
"Pa, gimana?" Rey mendekati papanya yang baru saja selesai berbicara dengan seorang pria asing itu, dia langsung duduk di kursi depan papanya.
"Tenang saja, besok sudah mulai kok. Papa sudah nemu tempatnya juga, tinggal beli barang-barangnya, mungkin lusa Fendi udah bisa masuk, Rey. Tadi Papa mau bangunin kamu, tapi karena kamu tidurnya nyenyak banget, Papa jadi enggak enak. Ya udah Papa biarin, Jenny juga tadi Papa larang buat bangunin kamu, ngomong-ngomong coba lihat dulu deh bangunannya,"
Rey menerima beberapa lembar foto lokasi yang akan dijadikan sebagai bengkel tempat mereka berdua nantinya bekerja. "Ini dekat sama tempat tinggal kita kan, Pa?"
"Iya, kalau jauhnya kayak bengkel tempat Fendi kerja, ya Papa bakalan di hajar sama Mama kamu, dia larang Papa sebenarnya, tapi ini juga kan demi kalian berdua. Jadi enggak masalah, asal nilai kamu enggak turun. Kalau turun, ya Papa enggak bakalan izinkan kamu ke bengkel lagi,"
"Aku janji bakalan lebih baik lagi, Pa,"
"Rey, Papa boleh minta sesuatu?"
Rey meletakkan lembar foto itu di atas meja dan menatap Papanya begitu tajam, baru kali ini Papanya berkata demikian dan meminta sesuatu darinya. Rey sempat ragu dengan apa yang dikatakan oleh papanya, apakah itu menyangkut bengkel atau pelajarannya. Selama ini nilainya selalu bagus di sekolah, apalagi yang akan diminta oleh papanya kini?
"Papa mau minta apa?"
"Papa cuman mau minta, Rey jangan pacaran ya! Mama khawatir kalau itu terjadi, fokus aja sama sekolah kamu, jangan pernah mikirin hal yang belum seharusnya kamu pikirin. Leo, tante kamu begitu khawatir dengan dia, apa pun itu Rey, lapor! Jika memang Leo itu bertingkah, bilang sama Papa! Biar Papa yang ngomong sama Mama dia, Papa juga dengar kalau motor sama jatah dia dikurangin sama Mamanya,"
"Kalau itu kan hak dia sih sebenarnya, Pa. Ngomong-ngomong Papa cuman mau aku enggak pacaran?"
"Iya, cuman itu. Jaga diri baik-baik! Tahu kan masa lalu Papa itu enggak main-main, Rey. Bahkan sampai saat ini Papa menyesali perbuatan Papa karena kamu dan Mama, Papa belum bisa maafin diri Papa sendiri,"
"Pa, aku enggak masalah kok. Lagian Papa sudah mau berubah, aku janji enggak bakalan ngelakuin hal yang sama seperti Papa. Leo juga sebenarnya enggak pernah ngelakuin hal macam-macam, Pa. Cuman ya sering banget gangguin gadis, bukan berarti dia itu ngelakuin hal yang keterlaluan, kemarin waktu di rumahnya aku cuman bercanda dia itu pacaran. Tapi Mama dia ngiranya aku serius, lagian Leo enggak nakal kok di sekolah,"
Rey menjelaskan secara detil mengenai Leo, memang sebenarnya Leo bukanlah anak nakal yang selalu membuat masalah di sekolah. Tantenya hanya salah paham dengan hal itu dan membuat Leo menjadi korban atas candaannya.
"Lain kali enggak usah bercanda seperti itu, Rey. Tahu sendiri tante Naura itu kayak gimana, dia Mama kedua kamu loh, dia yang ngerawat juga, sama kayak Mama Viona,"
Rey menyeringai sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kali ini ia harus menjelaskan kepada tante Naura bahwa candaan kemarin bukanlah seperti yang dipikirkannya. "Aku pamit ya, Pa,"
"Ya udah, hati-hati. Istirahat ya! Usahakan nanti malam jangan keluyuran! Atau enggak Papa yang bakalan dimarahin sama Mama karena enggak pernah ngingatin kamu,"
"Mama itu sayang sama, Papa. Buktinya si kembar hadir,"
"Beda Rey. Sekarang kamu udah gede, Mama lebih khawatirnya sama kamu, makanya jangan macam-macam, nanti Mama bertindak kayak tante Naura, Papa enggak bisa bantuin,"
"Papa takut sama Mama?"
"Bukan takut, Rey. Tapi menghargai namanya, dia udah capek lahirin kalian, udah capek urus kalian kalau Papa lagi kerja, siapin semua kebutuhan Papa sebelum berangkat kerja, bahkan dia yang paling sibuk sebenarnya,"
"Tapi Papa sering manja sama, Mama,"
"Itu karena Papa pengin ada waktu aja sama dia,"
"Papa juga sering buat Mama kesal,"
"Mama kamu itu lucu kalau lagi cemberut, cantik banget kalau dia senyum setelah cemberut,"
"Pa, Mama enggak boleh melahirkan lagi, ya?"
"Bisa, Rey. Tapi itu berisiko untuk dia,"
"Enggak bisa buat adik lagi berarti?"
"Bisa, tapi Papa enggak mau buat Mama dalam keadaan bahaya, malah Papa penginnya nambah, tapi lihat kondisi Mama yang sekarang, Papa jadi enggak mau lagi. Cukup kalian bertiga aja, yang tiga aja udah bikin kepala Papa mumet, mau nambah lagi ya bisa gila Papa karena kalian,"
"Tenang, Pa. Enggak usah nambah anak, nanti dibuatin cucu sama aku," ucap Rey sambil meraih tangan Papanya dan bersalaman.
"Rey!" teriak Papanya dan dia dilempar dengan spidol oleh Papanya. Rey sendiri lebih suka melihat Papanya dengan ekspresi kesal seperti itu.
"Kan Papa udah kasih,"
"Kurang, Papa,"
"Oke, Papa tambahani 500 ribu, udah gitu pulang!"
"Nah gitu dong," jawab Jenny sambil menyeringai.
Rey yang melihat kejadian itu hanya menahan tawa, apakah nanti Nabila dan Salsabila akan seperti itu saat remaja seperti Jenny? "Rey, ngapain nyengir di sana?"
"Anak Papa merengek, hahaha," ledeknya. Jenny langsung menampilkan raut wajah yang cemberut kepada Reynand.
Rey menunggu diambang pintu dan Jenny menghampirinya dan menarik seragamnya.
"Pulang!"
"Pelan dikit kenapa sih?"
"Fendi ulang tahun, boleh dong antarin gue beli sesuatu buat dia,"
Rey melirik ke arah Jenny sejenak. "Lo benar suka sama dia?"
"Harus berapa kali gue jawab?"
"Ya menurut gue sih, kalau benar suka. Lo harus dapatin tuh duit dari hasil kerja keras, lo. Bukan dari hasil minta,"
"Caranya?"
"Jadi kasir nanti di tempat gue, lo bisa ketemu dia tiap hari,"
"Papa gue bisa ngamuk kalau gue kerja,"
"Tenang, Papa lo mana berani sama Papa gue,"
"Tapi, nanti Mama gue gimana?"
"Tenang aja, Mama lo biar jadi urusan Papa lo. Papa lo jadi urusan Papa gue. Lagian ya, Papa lo itu enggak seperti orang tua yang lainnya, Papa gue udah kerja lama sama dia, cuman gue enggak tahu kalau lo itu anaknya manager Papa gue,"
"Duh, Rey. Gue yang cantik gini lo enggak tahu. Tapi Papa lo hebat ya, punya anak spesies langka kayak lo,"
Rey berhenti sejenak dan berdiri tepat di depan Jenny.
"Ma-mau apa?"
Rey tersenyum dan membuat Jenny memalingkan wajahnya.
"Akh,"
Jenny mengaduh saat Rey menyentil jidat Jenny. "Lain kali jaga omongan ya! Enggak usah pakai spesies segala, yang langka itu spesies kayak lo, yang nerima Fendi apa adanya,"
Rey langsung berbalik dan berlari meninggalkan gadis itu mematung di tempatnya tadi.
"Rey!"
Jenny berusaha mengejarnya, Rey justru tertawa saat berhasil membuat Jenny kesal dengan tingkahnya.