RICH MAN

RICH MAN
EPISODE -REYNAND-



***Selamat siang, hehe karena banyak yang DM ke IG : Shizukadesu97 dan Wttpad : Shiszukadesu mengenai season dua. Maka dari itu, seasonnya dimulai hari ini dan bakalan tetap up ya. Hehehe, ceritanya masih sangat panjang dan kisah romantis khusus Rey.


Jangan lupa like dan masuk ke favorite ya biar tahu informasi update, terima kasih***.*


Di kediaman Azka dan Nagita, kedua putri kembarnya juga sudah berusia dua tahun lebih. Kedua pasangan suami istri itu nampak begitu sangat bahagia dengan kehadiran anak kedua dan ketiga mereka sekaligus.


"Kakak, adek, Mama bisa minta tolong sama kalian bangunin Kak Rey?"


Kedua anak itu sangat antusias jika sudah berhubungan dengan Reynand. Keduanya memang sangat dekat dengan Rey. Nabila Adinda Winata dan Salsabila Adinda Winata, putri kembar yang selalu meramaikan rumah itu. Mereka berdua turun dari kursi tempat makan dan langsung berlarian saling mendahului untuk sekadar membangunkan Reynand anak itu sekarang sudah SMA dan duduk dikelas sebelas semester dua.


Keduanya nampak kesulitan untuk membuka pintu karena gagang pintu sangat tinggi untuk usia mereka yang masih kecil, kebetulan di sana ada asisten mereka yang lewat untuk mengambil cucian di kamar mereka.


"Bibi bukain pintu!"


"Kalian mau ngapain?"


"Diculuh Mama bangunin kakak," jawab Nabila selaku kakak dari Salsabila.


Bibi pun akhirnya membukakan pintu dan keduanya berhamburan menuju Reynand yang tengah terlelap sambil memeluk guling dengan posisi telentang. Keduanya mengambil guling tersebut dan langsung naik ke atas tubuh Reynand.


"Kakak bangun!"


Reynand yang memang terbilang sangat lama bangun dari tidurnya jika sudah lanjut tidur setelah subuh.


"Hmm, bentar lagi,"


"Mama malah dibawah," satunya naik ke atas dada Reynand dan satunya lagi mencubit pipi Reynand.


Reynand yang membuka matanya dan sudah terbiasa dengan adiknya yang selalu saja naik ke atas tubuhnya hanya untuk membangunkan. Reynand justru menurunkan adiknya dan langsung memeluk Salsabila, "Kenapa nakal banget sih, hm? Suka banget kalian itu ganggu kakak tidur," ucapnya sambil memainkan jarinya diperut adiknya.


"Diculuh cama Mama,"


"Mama apa kalian yang mau?"


"Mama,"


"Papa sudah berangkat?"


"Belum, kan ayo kakak cekalang mandi, telus tulun ya!" ucap Nabila, Reynand melihat kedua adiknya turun dari ranjang. Setiap pagi dirinya selalu dibangunkan oleh kedua adiknya.


Bahkan keduanya seringkali tidur bersama dengan Reynand. Ia pun akhirnya mengalah dan turun dari atas ranjang untuk bersiap-siap ke sekolah.


Di ruang makan, kedua anak kecil itu sudah kembali lagi dan menemui kedua orang tuanya yang tengah menunggu kehadiran Reynand untuk sarapan bersama.


"Mama, kakak cudah bangun,"


"Enggak naik lagi ke dada kakak kan?"


"Naik, Ma,"


"Enggak boleh lagi ya! Nanti dada kakak bisa sakit, kalau kakak sakit nanti enggak bisa main sama kalian. Enggak bakalan diajakin jalan-jalan lagi," jelas Nagita.


"Tapi kakak ketawa, Ma,"


"Tetap aja enggak boleh sayang, nanti kakak enggak bisa napas,"


"Anak Papa udah besar ya, cantik kayak Mama."


Anak itu hanya tersenyum dan menyantap sarapannya terlebih dahulu, keduanya duduk di atas meja karena tubuh mereka tidak terjangkau jika duduk di kursi.


"Kenapa lama banget sih bangunnya?" keluh Nagita saat Reynand turun dari kamarnya dengan seragam khas SMA sambil menenteng tas dan helmnya.


"Capek, Ma. Semalam banyak PR, jadi aku begadang buat ngerjainnya,"


"Kan sepulang sekolah bisa dikerjakan?"


"Enggak bisa istirahat dan nemenin adik main, jadi enggak masalah Ma,"


Nagita menggeleng melihat putra pertamanya yang sudah tumbuh dewasa sekarang, namun kasih sayangnya tetap mengalir pada Reynand. Di sana juga Azka berperan begitu adil dan tidak pernah membedakan satu dengan lainnya.


"Kak, dadek ikut ya?" Salsabila turun dari tempat makannya dan tersenyum sambil memegang celana sekolah Reynand.


"Kakak kan mau sekolah, memangnya kalian mau ikut?"


"Iya, boleh ya?"


Reynand berjongkok di depan adiknya yang paling kecil. Kedua anak itu benar-benar mirip dan yang membedakan hanya tanda lahir dan bentuk wajah yang agak sedikit lonjong, namun terkadang Reynand bingung membedakan jika anak itu tidur disampingnya.


"Enggak ikut berangkat sama Papa?" seka Azka.


"Aku bawa motor sendiri, Pa,"


"Ya sudah hati-hati, kalau gitu Papa duluan ya, jangan ngebut di jalan, Rey!"


Reynand bersalaman kepada papanya dan kemudian duduk untuk sarapan, karena turun terlambat, dia sampai ketinggalan untuk sarapan bersama dengan kedua orang tuanya.


"Kak, jadi ikut ya?" ucap Salsabila lagi. Reynand sudah terbiasa dengan rengekan adiknya untuk ikut ke sekolah, terkadang anak itu menangis dan Reynand harus ekstra sabar jika menghadapi adiknya yang menangis ingin ikut pergi ke sekolah, "Boleh ya?"


"Adek, nanti kalau sudah besar pasti adek bisa sekolah kayak kakak, jadi adek yang sabar aja dulu. Nanti kalau besar pasti Mama sama Papa yang antarin kalian,"


"Mau ikut," kedua anak itupun menangis.


Reynand kali ini benar-benar harus bersabar dengan kedua adiknya. Reynand menghabiskan sarapannya dan membiarkan mamanya untuk menenangkan kedua adiknya.


"Ma, aku berangkat ya," Reynand meraih helm yang ada di atas meja makan dan bersalaman begitu saja.


"Salaman sama, kakak!" kedua anak itu menggeleng dan menangisi Reynand. Hal itu sudah menjadi kebiasaan, bukan hal asing lagi jika dirinya begitu disayang oleh adiknya.


"Nanti pulang kakak sekolah kita beli es krim pakai mobil Papa oke?"


anak itu menggeleng, Reynand menarik napas dan berat hati meninggalkan adiknya.


"Antar sampai depan, Ma. Nanti juga bakalan terima kok mereka kalau aku tinggal,"


Setiap hari, Reynand selalu berangkat sekolah menggunakan motornya, hadiah dari papanya. Reynand memang dari keluarga berada, akan tetapi tidak pernah sombong dan membandingkan siapa pun yang menjadi teman bergaulnya selama di sekolah. Bahkan Leo juga sekarang sudah tertular dengan pergaulan Reynand yang terbilang tidak pernah membedakan status.


Karena dirinya adalah salah satu siswa berprestasi, tidak jarang juga dia mendapatkan bunga dan cokelat di atas mejanya. Hal itu terkadang membuatnya sangat risih, bagaimana mungkin seorang laki-laki mendapat bunga dari perempuan. Selain jago dalam pelajaran, dia juga jago dalam bidang olahraga seperti basket dan futsal.


Setibanya di sekolah, dia langsung melewati lorong sekolah dan respons yang ia dapatkan tetap saja seperti biasanya dipanggil dan bahkan ada yang menyatakan cinta kepadanya, itu sudah sering. Namun sama sekali dirinya tidak tertarik untuk berpacaran di sekolah.


"Rey,"


Reynand menoleh dan mendapati Widya yang memanggilnya, perempuan itu adalah salah satu perempuan yang populer di sekolah, perempuan itu juga berusaha untuk mendekati Reynand, tetapi dia tidak pernah merespons karena tidak ingin mengganggu waktu belajarnya dengan hal sia-sia.


"Kamu kok cuek terus sih?"


Reynand tetap melangkah tak peduli dengan ucapan dari Widya, hingga tiba saat dirinya melewati perpustakaan, di sana banyak siswi duduk bersantai, dan dirinya melewati perkumpulan itu begitu saja.


"Kak Rey," panggil salah satu siswi itu, Reynand membalas hanya dengan senyuman, dirinya memang masih ramah. Namun jika berhubungan dengan perempuan centil, dirinya yang paling enggan untuk merespons.


"Rey, nanti malam sibuk enggak?"


"Sibuk, aku sibuk jagain adik aku,"


"Kamu tuh ya, udah ganteng, penyayang adik lagi. Beruntung banget ya adik kamu disayang begitu sama kamu, Rey. Coba aja aku bisa jadi adik kamu,"


Reynand menghentikan langkahnya, "Kamu mau jadi adik aku?"


"Maulah, siapa yang enggak mau,"


"Ada syaratnya sih,"


Reynand menyeringai saat berhasil menjebak Widya. Sejujurnya dia tidak ingin diganggu dan tidak ingin terlalu mencolok di sekolah ini, hanya karena prestasinya yang bagus, bukan berarti dia ingin menyombongkan diri dan berpacaran dengan perempuan yang populer di sekolahnya. Dia hanya ingin fokus untuk pendidikannya. Bukan sekadar senang-senang, lagipula, dia enggan untuk menghabiskan waktu bersama dengan kekasihnya, bukan dengan adik-adik dan keluarganya.


"Kalau kamu mau jadi adik aku, jangan akrab sama aku di sekolah!"


"Kenapa?"


"Kamu mau aku jadi bahan gosip? kamu itu populer di sekolah, jadi jangan coba-coba buat hancurin reputasi kamu hanya karena kamu dekat sama aku,"


"Kamu malu dekat sama aku?"


"Bukan malu, tetapi aku enggak mau ada yang salah paham aja antara kita, aku kan cuman bilang kalau aku itu maunya kita biasa saja,"


"Tapi orang tua kita kenal dekat banget, loh?"


"Jangan andalin orang tua, memangnya orang tua kita yang punya sekolah ini? Aku rasa ya kita kenal ya kenal aja sih,"


"Nabila sama Salsabila apa kabar?"


"Baik kok,"


"Mama?"


"Baik juga,"


"Kalau gitu, aku boleh main ke rumah kamu ya. Kangen sama si kembar,"


Reynand meninggalkan Widya terlebih dahulu, jujur dia tidak menyukai perempuan ular itu, rasanya begitu enggan untuk bertemu, apalagi sekarang mereka satu kelas, itu karena permintaan Widya yang bahkan dipenuhi karena nilainya juga memadai berada di kelas sebelas IPA 1.


Hari itu adalah hari kesekian di mana semester genap di kelas sebelas, dan mereka masih bersantai belum terlalu memikirkan kenaikan kelas, Reynand sendiri sudah memiliki target bahwa dirinya hanya akan membanggakan orang tuanya, bukan sibuk untuk terlihat menonjol seperti yang dilakukan oleh Widya. Memang perempuan itu adalah salah satu anak dari rekan bisnis papanya, tetapi Rey tidak suka jika urusan pribadi dicampur adukkan di sekolah.


"Rey, lo pacaran sama Widya?" Fendi datang begitu saja dan merangkulnya, Rey terlihat enggan untuk membahas hal itu, dan ternyata Widya menjawab dengan iya.


"Apaan sih? Dengar ya Fen, gue enggak pernah pacaran sama ular ini," tunjuk Rey dan bergegas pergi meninggalkan Widya. Fendi adalah salah satu teman Reynand yang mungkin terbilang bukan dari keluarga berada, pulang sekolah terkadang nebeng di Reynand dan itu membuat Rey juga dekat dengan Fendi.


"Kok gue itu ngerasa kayak lo pacaran gitu ya?" tiba-tiba Fendi datang menghampiri Reynand di tempat duduknya.


"Ingat ya, gue enggak pacaran, gue enggak mau sama dia,"


"Orang tua kalian dekat,"


"Orang tua gue yang dekat, tapi gue enggak,"


Biasanya Reynand menggunakan panggilan aku-kamu dengan yang lainnya. Akan tetapi jika bersama dengan Fendi panggilannya akan berubah lagi, itu karena Fendi sudah terbiasa dengan panggilan itu, hingga Rey juga susah untuk berbicara dengan embel-embel kamu kepada Fendi.


"Ya sudah, terserah."


Reynand membuka tasnya dan menaruhnya di atas meja. "PR lo, Fendi. Kalau enggak kelar sekarang, bisa putus telinga lo sama Pak Hadi," ucap Reynand memanasi Fendi yang masih terlihat santai duduk di atas meja Rey.


"Brengsek, lo udah selesai?"


"Sudah dong,"


"Bagi dong!"


"Kerjain sendiri,"


"Yah Rey, please. Masa lo itu tega sama gue, lo enggak mau gitu ngasih contekan ke gue?"


"Belajar kenapa sih?"


"Gue enggak ngerti, lo tahu kan kalau gue itu susah banget loadingnya,"


"Makanya jangan mikirin Widya, lo yang naksir malah gue yang kena," celetuk Reynand.


"Ah sialan, gue enggak naksir sama ular bulu. Halus, tapi gatal, kan jijik. Lo aja yang cakep najis, apalagi gue yang biasa aja, tambah najis,"


"Kepincut baru tahu rasa lo, Fen,"


"Enggak bakalan."


Reynand tertawa mendengar ucapan temannya yang memang terdengar begitu aneh saat bercanda. Tetapi keduanya sangat dekat dan bahkan Reynand yang paham dengan kondisi keluarga Fendi, anak itu bekerja sepulang sekolah, terkadang Reynand selalu membayar makanan Fendi. Tidak ingin pelit kepada Fendi, karena dia tahu bahwa anak itu sekolah juga membiayai dirinya sendiri dengan bekerja di salah satu bengkel yang penghasilannya hanya mencapai ratusan ribu dalam sebulan.