
Mereka bertiga berpisah di restoran itu. Jenny yang lebih dulu pulang dengan taksi karena ingin pulang dengan segera karena tidak ingin berlama-lama di luar. Kehamilannya yang membuatnya ingin selalu istirahat, dan Fendi selalu mengingatkan untuk bersitirahat yang cukup.
Sedangkan Leo kembali ke kantornya dengan menggunakan taksi online yang sudah dipesannya. Rey juga kembali lagi ke kantornya karena tiba-tiba saja papa mertuanya datang ke sana untuk mampir.
Dengan segera ia ke kantor dan bergegas untuk kembali lagi. Tidak mau jika mertuanya menunggu terlalu lama di sana. Sekretarisnya yang menghubunginya tadi ia minta untuk menahan mertuanya agar tidak pulang lebih cepat karena sebentar lagi ia akan sampai di kantor.
Begitu sampai di kantor dia berlari melewati lobi begitu saja untuk ke ruangannya karena mertuanya sudah menunggu di sana. Ketika tiba di ruangannya, ia bertemu dengan mertuanya di sana. Rey langsung bersalaman seperti biasanya. Walaupun mertua, Rey tetap bersikap layaknya orang tua kandungnya sendiri. Karena bagaimanapun juga itu adalah orang tua dari istrinya. Kakek dari calon buah hatinya sendiri.
Ingin sekali ia bercerita mengenai kejadian masa lalu di mana ia akan mengakui tentang pria yang dibenci oleh mertuanya dahulu. “Pa, aku mau ngomong sesuatu sama Papa boleh?” Rey merendahkan suaranya menjadi bisikan. Tetapi mertuanya masih mendengar setiap kata itu dengan jelas. Raut kesedihan muncul di raut wajah Rey kala dia berusaha untuk mengungkapkan itu semua.
“Mengenai rumah itu?” tanya mertuanya. Rey menggeleng.
“Bukan, Pa. tapi ini mengenai pria yang pernah Papa ceritakan sama aku dulu. Pria yang sudah buat Marwa hilang ingatan itu adalah aku,” ucap Rey disela-sela pembicaraan mereka. Ekspresi mertuanya langsung berubah yang tadinya begitu senang kini menjadi mendung secara tiba-tiba. Rey paham bahwa orang tua istrinya akan kecewa.
Mertua Rey langsung berdiri dari tempat duduknya. “Papa sudah tahu, Rey. Papa nggak mau bahas hal itu, Papa tahu itu bukan salah kamu,” Rey mengangkat kepalanya. Ia yang tadinya menunduk kini berani mengangkat kepalanya. “Papa tahu walaupun kamu nggak cerita,”
“Papa tahu dari mana?”
“Itu nggak perlu kamu tahu, Rey. Intinya Papa sudah tahu semenjak kalian nggak pernah datang ke rumah, tapi Papa nggak mau nyalahin kamu atas kejadian ini, Rey. Selama ini Papa salah, Papa salah mengatakan kalau kamu adalah penyebab dari semua ini. Tapi, justru anak Papa yang salah. Maaf,”
“Pa,” Rey memanggil mertuanya dengan pelan.
Rey benar-benar tercengang saat dia melihat papa mertuanya yang hendak keluar dan menghindari pembicaraan mengenai hal itu. Tapi, berusaha ia tahan agar pria itu tidak keluar dari ruangannya. “Aku minta maaf, Pa,”
“Papa nggak salahin kamu,”
Sekarang mertuanya telah tahu semuanya. Hal yang sudah ditahan oleh Rey selama beberapa bulan, justru diketahui oleh mertuanya lebih dulu. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pada saat itu, dia merasa seolah-olah jantungnya akan keluar dari dadanya.
“Rey, Papa nggak mau bahas hal yang dulu. Dan itu pasti sangat berat bagi kalian berdua sampai pada akhirnya menghindar dari Papa dan Mama. Kalian nggak mau datang ke rumah alasannya karena itu, kan?” ucap pria itu membalikkan badannya. Perlahan Rey yang masih dalam keadaan menunduk yang mengejar mertuanya tadi langsung mengangguk perlahan.
Penampilan pria itu benar-benar rapi akan tetapi pikirannya sangat kacau dan berantakan. Bagaimana mungkin dia menyalahkan menantunya untuk hal itu. Rey adalah menantu kesayangannya, dia tidak ingin jika kejadian itu membuat kebahagiaan putri semata wayangnya hancur karena keegoisannya. Putrinya sudah berusaha untuk pulih, dan tidak mungkin baginya untuk dendam terhadap Rey selama itu.
Keduanya sudah sama-sama dewasa dan tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah. Begitupun dengan Rey yang selaku kepala rumah tangga, ia percayakan bahwa urusan rumah tangga itu adalah urusan Rey. Dan masalah kejadian yang telah lalu biarlah menjadi kenangan yang tidak akan pernah dibahas lagi dan mengakibatkan kebencian yang mendarah daging dihatinya.
Rey mengangguk pelan. “Iya, Pa. Hari ini aku sudah mendapatkan rumah itu dan mungkin minggu depan aku bakalan pindah ke sana sama Marwa,”
“Apa nggak buru-buru?”
“Marwa udah baik-baik saja, Pa. jadi nggak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Dia sendiri yang minta untuk segera pindah,”
“Kalau memang seperti itu, Papa nggak bisa komentar apa-apa lagi,”
Rey merasa sangat canggung bicara dengan mertuanya kali ini. “Jadi kapan kalian bakalan ngadain syukuran?”
“Mungkin secepatnya, Pa. intinya aku bakalan pindah minggu ini, dan maaf Pa. Rumah yang aku beli nggak sebesar rumah dulu yang aku tempati sama istri aku,”
“Rey, kamu sudah bertanggung jawab sama Marwa saja sudah membuat Papa senang. Apalagi kalau kamu sampai bisa beli rumah dengan hasil kerja keras kamu sendiri tanpa bergantung sama orang tua. Papa justru jauh lebih bangga walaupun itu kecil. Walaupun itu satu ruangan kecil, yang penting kamu belinya pakai hasil usaha kamu sendiri, Papa juga bakalan tetap bangga sama kamu, yang penting Marwa bahagia sama kamu, apa artinya rumah mewah kalau Marwa nggak bisa kamu bahagiain nanti?”
Rey tertegun mendengar ucapan mertuanya. Ia pikir mertuanya akan mempermasalahkan rumah sederhana yang ia beli hari ini. Tapi justru mertuanya mendukung dengan sangat baik. Bahwa selama ini hasil kerja kerasnya berbuah manis. Walaupun dia bisa membeli yang lebih besar lagi, akan tetapi Rey tidak ingin jika Marwa turun naik anak tangga ketika sedang hamil. Biarlah rumah itu tidak bertingkat seperti tempat tinggalnya sekarang dan tidak seluas rumah pertamanya itu.
Apa pun keadaannya, setidaknya mereka bersyukur karena telah dianugerahi calon buah hati. Hal yang sudah dinanti-nantikan oleh Rey dan juga Marwa selama ini. Menjadi orang tua berarti tanggung jawab mereka berdua akan semakin besar. Selain mendidik, ia juga akan tetap menjadi tulang punggung keluarga tanpa melibatkan Marwa mencari uang.
Selama masih bisa mencari uang, tentu Rey ingin agar istrinya tetap di rumah. Tidak ingin jika Marwa bekerja pada orang lain kemudian lebih patuh kepada waktu untuk bekerja dan setelah patuh terhadap waktu bekerjanya, itu berarti bahwa istrinya akan patuh kepada uang dan perintah bosnya hanya karena uang. Lalu apa gunanya ia menjadi suami jika tidak bisa memberikan nafkah kepada istri dan juga anak-anaknya kelak. Pendidikan Marwa memang tinggi, bukan berarti menjadi jaminan untuk bekerja. Biarlah pendidikan tinggi itu dia gunakan nanti untuk mendidik anak-anak mereka.
Suami yang baik adalah suami yang mampu mendidik istrinya dan membiarkan istrinya tetap berada di dalam rumah menjaga nama baik suami dan menjaga kehormatannya. Secantik apa pun seorang istri, perihal mencari nafkah adalah tanggung jawab suami. Namun, kadang tidak ada salahnya mencari uang. Tetapi Rey memiliki prinsip bahwa ia adalah tulang punggung yang tidak akan membuat istrinya susah.