RICH MAN

RICH MAN
WAKTU TAK MAMPU MENGHAPUS INGATAN ITU



8 Tahun kemudian.


Waktu berlalu begitu saja, segala ingatan tentang masa lalu kadang bisa saja terulang begitu saja tanpa diinginkan.


Di salah satu kafe di pusat kota Jakarta. Rey dan juga calon pengantin yang tengah sibuk mempersiapkan acaranya sedang berjanji untuk bertemu dengannya siang itu.


Pria itu melempar tatap beberapa kali ke arah jam tangannya sambil menunggu orang yang sedang di cari. Alunan musik di kafe itu terbilang sedikit lebih santai akan tetapi memiliki makna yang teramat mendalam. Mengenai seseorang yang sudah mencintai sangat lama tiba-tiba ditinggalkan begitu saja oleh orang yang dicintai.


Rey yang tengah asyik menikmati bacaannya saat itu tentang buku yang kerapkali dia bawa ketika sedang berpergian dan memiliki waktu santai untuk membacanya. Semenjak kejadian di mana dia mengalami patah hati beberapa tahun silam, hatinya sudah enggan untuk terbuka lagi kepada perempuan lain.


"Lo lama ya nungguin kita berdua?" Fendi yang tiba-tiba datang begitu saja langsung duduk dihadapan Reynand beserta Jenny yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Mereka memang pisah sekolah, akan tetapi persahabatan antara ketiganya masih berjalan dengan begitu baik.


Rista, yang dahulu merupakan sahabat baik mereka juga, akan tetapi kini sudah menikah dan ikut suaminya ke luar kota. Mereka hanya bertemu dalam grup chat yang sesekali diramaikan oleh mereka semua. Apalagi sebentar lagi Fendi dan Jenny akan menikah, begitu banyak rintangan yang pernah dilalui oleh sahabat dia yang satu itu.


Tentang restu, tentu saja begitu sulit untuk melanjutkan hubungan keduanya, terlebih karena waktu itu Fendi belum memiliki apa pun. Tetapi dengan keras kepala yang masih begitu terlihat jelas pada pria itu, mengantarkannya pada sebuah kesuksesan yang kini sedang menjalankan beberapa bisnis dan sudah diberikan lampu hijau untuk menikahi Jenny.


Sebagai pria yang hanya memiliki lulusan S1, akan tetapi itu juga mampu membuat Fendi mendirikan sendiri usahanya. Dia adalah pria yang sangat gigih, setiap kali jatuh dan bangunnya juga bersama dengan Jenny. Tidak ada perempuan lain yang meluluhkan hati pria itu. Apalagi saat ini bisa dikatakan dia adalah pria yang sudah cukup sukses di usianya yang masih muda. Yaitu dua puluh enam tahun, Fendi memang lebih tua dari Reynand beberapa bulan.


"Gimana fitting gaun pengantin lo?" tanya Reynand memecah keheningan antara mereka. Keduanya masih sama-sama diam.


Reynand merasa sangat bahagia mendengar kabar bahwa temannya akan segera melangsungkan pernikahan.


"Rey, lo masih seperti dulu?" tanya Fendi dengan sangat hati-hati mungkin saja takut jika Reynand tersinggung. Bagaimana tidak? Bahwa perempuan satu-satunya yang mengacaukan hatinya hingga kini adalah Bintang.


Pria itu menggeleng pelan kemudian mengangguk, Fendi sendiri dapat menyimpulkan bahwa sahabatnya itu masih terjebak dalam ingatan masa lalu. Meski dia tahu sendiri sahabatnya sudah menjabat sebagai seorang direktur muda yang saat ini sudah memiliki usaha di mana-mana. Dengan kegigihan yang selama ini dilakukan oleh Reynand untuk bisa berada diposisi sekarang ini, dia juga tahu bahwa perjalanan Reynand tidak pernah mudah. Meski terlahir dari orang tua yang sangat kaya, tetapi pria itu berusaha dengan sendirinya untuk mencapai itu semua.


Fendi menarik napas sambil melirik ke arah Jenny sejenak. "Rey, sampai kapan lo mau begini terus? Lo lupa sama dia yang udah nyakitin lo? Dan begonya lo masih datang ke taman, lo nungguin siapa? Lo bawa bunga selama 8 tahun, Rey. Lo ke sana setiap tahun, tanpa lo sadari yang lo tunggu itu enggak bakalan pernah datang, buat apa lo itu nungguin dia lagi, sih?"


"Please, gue cuman pengin tahu. Kenapa dia enggak datang waktu gue tungguin, kalau emang ini yang terakhir, gue bakalan berhenti tunggu dia,"


"Kapan lo akan nunggu untuk terakhir kalinya?"


"Masih banyak Bintang yang lain, Rey. Kalau lo emang sayang banget sama dia, minimal lo datangin ke rumahnya,"


"Rumah yang dia tempati dulu udah di tempati sama orang lain. Kabar dia yang menghilang itu yang bikin gue penasaran, apalagi dia yang bilang bakalan ketemu tiap tahun di taman, di mana gue dan dia itu menghabiskan waktu, seharusnya kan begitu,"


Ia hanya ingin bertemu dengan Bintang sebagai perpisahan. Entah pikiran apa yang sudah menggerogoti pikiran pria itu hingga keras kepala tak ingin membuka hati pada perempuan lain. Justru menunggu hati yang dulu untuk kembali lagi.


Kadang Fendi juga merasa kasihan dengan apa yang dilakukan oleh Reynand. Melihat temannya dengan keadaan yang tidak baik itu, kadang Fendi tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dia tahu bahwa Rey akan dipindahkan ke pondok waktu itu. Tetapi sepeninggalnya, Bintang juga tidak melanjutkan sekolah di sekolah lama mereka. Keduanya sama-sama sedang berusaha mengasingkan diri tanpa teman-temannya ketahui.


Hilangnya Bintang menjadi suatu tanda tanya bagi mereka. Hal itu pula yang membuat Rey hingga saat ini masih penasaran dengan perempuan itu.


"Mending lo sama Widya, udah nungguin lama banget dia,"


"Enggak, yang ada Mama gue itu enggak setuju," tukas Reynand sambil menutup buku yang sedang dibaca tadi dan menaruhnya di dekat minuman yang sudah tersaji di sana.


Sorot mata beberapa pengunjung tertuju pada mereka bertiga. Bagaimana tidak, Fendi tertawa begitu keras saat Rey menceritakan bagaimana dia berusaha untuk mendekati Widya tetapi perempuan itu justru mendekatinya dengan cara yang keterlaluan. Apalagi dia bukan pria yang suka dengan perempuan berpenampilan seksi seperti kebanyakan orang. Memang tidak ingin munafik, akan tetapi dia tidak ingin jika melihat lekuk tubuh perempuan terpampang jelas untuk dirinya. Karena dia sadar bahwa dia belum berhak untuk itu. Bahkan di kantornya sendiri, Reynand selalu meminta karyawati untuk berpakaian sopan dan tidak mengenakan rok mini.


"Gue lama-lama jodohin juga lo, Rey,"


"Kampret, kayak enggak laku aja gue mau dijodohin,"


"Bukan enggak laku. Tapi lo itu lagi CLBK,"


"Siapa bilang. Gue enggak CLBK, kok,"


Fendi tertawa dan membuat Jenny mencubit pinggulnya dengan sangat keras. "Cinta Lama Belum Kelar, Rey," ledek Fendi. Rey *** tisu dan langsung melemparnya ke arah Fendi hingga membuat pria itu tertawa lagi.


Jenny juga sebenarnya merasa sangat kasihan kepada sahabatnya itu, dia juga tidak tahu keberadaan Bintang di mana hingga membuat luka lama itu bersarang begitu abadi dalam hati Reynand. Barangkali nanti perempuan itu datang kembali dengan alasan yang bermacam-macam. Tapi Jenny telah berjanji pada dirinya sendiri, jika Bintang datang lagi. Dia hanya ingin tahu apa alasan dia kembali lagi. Bukankah seseorang pergi itu memiliki alasan? Kemudian, mengapa harus kembali saat seseorang berusaha untuk melupakannya.