
Reynand kembali lagi merasakan kepedihan hati yang mengingatkan kepada kejadian di masa lalu.
Tuhan, jika bisa aku memutar waktu. Aku ingin dia selalu ada di sisiku, melindunginya dengan segala usahaku agar dia tetap hidup denganku. Gelak tawanya pernah menjadi warna yang indah untuk hidupku di masa lalu. Gelak tawanya yang pernah menjadi kebahagiaan walau itu hanya sesaat, Tuhan, jika kebahagiaan itu bisa terulang lagi, tak apa walau itu hanya sesaat. Menghadirkan dia di sisiku, sekali saja. Tuhan, setiap pertemuan selalu ada perpisahan, lalu mengapa perpisahan itu tak pernah mampu dihapus dari kepalaku? Ada rasa sakit saat mengingat itu lagi.
Reynand termenung di kamarnya. Dia melihat ke arah jendela malam itu, dia menyangga dagunya tepat di kusen jendela dan membiarkan angin menerka wajahnya. Melihat bintang di langit, di antara ribuan bintang, hanya satu yang paling terang, dan dia gambarkan itu adalah Syakila. Setiap bintang itu bersinar sangat terang, Rey percaya bahwa adiknya bahagia di sana.
"Kakak belum tidur?"
Mendengar suara itu, Reynand berbalik dan melihat mamanya sedang melangkah menuju ke arahnya bersama dengan kedua adiknya yang terlebih dahulu berlari dan langsung naik ke atas ranjang Reynand.
"Kakak kita bobok cini, ya?"
"Adek, bobok sama Mama malam ini ya!"
Rey mengelus kepala adiknya dan mengangkatnya ke pangkuannya. "Enggak apa-apa Ma kalau mereka mau tidur di sini, aku juga senang kalau mereka mau tidur di sini,"
"Kakak, jangan lakukan itu lagi. Tahu kan bagaimana sakitnya hati kakak kalau ingat kejadian yang dulu itu terulang lagi? Kakak itu punya Nabila, punya Syakila, dan juga punya Salsabila. Tapi kakak bukan cuman Syakila aja, ingat yang lain juga! Mama tahu mungkin Mama sangat lancang bicara seperti ini kepada kakak, tapi sebagai orang tua, siapa yang tidak sakit hati melihat anaknya bersedih, dan itu buat hati mama sakit,"
"Ma, aku enggak bermaksud buat ingatin Mama sama kejadian yang dulu. Aku cuman kangen sama dia,"
"Mama enggak pernah minta kakak lupain itu, tapi ingat Papa! Rey, Mama sudah pernah bilang jangan bahas Syakila lagi. Apa Rey tahu yang terjadi sekarang?"
Rey menoleh ke arah mamanya sejenak dan tetap memangku kedua adiknya. "Kenapa sama Papa?"
"Papa nangis,"
Rey menghentikan sejenak aktivitasnya dan melihat ke arah mamanya yang begitu iba terhadap dirinya yang rapuh jika mengingat tentang adiknya. "Papa sekarang di mana?"
"Papa izin ke makam, Syakila. Dia enggak kuat lihat kakak terus seperti ini, masa lalu itu memang salah Papa, tapi jangan seperti ini, Rey. Mama juga terluka sama kakak hari ini yang mengingat kepergian Syakila itu,"
Reynand mendudukkan adiknya di ranjang dan duduk bersila sambil memegang kedua tangan mamanya dengan penuh keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi, seberapa hebatnya dia berusaha melupakan. Ingatan itu terus saja pulang seolah meminta untuk di kenang. Kejadian itu telah terjadi beberapa tahun silam, tapi begitu jelas di dalam benak Reynand.
"Tidurlah, Nak! Jangan di ingat lagi, Mama tuh enggak tega lihat kakak nangis, apalagi lihat Papa sedih kalau kakak mulai kayak gini lagi,"
"Maaf, Ma,"
Mamanya menggeleng pelan dan mencium pipi Reynand. Ketika suara ponselnya berdering Reynand langsung terlihat panik ketika mamanya beranjak dari tempat duduknya tadi dan mengambil ponsel yang ada di atas nakas.
Perempuan yang berusia tiga puluhan itu langsung menyodorkan ponsel Reynand setelah berkedip ke arah Reynand.
"Angkat dong!" goda mamanya.
Reynand yang sempat ragu akhirnya menjawab telepon itu. "Rey, kamu lama banget sih angkatnya. Kamu enggak apa-apa? Tadi waktu di rumah sakit maaf ya aku sama Jenny pulang duluan, terus soal kaki kamu, kaki kamu enggak apa-apa kan?"
Reynand salah tingkah setelah Bintang berkata demikian dan mamanya duduk di depannya sambil tersenyum. "Udah dulu ya, aku mau tidur,"
"Ngomong aja, Rey. Biar adik kamu Mama bawa keluar,"
"Yang tadi siapa?"
"Ah, itu teman, Ma,"
"Anak Mama udah besar ya," mamanya kembali lagi duduk di atas ranjang dan mengelus kepala Reynand. "Tapi ingat sama pesan Mama, kalau kakak enggak boleh ngecewain Mama sama Papa, jangan pernah tertarik untuk pacaran dulu, Rey boleh kok suka sama orang. Asal jangan diikat sama status pacaran, Rey punya perjalanan masa depan yang panjang. Bukan Mama tuh enggak suka, tapi Mama pengin anak Mama tuh fokus dulu untuk pendidikan. Kalau mau temanan, ya silakan. Rey juga bisa ajak teman Rey ke rumah,"
"Iya, Ma. Aku janji enggak bakalan ngecewain kalian,"
"Janji sama diri sendiri, Nak!"
"Iya, Mama. Ngomong-ngomong Papa pergi sama siapa?"
"Tadi sama sopir, bentar lagi juga pulang kok. Dia cuman ngasih tahu tadi kalau dia pergi ke makam Syakila. Kapan-kapan kakak juga ke sana! Asal jangan ke ruang rumah sakit itu lagi, Mama enggak mau lihat kakak terpuruk lagi,"
"Aku usahain enggak ke sana lagi,"
Mamanya yang mengelus kepala Nabila sambil memangku gadis kecil itu, Rey melihat adiknya yang nyaman pada posisi itu. "Rey, tadi teman kamu bilang kaki kamu sakit? Itu kenapa?"
"Oh, itu di tindih sama kaki kursi, Ma. Enggak sengaja, jadi kayak gitu,"
"Mana?"
Rey menunjukkan itu kepada mamanya. Dan beberapa saat kemudian mamanya keluar begitu saja. Dan setelah dua menit berlalu, mamanya datang sambil membawa kotak obat dan menarik kaki kanan Reynand ke atas paha perempuan itu.
"Kangen banget Mama bisa rawat kakak yang seperti ini,"
"Mama kan sekarang punya tiga anak, dan lebih baik fokus sama kedua adik aku, jadi enggak usah khawatir perihal aku, Ma. Aku enggak bakalan bikin masalah, kok. Aku bisa jaga kepercayaan Mama,"
"Kaki kakak cakit?" timpal Salsabila dan langsung mengambil kapas dan mengolesi obat di jari kaki Reynand.
"Malam ini jadi mau tidur sama, Kakak?"
"Jadi," jawab keduanya serentak. Reynand pun mencium Nabila yang ada di dekatnya itu.
"Rey, kadang Mama sama Papa itu sering banget diskusi mengenai kakak yang jarang di rumah. Sebenarnya kakak itu ke mana? Mama tanyain kakak juga enggak ada di bengkel,"
"Anu, itu Ma. Aku-"
"Kencan?"
Reynand terdiam. Reynand teringat beberapa hari belakangan ini dia selalu pergi bersama dengan Bintang sebelum libur itu terjadi.
Lelaki yang berusia belasan tahun itu sempat tidak bisa menjawab pertanyaan mamanya. Terkadang mamanya seringkali melempar pertanyaan yang sangat sulit untuk Reynand jawab. Bahkan dia harus memikirkan berbagai macam cara untuk menghindari pertanyaan mamanya mengenai Bintang. Karena pernah terjadi di mana mamanya membaca semua chat itu. Rey memang memiliki privasi, tapi jika untuk memberikan keyakinan kepada mamanya. Dia membiarkan mamanya membaca chat itu.
Berikutnya menyusul 😬 Jangan lupa like ya hehehe