
"Rey lagi gambar apa?"
Nagita menghampiri Reynand yang sedang berada di meja belajarnya. Usia kandungan Nagita sudah menginjak usia yang ke lima bulan. Perutnya pun sudah nampak dan seringkali Teddy bersikap berlebihan padanya dan tidak memperbolehkannya melakukan pekerjaan rumah lainnya.
"Ma, bentar lagi aku punya adik, apa Mama bakalam tetap sayang sama aku?"
Mendengar kata itu, Nagita memeluk anaknya dan mencium kepala Reynand. "Sayang, mau punya adik berapa pun, Mama bakalan tetap sayang sama Rey,"
"Papa?"
"Pasti tetap sayang,"
"Teman-teman aku bilang gitu, tapi kalau udah punya adik pasti beda lagi rasanya dan kasih sayan Mama pasti juga bakalan beda nanti apalagi Papa,"
"Ssst, jangan pikir yang macam-macam. Mama sayang Rey kok. Nanti kan kalau punya adik, Mama bisa minta tolong sama Rey buat jagain adik. Rey mau?"
Perempuan itu meraih buku gambar yang ada di atas meja dan melihat gambar yang mungkin adalah isi hati anaknya. Tadi, Rey izin untuk ke kamar mandi. Menemukan gambar seorang dua pria berdiri, satu perempuan dan anak laki-laki dan anak perempuan. Pria yang satunya menyendiri dan yang lainnya bergandengan tangan.
Mendengar pintu kamar mandi dibuka. Nagita langsung meletakkan buku gambar tersebut ke tempat asalnya.
"Mama, Rey mau tinggal sama Daddy,"
Nagita terdiam. Beberapa waktu lalu Rey tinggal bersama dengan Azka saat Syakila meninggal. Niatnya memberikan anaknya menemani Azka. Tetapi kini, Rey ingin pergi dari hidupnya. Mendengar perkataan Rey tadi, Nagita beranjak dari tempat duduknya dan duduk di kasur. Rey menyusulnya dan memeluknya.
"Kenapa nangis?"
"Pengin tinggal sama, Daddy,"
"Papa kurang apa sama, Rey?"
"Nggak ada. Tapi kangen sama Daddy,"
"Rey pengin tinggal sama Daddy?"
Reynand mengangguk. Nagita membalas pelukan anaknya dan melepasnya lagi begitu saja. "Yakin?" Ucapnya memastikan.
"Aku yakin, Ma,"
"Bagaimana sama, Mama?"
"Aku pengin Mama dan Dad-"ucapannya menggantung. Nagita mengangguk pelan berusaha menunggu Reynand melanjutkan ucapannya.
"Kenapa sayang?"
"Nggak ada, Ma,"
"Ayo makan malam dulu sayang!"
"Papa belum pulang?"
"Belum, Papa pulangnya agak larut sayang. Sekarang kita makan berdua dulu ya, nanti Papa nyusul,"
Reynand mengangguk, Nagita mengusap air mata anaknya dan langsung mengajak anak itu untuk turun ke ruang makan. Di sana sudah tersaji udang saus pedas kesukaan anaknya. Tahu jika ada sesuatu terjadi dengan anaknya karena beberapa hari terakhir Nagita memperhatikan Reynand begitu berbeda. Pun begitu dengan suaminya. Teddy yang sudah sangat jarang mengantar Rey sekolah dan selalu meminta sopir mengantar Rey.
"Makan yang banyak, sayang!"
"Pasti, Ma." Anak itu menyeringai dan makan begitu lahap. Ia tersenyum melihat anaknya kembali ceria lagi. Jika menanyakan perihal sikap Teddy yang tiba-tiba saja dingin kepada Rey, tak mungkin baginya untuk bertanya. Sebab takut menyinggung perasaan Teddy yang barangkali sedang kelelahan atau memang tak ingin banyak bicara akhir-akhir ini.
Selesai makan malam, Nagita mengajak Rey untuk ke ruang tamu dan bercerita banyak hal.
"Mama, boleh ya?"
"Kenapa pengin banget tinggal sama Daddy?"
"Karena Daddy nggak punya siapa-siapa, Ma,"
"Rey, Mama sayang sama Reynand. Apa harus tinggal sama Daddy?"
"Ma, Mama pasti bahagia dengan kehidupan Mama yang baru tanpa aku. Ada adik yang bakalan lengkapi keluarga Mama dan Papa. Rey tahu di sini cuman jadi beban buat Mama, dan Papa. Papa mulai bersikap tidak peduli, dulu setiap kali Rey juara kelas, Papa selalu bangga dan ngerayain, sekarang Papa bahkan selalu bilang 'masuk kamar sana!' Gitu, Ma," jelas Rey.
Reynand menyinggungkan senyum saat berusaha menjelaskan apa yang telah ia lihat beberapa hari terakhir. Memang kehidupan Nagita akan bahagia karena kehadiran buah hati. Akan tetapi ucapan Rey tadi bukan berarti itu adalah hal yang membuatnya bahagia karena tidak ada anak itu lagi nantinya di rumah. Ia sangat menyayangkan tingkah Rey yang ngotot untuk tinggal bersama dengan Azka.
Nagita mengajak anaknya kembali ke kamar dan menemani anaknya mengerjakan PR. Sambil menunggu Teddy pulang bekerja. Ia juga ingin menemani Rey untuk tidur bersama. Selama menikah, sama sekali Nagita tak pernah tidur bersama lagi dengan Reynand.
"Ma, tidur sama aku malam ini ya? Pengin di peluk, Mama,"
"Tidur sayang! Mama temani,"
"Mama tidur di sini juga tapi?"
"Hmm, nanti kita lihat sayang. Nanti Papa nyariin,"
Nagita yang tadi dengan posisi memeluk Rey saat tertidur. Anak itu melepaskan pelukannya dan menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Nagita merasa anaknya sedang merajuk karena kurang mendapat perhatian darinya.
"Anak Mama kenapa?"
Tak ada jawaban. Justru saat ia ingin membuka selimut, Rey langsung mengeratkan tarikan selimut tersebut. Perlahan ia mencoba mengelus kepala anaknya.
"Rey, Mama tetap sayang sama Rey. Pengin tidur juga sama anak Mama. Ya sudah Mama tidur di sini malam ini,"
Nagita baru saja hendak berbaring di samping anaknya, Reynand tak membuka penutup kepalanya dan menendang asal. Jika itu adalah bentuk kemarahan, maka Nagita harus bersiap menerimanya. Perutnya tak sengaja ditendang oleh Rey hingga ia meringis kesakitan.
"Akh, Rey,"
Tendangan Rey cukup kencang. Nagita terus memgangi perutnya. "Perut Mama sakit,"
Reynand langsung membuka penutup kepalanya dan mendekati Nagita. "Mama, Ma, maafin aku, Ma,"
"Sakit Rey,"
"Mama, aku nggak sengaja,"
Meski begitu kesakitan, tak mungkin baginya untuk memarahi Rey karena memang itu adalah hal yang tak disengaja. Tak ingin membesarkan masalah karena takut jika suatu waktu Teddy pulang mendadak dan melihat keadaannya. "Sst, jangan berisik. Jangan bilang sama Papa kalau Rey nendang perut, Mama!" Anak itu mengangguk. Untuk menghilangkan rasa sakitnya, ia berusaha berbaring dan memeluk tubuh Rey sembari terus merapalkan doa agar janinnya baik-baik saja.
Nagita menghela napas panjang, merapikan rambut anaknya yang tadinya berantakan. Senyum Rey yang beberapa hari ini padam dan tak pernah ia lihat lagi. Jujur, Nagita tak tahu apabyang terjadi pada putranya sendiri. Anak itu memejamkan matanya, Nagita mencium kening Reynand berkali-kali dengan sayang.
"Ma!"
"Kenapa sayang? Ayo tidur!"
"Aku boleh jujur?"
"Iya sayang, Rey mau ngomong apa?"
Anak itu menggigit bibir bawahnya dan nampak seperti orang yang takut bicara. "Mama nggak bakalan marah kan?"
"Mama nggak bakalan marah, Rey mau ngomong apa?"
"Aku pengin Mama dan Daddy balik, maaf, Ma."
Nagita terkejut dengan pernyataan Reynand dan anak itu tiba-tiba meneteskan air mata. Tak disangka bahwa Rey mengatakan hal itu.
"Kenapa Rey bilang gitu?"
"Sejahat apa pun, Daddy mukulin Mama. Daddy yang paling sayang sama Mama, Daddy yang tulus sayang sama Rey. Maafin aku Ma, aku pengin tidur dipeluk Daddy tiap malam. Tidur nyenyak dipelukan Mama dan Daddy kayak dulu," Reynand menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Tetapi mendengar isakan Rey yang ditahan, Nagita merengkuh tubuh Rey ke dalam pelukannya.
"Nangis sayang, nggak apa-apa nangis dipelukan Mama!"
Nagita yang tak kalah sedihnya mendengar ucapan anaknya pun tak bisa membendung air matanya lagi. Tetapi ia berusaha tak menampakkan kesedihannya di depan Rey lagi.
"Aku kangen Papa yang nemenin belajar, nemenin main. Semenjak Mama hamil, Papa tak pernah peduli lagi sama aku, Ma,"
"Huuush sayang, Papa juga sayang sama Rey,"
"Ma boleh ya?"
"Ngapain sayang?"
"Rey tinggal sama, Daddy. Aku janji nggak bakalan nakal lagi di sana, Ma. Bakalan sering kunjungi Mama dan juga Papa nantinya. Tiap minggu Rey bakalan kemari,"
"Rey, Mama boleh tanya?"
"Apa Ma?"
"Rey kenapa setuju Mama dan Papa nikah dulu? Kalau ternyata Rey seperti sekarang?"
"Maafin Mama sayang. Mama janji bakalan selalu ada untuk Rey,"
Reynand menggeleng. Anak itu melepaskan pelukannya. Sesegera mungkin Nagita menyeka air matanya dan menatap Rey lekat.
"Kenapa sayang?"
"Aku cuman mau izin untuk tinggal sama Daddy. Aku janji bakalan tetap sayang sama Mama. Tapi aku pengin tinggal sama Daddy,"
"Nginep satu minggu ya?"
Reynand menggeleng, "seterusnya, Ma,"
"Rey?" Ucap Nagita lirih. "Rey tahu gimana usaha Mama buat kabur dari Daddy?"
"Rey masih kecil, Ma. Rey nggak tahu apa-apa tentang hidup Mama dan Daddy, tapi yang mau Rey bilang cuman itu. Rey pengin tinggal sama Daddy, Mama bentar lagi bakalan punya anak baru, Rey nggak apa-apa, Ma,"
"Rey bakalan tetap tinggal sama, Mama,"
"Gimana kalau Mama ninggalin Papa? Kita pergi dari rumah. Pulang ke rumah Om Dimas,"
Nagita menggeleng. "Mama nggak bisa,"
"Kenapa?"
"Rey, nanti kalau udah besar Rey bakalan paham."
Anak itu mengangguk dan membelakangi dirinya. Mendengar suara deru napas Reynand yang sudah tenang. Nagita beranjak dari tempat tidur Reynand dan langsung meninggalkan kamar tersebut.
Di kamar, setelah mamanya pergi. Reynand menggigit selimutnya menahan tangisnya. Ingin sekali ia pulang dan berkumpul lagi. Anak seusianya tidak seharusnya mendapatkan perlakuan seperti itu dari kedua orang tuanya. Ia menangis tanpa mengeluarkan suara. Itu adalah hal yang tidak baik bagi Rey karena keadaan psikologisnya bisa memburuk nantinya.
Mendengar sebuah mobil masuk ke halaman rumahnya. Reynand langsung berdiri di dekat tangga. Melihat mamanya yang menyambut kedatangan Teddy dengan begitu manis. Sungguh Rey lebih suka Azka yang memeluk Nagita ketika pulang bekerja.
Tatapan Teddy mengarah padanya, ia sudah tidak tahan lagi diabaikan begitu saja oleh Teddy.
"Kita duduk bentar, Nagita!"
Teddy menolehkan pandangan darinya. Reynand ingin sekali dipanggil walau hanya satu kali. Mereka bertemu mata, tetapi rasanya dia begitu asing di keluarganya sendiri.
*****
Keesokan paginya, Nagita menyiapkan bekal dan sarapan untuk keduanya. Masih dengan hal yang sama. Teddy berubah begitu saja tak menyapa Reynand. Sama dengan anak itu yang tiba-tiba tak pernah ceria jika bertemu dengan Teddy.
"Ma, Rey berangkat ya,"
"Bekalnya sayang,"
"Iya Ma. Terima kasih, Ma. Rey berangkat ya,"
Nagita mengangguk. Teddy menghampirinya di ruang makan. Nagita menyiapkan kopi untuk Teddy. "Mas?"
"Kenapa sayang?"
"Ada apa dengan Rey?"
"Ada apa gimana?"
"Kamu marah sama dia?"
"Nggak,"
"Terus?"
"Nggak ada,"
"Kamu cuekin dia akhir-akhir ini,"
"Aku cuman capek,"
"Ini sudah seminggu sikap kamu berubah, Mas,"
"Berubah gimana? Perasaanmu aja kali,"
"Nggak, memang berubah kok sikap kamu, Mas,"
"Nagita, aku cuman capek. Aku malas bahas hal begituan, mending kamu siapkan untuk sarapanku,"
"Mas, aku cuman pengin tahu. Apa kamu nggak suka Rey di sini?"
"Nggak kok,"
"Jujur!"
"Aku bilang nggak ya nggak. Aku nggak pernah bilang kalau aku nggak suka dia tinggal di sini. Entah dia mau tinggal di sini, aku tak pernah mempermasalahkannya, Nagita,"
"Aku cuman pengin tahu alasan kamu bersikap dingin sama dia. Apa kamu bersikap manis cuman depan aku?"
"Aku nggak suka namaku buruk karena Rey,"
"Maksudnya apa?"
"Kamu hamil di luar nikah karena Azka, dan Rey selalu dibahas. Orang bilang 'Ted itu anak kamu? Yang benar saja, itu anak lahir di luar nikah' aku bahkan bilang kalau Rey bukan anak aku,"
"Kamu malu?"
"Tentu,"
Nagita menunduk. Ia tak berkata apa pun. Tak pernah terlintas di benak Nagita bahwa Teddy akan malu mengakui Reynand sebagai anak.
"Rey pengin tinggal sama Daddy."
Perkataan itu terus terngiang di kepala Nagita. Itukah alasan Reynand untuk tinggal bersama dengan Azka karena sikap Teddy yang sangat keterlaluan. Tapi ia tak bisa menyalahkannya, itu memang kenyataannya yang sungguh terjadi.
Awalnya Nagita pikir itu adalah perasaan Rey saja. Tapi semenjak ia tahu bahwa Teddy benar-benar berubah. Nagita tak habis pikir jika itu akan mengacuakan semuanya. Reynand memang bukan anak yang lahir dalam ikatan rumah tangga. Suatu kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu. Jika sudah begini, Nagita bingung harus berkata apa. Apalagi kini dengan jelas Teddy mengatakan hal itu. Pria yang harusnya melindungi keluarganya, justru menyakiti perasaan Reynand.
"Nagita?"
"Hmm?"
"Kamu melamun? Kamu nggak boleh stress. Nanti bayi kamu ikutan stress,"
Bayi lagi bayi lagi. Sudah bosan Nagita diperingatkan jika itu menyangkut bayinya. Sudah berapa kali Teddy lebih perhatian kepada bayinya dibandingkan dengan dirinya. Nagita merasakan hal yang begitu sakit saat mendengar pernyataan Teddy yang seperti itu.
"Mas,"
"Kenapa?"
"Kalau aku minta pisah gimana?"
Nagita menundukkan kepalanya. Tak terasa air matanya menetes, ia mencintai Teddy. Tetapi melihat Reynand diperlakukan seperti itu membuatnya sakit hati.
"Maksud kamu apa?"
"Cerai,"
"Ingat kamu hamil anak aku. Apa alasan kamu pengin pisah?"
"Nggak ada,"
"Apa ini karena Rey?"
Nagita menggeleng. Mencari pembelaan atas dasar keinginannya untuk berpisah. Sungguh Nagita sangat sedih saat Reynand menjadi dampak buruk bagi Teddy. Jika ia tahu bahwa dulu Teddy tak menerima Reynand karena statusnya yang hadir diluar pernikahan. Nagita lebih memilih untuk sendiri dibandingkan harus seperti ini. Sedangkan saat ini ia sedang berbadan dua dan itu adalah milik Teddy.
"Mas?"
"Apalagi?"
"Teman-teman kamu bilang apa soal, Rey?"
"Mereka cuman bilang kalau Rey kenapa harus aku yang rawat? Dia jelas-jelas punya Papa sendiri dan lagi ya, Nagita kamu desaigner terkenal. Apa nggak malu kamu jika ditanya perihal Rey? Semua orang tahu Azka, terus aku juga yang malu karena nikahi bekas dia. Udahlah kasih Azka aja!"
Nagita berlalu meninggalkan Teddy di ruang tamu. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah membiarkan Rey dengan Azka. Agar anak itu tak banyak beban pikiran lagi. Untuk soal ini, ia tak akan izin pada Teddy untuk menemui Azka diam-diam.