RICH MAN

RICH MAN
UTUH YANG DIRINDUKAN



Semenjak keinginan Reynand untuk tinggal bersama dengan Azka. Nagita menyiapkan barang-barang Rey untuk pergi dari hidupnya. Bukan karena ia tak menyayangi anaknya. Melainkan, tak tega jika harus memaksa Rey bertahan bersama dengan dirinya dan Teddy jika suasana seperti ini. Ia memasukkan semua pakaian Rey ke dalam koper hingga tak tersisa satu pun.


Nagita sudah meminta cerai dari Teddy perihal Rey. Akan tetapi suaminya terus menolak. Tak ingin ada keributan besar terjadi. Mau tidak mau ia harus mengalah dan membawa Rey ke dalam hidup Azka lagi.


Diam-diam Nagita memasukkan semua barang Rey ke dalam mobil dibantu oleh para asisten. Sementara itu Rey masih sekolah dan ia berencana untuk pergi ke kantor Azka.


Dengan perasaan kalut dan berderai air mata. Nagita menguatkan dirinya sendiri, barangkali memilih orang baru masuk ke dalam hidupnya tidak selamanya baik baginya dan Rey. Justru itu adalah hal yang menyebabkan segalanya menjadi tambah rumit. Teddy yang ia percaya begitu menyayangi Rey, namun kini justru termakan oleh omongan teman-temannya, hingga anak itu tersingkirkan dengan sendirinya.


"Maafin Mama sayang." Lirihnya.


Nagita berniat mengantarkan barang-barang tersebut pada Azka. Nagita menangis dalam hati dengan kejadian ini. Sulit baginya menentukan suatu pilihan, bertemu dengan Azka pun sebenarnya sangat sulit baginya. Rey adalah darah daging yang begitu disayangi oleh Azka. Ia paham, bahwa memang seharusnya membiarkan Rey untuk tinggal bersama dengan Azka.


Selesai membereskan barang-barang Rey, sementara Teddy bekerja. Ia langsung berangkat ke kantor Azka untuk mengantar segala kebutuhan Reynand nantinya. Berat baginya melepas anak yang sudah berjuang dari awal bersamanya. Tetapi jika terus seperti itu, ia tak sanggup jika Rey diperlakukan seperti itu oleh Teddy.


Tepat di depan kantor Azka, ia memejamkan mata. Menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar. Berpisah dengan anaknya yang sudah banyak sekali menerima rasa sakit hati. Tetapi anak itu selalu saja tersenyum.


Nagita baru saja memasuki kantor tersebut, semua orang menunduk hormat seperti biasa kepadanya. Orang-orang masih menghargainya menjadi nyonya besar di perusahaan tempat mantan suaminya menghabiskan waktu berhari-hari di kantor. Beberapa waktu lalu, Damar telah berhenti dari perusahaan tersebut. Nagita tak pernah ragu dengan pilihannya untuk mengunjungi Azka.


"Permisi!" Ucapnya pada seorang resepsionis perusahaan.


"Ada yang bisa dibantu, Bu?"


"Azka ada?"


"Saya hubungi Bapak sebentar, dengan Ibu siapa?"


"Itu nyonya, mantan istrinya Bapak," bisik salah satu karyawan yang sedang berbincang tadi dengan resepsionis tersebut. Nagita tak menjawab karena sudah dijawab oleh orang tersebut.


Nagita dipersilakan untuk menunggu beberapa saat karena Azka sedang rapat dengan beberapa rekan bisnisnya.


******


Pukul sepuluh pagi, perasaan tak karuan singgah dihati Azka. Memikirkan Rey yang sudah lama tak mengunjungi dirinya. Tentang Syakila, Azka tak pernah absen setiap hari selalu berkunjung dan mengangganti bunga yang ada di makam anak tersebut.


Hidupnya kini sudah jauh lebih baik. Nagita telah hidup bersama dengan orang lain, Rey bahkan telah bahagia bersama Papa barunya. Meski begitu, tak ada kasih sayang yang benar-benar tulus dari sayang orang tua kepada anaknya.


"Jo, selamat atas hadiah yang kamu terima," Azka memutar kunci mobil di telunjuknya. Itu adalah hadiah bagi siapa saja yang kerjanya sangat baik. Tak tanggung-tanggung caranya memanjakan karyawannya. Tidak heran jika banyak orang yang mau bekerja di perusahaannya dan seleksi untuk masuk ke sana pun sangat ketat.


Saat itu rapat bersama dengan rekan bisnisnya telah usai. Namun ia sengaja mengumpulkan beberapa karyawannya untuk memberitahukan bahwa tahun tersebut adalah di mana hasil penjualan untuk mobil terbaru dan miliknya mendapat keuntungan yang tak tanggung-tanggung.


Azka baru ingat, bahwa seseorang sedang menunggunya di luar.


"Bubar!"


Azka membuka pintu ruangannya begitu saja karena telah terlalu lama membiarkan tamunya menungg. Baru saja membuka pintu, ia dikejutkan dengan pemandangan yang tak biasa baginya. Nagita, perempuan yang masih menjad nomor satu dihatinya hingga kini. Perempuan yang tengah duduk di kursi ruang tunggu.


"Nagita!" Sapanya pelan.


Nagita langsung bangun dari tempat duduknya dan tak menatap matanya. Ia tersenyum saat melihat Nagita hamil lagi. Hatinya nyeri, mengingat beberapa tahun lalu Rey meminta seorang adik kepadanya. Namun, perempuan itu sedang hamil oleh pria lain. Azka tersenyum menyembunyikan rasa sakit dihatinya.


"Ayo, masuk!"


Azka mempersilakan Nagita untuk masuk ke dalam ruangannya. "Jangan beri izin pada siapa pun untuk masuk ke ruangan saya!" Ucapnya pada resepsionis. Terlalu berbahaya sebab kini status Nagita telah berbeda. Menjadi seorang istri dari adik sahabatnya.


"Ayo duduk, Nagita!"


Perempuan itu mengangguk dan sama sekali tak menatap ke arah matanya. Mereka duduk bersebrangan. Semenjak perginya Nagita, hidup Azka sangat kacau. Tetapi melihat Nagita yang seperti ini, semakin membuat hatinya berantakan. Terlebih jika mengingat Rey kini harus merasakan perihnya hidup bersama orang baru.


"Mas,"


Perempuan itu angkat bicara. Azka tak menanggapi. Menyembunyikan rasa khawatirnya dengan cara berdiri dan berusaha menghindari kontak mata dengan Nagita. Azka mengernyit karena merasa iba dengan mantan istrinya.


"Aku mau titip, Rey,"


Nagita terisak di belakangnya. Azka berbalik dan menatap ar mata Nagita yang sudah basah membasahi pipinya.


"Ada apa?"


Nagita menggeleng.


"Aku akan rawat, Rey. Tapi aku butuh alasan, Nagita,"


Azka tahu, Nagita sangat membencinya. Tapi entah kenapa perempuan itu terlihat sangat rapuh dan tak habis pikir bahwa perempuan yang sudah pergi dari dalam hidupnya kini telah bersama dengan orang lain. Hidup bersama orang baru dan membawa Rey.


"Rey beberapa hari ini minta izin sama aku, dia bilang pengin tinggal sama kamu,"


"Apa terjadi sesuatu sama rumah tangga kamu? Bukannya Rey sangat disayang oleh Teddy?"


Nagita menggeleng. Memang tak wajar jika ia bercerita perihal ini kepada Azka. Mau bagaimanapun juga ia harus cerita tentang Rey yang sudah tak nyaman lagi tinggal bersama dengan dirinya. Terlebih setiap pagi, Rey berusaha menghindar dengan cara berangkat lebih pagi dan tak pernah berpamitan lagi pada Teddy.


"Rey, kenapa?"


"Teddy malu dengan status Rey yang hadir di luar pernikahan kita dulu, di rumah sakit dia di tertawakan oleh teman-temannya karena Rey. Aku takut jika Teddy kelepasan dan bilang begitu pada Rey. Beberapa hari ini, aku perhatikan dan langsung bertanya pada Teddy pagi ini, bahwa alasan sikapnya yang berubah beberapa hari terakhir karena tak sanggup mendengar ejekan teman-temannya karena status Rey,"


Azka mengangguk paham. Perempuan itu berusaha terlihat tegar. Nagita tak akan menangis jika suasana hatinya tak menekan seperti itu. Azka tahu betul sifat Nagita. Salahnya menceraikan Nagita tanpa memikirkan keadaan Rey dulu. Salahnya membiarkan Nagita hidup dengan pria baru karena ia menyia-nyiakannya dulu.


"Kamu yang sabar. Aku pasti rawat, Rey. Cuman pesan aku, jangan lupa sama anak kita. Bagaimanapun juga Rey anak kamu dan aku, aku tahu dulu dia hadir karena kesalahan di masa lalu,"


"Iya, aku nggak lupa,"


"Bahagia sama hidup kamu. Aku yang bakalam rawat dia, didik dia. Kamu jangan khawatir! Hidup yang baik sama Teddy, lihat sekarang kamu juga hamil anak dia. Mau bagaimanapun juga dan berapa pun anakmu nanti, tetap ingat sama Rey. Maaf sudah membuat hidup kamu menjadi rumit seperti sekarang. Rey juga begini karena keegoisan aku, Nagita,"


"Iya, aku bawa barang-barang Rey di mobil. Kamu jemput dia sekolah ya, semalam dia nangis dan meminta izin biar aku ngasih dia izin untuk tinggal sama kamu,"


Azka tersenyum. Mereka berdiri berhadapan, memandangi wajah cantik Nagita yang sedikit membuatnya tenang. Tentang Rey yang dianggap seperti aib oleh Teddy, Azka tahu bahwa itu adalah kesalahannya dulu. Tak ingin jika anaknya mendengar kata-kata yang tidak menyenangkan dari mulut Teddy nantinya.


"Lanjutin pernikahan kamu, Rey akan sama aku,"


"Aku minta cerai sama, Teddy dan berniat untuk hidup berdua dan didik Rey sendirian,"


"Nagita, jangan gegabah hanya karena itu. Jika kamu kesulitan perihal Rey, kamu serah ke aku. Aku juga orang tuanya, benar bahwa dulu aku tak menginginkan Rey ada dalam hidup aku, tapi Nagita semenjak dia mulai tumbuh di rahim kamu, aku menyanyangi dia,"


"Aku harap kamu juga bahagia dan segera dapat pasangan,"


Azka menggeleng, "tidak Nagita,"


"Kenapa?"


"Aku bakalan rawat Rey sendirian, Nagita. Aku tidak ingin Rey mengalami hal yang sama lagi karena kehadiran orang baru,"


"Mas,"


"Iya, ada apa, Nagita?"


"Jaga dia baik-baik. Bukan demi aku, tapi demi kita. Kalau aku pengin ketemu dia, boleh kan?"


"Kapan pun kamu mau, hubungi orang rumah, Naura atau Mama. Jangan hubungi aku, bukan aku nggak suka. Tapi aku nggak mau nanti Teddy salah paham,"


Nagita mengangguk. Azka memasukkan kedua tangan ke saku celananya. Salahnya dulu tak bisa menetapkan satu nama dihatinya. Membiarkan orang lain menguasai hatinya. Hidupnya berubah menjadi lebih baik sekarang. Tak ada alkohol dan rokok seperti dulu. Bahkan saat Rey menginap ketika Syakila meninggal, ia telah menunjukkan sikap aslinya sebagai seorang ayah yang sesungguhnya.


"Maaf aku nggak bisa jaga Rey, Mas," Nagita terisak dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Azka menyaksikan itu merasa sangat miris dan menyesal telah melepaskan Nagita dulu.


Nagita tak merespon apa pun saat ia peluk. Perempuan itu semakin terisak. Sungguh rasanya seperti sedang berbagi duka dengan Nagita.


Azka merasakan tangan Nagita memegang kemejanya dan semakin atas hingga perempuan itu membalas pelukannya. "Maafin aku, Mas,"


"Jangan merasa bersalah, Nagita! Yang salah itu aku, aku janji nggak bakalan usik hidup kamu dengan alasan apa pun, kamu masih benci sama aku?"


"Nggak. Aku nggak pernah bisa benci sama kamu, Mas,"


"Kenapa?"


"Seburuk apa pun kamu, kamu tetap Daddy terbaik untuk, Reynand, anak kita,"


Azka menyinggungkan senyum dan semakin erat memeluk Nagita. Sudah bertahun-tahun ia tak memeluk tubuh perempuan itu. Kini sangat terasa nyaman dan berbagi kepedihan selama ini mengenai Reynand. Jika memikirkan diri sendiri, Azka tentu sudah menikah dulu dan mencari perempuan lain untuk menjadi mama tiri Rey. Tapi tak ada niat sedikitpun di hatinya melakukan itu. Apalagi kini anaknya sudah mulai terganggu dengan kehadiran Teddy yang tak sama lagi seperti dulu.


"Nagita, apa tidak masalah jika kita berpelukan seperti ini?"


Azka ingin memastikan keadaan. Namun Nagita semakin erat memeluknya. Hati perempuan itu pasti tengah hancur jika membahas perihal Rey. Azka juga merasa bahwa itu adalah hal yang menyakitkan jika dibahas. Apalagi Rey sangat pintar, tetapi jika terus berada dalam posisi sekarang. Anak itu akan terganggu proses belajarnya.


"Aku pulang ya,"


"Jaga diri baik-baik! Jangan segan-segan datang, aku tahu ini keterlaluan, aku masih bersedia menunggu kamu,"


"Terima kasih, Mas,"


"Ya sudah, ayo ke parkiran. Kamu bilang barangnya Rey di mobil kamu,"


Azka ingin melepaskan pelukannya. Tetapi Nagita semakin erat memeluknya. "Sebentar saja!"


Azka mengangguk dan membalas pelukan itu lagi. Hati Nagita memang tak pernah mampu ia baca. Perempuan itu dulu selalu menghindar. Azka yang kini berusia hampir kepala empat. Melihat Nagita yang masih muda, ia tersenyum melihat mantan istri yang berbeda sepuluh tahun darinya itu tetap terlihat bugar. Apalagi kini penampilan Nagita yang sepertinya sangat baik merawat diri.


"Jangan cerita sama siapa-siapa kalau kita pelukan," Nagita melepaskan pelukannya.


"Memangnya aku sudah gila cerita pelukan sama istri orang?"


"Jangan menangis saat kamu keluar dari sini, kamu hanya boleh menangis saat berada di dekatku Nagita. Sepahit apa pun hidup kamu, datang kemari. Aku bakalan dengerin semua keluh kesah kamu,"


"Iya,"


"Ya sudah, jangan nangis lagi. Nggak cantik lagi kalau nangis terus," Azka justru menyeka air mata Nagita. Hari itu adalah hari yang tak pernah ia duga akan kedatangan perempuan yang sudah lama ia rindukan. Bertemu beberapa bulan lalu saat Syakila meninggal. Justru sekarang perempuan itu datang dengan membawa ketenangan untuk Azka.


"Jangan sampai Kak Dimas tahu aku datang, Mas,"


"Iy ku bakaln rahasiakan,"


"Ingat jemput Rey nanti siang, dia pasti bakalan senang banget kalau kamu yang jemput,"


"Iya, aku yang jemput, dia sekolah di mana?"


Nagita pun memberitahukan tempat sekolah Rey. Dan setelah itu mereka keluar bersama. Cukup lama berada di ruangan itu. Azka tak pernah menyangka bahwa Nagita akan datang lagi. Meski dengan keadaan berbeda. Tetapi setidaknya Nagita tak membencinya lagi seperti dulu dan ia tak menambah luka baru lagi pada Nagita.


"Hmm, karena ini hampir siang. Bakalan macet kalau aku pergi agak siangan. Jadi aku berangkat sekarang deh,"


"Kamu jemput dia sendirian, Mas,"


"Iya, kamu kan mau pulang,"


"Aku ikut ya? Terakhir kalinya, kita nggak tahu kapan bisa jemput dia bareng,"


"Kamu yakin?"


"Aku bakalan di dalam mobil kamu, biar kamu yang keluar nungguin dia,"


"Oke, ya udah ayo, kita pindahin barang Rey juga ke mobil aku,"


Nagita mengangguk. Mereka keluar dari ruangan Azka dan langsung menuju tempat parkir yang berada di bawah tanah. Tak ada siapa pun di sana, hanya ada merek berdua yang sibuk dengan mengangkat barang Rey ke bagasi mobil Azka.


"Kamu nggak usah bantuin, biar aku. Ini berat, kasihan kandungan kamu,"


Nagita berdiri di samping Azka.


Beberapa waktu kemudian.


"Ayo, kita ke sekolah Rey!"


Mereka terus berbincang selama di perjalanan. Sungguh, Azka rindu momen menjemput Rey ke sekolah. Namun sekarang keadaanya berbeda.


Tiba di sekolah Rey. Azka menunggu beberapa saat dan benar saja dugaannya bahwa anak itu pulang beberapa menit setelah ia tiba.


"Daddy!" Anak itu berlari dan langsung memeluknya.


"Jagoan Daddy pulang sekolah,"


"Salaman dulu Daddy,"


Azka mengulurkan tangannya dan langsung dicium oleh Rey. Ia menggendong Rey ke dalam mobil. "Kok di belakang Daddy?"


"Karena di depan ada teman, Daddy,"


"Oh, gitu,"


Azka menurunkan dan membiarkan Rey masuk sendiri. Ia langsung masuk dan duduk. Melihat Rey yang melepas dasi sekolahnya, Azka tak berkomentar apa pun.


"Tante temannya, Daddy?"


Azka tersenyum. Nagita pun sama, perempuan itu berbalik. "Mama!" Rey langsung memeluk Nagita. "Daddy!" Azka ikut memeluk anaknya dan mereka berpelukan bertiga.


"Mama nggak marah lagi sama Daddy?"


"Nggak, Mama nggak pernah marah sama Daddy," jelas Nagita.


Reynand menangis dan mencium mereka berdua bergiliran. Sungguh hati Azka terenyuh saat melihat aksi anaknya yang seperti itu.


"Rey kangen Mama sama Daddy seperti ini," anak itu langsung pindah ke kursi depan dan Azka mencium anaknya bersamaan dengan Nagita.


"Maafin Mama sama Daddy sayang. Mulai hari ini, Rey bakalan tinggal sama Daddy,"


"Beneran?"


"Iya, semua barang Rey ada di belakang sayang,"


"Terima kasih, Ma,"


Azka bahagia melihat anaknya tersenyum bahagia. Tetapi itu adalah hal yang sesaat, setelah itu akan kembali pada sedia kala.


Sepanjang perjalanan, Rey duduk di pangkuan Nagita karena hari terakhir bersama dengan mamanya. Selebihnya akan lebih banyak bersama Azka. Anak itu bercerita banyak hal pada mereka berdua. Sesekali Azka dan Nagita bertatap mata dan tersenyum. Azka mengelus kepala anaknya karena bangga Rey selalu menjadi juara kelas.


"Daddy rindu kita yang seperti ini, Reynand." Lirihnya.