
"Aku benci sama Teddy. Dia sudah mengakibatkan semua ini, Mas,"
"Sabar, aku bisa apa? Aku nggak bisa bantu apa-apa, Nagita,"
Dimas tidak bisa tidur, mendengar kedua orang tersebut menangis bersama. Hatinya tersentuh, tetapi Dimas tak bisa membiarkan hal itu terjadi. Azka adalah mantan suami adiknya, dan Nagita masih berstatus istri Teddy. Ia tidak bisa menerima tindakan Teddy yang sudah mengakibatkan Nagita kehilangan calon bayinya. Kemudian Azka, pria itu dulu pernah menyakiti Nagita juga. Akan tetapi situasinya sudah berbeda.
"Sebentar lagi subuh, Dimas pasti bangun. Kamu jangan nagis lagi, Nagita!"
"Aku mau kamu tetap di sini, Mas,"
"Ingat Nagita, kamu istrinya Teddy. Nagita, aku pulang. Rey tetap di sini, sebentar lagi Dimas bangun,"
"Kamu hati-hati, Mas!"
"Iya, Nagita. Aku bakalan hati-hati, kamu jaga diri baik-baik!"
"Iya,"
Nagita melepaskan pelukan Azka. Di sana Dimas melihatnya dengan jelas. Beberapa menit setelah Azka pergi. Nagita tertidur lagi dan pura-pura dalam keadaan sebelumnya. Ia sudah terlanjur mendengar itu semua. Mulai dari pengakuan Azka yang masih mencintai Nagita, bahkan adiknya yang membenci suaminya sendiri karena selingkuh. Memang tidak bisa dimaafkan, apalagi Teddy berencana menyingkirkan Nagita. Hatinya terlanjur marah dengan pria itu. Meski tadi Azka menjenguk dan mengatakan masih mencintai Nagita. Bukan berarti Dimas akan merestui keduanya untuk kembali.
Belum pernah Dimas temukan Nagita selemah itu selama ini, berada di pelukan Azka justru membuat Nagita kuat. Tetapi apa pun itu, Dimas tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Hatinya benar-benar sakit mengingat dua orang yang menyakiti adiknya sekaligus. Walaupun kini Azka telah berubah, ia tak akan membiarkan Nagita kembali meski nanti akan diceraikan oleh Teddy.
Perlahan ia bangkit dari sofa tempatnya tidur. Semenjak mendengar isakan keduanya, ia tak bisa tidur dan justru mendengar semuanya. Dimas mendekati brankar Nagita.
"Sampai kapan kamu begini terus? Ayo bangun! Rey kasihan nungguin kamu di sini," ucapnya pura-pura tidak tahu Nagita telah sadarkan diri.
Sebuah kebiasaan di mana ia selalu memanjakan Nagita. Kini perempuan itu telah berbeda dan tumbuh dewasa. Ibu dari satu anak yang sebentar lagi akan menyandang status janda lagi. Dimas mengernyit mengingat bahwa dirinya tak bisa membahagiakan Nagita dan memberikan izin kepada pria yang dulu berjanji akan mencintai Nagita. Namun justru mengabaikan Reynand, keponakannya.
Lagi pula, siapa yang tidak marah jika adik dan keponakannya di sakiti terus-menerus. Seolah tak ada celah untuk bahagia. Menerima orang baru bukanlah solusi untuk membuat Nagita dan Rey bahagia. Justru membuat keduanya semakin sakit dengan luka yang sama, yaitu dikhianati.
"Nagita, selama kamu bahagia dengan pilihan kamu, kakak akan selalu dukung. Tapi jeli dalam memilih pasangan hidup, kakak merasa pengecut jika terus seperti ini. Kamu selalu menjadi korban."
Dimas menggenggam tangan Nagita. Hingga matahari sudah menampakkan diri, tiba-tiba tangan Nagita bergerak. Dimas tahu bahwa ini akan terjadi. Ia segera memanggil dokter untuk memeriksakan Nagita.
Perlahan semua alat yang menempel di tubuh Nagita dilepas, kecuali infus. Setelah melakukan perawatan beberapa jam dan keadaan Nagita membaik, perempuan itu pun boleh pulang dalam beberapa hari kedepan.
"Mama!"
Reynand yang baru bangun langsung memeluk Nagita. Perempuan itu pun memeluk putra tunggalnya, ada rasa haru dan iba yang dirasakan oleh Dimas melihat keduanya seperti itu.
"Mama, Daddy kemari nungguin, Mama,"
"Ohya, terus?"
"Daddy lap tangan, Mama. Jagain Mama,"
"Om Dimas nggak marah?"
"Nggak, Om yang nyuruh Daddy di sini,"
"Kak!" Ucap Nagita perlahan. Dimas membalas dengan senyuman
"Benar, Azka kemari nungguin kamu semalaman. Dia baru pulang beberapa jam yang lalu," ucapnya pura-pura seolah ia tak tahu dengan kejadian semalam.
"Tentang, Mas Teddy?"
"Dia akan menceraikan kamu, Nagita,"
"Oh," ucapnya pelan.
Dimas segera memeluk Nagita dan menggenggam tangan adiknya. "Setelah kamu sembuh, kita pulang ke rumah, dek. Rey juga, tapi Rey boleh ke rumah Daddy dan boleh tinggal sama kita juga. Pokoknya Rey terserah mau tinggal di mana,"
"Beneran, Om?"
"Iya. Rey mau tinggal sama Mama boleh. Sama Daddy juga boleh,"
"Kalau sama Daddy dan Mama, boleh?"
Dimas melirik ke arah Reynand, anak itu langsung menunduk. Namun Dimas mengelus kepala keponakannya agar anak itu tidak takut lagi padanya.
"Memangnya Rey mau?"
"Mau, Mama sama Daddy, Rey kumpul lagi,"
"Kenapa Rey pengin Mama sama Daddy balik?"
"Karena Daddy sayang sama, Mama. Walaupun dulu Daddy mukulin Mama, tapi Daddy nggak pernah berhenti sayang sama Mama,"
"Rey!" Panggil Nagita pelan.
"Benar kok, Ma. Daddy selalu sayang sama, Mama. Apalagi waktu Mama nikah sama Papa, Daddy sedih banget, Ma,"
"Nagita?"
"I-iya kak?"
"Masih benci sama Azka?"
Nagita menggeleng, "nggak. Aku nggak benci lagi sama dia,"
"Kenapa?"
"Dia mau dititipkan? Rey. Dia udah sayang sama, Rey. Itu sudah cukup,"
"Kalau seandainya dalam keadaan sadar, kamu mau ketemu Azka?"
"Nggak kak,"
"Kenapa gitu?"
"Aku nggak mau lihat kakak marah lagi. Nggak mau lihat Rey sedih lagi, sudah cukup waktu dulu sebelum berangkat ke Jepang kakak pukulin dia,"
Dimas semakin merasa bersalah dengan kedua orang yang ada dihadapannya kini. Namun setelah bertahun-tahun berlalu. Memang tidak sewajarnya dia membenci Azka dengan alasan apa pun. Karena pria itu juga pasti ingin bertemu dengan anak dan mantan istrinya. Luka di hati Dimas mengenai Azka memang belum pulih. Mendengar ucapan Rey tadi seolah menjadi bumerang baginya. Anak itu sudah mengerti dengan perpisahan Nagita dan Azka.
***&***
Setahun berlalu, Nagita menyandang statusnya sebagai seorang janda. Tinggal di rumah Dimas dan masih menjalani butiknya dengan baik. Beberapa kali juga Teddy datang untuk mengajaknya kembali. Tetapi hatinya sudah terlanjur benci dengan pria yang berencana menyingkirkannya. Jika dahulu Azka menceraikannya karena keduanya sama-sama mementingkan ego. Berbeda dengan Teddy yang ingin mengabaikannya jika sudah melahirkan. Ada rasa syukur juga ia membiarkan janinnya meninggal. Anak itu tidak perlu lagi mengalami kisah yang sama seperti Rey.
"Mama!"
Nagita menoleh ke arah pintu ruangannya. Anaknya yang beberapa bulan tidak bertemu dengan dirinya karena Rey harus menyiapkan diri belajar lebih giat lagi untuk Ujian Nasional. Rey yang kini kelas enam SD.
"Hey, sama siapa kemari?"
"Sama, Daddy,"
Nagita menoleh. Beberapa saat kemudian Azka muncul dibalik pintu sambil membawa kantong plastik putih.
"Nagita, apa kabar?"
"Baik, Mas,"
"Boleh makan siang di sini? Aku bawa makan siang untuk kita bertiga. Kamu nggak ada janji sama suami kamu kan?"
Ya, Azka memang tidak tahu tentang statusnya yang kini sudah menjanda lagi. Ia telah sepakat dengan Rey agar tidak memberitahu Azka.
"Nggak, Mas,"
"Mama sama Daddy kenapa nggak balik aja?"
"Mana boleh, Rey,"
"Boleh kok kata bu gurunya aku, Daddy. Mama kan nggak punya suami lagi,"
Azka langsung menatapnya intens, "Nagita, kamu cerai?"
Nagita tak bisa berbohong lagi dengan statusnya. "Iya, Mas Teddy menggugat satu tahun yang lalu,"
"Satu tahun kamu janda, dan aku nggak tahu itu? Tega kamu,"
"Tega kenapa?"
"Kamu nggak kasih kesempatan aku buat deketin kamu?" Ucap Azka perlahan. Wajah Nagita langsung memerah mendengar itu. "Aku menduda lama, itu karena mencintai kamu," ucapnya pelan hampir tak terdengar.
"Ma, ayo makan! Daddy, juga!"
Keduanya mengangguk dan langsung menyantap makanan yang ada di atas piring yang disajikan oleh Reynand. Mereka cukup lama terdiam karena kehabisan topik untuk bercerita. Suasana canggung pun tercipta.
"Ma, minta baju ya?"
"Baju? Kalau ada yang cocok, ambil aja!"
Selain menyediakan gaun pengantin. Nagita juga menjual pakaian-pakaian dengan merk tertentu. Tak jarang juga pria-pria datang ke tempatnya walau hanya sekadar iseng untuk mendekati. Akan tetapi Nagita tak pernah serius menanggapi, sebab ia tahu bahwa hatinya sudah mati rasa karena terlanjur dikecewakan.
"Usaha kamu lancar?"
"Iya, Mas. Kerjaan kamu gimana?"
"Kerjaan aku lancar. Nagita, sebentar lagi Rey SMP, nggak terasa ya waktu berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin-kemarin kamu hamil dia,"
"Iya. Aku juga nggak nyangka dia cepat banget besar. Waktu juga cepat berlalu,"
"Rey itu kamu banget, Nagita,"
"Kenapa bilang begitu? Justru keras kepalanya nular dari kamu. Kak Dimas sekarang malas bicara sama dia, karena sering ngelawan,"
"Ngelawan gimana?"
"Pokoknya apa pun yang dilarang sama Kak Dimas, dia ngelawan. 'Yang penting Rey nggak ngelakuin hal yang salah, Om' selalu saja begitu. Aku kadang sampai minta maaf sama Kak Dimas. Bahkan dia jarang banget mau ngomong sama Rey,"
"Tapi baiknya nular dari kamu,"
"Nakalnya dari kamu,"
"Kok aku?"
"Iya, dia sering nakal juga kalau sama aku. Bandelnya itu nggak ketulungan tahu nggak, pernah waktu itu karena karyawan aku pada ngerumpi. Nah kasir aku di taruhin permen karet di kursi,"
"Tetap aja nggak baik, Mas,"
"Itu namanya dia disiplin, Nagita,"
"Mama, Daddy, cocok nggak?" Keduanya menoleh ke arah pintu di sana Rey mengenakan celana jeans, topi dan baju kemeja kotak-kotak serta memakai sepatu yang kebesaran. Azka dan Nagita saling tatap dan tertawa melihat anaknya. "Kok di ketawain?"
"Sepatunya, Rey. Ganti sana!"
"Daddy yang bayar loh, Ma. Nggak jadi minta,"
"Iya Daddy beliin,"
Anak itu langsung keluar lagi.
"Ini tokonya kamu luasin lagi?"
"Iya, untuk gaun pengantin aku taruhnya di atas. Di sana sudah ada yang jaga, khusus. Kalau aku di sini, jaga pakaian yang lain,"
"Nggak nyangka ya dulu kamu mau jadi dokter sekarang pengusaha juga,"
"Hehehe, iya,"
"Daddy, bayar!" Anak itu teriak lagi. Nagita bangkit dari tempat duduknya dan keluar menuju meja kasir. "Ayo Mbak bawa kesini, barangnya!"
Nagita mulai menghitung barang-barang belanjaan Rey. Ia menggeleng saat melihat nominal yang sudah belasan juta. Beberapa karyawannya datang lagi membawa barang belanjaan Rey.
"Totalnya 38.350.661 rupiah, Mas,"
"Apa? Rey memangnya beli apa?"
"Tuh," Nagita menunjuk tas yang berisikan belanjaan Rey.
"Daddy, Mama itu kan butuh uang juga. Jadi hitung-hitung Daddy ngasih rezeki ke Mama,"
"Iya, Daddy bayar. Ada lagi?"
"Ada,"
"Sekarang apa?"
"Sekalian bawa pulang pemiliknya, Daddy!" Nagita tersenyum melihat tingkah anaknya yang menggodanya. Azka pun ikut tersenyum, "Tuh kan, Mama senyum Daddy,"
"Jangan godain, Mama. Nanti di lempar baru tahu rasa. Gini-gini Mama mantan pesilat, loh Rey,"
"Masa sih?"
"Tanya Mama! Dia dulu selalu hajar Daddy,"
"Tapi walaupun sering dihajar, Daddy suka,"
"Ya sudah ayo pulang! Lama-lama di sini Daddy bisa naik darah,"
"Bayar dulu Daddy!"
"Daddy udah kasih Mama kartu kredit, Rey,"
"Daddy, sama Mama harus datang nanti ke acara perpisahan aku,"
"Tuh suruh Mama! Kalau Daddy pasti datang,"
"Datangnya berdua, gandengan tangan. Nggak apa-apa kalau Mama sama Daddy nggak balik, yang penting datang,"
"Nanti kita lihat, Rey. Ayo pulang!"
"Nih kartunya, Mas," Nagita menyodorkan kartu kredit kepada Azka. Benar-benar anak itu membuat Azka dan Nagita mati kutu karena selalu dilempari pertanyaan yang aneh-aneh.
"Nagita, kita jalan bareng kalau kamu ada waktu!" Nagita mengangguk dan Azka menarik tangan Rey hingga keluar dari butik.
Tokonya buka hingga malam hari, tetapi Nagita memilih pulang terlebih dahulu dan tinggal menunggu laporan hasil penjualan dari karyawannya nanti malam.
Berada di meja makan bersama keluarga kakaknya. Nagita senyum-senyum sendiri sambil menyantap makannya.
"Ada yang lagi kasmaran lagi nih ceritanya?"
"Eh apa kak?" Nagita langsung celingak-celinguk menatap Dimas.
"Ada apa? Pacaran?"
"Nggak. Aku senyum karena Rey datang tadi siang,"
"Tumben tuh anak nggak ke rumah?"
"Nggak tahu. Tadi dia pengin makan siang di sana. Terus beli beberapa pakaian?"
"Berapa?"
"Seingat aku nominalnya 38 juta lebih, kak,"
Uhuk
"Nagita, Rey belanja segitu cuman satu hari?"
"Iya, awalnya minta. Tapi entah kenapa tiba-tiba dia nyuruh Daddy dia yang bayar. Terus belanjanya banyak gitu,"
"Gaji kakak sebulan, Nagita,"
"Daddy dia kan kaya, Kak. Bahkan dia buat Mas Azka kesal selama di sana,"
"Kalian ketemu?"
"Rey yang ngajak, maaf,"
"Oh gitu. Ya udah nggak apa-apa,"
Seusai makan malam dan menerima laporan hasil penjualan. Nagita berencana untuk tidur. Akan tetapi baru saja ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ponselnya berbunyi.
"Azka? Mau ngapain dia malam-malam begini?"
Nagita pun menjawab panggilan video tersebut dan menaikan selimutnya karena ia hanya mengenakan singlet saat ingin tidur.
"Belum tidur?"
"Belum, Mas,"
"Sudah makan?"
"Sudah,"
"Nagita,"
"Hmm,"
"Besok ada waktu?"
"Kapan?"
"Siang,"
"Hmm, kayaknya nggak bisa,"
"Yaah, tadinya aku mau ngajakin makan siang,"
Nagita sengaja mengatakan hal itu. Jujur ia akui, dalam hatinya ia lebih mudah melupakan Teddy dibandingkan Azka. Sedalam apa pun lukanya karena Azka, kini berbeda dan sangat mudah sekali untuk luluh.
"Bisa, Mas," ucapnya.
"Nagita, tapi kita cuman berdua,"
"Rey nggak ikut?"
"Nggak, aku pengin berdua sama Mamanya Reynand, Mama dari anakku,"
"Bisa aja kamu, Mas,"
"Ya sudah kamu tidur sana! Besok siang aku jemput,"
"Bawa Rey juga ya!"
"Nggak,"
"Mas,"
"Nggak Nagita, aku bilang nggak ya nggak,"
"Dasar keras kepala,"
"Ya sudah tidur sana!"
"Iya aku tidur, teleponnya ditutup,"
"Jangan, Nagita. Biarin aja, taruh bantal biar hpnya nggak jatuh. Aku temani video call sampai pagi,"
"Besok kan kita kerja,"
"Sekali ini aja, Nagita,"
Perempuan itu menurut dan benar-benar video call dengan Azka hingga larut malam. Sulit untuk berkata tidak jika sudah bersama dengan ayah kandung dari anaknya. Azka yang selalu saja bersikap manis kini dengannya. Bahkan semenjak pertemuan tadi, keduanya semakin akrab. Nagita tidak pernah berharap bahwa ia akan kembali dengan Azka. Meski tadi mendengar Azka berkata ketus saat berbicara mengenai perasaan. Tetapi bagaimanapun juga cintanya akan terhalang lagi oleh kakaknya. Nagita tahu itu bahwa cinta mereka tak akan bersatu meski sudah baik-baik saja.