RICH MAN

RICH MAN
SOLUSI TERBAIK



Di kantin sekolah. Widya sedang duduk sendirian sambil bermain ponselnya. Reynand yang baru saja datang langsung duduk di sebelah gadis itu. "Mau minum apa, aku pesanin," ucapnya kepada Widya, membuat gadis itu tak percaya dengan apa yang baru saja Reynand katakan.


Sadar atau tidak , sengaja atau tidak, Reynans sudah sering menyakiti Widya. Apalagi ketika dirinya bersama dengan Bintang dan selalu mencampakkan gadis itu semaunya ketika bersama dengan gadis yang begitu dia kejar. Namun, pada akhirnya itu adalah hal yang sangat sia-sia. Lelaki itu sadar bahwa selama ini ada seorang gadis yang sudah menunggunya dan selalu menganggunya, tetapi dia baru ingat bahwa bagaimanapun menyebalkannya Bintang. Gadis itu tetaplah Widya yang selalu menunggunya.


"Mau minum apa?" ulangnya.


Widya justru menempelkan telapak tangannya dijidat Reynand. "Sayang, kamu enggak lagi demam, kan?"


"Widya, ini aku, loh. Aku Reynand, aku enggak demam. Memangnya aku kenapa coba?"


"Oh, astaga sayang. Kamu itu enggak bisa aku tebak. Kamu ini sebenarnya kenapa, sayang? Kenapa tiba-tiba kamu bersikap manis seperti itu?'


Beberapa saat kemudian Fendi, Jenny dan Bintang datang kemudian duduk di meja sebelah tempat Reynand dan Widya tempati. Disusul oleh Rista yang langsung bergabung bersama dengan mereka.


"Nanti sibuk enggak?"


"Enggak, kenapa memangnya?"


"Pulang sekolah aku yang antar, nanti sore jalan yuk! Kita nonton, kamu mau enggak?" ucapnya pada Widya.


"Sumpah mimpi apa gue semalam, seseorang tampar gue, please sadarin gue dari mimpi gue,"


Plak.


Jenny yang langsung menampar bahu Widya dan terdengar sangat jelas. "Jenny, sialan. Lo apa-apaan coba?"


"Lah, tadi lo bilang pengin digampar. Ya udah gue udah sadarin lo dari mimpi buruk lo, kan. Sekarang lo udah sadar belum?"


"Oke, thanks, Jenny. Pokoknya gue terima kasih banget deh sama lo yang udah sadarin gue. Tapi ini beneran terjadi sama gue, bukan mimpi, Jenny. Rey ngajakin gue jalan, sumpah gue mimpi apaan semalam? Seingat gue, gue dicampakkan lagi sama dia,"


"Bagus dong goblok, cinta lo enggak bertepuk sebelah tangan lagi seperti dulu. Lo yang selalu ngejar dia, kan. Dan sekarang justru Rey datang sendiri ke lo buat nawarin diri untuk bisa selalu bareng sama lo," Reynand menatap Jenny dengan tatapan yang sungguh kagum dengan gadis itu yang sepertinya sudah tahu bahwa maksud dari Reynand adalah membuat Bintang cemburu. Dan terlihat, ekspresi gadis itu berubah seketika saat Reynand memberikan minum dan duduk menempel pada Widya.


Siapa pun yang pernah patah hati, pasti dia akan berusaha untuk terlihat baik-baik saja pada orang yang sudah menyakitinya. Meski berhasil membohongi orang lain, akan tetapi orang itu tidak akan pernah berhasil untuk membohongi dirinya sendiri tentang perasaan sakit itu.


Bintang yang selalu saja mencampuri hidupnya dan selalu berusaha untuk mencuri waktu berharganya. Kini gadis itu hanya terdiam dan tidak berkomentar apa-apa lagi. Rey juga berusaha untuk tidak terlalu berbincang dengan Bintang untuk menghindari perasaannya terlalu nyaman lagi terhadap Bintang.


Hal yang ingin dilakukan oleh Reynand adalah dia ingin menyembunyikan segala sesuatu yang berkaitan dengan patah hatinya tentang suatu hari di mana Bintang mengakui perasaan itu benar ada, tetapi tidak mau mengakui bahwa dia juga memiliki rasa yang sama seperti yang lelaki itu rasakan saat ini. Terlalu sakit memendam sendirian, jika dikatakan pun sepertinya sangat sulit karena tidak ada penerimaan. yang ada hanyalah penolak yang tidak berujung pada kata bahagia.


Beberapa jam kemudian.


Reynand bangun dengan kapala yang sedikit pusing karena tadi dia ketiduran di sofa sepulang sekolah. Mamanya tidak membangunkan jika dia tertidur di sana. Bahkan akan mengasingkan kedua adiknya agar tidak menganggu istirahat Reynand dan tidak akan pernah mengganggu aktivitas Reynand jika lelaki itu sedang kelelahan.


Pertama dia mencuci wajah dan mencari keberadaan mamanya yang terdengar berada di halaman belakang rumahnya sambil menemani kedua adiknya berenang di sana.


"Kakak sudah bangun, sekarang kakak makan siang!"


"Maaf aku ketiduran, Ma,"


"Enggak apa-apa, kan belum makan siang, Mama siapin ya,"


"Nanti aja, Ma. Aku mau keluar,"


"Rey, bisa kan setelah pulang sekolah jangan terlalu keluar. Mama pengin kakak di rumah, main sama adik-adik, dan tetap di sini sama Mama. Kenapa akhir-akhir ini kakak jarang banget dengerin omongan, Mama?"


"Ma, aku bukannya enggak betah di rumah. Tapi aku butuh waktu aja untuk bergaul,"


"Bergaullah, jangan pulang sekalian!"


"Kenapa Mama itu selalu saja merasa diri, Mama benar? Kenapa Mama enggak pernah biarin aku sekali saja menikmati masa muda aku, Ma? Kenapa Mama selalu saja atur hidup aku?" suara Reynand meninggi begitu saja.


"Maka dari itu, lakukanlah, Rey. Mama sudah capek, apa pun yang kamu mau, lakukan! Jangan pernah dengerin kata, Mama lagi. Andai kamu tahu bagaimana perasaan orang tua terhadap anaknya, kamu pasti enggak bakalan ngomong gitu, apalagi kamu sekarang berani bentak, Mama. Pernah Mama sama Papa ajarin kamu untuk membentak orang tua? Pernah Papa kasarin kamu? Pernah Mama ngomong kasar dan marah-marah dengan cara seperti kamu marahin, Mama? Rey Mama bahkan selalu mikir sebelum ngomong, Mama pikirin perasaan kamu, Mama bahkan selalu berusaha untuk ngerti, kamu keluar setiap hari, pernah Mama marah? Cuman hari ini, Rey. Cuman hari ini Mama protes kamu keluar, kalau kamu mau menikmati masa muda kamu, Mama persilakah, Rey!" mamanya mengusap air matanya yang jatuh. Reynand menyesali perbuatannya melampiaskan kekesalannya terhadap mamanya yang sudah mempertaruhkan nyawa ketika melahirkannya.


Rey terdiam di dekat kolam sambil menyaksikan mamanya menggendong kedua adiknya sambil menangis. Untuk pertama kalinya dia membuat mamanya menangis seperti itu, bahkan jika papanya tahu tentu semua itu akan semakin berat lagi.


Reynand duduk dipinggir kolam, dia masih melihat air yang ada di kolam nampak masih belum tenang. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, sungguh Reynand mengakui kesalahannya karena telah membuat mamanya bersedih.


Lelaki itu beranjak menuju kamarnya dan mengirim pesan kepada Widya bahwa mereka tidak jadi pergi karena ada halangan. Gadis itu pun mengerti dan akhirnya Reynand menonaktifkan ponselnya. Dia masih menatap langit-langit kamarnya sambil meletakkan lengannya di atas dahi. Tak sadar bahwa air matanya keluar karena menyesal telah membentak mamanya tadi.


Setelah melaksanakan ibadah sholat asar, Rey turun dari kamarnya setelah mendengar suara mobil masuk ke area rumah mereka. Mata mamanya terlihat begitu sembab, Reynand merasa hatinya begitu kacau karena melihat mamanya yang berusaha menghindarinya.


Rey duduk di ruang tamu sementara mamanya menyambut kedatangan papanya. "Mama, mata mama kenapa?"


"Ah, itu Mama baru bangun, Pa," Reynand menunduk setelah mendengar kebohongan mamanya terhadap papanya yang berusaha menyembunyikan kesalahan Reynand.


"Kenapa dimarahin?"


"Kakak enggak dibolehin pelgi cama, Mama. Tapi kakak malahin Mama campai nangis, Pa. Mata Mama campe cakit, Pa,"


Reynand menunduk kembali setelah mamanya datang. "Mama, apa yang terjadi?"


"Terjadi apa, Pa? Enggak ada kok,"


"Mama berantem sama, Rey?"


"Enggak, Pa. Tanya Rey kalau memang itu yang terjadi,"


"Anak-anak bilang kalau Rey bentak, Mama. Sejak kapan dia berani kurang ajar sama orang tua?" papanya menurunkan Nabila dan Salsabila lalu duduk di sebelah Reynand.


"Jangan marahi, Pa!"


"Masuk, kamar! Bawa yang dua itu,"


Reynand menunduk menahan getir dihatinya. Muncul sebuah penyesalan yang membuatnya ingin menangis karena membentak mamanya tadi.


"Kenapa kakak berani bentak, Mama? Papa enggak pernah ngajarin kayak gitu, Nak! Kamu sendiri yang selalu ngajarin Papa bagaimana Papa harus sayang sama, Mama! Sekarang kamu sendiri yang buat Mama nangis, salah Mama apa? Ayo cerita! Papa enggak bakalan mukul, Rey. Papa cuman pengin tahu, apa yang sudah kamu perbuat sehingga membuat Mama nangis?"


"Mama larang aku keluar, Pa. Dan aku marah karena itu,"


Terdengar suara tarikan napas papanya yang terdengar berat. "Sekarang Papa tanya, kamu selama ini ke mana? Dan sama siapa? Jujur jika itu memang kamu pergi sama perempuan Rey!"


"Aku keluar sama teman sekelas, dan aku selalu sama dia, Pa,"


"Kamu jatuh cinta?"


"Itu dulu, sebelum dia buat perasaan aku hancur,"


Reynand merasakan punggungnya dielus oleh papanya. "Sebagai seorang pria, enggak seharusnya kamu kasar sama Mama hanya karena Mama menginginkan yang terbaik dari kamu. Cinta itu kadang membuat seseorang menjadi lupa segalanya Reynand. Sekarang kamu dilarang keluar sama Mama tapi udah berani bentak, Mama. Cinta itu enggak semua bisa dibalas, kadang cinta itu ada, tapi tidak untuk kita miliki. Tapi percayalah yang terbaik akan datang di saat kamu berusaha untuk menjadi lebih baik, Rey. Sekarang mungkin masa di mana kamu baru mengenal cinta, tapi ketika kamu sudah mengerti arti cinta yang sesungguhnya, kamu akan saling mempertahankan dan dia. Sama seperti Mama dan Papa dulu bertahan juga karena kamu, tapi seiring berjalannya waktu Mama sama Papa saling mencintai karena selalu bersama, selalu ada alasan seseorang untuk bertahan. Tapi untuk mengakhiri, tidak ada alasan yang cukup jelas, Rey. Butuh waktu dan alasan yang benar-benar kuat untuk tidak menerima, seperti halnya kamu yang kecewa, mungkin itu yang nyakitin kamu punya alasan,"


"Alasannya cuman satu, Pa. Dia tidak mau aku kecewa,"


"Maka dari itu, buktikan suatu waktu kalau kamu layak bersama dengan dia!"


"Papa enggak masalah?"


"Rey, urus sekolah kamu. Perihal kamu sama dia, itu urusan nanti. Setelah kamu sekolah, masih ada jenjang kuliah. Setelah kuliah, kamu akan kerja. Dan setelah kerja, kamu akan memilih seorang wanita yang akan menjadi pendamping hidupmu. Mama juga enggak pernah jadi daftar perempuan yang pernah Papa harapin, percuma sekarang kamu harapannya sama si A, tapi Tuhan menjodohkan kamu sama si B. Kamu hanya menyia-nyiakan waktumu bersama si A. Walaupun kamu bilang bahwa bisa jadi si A jodohmu, tapi lebih baik pilih untuk menjadi sukses dahulu, Rey!"


"Iya, Pa. Aku akan berusaha,"


"Mama larang kamu keluar karena Mama selalu curhat kalau dia kangen kamu di rumah dan nemenin adik-adik kamu. Jangan berpikir bahwa Mama egois, Rey,"


"Bilang sama, Mama. Kalau aku minta maaf!"


"Iya. Ya sudah sekarang susul Mama, gih! Minta maaf dan jangan pernah lakukan hal yang sama lagi, Papa enggak tahu kalau ternyata selama ini kamu sedang jatuh cinta dan itu yang membuat kamu menjadi lelaki dingin dan bersikap aneh selama ini, jujur Rey kalau selama ini Papa juga kaget lihat perubahan kamu,"


"Maafin aku, Pa,"


"Mulailah untuk jadi diri sendiri, jika kamu terlalu menurti apa yang orang lain katakan. Sekarang kamu ditinggalkan, kemudian kamu bilang kalau ternyata selama ini kamu hanya menyia-nyiakan waktu,"


"Papa, sekali lagi aku minta maaf,"


"Hah, minta maaf sama diri kamu sendiri yang sudah terlalu terlena, Rey. Cintai, Mama! Karena dia adalah wanita pertama yang akan menjadi cinta pertama kamud an akan ada wanita lain lagi, kelak. Wanita itu akan menemani kamu, dalam susah maupun senang. Sama seperti Mama selama ini selalu mengeluh sama, Papa tentang kamu yang jarang di rumah,"


"Iya, Pa. Aku enggak bakalan lakukan hal yang sama lagi dan buat Mama khawatir lagi,"


"Enggak nyangka ya kalau anak, Papa udah remaja. Sudah mulai jatuh cinta, sampai buat dia seperti sekarang ini,"


Reynand tersenyum. "Papa, aku sayang Papa."


"Ini ungkapan cinta yang kamu ungkapin ke dia ya? Pantas kamu ditolak,"


"Ah, aku ke kamar dulu mau cari Mama."


Papanya tersenyum. Reynand pikir bahwa papanya akan melakukan tindakan memukulnya. Tetapi dia salah, ternyata Papanya memberikan solusi yang luar biasa untuk dirinya.