
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Rey yang waktu itu urusannya sudah selesai memilih langsung pulang. Meskipun dia telah memberitahukan kepada istrinya bahwa dia akan pulang terlambat, tetapi jika sudah selesai seperti sekarang ini, dia akan langsung pulang. Dia bukan seorang pria yang sering menghabiskan waktu sembarangan di luar.
Rey langsung meraih kunci mobil yang ada di laci meja kerjanya dan langsung keluar dari kantor.
Pria itu tersenyum semringah kala mengingat kejadian tadi pagi. Menyenangkan, suatu kebahagiaan yang tidak pernah dia dapatkan selama ini dalam hidupnya ketika bersama dengan Bintang sekalipun. Mata yang teduh, dan itu sedikit jauh lebih baik setelah beberapa hari menikah.
Selama setengah jam di perjalanan, akhirnya Rey tiba di rumah. Dia langsung masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh kedua orang tuanya. "Rey, kok cepat banget pulangnya? Kata Marwa kamu bakalan lembur?" tanya Mamanya.
"Urusannya udah selesai, Ma. Jadi pulangnya agak cepat, Marwa mana?"
"Marwa di kamar adik-adik kamu, lagi simak yang dua itu ngaji, Rey,"
"Oh, ya sudah Ma. Aku ke kamar ya. Mau mandi, ohya Marwa enggak masuk ke kamar aku kan?" tanya Rey sambil melihat ke sekeliling takut jika Marwa mendengar hal itu.
"Enggak, makanya kamu singkirin tuh barang-barang. Kalau bisa simpan gitu!"
"Aku mau bakar, Ma,"
"Simpan ajalah, nanti biar Mama yang buang. Kamu simpan di kardus gitu. Tutup rapat ya!"
Nagita memerintahkan hal itu karena dia berharap bahwa barang-barang itu juga mampu membuat Marwa mengingat kenangannya nanti, dia ingin bahwa menantunya segera mengingat kejadian yang di mana dahulu mereka berdua sangat saling mencintai satu sama lain, dan Nagita juga sempat merasa bersalah karena dulu sangat benci terhadap Bintang yang dulu. Akan tetapi setelah melihat wajah perempuan itu sekarang, dia menjadi menyukai Marwa karena tidak salah jika putranya sangat sulit melupakan perempuan cantik itu.
"Ya sudah, aku ke kamar ya,"
Orang tuanya mengangguk pelan.
Nagita dan Azka berbincang di ruang keluarga sambil menghabiskan waktu berbincang dan bermesraan, Nagita yang tidak bisa jauh dari suaminya dan kini sedang bermanja di pelukan suaminya.
"Mama, rasanya cepat banget kita tuh mau punya cucu aja ya,"
"Papa, belum lah. Rey kan belum ngapa-ngapain,"
"Siapa tahu nanti, setelah tahu. Eh tiba-tiba hamil, terus dia ngasih tahu kalau istrinya hamil, ngerasa tua Papa tuh, enggak terasa udah mau punya cucu aja dari dia,"
Nagita tersenyum geli ketika Azka membahas soal cucu. "Papa, tahu enggak?"
"Enggak tahu, kan Mama belum ngasih tahu Papa,"
"Ih Papa, ini Mama mau ngasih tahu," jawabnya kesal.
"Kenapa sayang?"
"Mama bahagia banget setelah tahu semua ini, Pa. Mama enggak nyangka aja gitu kalau mereka berdua akan berjodoh,"
"Jangankan Mama. Papa juga bahagia banget apa yang selama ini dinantikan oleh anak kita akhirnya bisa dia dapatkan. Melewati begitu banyak sakit yang dia rasakan, tapi berakhir begini. Papa juga enggak nyangka waktu Dimas tiba-tiba mau jodohin Rey, dan Rey nurut aja gitu setelah tahu bahwa Dimas yang carikan pasangan,"
"Iya Pa. Mama bahkan enggak nyangka. Kak Dimas juga enggak nyangka bahwa Rey pernah separah itu jatuh cinta sama perempuan dan akhirnya ketemu saat mereka berdua sama-sama belajar dengan baik,"
"Ma, Papa jadi senyum-senyum sendiri ngebayangin gimana reaksi Rey waktu pertama kali lihat wajah istrinya, dia tuh buka cadar tiba-tiba dia melongo lihat istrinya, udah gitu dia kaget, ah Papa enggak sabar," ucap Azka sambil mempraktikkan bagaimana nanti jika Rey melakukan hal itu.
"Benar, juga Pa,"
Terdengar suara kedua anaknya dan juga Marwa yang bercanda di tangga. Azka dan Nagita pun mengalihkan pembicaraan dan membicarakan tentang pendidikan kedua putri mereka.
"Eh, udah selesai ngajinya?"
"Udah, Ma," jawab Nabila.
"Marwa, sebentar lagi suruh Rey turun ya!"
Marwa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh mertuanya. "Mas Rey kan pulangnya larut, Ma?"
"Enggak kok, tadi udah pulang. Katanya sih urusannya sudah selesai sayang,"
"Terus sekarang?"
Marwa mengangguk pelan. Dia pun ikut bergabung di ruang keluarga bersama dengan mertua dan juga kedua adik iparnya. Melihat kehangatan dari keluarga barunya, tentu saja Marwa iri terhadap mertuanya yang di usia seperti itu keduanya masih sangat mesra.
"Marwa, panggil Rey gih!" perintah Nagita.
Perempuan itu bangun dari tempat duduknya. Azka dan Nagita melempar tatap sambil tersenyum.
Marwa telah tiba di depan kamar Rey. Baru saja dia hendak mengetuk pintu, tetapi ketika mendengar suaminya membaca Al-Qur'an dengan suara yang begitu terdengar sangat bagus. Apalagi Rey membaca dengan irama yang baik dan juga tajwid yang membuat Marwa terdiam di depan pintu. Selama beberapa hari menikah, dia tidak pernah mendengar suaminya membaca Al-Qur'an. Itu merupakan hal yang pertama kali dia dengar dan langsung membuatnya jatuh hati.
Entah apa yang terbayang dibenaknya, dan dia benar-benar terdiam ketika mendengarkan suaminya mengaji.
Ceklek.
Marwa tersentak ketika suaminya keluar. "Kenapa diam di sini?"
"Ma-maaf Mas,"
"Kenapa?"
"Disuruh Mama buat panggil Mas makan malam,"
Rey tersenyum. "Kenapa enggak langsung masuk?"
"Mas ngaji, jadi aku enggak mau ganggu,"
Marwa mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Rey. Perempuan itu mencium tangannya lagi. "Lain kali kalau ada apa-apa silakan masuk ke kamar. Enggak usah sungkan,"
"Aku-aku-"
"... Malu?" tanya Rey.
Marwa langsung menggeleng. "Enggak kok siapa yang malu sama, Mas?"
"Enggak malu, ya enggak usah gugup," candanya.
Rey ingat ucapan Leo tadi siang ketika mereka makan bersama. Rey melihat ke arah istrinya yang memang agak berbeda dan sedikit memberi jarak. Dia yang peka terhadap hal itu langsung merangkul istrinya ke kamar.
"Mas mau ngapain?"
"Enggak ada, cuman mau ngajakin masuk kamar,"
"Mas, lepasin!" Marwa memukul dadanya saat dia mendekap tubuh istrinya.
"Jangan takut lagi. Aku suami kamu, bukan orang asing! Jadi jangan menghindar kalau aku melakukan hal ini,"
"Mas, maksud kamu?"
"Marwa, masih banyak hal yang enggak aku tahu tentang kamu. Jadi mari jalani apa adanya, masih banyak rahasia di antara kita berdua,"
"Maksud kamu apa, Mas? Aku enggak ngerti sama sekali,"
"Kalau ada waktu, cerita sama aku tentang hal yang membuat kamu takut. Apa pun itu, biar aku bisa lindungi kamu. Jangan pernah takut sama orang, jadi aku akan tetap belajar untuk ngerti, Marwa pernikahan itu satu kali dalam seumur hidup, bukan? Apa kamu enggak mau ini yang pertama dan terakhir?"
Perempuan itu mengangguk dan membalas pelukan Reynand. "Mas, kamu enggak main-main sama pernikahan ini, kan?"
"Kalau aku main-main sudah dari pertama kita menikah aku sudah mengabaikan kamu, tapi sayangnya enggak bisa. Bukankah kita dianjurkan untuk memuliakan istri?"
Marwa tersenyum. "Mas, aku bakalan belajar banyak dari kamu nanti,"
"Enggak perlu belajar, mari sama-sama saling menerima!"
Rey tahu bahwa pernikahan mereka baru berusia beberapa hari, tetapi dia ingin belajar untuk lebih dekat dengan istrinya. Walaupun perempuan itu sangat asing, tetapi mampu membawa ketenangan dengan sikapnya yang sepertinya ingin dimanja.
Karena tempat bermanjanya seorang istri adalah suami.