
Setibanya di rumah mertua, ia disambut oleh kedua mertuanya dan melihat istrinya yang langsung berhamburan ke pelukan mamanya membuat Rey merasa bersalah karena tidak pernah mengajak istrinya pulang selama ngidam. Bahkan di sana istrinya menangis saking merindunya kepada kedua orang tua.
Rey yang diajak masuk oleh papa mertuanya pun merasa sedikit merasa bersalah karena tidak pernah membawa Marwa pulang hingga istrinya seperti itu.
“Udah sayang jangan nangis!” ucap mama mertuanya sambil menenangkan Marwa.
Kali pertama dia melihat istrinya menangis karena bertemu dengan orang tua kandung. Banyak hal yang telah terjadi di dalam rumah tangga mereka. Cobaan saat mereka baru saja menikah, hingga akhirnya kini Marwa hamil dan tidak bisa berpergian jauh karena masa ngidamnya yang membuat Marwa tersiksa.
Sekarang ia merasa jauh lebih lega saat membawa Marwa pulang ke rumah. “Rey sibuk banget ya sampai istri nangis gini pertama kali pulang semenjak hamil,” sindir mama mertuanya. Rey menyeringai dan tidak bisa lagi berkata apa-apa.
“Maaf ya, Ma,”
“Lain kali sering-sering pulang! Mama kangen sama anak Mama satu-satunya. Kayak kamu nggak ngerti aja Rey sampai Mama sama Papa kamu samperin ke rumah orang tua kamu,”
“Aku usahakan nggak bakalan seperti sekarang ini, Ma. Karena sekarang juga mepet banget kan ya, mendadak mau pindah sama Marwa. Aku sama Marwa nginapnya malam ini aja,”
“Loh bukannya kalian tinggal di rumah orang tua dulu?”
“Nggak Ma. Rey udah beli rumah kok, tadi pagi sampai siang kami berdua ke sana buat lihat sampai tahap mana mereka bersihinnya. Besok mulai deh tuh dipindahin barang-barangnya. Sebenarnya udah mulai dipindahin, Ma. Tapi nggak mungkin selesai satu hari, kan,”
Mama mertuanya mengangguk pelan. “Tapi, Rey. Bukannya Mama suruh kamu ajak orang tua kamu buat makan malam?”
Rey menepuk jidatnya karena dia lupa orang tuanya juga harus datang. “Mereka datang nanti malam, Ma. Papa masih belum pulang. Di rumah juga tadi anak keponakannya Mama Gita berkunjung.
“Memangnya Mama ngomong gitu?” tanya Rey. Dia memang ingat sudah memberitahu kedua orang tuanya. Tapi tentang kepastian kapan mereka akan datang belum bisa dipastikan.
“Sebelum berangkat dan setelah Erlangga pulang tadi Mama bilang mau nungguin Papa. Terus datangnya malam katanya,”
Rey tersenyum pasalnya dia datang sebelum magrib. Jarak rumah mertuanya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Akan tetapi Rey yang malu berkumpul bersama dengan mertuanya karena kejadian dulu.
Dulu, dia tidak pernah bertemu dengan orang tau Marwa sekalipun. Sembilan tahun lalu, adalah masa di mana semuanya di mulai. Tidak pernah menyangka bahwa dia akan bertemu lagi dengan cinta pertamanya dan mempersunting perempuan itu menjadi istrinya. Penantian yang cukup rumit, ketika Rey harus menunggu dalam jangka waktu yang lama.
Mereka tidak pernah bisa bersama. Bukan karena tidak mau, tapi karena ada hal yang harus dilakukan terlebih dahulu mengenai masa depan mereka masing-masing. Tuhan telah menakdirkan mereka bertemu dalam satu ikatan pernikahan yang tidak pernah disangka-sangka. Rey menerima permintaan orang tuanya untuk segera menikah karena takut jika dia lari dalam hal-hal yang tidak baik.
Setelah perpisahan yang dialami, satu persatu mimpi Rey terwujud dan kemudian tetap kembali pada masa-masa kesepian yang di mana dia harus merelakan cintanya dahulu.
Tidak pernah menjadi impian Rey adalah menikahi perempuan asing yang sama sekali tidak diketahui olehnya. Begitupun dengan Marwa yang dia minta untuk menceritakan bagaimana dengan gagahnya kedua orang tua Rey datang meminta Marwa untuk menjadi istrinya. Dan di sana Marwa sempat menangis dan tidka tahu lagi tentang perasaannya yang kacau karena dilamar oleh pria asing yang bahkan tidak pernah diketahuinya sama sekali.
Rey mengangguk pelan, dia hanya mendengar ucapan itu. Padahal sedari tadi gelak tawa mertuanya itu terdengar begitu jelas. Akan tetapi Rey tidak tahu apa yang menjadi sumber pembicaraan ketiganya.
Setelah beberapa menit mengobrol, adzan magrib pun berkumandang. “Sholat dulu! Setelah itu kita tunggu mertua kamu ya sayang!” ucap mertuanya kepada Marwa. Rey yang di sana hanya sedikit bicara. Barangkali karena sudah lama tidak pulang mertuanya lebih condong kepada Marwa.
“Rey jadi imam!”
Rey tersentak mendengar perintah papa mertunya. Jika hanya mengimami Marwa barangkali Rey sudah terbiasa. Apalagi menjadi imam di rumahnya. Tetapi kini mertuanya justru menyuruhnya menajdi imam di rumahnya. Rey menatap istrinya kemudian perempuan itu mengangguk sebagai persetujuan bahwa Rey harus menuruti permintaan mertunya.
Kemudian dia mengambil air wudhu dan langsung menurut begitu saja.
Marwa senang ketika suaminya mau menjadi imam. Itu artinya dia bisa membuktikan kepada orang tuanya bahwa Rey memang imam yang baik untuknya. Selesai sholat justru Rey berdoa dan selepas itu bersalaman. “Nggak salah ya waktu itu Om kamu datang tiba-tibat minta Marwa jadi istri anak sebaik kamu, Rey,” celetuk papa mertuanya.
Pria itu merasa malu jika disanjung seperti itu oleh papa mertuanya. Rey tidak haus akan pujian, karena dia tetap saja merasa kurang jika dibandingkan dengan orang-orang di luar sana. “Papa bisa aja,”
“Rey, jaga anak satu-satunya milik Papa ya! Karena kalau Papa sama Mama udah nggak ada, satu-satunya yang akan menjadi tempat dia berpulang itu cuman kamu. Setelah kamu menikahinya, tanggung jawab Papa berpindah sama kamu. Bukan berarti hubungan anak sama orang tuanya terputus, akan tetapi dia jauh lebih berhak sama kamu, beda halnya sama kamu yang masih harus taat sama Mama kamu. Surga Marwa berpindah sama kamu, tapi surga kamu tetap sama Mama kamu, Nak,”
Mendengar ucapan papa mertuanya dia sadar bahwa selama ini ia memang berhak atas Marwa. Tidak untuk memisahkan keduanya, Rey sendiri malu karena sudah lama tidak pulang seperti yang dikatakan oleh papanya.
Hampir pukul tujuh malam, mereka berbincang dan pada akhirnya suara bel berbunyi dan mama mertuanya bergegas membukakan pintu yang barangkali itu adalah orang tua Rey di sana sudah datang untuk memenuhi undangan besannya.
“Ya sudah ayo ke meja makan!” ajak mertuanya dan Marwa yang lebih dulu meninggalkan mushola kecil yang ada di dalam rumah itu.
Rey beranjak dari tempat duduknya dan merapikan tempat sholatnya tadi dan ikut bergabung bersama dengan mertuanya. Baru saja dia keluar dari sana dan benar bahwa yang datang itu adalah kedua orang tua bersama dengan adiknya yang memenuhi undangan makan malam dari keluarga istrinya.
Mereka sudah lebih dulus saling kenal dibandingkan Rey yang mengenal mertuanya sendiri. Apalagi perihal istrinya dulu, orang tuanya sudah lebih dulu mengetahui itu semua.