RICH MAN

RICH MAN
KEPUTUSAN



“Om, marah ya kalau Papa datang?”


Dimas menoleh saat Rey berdiri di belakangnya. Ia telah


memerintahkan Nagita untuk pergi ke Jepang. Setelah pembicaraan dengan Damar


waktu itu, ia harus menyetujui ucapan pria itu kali ini. Demi kebaikan Nagita


dan juga Rey. Ia hanya tersenyum saat melihat keponakannya mendekat.


“Rey, mau lihat Mama nggak nangis lagi karena Papa


kan?”


“Iya, Om. Ohya, maafin Rey ya, karena ini semua


pasti penyebabnya adalah Rey yang ketemu Papa. Itu nggak sengaja, Om. Waktu Rey


keluar rumah, Papa datang bawa bola dan dia bilang kangen sama Rey, terus dia


tanyain Mama. Pas Rey main, tiba-tiba Mama datang dan mereka ngomongin apa, Rey


nggak ngerti, terus tiba-tiba Papa peluk Mama,”


Dimas mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Rey,


tidak mungkin anak itu berbohong kepada dirinya dan juga membohongi semua orang


karena tingkah Azka yang keterlaluan tiba-tiba saja datang ke rumah mereka.


“Rey mau Mama balik ya sama, Papa?”


Anak itu menggeleng. Dimas langsung mendekati Rey


dan menggendongnya. “Kenapa Rey nggak mau?”


“Karena Papa pukulin, Mama. Karena Papa juga yang


sering buat Mama sedih, Mama bilang baik-baik saja. Tapi Rey tahu kalau Mama


pengin bahagiain Rey aja kan, Om?”


Dimas hanya membalas dengan senyuman. Ia nampak


berpikir karena ucapan Rey tadi itu adalah benar. Selama ini ia sudah meminta


Nagita meninggalkan Azka, tetapi adiknya itu menolak karena tidak ingin


berlama-lama membiarkan Rey terjebak dalam kesendirian. Akan tetapi lagi dan


lagi Azka mengkhianati dirinya.


“Rey harus sabar ya! Om pengin Mama kamu nggak


nangis lagi, Om pengin sekolahin Mama biar nanti Mama bahagia kayak tante


Viona, ini juga yang minta Om Damar,”


“Mama pacaran sama Om Damar?”


“Nggak Rey. Hanya saja Om Damar itu selalu saja baik


sama Mama semenjak Rey belum lahir,”


“Waaah, kenapa Mama dulu nikahnya sama Papa? Kenapa nggak


sama Om Damar? Om Damar itu kan baik banget kan, Om?”


‘Kamu nggak


tahu apa-apa Rey, seberapa perih kehidupan yang dijalani oleh Mamamu hingga


saat ini. Maksud Om mengirimnya ke Jepang itu agar Mama kamu bisa menjadi lebih


baik lagi tanpa bersedih karena perbuatan Papamu, ini sudah sangat keterlaluan.


Om nggak mau Mama kamu itu sedih, Om nggak mau lihat adik satu-satunya itu


meneteskan air mata lagi. Om tahu dia sangat mencintai Papa kamu. Tapi apakah


Om bakalan diam terus dan sabar lihat kelakuan Papa kamu yang semakin menggila


nyakitin hati Mama kamu? Ada kalanya Om itu harus menjadi orang yang hebat


melindungi Mama, ada kalanya Om itu harus kuat sabar dan buat Mama menjadi


perempuan yang sangat tangguh, Rey Om itu sayang sama Mama kamu’


“Om kenapa melamun?”


“Nggak, Om nggak melamun.”


“Berarti Mama pergi besok? Kemarin Om bilang kalau


berangkat lusa? Berarti Rey sendirian lagi, nggak ada Mama nggak ada Papa?”


“Ada Om, ada tante Viona, nanti kita kunjungi Mama


kalau Rey nggak sibuk sekolah.”


Dimas berusaha membuat Rey tenang sebagai mana


mestinya dan bersikap biasa saja. Meski ia sendiri merasa sangat kehilangan


atas kepergian Nagita untuk menuntut ilmu. Inginnya adalah membuat Nagita


bahagia. Kelak adiknya akan menemukan hidup barunya.


‘Jangan


terlalu keras dalam mengejar cintamu, itu hanya akan membuatmu terbunuh secara


perlahan. Biarkan batas suci cinta itu membuatmu menjadi perempuan tegar. Seberapa


hebatnya kamu berjuang, jika hatinya tidak pernah terketuk untukmu. Itu hanya


akan membuatmu merasa menderita. Kamu tidak harus mati karena cinta, banyak hal


yang jauh lebih penting saat ini dibandingkan memperjuangkan perasaanmu. Jangan


relakan hidupmu hanya untuk mengejar cinta yang dapat melukai perasaanmu. Denyut


nadimu terlalu berharga jika dikorbankan untuk manusia yang tak berperasaan. Jika


hatinya tak ada ruang untukmu, itu sangat menyedihkan bukan?’


Kini Dimas mengingat hidupnya yang sudah sangat


perih dari dulu. Tidak seharusnya Nagita mendapat perlakuan seperti itu dari seseorang


yang hanya menyakiti hati semakin dalam.


“Ayo, kita ke Mama dulu ya! Kita bantuin Mama


siap-siap. Rey harus jadi anak hebat juga kalau ketemu sama Mama nantinya,”


“Om, Rey bentar lagi ulang tahun kan?”


“Iya, dan kita rayakannya di tempat Mama, Om janji. Rey


nggak boleh sedih tapi ya?”


“Nggak ada Papa Azka?”


Dimas mengernyit saat Rey menyebut nama itu dan


seketika membuatnya merasa sakit hati karena ucapan anak itu langsung mengena


di hatinya. ia menggendong Rey ke kamar Nagita dan ikut bergabung dengan dua


perempuan yang tengah berbincang itu. Dimas sangat paham bahwa ini adalah hal


yang paling berat baginya. Bukan berarti ingin menyingkirkan Nagita dari hidup


Rey. Tetapi ini semua adalah demi menjadi lebih baik lagi dan tidak di


campakkan lagi oleh Azka.


“Nagita, ayo ngomong sebentar, ajak Rey!”


Dimas sengaja mengajak Nagita keluar dari rumah dan


mengajak adiknya untuk berbicara. Sebagai seorang kakak satu-satunya yang


dimiliki oleh Nagita, ia harus bersikap bijak dalam menyikapi semua ini. Walau masalah


ini sangatlah rumit, karena mau tidak mau harus mengorbankan perasaan. Tetapi bagaimanapun


juga, Dimas tetap ingin adiknya bahagia. Meski tanpa suami.


“Nagita, sebentar lagi ulang tahun Rey. Kakak akan


kunjungi kamu di Jepang. Dan satu hal lagi yang ingin kakak sampaikan sama


kamu, jadilah perempuan yang tidak diremehkan lagi. Hari ini kamu boleh di


remehkan oleh dia yang begitu kamu cintai. Tapi kamu harus belajar menjadi


lebih baik lagi. Bukan berarti kamu itu pamer, tetapi memang harus menjadi


lebih baik karena kamu tidak pantas diremehkan.  Kadang orang yang meremehkan itu akan langsung terdiam jika kamu


berhasil menjadi orang yang lebih baik. Tidak adamanusia yang berhak di


hidupnya, Tuhan berikan rasa tidak pernah tenang dalam menjalani hidup. Dan yang


bahagia, terkadang di uji dengan kesedihan. Jika Tuhan tak memberi apa yang


telah kita rapalkan dalam doa, segala harap mungkin kita doakan agar terwujud. Tetapi


percayalah, bahwa Tuhan tidak memberikan semua yang kita doakan. Bukan berarti


Tuhan itu nggak mau ngasih, tapi kadang Tuhan itu mau kita mengerti dan menjalani


proses, sudah sampai mana kita menjalani ujiannya dengan sangat sabar. Dan ujian


Tuhan itu bukan perihal kesusahan saja, terkadang kemewahan juga merupakan


ujian. Apakah kita menggunakan kemewahan itu dengan sangat baik, atau hanya


untuk menyakiti hati orang lain—“


“Aku ngerti, yang kakak maksud itu adalah aku dan


Mas Azka kan?”


“Iya. Kamu sekarang boleh sedih, sekarang boleh di


remehkan dan di campakkan. Tetapi saat kamu berusaha menjadi lebih baik,


percayalah Tuhan pasti akan berbaik padamu karena telah berusaha. Tetapi tetaplah


berusaha dan berdoa, percuma saja kita terus berusaha tetapi tidak berdoa. Sama


saja seperti rumah tanpa tiang, yang sangat mustahil untuk berdiri kokoh. Usaha


tanpa doa, sama halnya dengan bangunan yang atapnya sangat kuat, tapi tiangnya


keropos. Suatu waktu patah dan menghancurkan atapnya juga. Jadi jangan pernah


mengeluh, dek. Sekarang lihat Rey, mungkin benar yang dikatakan oleh Damar,


bahwa suatu waktu kamu akan punya kehidupan baru, Rey akan tumbuh menjadi pria


yang sangat tangguh dan melindungi kamu. Jadi saatnya kamu bangkit, jangan


pernah bergantung pada orang lain.”


“Aku nggak bakalan ngerepotin kakak,”


“Buktikan bahwa kamu itu jauh lebih baik. Dan jangan


pernah lihat pada masa lalu. Jika pun kamu melihat, maka jadikan itu sebagai


pelajaran bahwa itu tidak akan pernah terulang lagi. Jangan terjebak dalam


suatu ikatan janji, semua janji butuh bukti. Tidak semua janji itu mampu di


tepati. Dan tidak semua ingkar itu berarti menyakitkan. Kadang terselip makna


yang sangat mendalam, tetapi saat ini, kamu hanya perlu percaya sama diri kamu


sendiri, jangan percaya sama siapa pun selain sama diri kamu sendiri. Percaya pada


kemampuan kamu, karena kakak percaya bahwa kamu itu pasti bisa. Jika kamu tidak


percaya sama diri kamu sendiri, bagaimana kakak bisa percaya sama mimpi kamu? Tapi


kakak percaya bahwa kamu, pasti bisa.”


“Mama, di sana nanti yang semangat belajarnya ya! Rey


baik-baik sama Om, Rey janji nggak bakalan lagi ketemu sama Papa, dan Rey nggak


bakalan nyariin Papa Azka, lagi—“ anak itu nampak berpikir dan langsung menutup


mulutnya. “Maaf, Ma,”


“Rey, sudah ya sayang. Sekarang Rey itu harus


belajar dan buktikan sama Mama, kalau ketemu Mama nanti Rey harus bisa menjadi


anak yang hebat. Satu pesan Om, jangan pernah buat Mama nangis, Rey ingat kan


kalau Mama punya Rey aja, Rey adalah semangat yang paling baik buat Mama, kalau


Rey nangis, otomatis Mama juga nangis,” jelas Dimas. Anak itu mengangguk dan


memeluk Nagita.


‘Mama, Papa, maafin Dimas jika hingga saat ini Dimas


gagal buat Nagita bahagia. Justru semua kehidupannya begitu rumit karena aku


nggak bisa jagain dia kan. Mama sama Papa di sana pasti kecewa banget kan sama


Dimas karena nggak bisa jaga tawa Nagita? Dan lihat sekarang cucu kalian sudah


besar. Maafin Dimas kalau pilihan ini adalah cara untuk buat mereka


bahagia,  Dimas cuman nggak mau lihat


adik Dimas di sakiti.  Maksud dari


memisahkan ini adalah demi kebahagiaan mereka berdua’ ucap Dimas dalam hati. Ia


tak sadar air matanya jatuh begitu saja saat meminta maaf kepada orang tuanya. Ia


hanya menundukkan kepalanya. Dan Nagita memeluknya dari belakang.


Dimas langsung berbalik begitu saja dan memeluk


Nagita.”Kakak maafin aku, ini semua karena aku,”


“Bukan. Ini bukan karena kamu.tapi karena kakak


nggak bisa jaga kamu dulu, Nagita tetap sayang sama Rey, hanya itu yang kakak


mau,”


“Iya. Kak, kalau aku pergi nanti tolong titip Rey


dengan baik,”


“Pasti dek, pasti kakak bakalan jagain anak kamu


dengan baik. Harus buktikan kepada dia, bahwa kamu itu bukan perempuan yang


bisa diremehkan.”


Dimas melepas pelukannya dan mencium kening Nagita. Ia


memeluk adiknya kembali begitu erat. Dan air matanya tak berhenti keluar,


kesedihan saat itu bercampur bersama luka masa lalu yang membuat Dimas menyesal


karena tidak bisa menjaga Nagita. Kehadiran Rey adalah musibah yang begitu


besar baginya. Tetapi  bagaimana pun juga


Dimas ingin keponakannya tetap bahagia, tetap mendapat kasih sayang yang layak.


Bukan justru mendapat kasih sayang yang teramat menyedihkan.


“Buktikan sama kakak kalau kamu bisa. Kembali saat


kamu sudah berhasil. Di sini ada kakak, ada Viona dan Rey yang nungguin kamu,”


“Pasti. Maafin aku yang udah nyusahin kakak dan


nggak pernah mau dengar apa yang kakak bilang tentang ninggalin Azka,”


“Mama, jangan salahin diri sendiri, Rey tahu itu


Mama lakuin demi Rey kan? Pokoknya Mama nggak  boleh pura-pura bahagia demi Rey lagi. Mama itu punya hati, sama kayak


Rey. Punya hati sayang sama Mama, punya sayang untuk Papa. Tapi jika perlakuan


terus saja seperti itu, Rey juga nggak bisa biarin Mama sakit lagi,”


“Rey siapa yang ngajarin?” Nagita melepas


pelukannya.


“Dia nggak ada yang ngajarin. Tapi selama ini kamu


hanya nggak sadar kalau dia mengawasi hubungan kamu dan juga Azka, sekarang dia


mengungkapkan isi hatinya. Nagita, lambat laun Rey juga akan tahu tentang semua


ini bukan? Barang kali ia memang benci sama Papa kandungnya,  tetapi kelak kita ajari dia bagaimana dia


harus menerima Azka, kamu juga harus bahagia,”


“Kakak, ini kenapa rumit sekali?”


“Bukan rumit. Jika kamu tidak menerima Azka kembali,


semuanya akan membaik,”


“Benarkah?”


“Tentu, karena pusat deritamu adalah, Azka.”