RICH MAN

RICH MAN
SUATU PERSAMAAN



"Mas, bangun!" Marwa terus mengguncang tubuh suaminya agar terbangun. Semalam pria itu meminta untuk dibangunkan karena akan kembali lagi pada aktivitasnya di kantor.


Marwa sendiri bahkan tidak tahu suaminya bekerja di perusahaan mana. Yang jelas dia hanya menuruti apa yang diperintahkan oleh suaminya untuk membangunkan pria itu.


"Lima menit lagi," lenguh pria itu.


"Nanti kesiangan," jawab Marwa dengan tegas.


"Ini memangnya jam berapa?"


"Jam delapan lebih, aku bangunin Mas dari tadi, Mas jawab lima menit melulu,"


Rey langsung bangun dari tempat tidurnya. "Astaga,"


"Mas, sudah sholat subuh, kan?"


"Udah, aku lanjut tidur lagi karena kecapean jadi maaf kalau aku telat bangun," ucapnya pada istrinya.


Perempuan itu tak bereaksi apa-apa. Dia beranjak dari tempat tidur Rey dan mengambil handuk, kemudian memberikan handuk tersebut untuk Rey. "Mas mandi ya! Aku sudah siapin sarapan,"


Rey pun hanya menuruti perintah istrinya dan bergegas ke kamar mandi. Rutinitas baru yang dia alami setelah menikah adalah dibangunkan setiap pagi oleh istrinya. Bahkan subuh pun istrinya tidak pernah lupa membangunkannya walaupun mereka tidak sholat berjamaah. Tetapi tetap istrinya menjalankan tugas dengan baik.


Setelah tiga hari kejadian di mana waktu itu mereka hendak membeli peralatan untuk memasak, tetapi batal karena istrinya diperlakukan seperti itu. Rey sendiri kesal dengan orang yang seolah menghina istrinya yang mengenakan cadar.


Selama beberapa hari mereka membeli makanan untuk sarapan, hingga makan malam mereka. Hingga akhirnya kemarin, mereka memutuskan untuk membeli peralatan masak dari online. Sore hari pun Rey memilih untuk pergi belanja sendirian untuk memenuhi kebutuhan dapur karena tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi.


Marwa mencatat beberapa bahan memasak yang dibutuhkan, dan Rey membeli itu sendirian. Dia juga membeli beberapa barang yang tidak ada di daftar yang dituliskan oleh istrinya.


Beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambutnya. Di atas ranjang sudah ada setelan yang tersedia di sana.


Rey yang melihat itu hanya tersenyum. Segala keperluannya kini tidak perlu lagi dia siapkan sendirian. Ada perubahan baru dalam hidupnya yang sangat terasa.


Terdengar suara mesin cuci yang membuat Rey berhenti dari fokusnya. Dia keluar sambil mengancingkan kemejanya.


"Marwa kamu ngapain?" saat dia melihat istrinya melakukan pekerjaan rumah tangga.


"Aku nyuci, memangnya ngapain?"


"Bisa laundry, Marwa,"


"Aku bisa kerjain sendiri. Ini sudah tugas aku,"


Rey pun tidak ingin berdebat dengan perempuan itu. Marwa berbalik, "Marwa bisa bantuin pasang dasi?"


Perempuan itu pun langsung mendekati Reynand dan menuruti perintahnya begitu saja. Sementara itu Reynand menjawab telepon dan tetap fokus sambil menatap istrinya yang sedang memasang dasi.


Marwa hendak pergi. Rey menahan tangan istrinya sambil tetap berbicara dengan seseorang pada telepon. Setelah selesai berbicara, Rey memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Sebentar lagi aku ke kantor. Kamu ke rumah Mama ya, nanti ada yang jemput,"


Perempuan itu terdiam, "Mas, kenapa bukan kamu yang antar?"


"Aku buru-buru dan mungkin pulangnya agak malam. Tenang saja, yang jemput itu perempuan kok, sopir khusus kamu dari Mama, itu Mama yang pilih. Jadi jangan khawatir,"


Rey seolah membaca pikiran Marwa, perempuan itu tidak ingin bersama pria asing. Dia tidak ingin suaminya merasa tidak nyaman dengan hal sepele seperti itu.


"Mama ngerti kok, makanya Mama siapin sopir khusus buat menantunya," ucap Rey sambil memperbaiki jilbab Marwa.


Walaupun perasaannya belum tumbuh. Tetapi Rey ingin merasakan momen bahagianya, bersama dengan perempuan lain bukan berarti dia tidak bisa bahagia. Dia ingin membuka hatinya. Membuka lembaran baru bersama orang yang baru pula. Tidak harus bersama dengan perempuan masa lalu yang pernah begitu membekas.


"Mas pulangnya jam berapa? Katanya telat, terus itu jam berapa?"


"Enggak apa-apa kok, Mas. Ya sudah sekarang kamu sarapan, aku udah siapin,"


"Kapan siapinnya? Cepat banget?" ucap Reynand.


Perempuan itu sepertinya terlihat tersenyum, matanya yang menyipit membuat Reynand yakin akan hal itu. "Aku dari tadi sudah siapin sarapan buat Mas, tapi Mas kan tidur, jadi mana tahu," ucap perempuan itu sambil menggandeng tangan Rey ke tempat makan.


Di sana sudah ada beberapa lembar roti dan selai cokelat.


"Tahu dari mana aku suka cokelat? dan tahu dari mana kalau aku sarapan pakai ini?"


"Aku semalam telepon Mama. Tanyain apa aja yang kamu suka,"


Rey tersenyum mendengar jawaban polos istrinya. Tentu saja perempuan itu akan tahu apa saja yang Rey sukai dan apa saja yang tidak dia sukai dari mamanya.


Rey mengolesi selai cokelat, ketika dirinya memberikan roti itu istrinya menggeleng. "Kenapa enggak mau?"


"Enggak suka cokelat," Rey berhenti dan tangannya terdiam di udara. Itu merupakan hal yang dia ingat, bahwa Bintang tidak menyukai cokelat.


"Marwa, apa saja yang kamu enggak suka?"


"Salah satunya cokelat itu, Mas. Terlalu manis,"


Rey mengangguk dan mulai menyantap sarapannya. Perempuan itu mengolesi selai stroberi di atas rotinya dan memakannya perlahan. Kali ini dia mengerti mengapa perempuan itu hadir sebagai sosok yang mengingatkannya pada Bintang. Sebuah hal yang membuat Reynand menahan sekuat hati tentang masa lalu dan orang yang hadir memiliki kesamaan.


Mereka pun menghabiskan sarapan itu, Marwa membersihkan piring dan Rey beberapa kali menerima telepon dari.


"Sesibuk itukah kamu, Mas?" ucapan itu membuat Rey mengangguk pelan.


"Maaf kalau kamu merasa diabaikan," ucapnya pelan.


"Enggak apa-apa. Yang penting kamu bisa jaga kesehatan kamu, Mas,"


Rey merasakan dirinya melayang diudara. Hanya dengan perhatian sekecil itu dia bahagia, selama ini tidak ada orang yang perhatian terhadap dirinya selain kedua orang tua dan juga keluarganya. Tidak seperti sekarang ini, dia diingatkan oleh istrinya langsung.


"Mas, kamu kenapa?"


Rey tersadar dari lamunannya dan langsung menatap istrinya.


"Aku enggak apa-apa kok,"


"Jadi kapan berangkatnya? Ini hampir jam sembilan, Mas?"


Rey pun mengangguk, "Aku ambil kunci mobil dulu,"


Perempuan itu langsung mengangkat tangannya yang di tangannya ada kunci mobil Rey. "Kamu enggak boleh telat, Mas,"


Rey tersenyum. "Terima kasih,"


Marwa mengangkat tangan kanannya. Reynand mengangkat sebelah alisnya, mungkin kali ini benar bahwa istrinya butuh nafkah darinya. "Uang? Aku transfer ke rekening kamu, nomor rekening kamu berapa?"


"Salaman, Mas. Bukan uang," jawab istrinya dengan nada kesal.


Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal, benar bahwa kali ini dia telah memiliki istri, dan perempuan itu sangat membuatnya merasakan hal yang berbeda dari biasanya.


Rey menyeringai saat perempuan itu mencium tangannya. Dia pun mengucapkan salam dan dibalas oleh istrinya. Keluar dari apartemennya. Di depan pintu Rey mengelus dadanya.


"Ya Tuhan, kalau enggak bisa tahan nih hati udah jatuh dari tadi sama sikap istri yang bikin deg-degan melulu."


Reynand menarik napas panjang. Karena pertama kali setelah pernikahan itu, perempuan itu mencium tangannya lagi. Dan kelak itu akan menjadi suatu kebiasaan yang akan dirasakan oleh Reynand setiap harinya.