
"Mama sama Daddy gimana setelah nikah, Rey?"
Dimas keluar dari dapur sambil mengeringkan rambutnya dan juga membawa segelas air, melihat keponakannya sedang tidur dipangkuan Viona di sofa, ia menghampirinya dan duduk sambil memangku kaki Reynand.
"Ya nggak gimana-gimana. Maunya nginap aja di sini, kangen aja gitu,"
"Bisa aja kamu,"
"Kan kangen tinggal di sini, Om,"
"Kapanpun kamu mau, ini juga rumah kamu, Rey. Daddy nggak pulang larut lagi?"
"Sejauh ini sih nggak pernah. Ya cuman itu, sering berantem sama Mama, biasalah Daddy pengin punya anak. Mama bilang diam-diam minum obat biar nggak hamil,"
"Trauma kayaknya,"
"Om, kenapa Mama sayang banget sama Daddy? Bukannya dulu Daddy selalu saja buat kesalahan sama Mama? Terlebih aku tahu kalau mereka itu nikah karena kehadiran aku di rahim, Mama?"
Dimas meletakkan gelas tersebut di atas meja. Reynand bukan lagi anak kecil yang bisa dibohongi lagi. Lambat laun memang akan mengerti dengan semua ini. Tidak ada niat sedikitpun membahas kejadian di masa lampau. Saat Azka menyia-nyiakan Nagita dulu. Dimas mengelus kaki Rey sambil menatap keponakannya yang sedang membaca buku sambil tidur.
"Rey, bisa kita bahas yang lain? Om nggak mau itu diungkit lagi,"
"Aku cuman pengin tahu kok. Aku janji nggak bakalan marah sama Mama dan juga Daddy,"
Keegoisan orang tua juga membuat Reynand sempat sakit karena terlalu memikirkan kejadian yang menimpa dirinya. Dimas ingat waktu di mana Rey sakit dan Nagita ke luar negeri. Dimas ingat semua kejadian yang menyakiti hatinya itu. Bagaimana mungkin ia cepat lupa dengan hal yang membuatnya sangat sakit dan tak habis pikir nasib adiknya begitu pedih.
"Om,"
"Iya?"
"Cerita! Aku nggak bakalan marah. Om aku tahu diri, aku bukan anak yang lahir dari pernikahan,"
"Om nggak bisa,"
"Kenapa?"
"Aku mohon!"
Hati Dimas terasa seperti ditampar saat itu juga. Ia ingin menceritakan, tetapi sangat berat karena tidak mungkin menceritakan keburukan Azka di masa lalu. Tetapi anaknya sudah mengerti dengan masalah orang tua.
"Janji sama Om jangan pernah jadi anak nakal? Bahkan sampai buat Mama nangis?"
"Aku janji,"
Dimas melirik ke arah Viona yang terus mengusap kepala Rey. Awalnya istrinya menggeleng tak memberi izin. Hanya kepada Viona ia menceritakan masa lalu berat yang pernah dialaminya bersama dengan Nagita.
"Bangun! Om ceritakan,"
Rey melepaskan bukunya kemudian duduk disamping Dimas dan berada ditengah-tengah antara mereka. Segala usaha kerja keras yang di lakukan oleh Dimas untuk membahagiakan Nagita waktu itu seperti sia-sia. Usaha yang dibalas dengan air mata, doa-doa baik yang dipanjatkan untuk kebahagiaan adiknya seakan ditolak oleh semesta.
"Yakin mau dengar ini?"
"Yakin, aku penasaran kenapa Mama begitu berkeras kepala mau balik sama Daddy,"
"Waktu itu, Mama kerja di perusahaan Daddy sebagai cleaning service, itu Om nggak tahu kalau Mama kerja di sana. Om narik angkot, karena sebelumnya pekerjaan Om juga sebagai tukang angkot. Kuliah sambil narik, demi hidup sama Mama kamu. Kakek sama Nenek kamu udah pergi lama, cuman Om yang dan Mama kamu berjuang hidup. Om kuliah dapat beasiswa, kerja dan kemudian perusahaab tempat Om kerja bangkrut. Om balik lagi jadi sopir angkot. Jangankan hidup mewah kayak Daddy, makan aja sering bagi-bagi sama Mama kamu. Waktu itu Mama nggak pulang, keesokan harinya Mama bilang kalau dia menginap di rumah temannya. Om maklumi itu, besoknya Mama nggak kerja. Katanya libur, terus saja seperti itu. Kemudian waktu itu Om ngelamar kerja yang Om sendiri nggak tahu itu punya Daddy kamu. Om diterima, pas pulang, Om nemuin Mama pingsan di kamar mandi. Iya waktu itu Mama pegang test pack, Om bisa apa? Om tahu Mama nggak bakalan ngelakuin hal itu, Mama nggak pernah pacaran. Terus belum lagi, Mama kamu hamil dan nggak mau cerita. Om nggak mau bahas karena Om tahu bahwa Mama trauma,"
Dimas mendengar isakan Reynand, "lanjutin, Om!"
"Saat itu, beberapa hari kemudian Daddy kamu datang untuk bertanggung jawab perihal kehamilan Mamamu, dan karena demi status untuk mendapatkan seorang ayah. Jadi Om terima lamaran dari Daddy kamu untuk menikahi Mama, namun bukan berhenti disitu. Daddy kamu justru semakin berulah dan tidak pernah mengakui Mamamu sebagai istrinya hingga tiba pada suatu malam mereka berdua bertengkar hebat dan itu mengakibatkan trauma yang mendalam bagi Mama untuk kedua kalinya. Azka hampir saja memperkosa Mama untuk kedua kalinya dan saat itu juga. Jadi Daddy berhenti karena tahu bahwa trauma Mamamu kembali lagi, dan saat itu Daddy mengalah dan pergi ke rumah Oma, namun justru Mama kamu pulang ke rumah Om. Beberapa hari kemudian Daddy kamu datang kembali untuk meminta maaf kepada Mama kamu, yang terjadi bukan menjadi lebih baik lagi melainkan menjadi semakin hancur karena terlalu trauma mama itu sangat luar biasa. Terlebih jika berada di dekat Daddy maka Mama otomatis akan bergetar hebat. Jadi Daddy terlihat begitu menyesal dengan perbuatan yang dilakukan kepada Mamamu hingga akhirnya dia berencana untuk mengobati trauma Mamamu dengan cara mendekatinya, setiap malam bahkan Mama selalu tidur dengan Om, tetapi saat itu juga Daddy berusaha untuk mendekati Mama dan menggantikan Om yang selalu tidur setiap malam dengan mama dengan cara mematikan lampu agar Mamamu itu tidak takut lagi setiap kali mengingat kejadian itu. Mama selalu berteriak dan benar-benar takut terhadap Daddy-mu jadi jangan pernah mengungkit kejadian ini terhadap Mama maupun Daddy, mereka berdua sudah berusaha untuk melupakan dan hidup menjadi lebih baik lagi demi kamu. Dan juga sebenarnya saling mencintai dari dulu akan tetapi Daddy yang tidak pernah bertahan pada prinsipnya bahkan itu membuat hati Mama selalu sakit, tapi lihat sekarang mereka berdua menjadi baik-baik saja setelah usaha dan perjalanan panjang pahit mereka yang telah dilalui bersama."
Dimas menceritakan itu semua kepada rainan walaupun sebenarnya sangat sulit bagi Dimas untuk menceritakan suatu kejadian di mana hal itu tidak ingin diungkitnya kembali di masa sekarang lambat laun keponakannya itu juga akan menanyakan hal yang sama kepada orangtuanya, lebih baik ia ceritakan dibandingkan anak itu bertanya kepada Azka dan juga Nagita. Tentu itu akan menjadi hal yang sangat rumit jika bertanya kepada orang tuanya sendiri.
Melihat keadaan keponakan yang sangat terpuku, Dimas terpaksa untuk menceritakan hal itu walaupun sebenarnya hatinya sakit jika mengingat kejadian di mana ia juga merasa sangat hancur dengan keadaan Nagita yang seperti itu dahulu.
"Sebentar ya Om aku mau istirahat dulu."
Dimas hanya menganggukkan kepalanya dan menyetujui apa yang dikatakan oleh keponakannya, dengan membiarkan anak itu sendiri yang terlebih dahulu barangkali anak itu kaget dengan kejadian yang dahulu menimpa kedua orang tuanya.
"Maafkan kakak ya, Nagita, Azka. Aku terpaksa menceritakan ini kepada Reynand agar dia tidak mengungkit kejadian di mana kalian dulu menghadapi kehidupan yang sangat pahit. memang sudah waktunya untuk dia mengetahui kejadian itu, bukan bermaksud untuk mengingatkan kembali kejadian di mana dahulu kita pernah hancur bersama walaupun tidak menjadi utuh saat kembali."