasa nyaman dan menenangkan, justru pelukan itu menjadi hal yang paling menyedihkan yang dirasakan oleh Reynand. Mengingat bahwa dia sedang memeluk seseorang yang tak pernah mampu dia gapai hatinya.


Dia pernah memprioritaskan seorang gadis yang di mana semua waktu paling berharga yang dia miliki justru digunakan untuk menemani gadis itu akan tetapi hatinya tak pernah mampu digapai oleh Reynand. Tentang malam yang panjang, tentang semua cerita-cerita menyenangkan, dan tentang tawa yang pernah dibagi bersama itu sudah lenyap tak tersisa lagi. Hanya ada setitik harapan yang ada dihati lelaki itu. Apakah dia akan tetap melanjutkan perasaannya atau justru dia hanya menyakiti dirinya sendiri. Tentang rencana yang pernah disarankan oleh teman-temannya waktu itu. Barangkali menghargai Widya adalah cara terbaik. Apalagi Widya telah mengejarnya sangat lama tidak perlu lagi harus berjuang begitu keras seperti yang dia lakukan saat mengejar cinta Bintang.