
“Om, marah ya kalau Papa datang?”
Dimas menoleh saat Rey berdiri di belakangnya. Ia telah
memerintahkan Nagita untuk pergi ke Jepang. Setelah pembicaraan dengan Damar
waktu itu, ia harus menyetujui ucapan pria itu kali ini. Demi kebaikan Nagita
dan juga Rey. Ia hanya tersenyum saat melihat keponakannya mendekat.
“Rey, mau lihat Mama nggak nangis lagi karena Papa
kan?”
“Iya, Om. Ohya, maafin Rey ya, karena ini semua
pasti penyebabnya adalah Rey yang ketemu Papa. Itu nggak sengaja, Om. Waktu Rey
keluar rumah, Papa datang bawa bola dan dia bilang kangen sama Rey, terus dia
tanyain Mama. Pas Rey main, tiba-tiba Mama datang dan mereka ngomongin apa, Rey
nggak ngerti, terus tiba-tiba Papa peluk Mama,”
Dimas mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Rey,
tidak mungkin anak itu berbohong kepada dirinya dan juga membohongi semua orang
karena tingkah Azka yang keterlaluan tiba-tiba saja datang ke rumah mereka.
“Rey mau Mama balik ya sama, Papa?”
Anak itu menggeleng. Dimas langsung mendekati Rey
dan menggendongnya. “Kenapa Rey nggak mau?”
“Karena Papa pukulin, Mama. Karena Papa juga yang
sering buat Mama sedih, Mama bilang baik-baik saja. Tapi Rey tahu kalau Mama
pengin bahagiain Rey aja kan, Om?”
Dimas hanya membalas dengan senyuman. Ia nampak
berpikir karena ucapan Rey tadi itu adalah benar. Selama ini ia sudah meminta
Nagita meninggalkan Azka, tetapi adiknya itu menolak karena tidak ingin
berlama-lama membiarkan Rey terjebak dalam kesendirian. Akan tetapi lagi dan
lagi Azka mengkhianati dirinya.
“Rey harus sabar ya! Om pengin Mama kamu nggak
nangis lagi, Om pengin sekolahin Mama biar nanti Mama bahagia kayak tante
Viona, ini juga yang minta Om Damar,”
“Mama pacaran sama Om Damar?”
“Nggak Rey. Hanya saja Om Damar itu selalu saja baik
sama Mama semenjak Rey belum lahir,”
“Waaah, kenapa Mama dulu nikahnya sama Papa? Kenapa nggak
sama Om Damar? Om Damar itu kan baik banget kan, Om?”
‘Kamu nggak
tahu apa-apa Rey, seberapa perih kehidupan yang dijalani oleh Mamamu hingga
saat ini. Maksud Om mengirimnya ke Jepang itu agar Mama kamu bisa menjadi lebih
baik lagi tanpa bersedih karena perbuatan Papamu, ini sudah sangat keterlaluan.
Om nggak mau Mama kamu itu sedih, Om nggak mau lihat adik satu-satunya itu
meneteskan air mata lagi. Om tahu dia sangat mencintai Papa kamu. Tapi apakah
Om bakalan diam terus dan sabar lihat kelakuan Papa kamu yang semakin menggila
nyakitin hati Mama kamu? Ada kalanya Om itu harus menjadi orang yang hebat
melindungi Mama, ada kalanya Om itu harus kuat sabar dan buat Mama menjadi
perempuan yang sangat tangguh, Rey Om itu sayang sama Mama kamu’
“Om kenapa melamun?”
“Nggak, Om nggak melamun.”
“Berarti Mama pergi besok? Kemarin Om bilang kalau
berangkat lusa? Berarti Rey sendirian lagi, nggak ada Mama nggak ada Papa?”
“Ada Om, ada tante Viona, nanti kita kunjungi Mama
kalau Rey nggak sibuk sekolah.”
Dimas berusaha membuat Rey tenang sebagai mana
mestinya dan bersikap biasa saja. Meski ia sendiri merasa sangat kehilangan
atas kepergian Nagita untuk menuntut ilmu. Inginnya adalah membuat Nagita
bahagia. Kelak adiknya akan menemukan hidup barunya.
‘Jangan
terlalu keras dalam mengejar cintamu, itu hanya akan membuatmu terbunuh secara
perlahan. Biarkan batas suci cinta itu membuatmu menjadi perempuan tegar. Seberapa
hebatnya kamu berjuang, jika hatinya tidak pernah terketuk untukmu. Itu hanya
akan membuatmu merasa menderita. Kamu tidak harus mati karena cinta, banyak hal
yang jauh lebih penting saat ini dibandingkan memperjuangkan perasaanmu. Jangan
relakan hidupmu hanya untuk mengejar cinta yang dapat melukai perasaanmu. Denyut
nadimu terlalu berharga jika dikorbankan untuk manusia yang tak berperasaan. Jika
hatinya tak ada ruang untukmu, itu sangat menyedihkan bukan?’
Kini Dimas mengingat hidupnya yang sudah sangat
perih dari dulu. Tidak seharusnya Nagita mendapat perlakuan seperti itu dari seseorang
yang hanya menyakiti hati semakin dalam.
“Ayo, kita ke Mama dulu ya! Kita bantuin Mama
siap-siap. Rey harus jadi anak hebat juga kalau ketemu sama Mama nantinya,”
“Om, Rey bentar lagi ulang tahun kan?”
“Iya, dan kita rayakannya di tempat Mama, Om janji. Rey
nggak boleh sedih tapi ya?”
“Nggak ada Papa Azka?”
Dimas mengernyit saat Rey menyebut nama itu dan
seketika membuatnya merasa sakit hati karena ucapan anak itu langsung mengena
di hatinya. ia menggendong Rey ke kamar Nagita dan ikut bergabung dengan dua
perempuan yang tengah berbincang itu. Dimas sangat paham bahwa ini adalah hal
yang paling berat baginya. Bukan berarti ingin menyingkirkan Nagita dari hidup
Rey. Tetapi ini semua adalah demi menjadi lebih baik lagi dan tidak di
campakkan lagi oleh Azka.
“Nagita, ayo ngomong sebentar, ajak Rey!”
Dimas sengaja mengajak Nagita keluar dari rumah dan
mengajak adiknya untuk berbicara. Sebagai seorang kakak satu-satunya yang
dimiliki oleh Nagita, ia harus bersikap bijak dalam menyikapi semua ini. Walau masalah
ini sangatlah rumit, karena mau tidak mau harus mengorbankan perasaan. Tetapi bagaimanapun
juga, Dimas tetap ingin adiknya bahagia. Meski tanpa suami.
“Nagita, sebentar lagi ulang tahun Rey. Kakak akan
kunjungi kamu di Jepang. Dan satu hal lagi yang ingin kakak sampaikan sama
kamu, jadilah perempuan yang tidak diremehkan lagi. Hari ini kamu boleh di
remehkan oleh dia yang begitu kamu cintai. Tapi kamu harus belajar menjadi
lebih baik lagi. Bukan berarti kamu itu pamer, tetapi memang harus menjadi
lebih baik karena kamu tidak pantas diremehkan. Kadang orang yang meremehkan itu akan langsung terdiam jika kamu
berhasil menjadi orang yang lebih baik. Tidak adamanusia yang berhak di
hidupnya, Tuhan berikan rasa tidak pernah tenang dalam menjalani hidup. Dan yang
bahagia, terkadang di uji dengan kesedihan. Jika Tuhan tak memberi apa yang
telah kita rapalkan dalam doa, segala harap mungkin kita doakan agar terwujud. Tetapi
percayalah, bahwa Tuhan tidak memberikan semua yang kita doakan. Bukan berarti
Tuhan itu nggak mau ngasih, tapi kadang Tuhan itu mau kita mengerti dan menjalani
proses, sudah sampai mana kita menjalani ujiannya dengan sangat sabar. Dan ujian
Tuhan itu bukan perihal kesusahan saja, terkadang kemewahan juga merupakan
ujian. Apakah kita menggunakan kemewahan itu dengan sangat baik, atau hanya
untuk menyakiti hati orang lain—“
“Aku ngerti, yang kakak maksud itu adalah aku dan
Mas Azka kan?”
“Iya. Kamu sekarang boleh sedih, sekarang boleh di
remehkan dan di campakkan. Tetapi saat kamu berusaha menjadi lebih baik,
percayalah Tuhan pasti akan berbaik padamu karena telah berusaha. Tetapi tetaplah
berusaha dan berdoa, percuma saja kita terus berusaha tetapi tidak berdoa. Sama
saja seperti rumah tanpa tiang, yang sangat mustahil untuk berdiri kokoh. Usaha
tanpa doa, sama halnya dengan bangunan yang atapnya sangat kuat, tapi tiangnya
keropos. Suatu waktu patah dan menghancurkan atapnya juga. Jadi jangan pernah
mengeluh, dek. Sekarang lihat Rey, mungkin benar yang dikatakan oleh Damar,
bahwa suatu waktu kamu akan punya kehidupan baru, Rey akan tumbuh menjadi pria
yang sangat tangguh dan melindungi kamu. Jadi saatnya kamu bangkit, jangan
pernah bergantung pada orang lain.”
“Aku nggak bakalan ngerepotin kakak,”
“Buktikan bahwa kamu itu jauh lebih baik. Dan jangan
pernah lihat pada masa lalu. Jika pun kamu melihat, maka jadikan itu sebagai
pelajaran bahwa itu tidak akan pernah terulang lagi. Jangan terjebak dalam
suatu ikatan janji, semua janji butuh bukti. Tidak semua janji itu mampu di
tepati. Dan tidak semua ingkar itu berarti menyakitkan. Kadang terselip makna
yang sangat mendalam, tetapi saat ini, kamu hanya perlu percaya sama diri kamu
sendiri, jangan percaya sama siapa pun selain sama diri kamu sendiri. Percaya pada
kemampuan kamu, karena kakak percaya bahwa kamu itu pasti bisa. Jika kamu tidak
percaya sama diri kamu sendiri, bagaimana kakak bisa percaya sama mimpi kamu? Tapi
kakak percaya bahwa kamu, pasti bisa.”
“Mama, di sana nanti yang semangat belajarnya ya! Rey
baik-baik sama Om, Rey janji nggak bakalan lagi ketemu sama Papa, dan Rey nggak
bakalan nyariin Papa Azka, lagi—“ anak itu nampak berpikir dan langsung menutup
mulutnya. “Maaf, Ma,”
“Rey, sudah ya sayang. Sekarang Rey itu harus
belajar dan buktikan sama Mama, kalau ketemu Mama nanti Rey harus bisa menjadi
anak yang hebat. Satu pesan Om, jangan pernah buat Mama nangis, Rey ingat kan
kalau Mama punya Rey aja, Rey adalah semangat yang paling baik buat Mama, kalau
Rey nangis, otomatis Mama juga nangis,” jelas Dimas. Anak itu mengangguk dan
memeluk Nagita.
‘Mama, Papa, maafin Dimas jika hingga saat ini Dimas
gagal buat Nagita bahagia. Justru semua kehidupannya begitu rumit karena aku
nggak bisa jagain dia kan. Mama sama Papa di sana pasti kecewa banget kan sama
Dimas karena nggak bisa jaga tawa Nagita? Dan lihat sekarang cucu kalian sudah
besar. Maafin Dimas kalau pilihan ini adalah cara untuk buat mereka
bahagia, Dimas cuman nggak mau lihat
adik Dimas di sakiti. Maksud dari
memisahkan ini adalah demi kebahagiaan mereka berdua’ ucap Dimas dalam hati. Ia
tak sadar air matanya jatuh begitu saja saat meminta maaf kepada orang tuanya. Ia
hanya menundukkan kepalanya. Dan Nagita memeluknya dari belakang.
Dimas langsung berbalik begitu saja dan memeluk
Nagita.”Kakak maafin aku, ini semua karena aku,”
“Bukan. Ini bukan karena kamu.tapi karena kakak
nggak bisa jaga kamu dulu, Nagita tetap sayang sama Rey, hanya itu yang kakak
mau,”
“Iya. Kak, kalau aku pergi nanti tolong titip Rey
dengan baik,”
“Pasti dek, pasti kakak bakalan jagain anak kamu
dengan baik. Harus buktikan kepada dia, bahwa kamu itu bukan perempuan yang
bisa diremehkan.”
Dimas melepas pelukannya dan mencium kening Nagita. Ia
memeluk adiknya kembali begitu erat. Dan air matanya tak berhenti keluar,
kesedihan saat itu bercampur bersama luka masa lalu yang membuat Dimas menyesal
karena tidak bisa menjaga Nagita. Kehadiran Rey adalah musibah yang begitu
besar baginya. Tetapi bagaimana pun juga
Dimas ingin keponakannya tetap bahagia, tetap mendapat kasih sayang yang layak.
Bukan justru mendapat kasih sayang yang teramat menyedihkan.
“Buktikan sama kakak kalau kamu bisa. Kembali saat
kamu sudah berhasil. Di sini ada kakak, ada Viona dan Rey yang nungguin kamu,”
“Pasti. Maafin aku yang udah nyusahin kakak dan
nggak pernah mau dengar apa yang kakak bilang tentang ninggalin Azka,”
“Mama, jangan salahin diri sendiri, Rey tahu itu
Mama lakuin demi Rey kan? Pokoknya Mama nggak boleh pura-pura bahagia demi Rey lagi. Mama itu punya hati, sama kayak
Rey. Punya hati sayang sama Mama, punya sayang untuk Papa. Tapi jika perlakuan
terus saja seperti itu, Rey juga nggak bisa biarin Mama sakit lagi,”
“Rey siapa yang ngajarin?” Nagita melepas
pelukannya.
“Dia nggak ada yang ngajarin. Tapi selama ini kamu
hanya nggak sadar kalau dia mengawasi hubungan kamu dan juga Azka, sekarang dia
mengungkapkan isi hatinya. Nagita, lambat laun Rey juga akan tahu tentang semua
ini bukan? Barang kali ia memang benci sama Papa kandungnya, tetapi kelak kita ajari dia bagaimana dia
harus menerima Azka, kamu juga harus bahagia,”
“Kakak, ini kenapa rumit sekali?”
“Bukan rumit. Jika kamu tidak menerima Azka kembali,
semuanya akan membaik,”
“Benarkah?”
“Tentu, karena pusat deritamu adalah, Azka.”