RICH MAN

RICH MAN
Peran Suami



Nita berpamitan kepadanya, kemudian Rey masuk ke dalam kamar sambil membawakan air putih untuk istrinya minum obat. Tadi, dia melarang Marwa untuk keluar ketika ada tamu. Karena Rey sudah cukup untuk membebankan istrinya mengenai seorang perempuan baru lagi. Sekalipun itu adalah teman baik istrinya, jangan lagi Marwa mengorbankan hidupnya untuk orang lain. Terlebih ketika dia mendengar dan juga melihat bukti bagaimana Hana menginginkan Nita bercerai dengan suaminya. Padahal dia sudah tahu dari dulu bahwa Zibran itu sudah menikah.


Bicara seorang pria peselingkuh itu memang selalu manis. Selalu romantis ketika dia bertemu dengan seorang perempuan. Tidak pernah disangka bahwa teman istrinya itu akan menjadi korban Zibran.


Ketika Marwa sedang berada di kamar bersama Audri. Rey masuk kemudian menaruh obat itu di atas meja lalu menyuruh istrinya minum obat terlebih dahulu. “Sayang, minum obat dulu ya!”


“Tadi itu siapa, Mas?”


“Istrinya, Zibran,”


Marwa yang menggendong Audri pun terkejut dengan kedatangan istri pertamanya Zibran yang datang ke rumah mereka entah untuk apa tujuan itu. marwa tidak tahu kalau istri Zibran akan datang. Marwa mendekati suaminya yang nampak sangat kebingungan.


“Kamu tahu apa yang dikatakan istrinya, Zibran?”


Marwa menggelengkan kepalanya dan menurunkan Audri di depan televisi lalu menyalakan televisi untuk acara kartun yang disenangi oleh anaknya. Mereka sengaja menyalakan televisi dengan volume yang cukup besar agar anaknya tidak mendengar pembicaraan mereka.


“Zibran itu nikah empat kali, Marwa. Kamu pikir Hana itu datang ke sini untuk main-main dan nyalahin aku karena aku nolak nikahin dia? Asal kamu tahu, Hana itu sudah chat istrinya Zibran sedari dulu dan bilang kalau dia harus ninggalin Zibran segera. Anak yang dibawa oleh istri Zibran itu juga anaknya Zibran dari perempuan lain. Tentang dia yang mau nikahi Hana dan cerai kalau Hana melahirkan. Itu sudah kebiasaan dia dari dulu. Satu lagi, anaknya dibawa oleh ibu kandungnya,”


Marwa membekap mulutnya dan meneteskan air mata begitu mendengar bahwa perempuan yang dia bela itulah yang merebut suami orang lain. Bahkan pria itu juga berniat main-main dengan pernikahan dan mengatasnamakan cinta dan juga hanya berniat main semata.


“Terus, gimana sama istri pertamanya?”


“Dia datang ke sini untuk bilang salam aku kalau aku nggak usah lagi kerjasama dengan Zibran. Dia seperti itu karena sudah merasa mampu untuk punya istri dan pacar yang banyak. Kamu nggak tahu, kalau sekarang ini mereka sedang liburan entah ke mana. Aku nggak sempat tanya ke istrinya Zibran tadi. Yang jelas, dia bilang kalau dia gugat cerai Zibran karena nggak tahan lagi kalau dia harus nerima Hana di dalam hidupnya. Dia bertahan demi anak mereka. Tapi sekarang ini dia gugat Zibran karena nggak tahan lagi, Marwa,”


“Jika berususan dengan anak. Pasti konfliknya sudah sangat berat,”


“Terus, yang paling menyakitkan itu istri pertamanya dia nggak punya siapa-siapa,”


“Mas, kamu serius kan?”


“Ya, Zibran nikahi dia dulu semasih orang tua dia masih hidup. Ketika orang tua Nita meninggal, Zibran juga janji kalau dia akan jagain Nita dengan baik. Sekarang apa? Hana justru ada ditengah-tengah rumah tangga mereka. Hana sepertinya terpancing omongannya Zibran yang kemungkinan sangat manis. Jadi, Hana kena perangkapnya Zibran dan mau menikah begitu saja. Sayang, untuk kali ini kamu nggak usah lagi masukin orang ke rumah ini lagi. Apalgi tanpa seizin aku, dan juga jangan pernah lagi kamu tuh maksa aku buat nikahin teman kamu. Kamu bilang kalau Hana nggak tahu kamu nyuruh aku nikahi dia, tapi kamu nggak lihat gerak-gerik dia yang begitu nempel sama aku dan buat kamu cemburu? Mulai dari dia siapin makanan, dia yang bawain tas aku. itu tanggungjawab kamu, Marwa. Aku selalu nolak karena aku berharap kalau kamu yang lakukan itu sebagai istri sah aku,”


“Maaf, Mas. Waktu itu aku benar-benar kasihan sama dia,”


“Mau kamu kasihan, mau kamu gimanapun juga. Kamu harus cerita sama aku. gunanya suami itu sebagai tempat untuk istri minta pendapat. Jangan kamu anggap aku sebagai orang yang nggak berguna, Marwa. Aku nggak mau kalau kamu tuh sampai kayak gini, aku sayang sama kamu. Aku nggak mau kalau kamu sampai rela aku madu cuman demi teman kamu. Sedangkan aku, nggak bakalan pernah mau untuk nyakitin kamu lagi. Cukup satu kali. Cukup waktu itu aja aku sakitin kamu, nggak ada lagi luka yang harus kamu rasain, Marwa. Sudah cukup kamu menderita. Aku nggak mau lagi kamu seperti itu,”


Dia menganggukkan kepalanya paham dengan ucapan Rey. Suaminya sepertinya sedang dalam keadaan yang sedikit kesal dengan tingkahnya. “Mas marah?”


“Minum obat kamu, Marwa!” Rey beranjak dari tempat duduknya kemudian mengambil obat itu yang diberikan untuk istrinya.


Marwa meminum obat selesai ditegur oleh Rey. “Mas, lebih baik dia bertahan kan demi anak-anaknya, kan?”


Rey menggeleng pelan. “Nggak ada yang lebih baik, Marwa. Menurut kita adalah mereka harus bertahan demi anaknya. Tapi kita nggak tahu apa yang Nita rasakan itu mungkin sudah sangat sakit sampai dia nyerah seperti sekarang ini. Menurut sudut pandang kita itu pasti akan selalu benar, sayang. Sama seperti kita yang selalu anggap rumah tangganya Om Dimas itu baik-baik aja karena Om Dimas orang yang baik. Tapi, kita mana tahu apa yang dirasakan oleh Om Dimas dan juga tante Viona. Kita nggak tahu kalau mereka itu punya masalah. Kita nggak pernah tahu kapan mereka itu punya konflik yang mungkin saja berat. Tapi mereka lebih pandai untuk sembunyikan dari kita. Yang orang lihat adalah luarnya saja, sama halnya orang itu ngelihat siput misalnya. Pasti yang mereka lihat itu cangkangnya dulu. Kalau mereka lihat cangkangnya bagus, pasti mereka ambil. Kalau misalnya cangkangnya hitam, terus jelek dan hidup di air yang kotor. Mana ada orang yang mau ambil terus dimasak. Sama kayak kehidupan. Bukan berarti aku samain siput sama kehidupan manusia. Cuman itu adalah perumpamaan sudut pandang, Marwa. Mereka lihat luarnya saja, Leo apalagi. Kita nggak pernah tahu apa yang mereka rasakan,”


“Mereka ada alasan untuk pisah. Ada alasan juga untuk bertahan ataupun kembali. Mereka kembali karena masih saling sayang. Sama kok kayak mama dan Papa aku juga. Mereka kembali setelah mereka melalui begitu banyak hal. Sekarang ini banyak kok yang iri kenapa sih keluarga aku bahagia terus, tapi mereka nggak pernah lihat apa yang pernah aku jalani sama Mama dan juga Papa. Hidup terpisah dari orang tua itu sangat sakit. Kemudian mereka dengan mudahnya menilai. Kenapa aku larang kamu ngomong lebih baik ini itu?”


Marwa menggeleng pelan. “Nggak tahu, Mas,”


“Alasannya, karena mereka jauh lebih tahu apa yang mereka rasakan, Marwa. Kalau sekarang kita bilang bahwa bertahan jauh lebih baik untuk anak. Nah, sedangkan posisi Nita adalah dia yang sudah lelah dengan semua ini. Dia juga sudah bilang sama aku kalau dia bisa hidupi anak dan juga bisa biayai anaknya sekolah dengan baik,”


“Tetap dengan dukungan suami?”


“Entah mantan suaminya berperan baik atau nggak. Cuman pesan aku ya kita jangan pernah menilai orang lain. Lebih baik dia begini, lebih baik dia begitu. Sedangkan kita nggak pernah tahu kalau sebenarnya mereka itu sedih banget, Marwa. Mereka itu nggak bisa ditebak. Mereka itu nggak bisa kita baca pikirannya. Begini ya, sekalipun orang itu sekolahnya tinggi, bilang kalau mereka paham sama perasaan orang lain. Maaf sekali lagi, aku mungkin hanya senyum kalau ada orang yang jauh lebih tahu dengan diri orang lain. Kadang, perasaan orang itu nggak bisa kita tebak. Ekspresinya bahagia, belum tentu bahagia. Kadang dia sedang menghibur dirinya dengan kebahagiaan yang diciptakan dengan sendirinya. Sama kok kayak kamu yang kasihan sama Hana waktu itu. dia yang hampir saja bunuh diri itu karena dia yang nggak bisa than dirinya. Karena Zibran yang memilih untuk tetap dengan keluarga besarnya dan mengabaikan Hana waktu itu. tapi sekarang kamu lihat sendiri kalau ternyata Hana itu yang merebut Zibran. Atau bisa jadi Zibran yang memang nggak bisa dihentikan dengan cara apa pun. Dia bakalan sadar dengan sendirinya nanti. Mungkin dia menyesal karena telah kehilangan Nita. Ataupun nanti dia bakalan sadar dengan sendirinya,”


“Kok sekarang aku lebih kasihan sama Mbak Nita, Mas,”


“Bukan cuman kamu, sayang. Tapi aku juga, mungkin nanti kalau dia hubungi sekretaris aku, aku bisa kasih dia pekerjaan atau justru dia bisa kerja di tempat kamu. Yang jelas, jangan pernah mengorbankan kebahagiaan kamu demi orang lain. Lihat sekarang bahwa yang kamu bela waktu itu justru salah. Yang kamu anggap nggak baik karena cerita Hana itu justru sangat kebalik dengan kenyataanya. Aku tahu kalau Hana cerita tentang istrinya Zibran yang ini itu. tapi kamu nggak pernah lihat apa yang sebenarnya terjadi. Aku lihat kok chat kamu sama dia, Marwa. Aku lihat kamu tuh ikut nyalahin dia, Mas nggak mau kamu sampai seperti itu lagi. Kamu minta maaf sama dia nanti. Selagi orangnya masih ada, apalagi kamu ikutan bahas Zibran waktu itu,”


Marwa memang sering mendapatkan cerita yang kurang baik mengenai istri pertama Zibran itu dari Hana. Karena dia yang sudah terlanjur percaya dengan temannya. Akhirnya dia mendapatkan teguran dari suaminya langsung bahwa Zibran itu salah dan juga sudah dipastikan bahwa Hana juga salah. Benar seperti yang dikatakan oleh Rey. Bahwa pria peselingkuh itu omongannya sangatlah manis. Dan juga bahwa dia akan mengatakan istrinya itu tidaklah baik. Seperti sekarang ini, kenyataannya adalah pria itulah yang sebenarnya sangat salah.


“Sayang, jadilah diri sendiri untuk sekarang ini. Nggak boleh ikut campur. Apalagi kalau mau berteman silakan. Aku nggak larang, asal jangan pernah ikut campur apalagi sampai ikut ngomongin orang. Aku nggak mau tahu pokoknya. Dosa banget tahu, lebih baik kita hanya mendengar, dibandingkan kita ikut nyerocos seperti itu. kalau kamu hanya mendengarkan semisal diantara empat orang. Ada satu orang yang ngomongin orang lain juga, kamu cukup diam. Jangan ikut nyerocos. Simpan apa yang kamu dengar, apa yang kadang kamu dengar itu memang harusnya dibuang jauh-jauh. Kamu memang berusaha jadi pendengar yang baik untuk teman kamu. Tapi sayangnya kamu salah banget, kamu ikut campur. Yaitu kamu justru tanya ini itu sama aku. aku sudah diam dan pura-pura nggak tahu kalau kamu ini ikut campur.”


Marwa merasa bersalah karena memang ketika Hana cerita apa pun mengenai pria itu. dia ikut campur atau bahkan kadang dia yang ikut memberikan saran kepada Hana untuk meminta pertanggunjawaban Zibran dan sebagainya. Kali ini dia mendengar nasihat dari suaminya yang di mana dia malu dengan sendirianya bahwa apa yang dia lakukan itu memang sangat salah besar. Marwa yang posisinya hanya sebagai pendengar justru ikut campur dengan apa yang dia lakukan. Terkadang dia memang perlu diam diantara masalah orang lain seperti sekarang dia justru sudah terlibat sangat jauh.


“Maafin aku ya, Mas,”


“Minta maafnya sama Nita. Karena kamu sudah omongin dia sama Hana. Kamu harus jujur sama dia kalau kamu itu ngomongin dia. Nggak apa-apa dia maafin kamu atau nggak. Karena itu adalah kesalahan kamu. Intinya kamu sudah berani untuk minta maaf. Masalah kamu dimaafin atau nggak sama dia itu adalah urusan dia. Karena dia yang punya perasaan. Karena aku tahu kalau dia itu pasti sangat sakit hati apa yang kalian lakukan itu adalah hal yang salah,”


“Ya, Mas. Aku bakalan minta maaf sama dia,”


“Minta maaf sama orang yang semasih hidup. Jangan sampai kita itu ngomongin orang yang kita nggak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan. Kita hanya dengar dari satu orang, kita nggak dengar dari orangnya langsung. Jadi nggak bisa kita nilai orang kayak gitu. Aku negur kamu kayak gini itu karena kamu adalah istri aku, Marwa. Ini adalah cara aku ngedidik kamu. Jangan sampai nanti aku dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kamu lakukan. Aku nggak bisa didik kamu dengan baik. Lalu aku gunanya apa coba? Aku bakalan tegur kamu selagi aku bisa,”


Rey tidak pernah sampai seperti ini sebelumnya dalam menegur istrinya. Tapi ini memang sudah keterlaluan bahwa istrinya itu sudah melewati batas dalam urusan orang lain. Dia juga tidak menyangka bahwa setelah dia membaca chat Hana di ponsel istrinya tanpa sepengetahuan istrinya, itu akan menimbulkan kemarahan baginya. “Maaf juga kalau aku marah kayak gini. Aku juga minta maaf karena lancang buka handphone kamu dan justru baca semua chat kamu, Marwa. Dan juga berhenti ngomongin orang, Marwa. Ini masih mending orangnya masih hidup. Kita bisa minta maaf dan sebagainya. Tapi yang masih hidup juga belum tentu maafin kita. Bagaimana kalau seandainya kamu omongin orang yang udah nggak ada? Apa itu nggak dosa besar? Karena kamu nggak bakalan bisa minta maaf sama dia. Mau minta maaf sama siapa coba? Semisal kamu omongin dosa besar dia. Wah dulu semasih hidup dia tuh begini begitu. Jangan sampai kamu termasuk orang yang begitu. Aku ngedidik kamu. Bukan marahin kamu, biar kamu berhenti kayak gitu! Bagaimana kalau orang tua kamu tahu? Pasti dia bakalan marahin aku juga kayak orang nggak bisa didik kamu,”


Marwa menunduk, Rey kemudian menghampiri istrinya dan memeluknya. “Maaf. Biar kamu jera dengan apa yang kamu lakukan itu. aku nggak mau kamu jadi orang yang bermasalah juga. Apalagi nanti kamu bisa terlibat ke dalam hal yang jauh lebih besar dibandingkan ini.”


 


 


Dia akui jika dirinya salah dengan apa yang dilakukannya bersama dengan Hana. Marwa tidak akan pernah lagi melakukannya karena melihat Rey yang marah besar seperti itu sudah membuatnya mengerti bagaimana sebanarnya maksud suaminya yang selama ini mencoba untuk memberinya pendidikan tapi Marwa cuek dengan hal itu.