RICH MAN

RICH MAN
PENEMAN TERBAIK



Di kediaman sang oma. Dimas melihat begitu baiknya kekompakan keluarga itu. Mereka berkumpul di kala Rey sakit, beberapa hari semenjak mengetahui tentang Marwa adalah Bintang. Pria itu tinggal di sana.


Azka dan Nagita juga nampak khawatir dengan kondisi Rey yang sudah jarang sekali makan karena mencari keberadaan istrinya.


"Kak, Marwa enggak ikut?" bisik Nagita yang mendekati kakaknya ketika baru datang.


"Dia enggak mau ikut, aku ke sini mau jemput Clara. Mau nyuruh dia nemenin Marwa beberapa hari. Dia mau pergi sementara waktu untuk menenangkan pikiran dia. Jadi jangan dipaksa untuk ketemu, Rey,"


"Tapi Rey sekarang di infus loh di atas,"


"Marwa pingsan beberapa kali di rumah. Kakak enggak tega kalau dia tiba-tiba ketemu Rey dan kaget. Biarin aja dulu,"


"Enggak kasihan sama Rey?"


Dimas menarik napas panjang dan menarik tangan Nagita agar menjauh dari keluarga yang sedang berkumpul itu. Azka menatap istri dan iparnya dengan tatapan yang curiga karena gerak-gerik mereka sangat tidak normal.


"Marwa jauh lebih parah dari, Rey. Dia sudah beberapa kali ini aku bawa ke klinik kalau sesak. Mau tanggung jawab kalau dia kaget ketemu sama, Rey? Kakak sudah enggak tahu lagi mau seperti apa kalau dia sudah kumat, Nagita. Itu mungkin jauh lebih sakit dibandingkan Rey yang terbaring di kamarnya sekarang ini,"


Nagita mendengar itu juga merasa sangat khawatir tentang Marwa. Pasalnya beberapa hari yang lalu Dimas membawa semua barang-barang yang dimiliki oleh Rey yang dulu pernah disimpannya.


"Clara mana?"


"Ada di kamarnya, Rey. Tadi dia minta ditemani sama Clara,"


"Aku izin ke kamar Rey,"


Nagita pamit kepada keluarga besarnya dan mengantarkan Dimas ke dalam kamar yang ditempati oleh Rey selama berada di rumah sang oma.


Pintu perlahan di buka oleh Nagita. Mereka berdua masuk ke dalam kamar Rey dan menemukan pria itu di infus di rumah. Tidak ingin ke rumah sakit karena Rey sangat sulit dibujuk.


"Lemah banget, gitu aja sakit," ledek Dimas.


Rey yang lemas berada di atas ranjang berusaha untuk bangun, Nagita membantu anaknya untuk bersandar.


"Marwa mana, Om? Udah ketemu?"


"Yang harus ketemu sama Marwa itu kamu. Bukan Om,"


"Maksudnya?"


"Iya, kalau kamu mau ketemu sama dia, ya udah kamu harus sembuh dulu,"


"Marwa sama, Om?"


Dimas menggeleng, tidak ingin bahwa keponakannya tahu mengenai perempuan itu saat ini. Biarlah Rey istirahat untuk memulihkan tenaganya karena lusa adalah waktu di mana mereka akan bertemu di taman.


Pemicu utama Rey jatuh sakit karena tidak pernah istirahat, apalagi mengingat tentang makan, demi mencari Marwa dan meminta maaf atas apa yang dilakukan selama ini sepertinya sudah sangat keterlaluan hingga membuat perempuan itu terluka, ada rasa sakit tersendiri ketika Rey mengingat ucapannya terakhir kali sebelum Marwa pergi. Yaitu ketika dia hendak menceraikan Marwa hanya karena Bintang yang tiba-tiba hadir di dalam hidupnya.


"Aku masih penasaran sama orang yang ngirim foto itu, Om,"


"Jangan pikirkan itu! Nanti kalau kamu sudah ketemu sama Marwa. Baru kamu cari deh tuh orang, jangan lagi mikirnya berat-berat. Ingat kondisi kamu, jangan dipaksain kalau memang belum sepenuhnya pulih,"


Rey terdiam. Bibirnya pucat karena hatinya begitu nyeri, beberapa kenangan yang pernah terlewatkan begitu saja dengan Marwa ternyata berharga. Mereka memang beberapa kali bertengkar, mulai dari kue rasa greentea yang waktu itu membuat Rey murka. Namun, kali ini dia ingat dengan baik bahwa tidak salah lagi bahwa perempuan yang sangat menyukai greentea itu memanglah Bintang, tautan hatinya yang pernah hilang dulu.


"Ya sudah, Om masih banyak kerjaan. Jadi Om pamit dulu,"


Rey mengangguk pelan dan bersalaman pada pria yang sudah merawatnya dengan sangat baik dulu.


"Clara, antarin Om Dimas ke Om Azka ya!" perintah Nagita dan dibalas dengan anggukkan dan mereka berdua keluar dari kamar Rey.


"Clara, sebenarnya niat Om ke sini itu mau jemput kamu,"


"Jemput aku, untuk?"


"Temani Kak Marwa beberapa hari saja di hotel,"


Clara terkejut dengan ucapan Om Dimas. Selama beberapa hari ini Rey mencari keberadaan Marwa yang ternyata di sembunyikan oleh Dimas.


"Jadi?"


Perempuan muda yang usianya tidak jauh beda dari Erlangga itu seperti kebingungan.


"Kenapa?" tanya Azka.


"Kenapa apanya?" ucap Dimas balik bertanya.


"Tadi bisik-bisik sama Nagita, kalian omongin apa?" tanya Azka berusaha mencari tahu karena tidak ingin ketinggalan berita penting dari iparnya mengenai Marwa.


Dimas duduk di ruang keluarga. Di sana mereka sedang berkumpul, kecuali Leo dan juga istrinya yang sedang pergi ke dokter kandungan memeriksakan kandungan Amanda.


"Ada apa, Dimas? Enggak ada apa-apa kan sama, Marwa?"


Semua orang melirik ke arah Azka dan Dimas bergiliran. "Sekarang apalagi yang kalian rahasiakan?" bentak Mamanya.


"Ma, tenang dulu! Aku enggak ada rahasia apa-apa. Marwa sebenarnya ada di rumah Dimas. Dia berusaha untuk memulihkan ingatannya,"


"Azka, jangan egois. Pikirkan anak kamu, bagaimana dia mencintai Marwa dengan sangat. Lihat kondisi Rey sekali saja!"


"Tante, keadaan Marwa jauh lebih parah dibandingkan dengan keadaan Rey yang sekarang ini. Marwa di sana sedang berusaha untuk memulihkan ingatan dia. Aku sudah ajak dia kemari, tapi dia bilang masih belum ada keberanian untuk ketemu sama, Rey,"


"Marwa sudah ingat semuanya?"


Dimas menggeleng pelan, "Belum. Dia beberapa kali jatuh pingsan kalau memaksakan diri mengingat semua itu. Terlebih ketika Marwa ingat kejadian-kejadian sama, Rey. Dia sesak dan bakalan pingsan, itulah kenapa selama berada di rumah, Viona selalu nemenin dia. Dia juga menderita karena ini, Tante. Tapi aku mohon, kasih mereka waktu sebentar saja untuk saling menerima satu sama lain, Rey juga harus nerima Marwa. Bukan sebagai Bintang, melainkan sebagai Marwa,"


"Tante pengin ketemu dia,"


"Tante, beri waktu beberapa hari saja. Maksud aku datang ke sini itu minta Clara untuk tinggal beberapa hari sama Marwa di hotel, karena dia minta izin pergi beberapa hari. Aku enggak setuju karena keadaan dia itu, tante. Maka dari itu, aku saranin Clara buat pergi sama dia,"


Naura melirik ke arah putrinya. "Clara, pergi ya!" pintanya. Putrinya pun mengangguk pelan. "Jangan pernah merasa terpaksa untuk bantu kakak Rey. Kamu sudah sayang banget sama dia, kan? Jadi tolong kali ini jangan nolak! Mama pengin lihat kakak kamu bahagia, sudah banyak derita yang dia rasakan sejak kecil, Clara. Mama enggak mau lihat dia sedih lagi, kapan dia bisa bahagia kalau dia selalu saja sedih? Apa pun yang dikatakan sama Om Dimas mengenai kak Marwa, tolong diingat dengan baik!"


"Iya, Ma,"


"Ke kamar gih! Bawa barang-barang kamu, jangan berpikir kalau Mama usir kamu, ya. Mama pengin kamu bantu kakak sepupu kamu sekarang,"


Naura yang merasa iba dengan keadaan Marwa hanya melalui cerita Dimas.


"Mama percaya sama, Clara,"


"Jaga diri baik-baik! Apa pun yang kalian butuhkan, telepon Papa!" timpal Reno.


Azka dan Nagita di sana melihat Clara yang tersenyum ketika akan membantu Rey.


"Nanti kalau berhasil bantuin Kak Rey, Om kasih hadiah," tawar Azka. Dia sangat tahu bahwa keponakannya itu sangat suka liburan.


"Beneran?"


"Iya, Om bakalan kasih hadiah liburan ke mana pun. Full sebulan deh, yang penting kamu harus awasi Kak Marwa!"


"Clara pegang loh janji, Om," ucap Clara yang membuat Naura tersenyum.


"Dasar anak ini kalau sudah sebut liburan paling semangat," ledek Reno. "Sekalian nanti liburan tuh sama Kak Marwa dan Kak Rey kalau mereka bulan madu,"


"No... Papa. Enggak boleh jadi nyamuk,"


"Siapa tahu kan kamu mau gangguin,"


"Enggak, maunya itu liburan ke sini, terus ke yang lainnya," ucapnya sambil menghitung beberapa negara yang menjadi tujuannya.


"Udah, ikut aja waktu Rey bulan madu!" ledek Nagita yang membuat Clara terlihat cemberut.


"Enggak bakalan ada cucu loh nanti kalau aku yang ikutan," seka Clara.


"Siapa bilang? Kalau itu sih kamu mana tahu, Clara," ucap Dimas yang ikut menyerang Clara.


"Om Dimas lagi malah ikut-ikutan ngeledek."


Sebuah ketenangan yang sedikit tercipta ketika membahas tentang liburan untuk Rey dan Marwa. Meski pada kenyataannya masing-masing mereka disibukkan dengan pikiran yang mungkin saja teramat berat. Tetapi berusaha untuk mengenyahkan itu semua untuk sementara waktu.