
“Dim, kayaknya adik lo
benar-benar sudah kepincut sama si, Teddy,”
“Tahu dari mana lo?”
Damar langsung
menunjukkan foto mereka berdua yang tengah berpelukan. Dimas hanya mampu
tersenyum ketika melihat adiknya tersenyum bahagia lagi, sudah lama sekali ia
tak melihat adiknya tersenyum puas seperti itu. Saat Damar memperlihatkan foto
itu, Dimas merasa hatinya sangat lega, berharap bahwa perempuan itu takkan
pernah kecewa lagi untuk kedua kalinya. Awalnya Damar pernah menceritakan bahwa
adiknya memang ingin mendekati Nagita lebih serius lagi. Namun ditolak oleh Dimas
karena perempuan itu sedang menempuh pendidikan di sana. Tidak ingin pendidikan
Nagita terganggu karena kehadiran orang baru di dalam hidup adiknya. Akan tetapi,
semenjak keduanya lebih sering mengirim foto bersama, Dimas tak berkomentar apa
pun kali ini. Ia justru setuju dengan ucapan Damar tentang adiknya.
“Iparan kita, Dimas,”
“Semoga aja sih, gue
juga nggak mau tuh adik gue satu-satunya terus disakiti,”
“Percaya sama gue,
Teddy itu lebih baik dari gue. Kalau lo nggak percaya, tanya aja sama bini gue,”
Dimas lebih mempercayai
apa yang dikatakan oleh Damar. Melihat anak perempuan Damar yang berusaha satu
bulan, Dimas tersenyum bahagia. Karena saat ini istrinya juga tengah mengandung
buah hati. Walaupun Damar terlebih dahulu dipercaya oleh Tuhan untuk menjadi
orang tua. Dimas tahu bahwa kehidupan Damar tidak jauh beda dengan Azka dulu. Tetapi
setidaknya pria tersebut tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan oleh
Azka. Ia juga bersyukur bahwa ia lebih dekat dengan Damar semenjak perceraian
Nagita. Rey yang kini sudah duduk di kelas satu SD membuat Dimas ekstra sabar
terhadap keponakannya itu.
“Kakak pergi dulu, ya. Nanti
Rey juga bakalan punya adik, sama kayak yang Om Damar punya,” ucap Rey. Dimas mengelus
kepala Rey saat anak itu bercerita tentang kehamilan Viona.
“Bentar lagi Rey jadi
Abang dong? Kalau jadi Abang nggak boleh manja, nggak boleh ngambek-ngambek
lagi. Terus temani adiknya main!” pesan Damar.
“Tentu dong, tante
Viona tetap sayang sama Rey kan?”
“Tentu dong. Apalagi nanti
kalau udah punya adik, pasti tambah sayang. Tapi tante nggak bisa sering-sering
jemput Rey nanti,” jelas Viona.
“Nggak apa-apa. Yang penting
tante sama adik baik-baik aja, Rey kan bisa jalan kaki pulangnya,”
“Nanti Om bakalan minta
orang buat antar-jemput Rey di sekolah. Libur nanti, kita cari Mama, kita
liburan lagi, oke?”
“Beneran, om?”
“Iya sayang, pasti kita
ke sana lagi.” Ucap Dimas memberikan semangat untuk keponakannya.
“Nanti Teddy yang
jemput dia, Dimas,”
“Lo yakin?”
“Bagaimanapun juga,
Teddy adik gue. Dia udah bisa terima Rey dari dulu kok. Gue udah cerita lama
banget perihal Rey, jadi jangan khawatir, asal Rey bahagia. Dan terlebih
Nagita. Apa artinya kalau bertahan hanya demi Rey, tapi hatinya tetap saja
sakit. lebih baik memang mencari kebahagiaan lain, dia bisa membahagiakan Rey. Nggak
semua ayah tiri itu kejam, barangkali gue percaya sama adik sendiri, karena
udah lama banget dia bilang kalau dia siap jadi ayah buat, Rey,”
“Iya. Gue percaya. Asal
Nagita jangan pulang dulu, bentar lagi gue bakalan orang tua kayak lo.” Ucapnya
sambil mengelus perut Viona. Dimas kali ini benar-benar bersyukur atas
kehamilan Viona. Sudah lama sekali ia menunggu, namun justru diberikan setelah
setahun lebih menikah. Kabar itu langsung ia beritahukan kepada adik semata
wayangnya dengan cara mengunjungi Nagita. Bahkan mereka telah beberapa kali
mengunjungi Nagita di sana. Pertama adalah waktu ulang tahun Rey yang ke-6. Kemudian
beberapa waktu kemudian ia datang lagi.
“Ya udah, gue pamit
sama Rey dan Viona ya. Sorry banget gue baru bisa kunjungi lo sekarang. Gue sibuk,
dan sekarang gue usahain buat ketemu sama lo.”
“Oke, nggak masalah. Yang
penting lo itu ingat sama gue dan istri gue. Jangan karena lo sibuk terus lupa
gitu sama gue, dan semoga nanti lo itu jadi orang tua yang sangat luar biasa
baik ya! Gue yakin lo lama dikasih karena lo di didik dulu untuk jagain Rey,
udah gitu sekarang baru dikasihnya,”
“Iya, gue sama Viona
juga udah sabar banget. Thanks ya, gue pamit.”
“Hati-hati, bro!”
Dimas mengangguk, ia
menggandeng tangan Viona dan juga Rey. Malam itu ia langsung mengajak kedua
orang itu untuk pulang. Dimas sangat bahagia saat ini, mendengar kabar adiknya
yang juga tengah bahagia di sana, ia bersyukur karena bisa melihat senyum lagi
pada bibir adiknya yang selama ini padam beberapa tahun. Bahkan ia telah
memberitahukan kepada Rey, anak itu menyambut Teddy dengan sangat antusias. Dimas
menjelaskan dengan begitu rinci, hingga keponakannya mengerti tentang
kebahagiaan Nagita. Walaupun dulu Rey pernah menginginkan orang tuanya untuk
kembali lagi. Tetapi saat mendengar
Nagita bahagia, Rey dengan semangatnya ingin bertemu dengan Teddy dan juga
Nagita.
*****
Teddy telah menunggu di stasiun Asakusa,
mereka berdua memang berjanji untuk pergi ke festival kembang api yang ada di
adakan di sungai Sumida. festival tersebut akan di laksanakan di dekat kuil
Sensoji. Jarak yang ditempuh hanya berkisar kurang lebih lima menit dari
stasiun Asakusa.
Teddy memilih untuk
pergi terlebih dahulu sepulang bekerja tadi. Mereka telah bertukar kabar
beberapa menit yang lalu. Festival kembang api yang akan dilaksanakan pada
pukul 19:20. Pukul 19:00 perempuan itu belum menampakkan dirinya.
Ia terus menatap ke
arah ponselnya. Teddy mengenakan pakaian santai seperti biasanya. Ingin sekali
ia melihat perempuan itu mengenakan Yukata dan juga Geta untuk dirinya. Saat kereta
tiba, Teddy mencari keberadaan Nagita dan menghubungi perempuan itu berkali-kali.
Namun belum ada respons.
Beberapa meter dari
tempatnya berdiri, sosok perempuan yang tengah mengenakan yukata beberapa meter
dari tempatnya. Ia tertegun dengan Nagita yang pertama kalinya Teddy melihat
perempuan itu sangat cantik, bahkan ia terpesona dengan kecantikan Nagita.
“Kak,” ucap perempuan
itu sambil menunduk.
“Kenapa menunduk? Ayo,
sebentar lagi acaranya dimulai, tinggal lima belas menit lagi, jangan sampai
kita terlambat untuk menyaksikan kembang api pertama,”
Nagita berjalan
disebelahnya. Perempuan itu nampak kesulitan karena mengenakan Geta dan Yukata
yang memang terlihat sedikit membuatnya kesulitan berjalan. Teddy memaklumi
karena itu pertama kalinya perempuan itu pergi dengan mengenakan pakaian yang
seperti itu. Begitu banyak kerumunan di sana. Ia langsung menggenggam tangan
Nagita, mata mereka bertemu, ia hanya membalas dengan senyuman dan menggenggam
erat tangan Nagita.
Mereka telah tiba di
sungai Sumida, namun tangannya tak berhenti menggenggam tangan perempuan itu. Mereka
berada di paling belakang sambil menunggu acara di mulai. Teddy yang bahkan
sangat gugup waktu itu, ia berusaha menenangkan diri. Tetapi batinnya tetap
saja bergejolak menahan malu dihadapan Nagita. Ingin sekali ia memuji perempuan
itu, tapi ia tetap tidak bisa mengatakannya.
Tidak ada lalu lalang
lagi. Kini beberapa orang memilih menentap sambil menunggu acara di mulai. Hitungan
mundur pun di mulai. Mereka berdua mengikuti hitungan mundur tersebut. Teddy menggenggam
tangan Nagita.
“Nagita?”
“Iya, kak,”
Perlahan ia mendekatkan
wajahnya, perempuan itu terlihat tengah memejamkan matanya. Teddy secara
perlahan ingin mencium Nagita. Hingga akhirnya ia benar-benar mencium bibir
Nagita, ciuman pertamanya, bahkan tidak ada perlawanan dari Nagita. Teddy sudah
terlanjur melumat bibir perempuan itu.
Suara riuh kembang api
tak membuat Teddy melepaskan ciumannya. Justru semakin memperdalam ciumannya. Dekat
dengan Nagita hanya satu bulan lebih, tapi ia sudah menahan perasaannya sangat
lama. Hingga kini perasaan itu tersalurkan dengan ciumannya.ia melepaskan bibir
Nagita.
“Nagita? Maaf,”
ucapnya. Ia kehabisan topik untuk berbicara. Teddy baru saja berusaha menahan
dirinya agar tidak tergoda. Tetapi ia gagal, justru pesona Nagita begitu
menggodanya. “Mari berkencan, Nagita,”
“Eh? Maksudnya?”
“Kita pacaran. Kamu mau?”
Kembang api terus saja meluncur ke udara. Waktu yang mereka habiskan juga
sangat singkat untuk berduaan. Namun beberapa kali mereka liburan bersama dan
mengirim fotonya pada Damar bahwa semuanya baik-baik saja dan itu adalah bukti
bahwa mereka telah bertemu.
Nagita mengangguk. Teddy
semakin erat menggenggam tangan Nagita dan sesekali melihat ke arah sampingnya
bahwa perempuan itu tersenyum sangat manis.
Sudah satu jam lebih
kembang api meluncur. Teddy mengajak Nagita untuk pergi ke tempat lain. Saat dirinya
karena tidak terbiasa menggunakan geta.
“Ayo pulang!” Teddy
mengulurkan tangannya.
“Hmm,” Nagita meraih
uluran tangannya. Saat perempuan itu berjalan pincang. Teddy langsung meminta
Nagita duduk di salah satu bangku di pinggir jalan. Ia langsung mengeluarkan
plester penutup luka. Teddy langsung menaikkan kaki Nagita ke atas pahanya dan
menempelkan plester tersebut.
“Nggak usah, kak,”
“Kamu sudah berjuang
untukku. Maka aku harus siap menerima risiko ini. Kalau bukan demi aku, kamu
nggak mungkin maksain diri untuk datang kan?”
Nagita mengangguk.
“Kamu pakai baju lain
kan di dalam? Selain pakaian dalam, maaf,” ucapnya hati-hati. Takut jika Nagita
tersinggung.
“Iya, aku pakai. Tapi celana
pendek dan kaos biasa,”
“Ayo kita cari toilet
umum! Buka yukatanya dan sandalnya, jangan paksain diri lagi, Nagita!”
Perempuan itu hanya
menurut. Teddy menunggu beberapa saat hingga perempuan itu keluar dari toilet. Ia
langsung duduk dan membelakangi Nagita. “Ayo naik!”
“Nggak usah, kak. Aku bisa
jalan sendiri,”
“Sekarang kamu pacar
aku kan? Jadi harus nurut! Aku bilang naik ya naik, Nagita. Aku tahu kamu
kesulitan jalan,”
Nagita perlahan naik di
atas punggungnya. Ia menenteng sandal perempuan itu. Sementara Nagita membawa
yukata tersebut. “Nagita, maaf untuk kejadian tadi,”
“Ah, itu tidak apa-apa.
Maaf karena aku juga terbawa suasana,”
“Maaf, sekali lagi. Mari
berpacaran secara sehat,”
“Kakak, apa kakak bisa
terima kehadiran Rey?”
“Nagita, ada atau
tidaknya Rey, aku tetap mencintai kamu. Bahkan dari dulu, saat kamu lulus. Waktu
itu aku ingin sekali memberikan hadiah untukmu, tapi justru aku tidak bisa
memberikannya karena begitu banyak hal yang tidak bisa aku jelaskan. Jika pun
nanti aku menikahimu, Rey akan jadi anak aku juga kan?”
“Tapi tentang, Mas
Azka?”
“Aku akan buktikan
kalau aku itu jauh lebih baik mencintai kamu Rey. Jangan khawatir, satu hal
yang aku mau dari kamu, kita jangan hanya pacaran. Aku mau kita menikah,
secepatnya!”
“Aku masih kuliah, kak,”
“Kita akan pulang
setelah liburan berikutnya. Aku akan melamarmu pada Kak Dimas. Di depan Rey. Daripada
kita terlalu lama berpacaran, takutnya timbul perasaan bosan. Kamu akan tetap
kuliah, kejar semua mimpi kamu. Rey akan tetap tinggal di sana, setelah kamu
selesai, kita akan balik lagi ke Indonesia. Tinggal sama Rey, kita akan tinggal
bersama. Jaga Rey dengan baik! Kamu bisa menunda kehamilan,”
“Kak. Tapi, aku belum
siap,”
“Aku tahu, kita jalani
saja dulu. Aku tahu kamu masih trauma dengan masa lalu kamu. Tentu Nagita,
semua orang punya masa lalu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, bahwa
mencintaimu, aku tidak pernah memaksa kamu untuk melupakan masa lalu. Hanya saja,
jangan pernah kembali padanya. Tentu aku adalah orang yang akan terluka saat
kamu kembali nantinya.”
“Kita akan berusaha
bersama bukan?”
“Tentu saja. Kita akan
berusaha, sekalipun Azka datang lagi ke dalam hidup kamu. Aku akan menjadi
orang yang akan melindungi kamu, aku ingin menjadi orang yang memberimu perlindungan,”
“Hmm, terima kasih,
kak.”
Mereka tiba di stasiun
Asakusa. Teddy menurunkan Nagita dan membiarkan perempuan duduk di sampingnya. Mereka
hendak kembali lagi ke apartemen. Beberapa saat kemudian perempuan itu
tertidur. Teddy menyandarkan Nagita pada bahunya.
Sudah beberapa tahun ia
mengejar Nagita. Sekarang seolah mimpi baginya menjadikan Nagita kekasih. Bahkan
ia juga berencana untuk membawa ikatannya ke jenjang yang lebih serius lagi. Bagi
Teddy, menikah adalah impiannya sekali dalam seumur hidup. Bagaimanapun juga
nanti ia sudah menyiapkan diri untuk bertemu dengan masa lalu Nagita. Bahkan kelak,
Rey pun akan membahas tentang Azka dihadapannya. Menjadi orang baru dalam
kehidupan Nagita merupakan hal yang tidak pernah mudah. Tapi bagaimanapun juga
ia akan mencobanya.
Beberapa menit setelah
mereka mengendarai kereta, keduanya telah tiba di stasiun yang tidak jauh dari
apartemen Nagita.
“Hey, ayo turun!”
Perempuan itu
terbangun. Ia memilih untuk menggendong Nagita lagi, mendengar cerita tentang
Nagita melalui Damar. Hati Teddy terlanjur sakit mendengar bahwa perempuan itu
pernah di sia-siakan. Kali ini, ia diberi kesempatan untuk memperbaiki hati
perempuan itu untuk menjadi lebih baik lagi. Tak ada yang perlu dikhawatirkan
jika pada akhirnya mereka saling mencintai.
“Kapan libur bekerja?”
Teddy tersenyum. Perempuan
itu menyangga dagunya di bahu kanan Teddy.
“Kenapa memangnya?”
“Aku pengin ketemu
sama, Rey. Dia pasti di sana sibuk sekolah, sampai jarang sekali menghubungiku,”
“Kamu nggak boleh
pulang, Nagita,”
“Kenapa aku dilarang
ketemu sama anak aku sendiri?”
“Kita akan bertemu
dengan pangeran kecil itu, nanti. Kali ini kamu harus menahan diri, Nagita. Ngomong-ngomong,
bagaimana kuliahmu?”
“Baik. Aku hanya kangen
sama, Rey. Untuk soal kuliah, nggak ada halangan sama sekali,”
“Nagita. Mulai sekarang,
aku yang akan biayai semua biaya kuliah kamu, tempat tinggal kamu. Maka dari
itu, aku mau mengajakmu untuk ke jenjang lebih serius,”
“Tapi, apakah secepat
itu?”
“Karena aku tidak mau
kamu itu terus-terusan bersama luka masa lalu. Aku ingin kamu bahagia, aku mau
kita bangun lagi apa yang pernah runtuh yang ada di hatimu,”
Mereka berdua tiba di
apartemen, Nagita. Teddy menurunkan Nagita dari gendongannya.
“Aku pulang dulu,”
“Nggak mampir?”
“Lebih baik jangan. Aku
akan menginap, saat kamu menjawab ucapanku tentang pernikahan,”
“Hmmm, terima kasih. Aku
akan menjawabnya nanti. Aku butuh waktu untuk berpikir,”
“Istirahat yang baik,
Nagita!”
Nagita mengangguk. Teddy
berbalik dan hendak pergi. Tetapi kaosnya ditarik oleh Nagita dari belakang. Ia
berhenti seketika.
Cup
Nagita mencium pipinya.
Teddy langsung meraih Nagita dan mencium kening perempuan itu.
“Sana, tidur yang
nyenyak, Nagita. Selamat tidur!”
“Hati-hati. Kabari aku
kalau kakak sudah tiba di sana,”
“Tentu. Nagita, aku
akan bicarakan ini pada, Dimas dan juga Damar. Jadi aku harap jawaban kamu
tidak mengecewakan.”
“Semoga.”
Teddy berpamitan dan
langsung meninggalkan perempuan itu sendirian. Ia kembali ke apartemennya yang
tidak jauh dari tempat tinggal Nagita. Memang pernikahan itu bukan hal yang
main-main. Tetapi Teddy serius dengan apa yang diucapkannya perihal pernikahan
itu. Ia bahkan akan menyekolahkan Rey dengan baik, mengajak anak itu tinggal
bersama. Damar pernah menceritakan bahwa Rey sangat kesepian. Anak itu sudah
terlalu banyak menderita. Teddy sendiri memahami hal itu, ia juga bahkan
mengerti dengan kebutuhan Rey.
Tiba di kamarnya, Teddy
memegang dadanya. Jantungnya berdegub dengan kencang. Mengingat dirinya yang
menyatakan cinta pada Nagita.
“Aku mencintaimu,
Nagita.”
Note : *Mencintai, tidak harus memaksa seseorang melupakan masa lalu. Dan ia yang menerima masa lalumu adalah ia yang sungguh mencintaimu. Karena banyak yang tidak bisa menerima masa lalu, tetapi saat ada orang yang mampu menerima. Maka, tak ada salahnya memberikan kesemptan.