RICH MAN

RICH MAN
TERIMA KASIH BANTUANNYA



Beberapa hari semenjak kejadian itu, Bintang pun berusaha menerima dan tetap bertemu perempuan itu di rumahnya setiap hari. Papanya pernah berkata bahwa perempuan itu adalah mama tirinya, dan mau tidak mau dia berusaha untuk menerima kehadiran perempuan itu.


Hari di mana ia dipindah sekolah ke tempat yang lebih dekat lagi. Papanya sengaja memindahkannya karena beberapa minggu Bintang tidak masuk ke sekolah itu. Biaya sekolah di sana sangatlah mahal. Namun bukan itu kendalanya, tetapi Bintang sudah ketinggalan pelajaran sangat jauh karena hampir satu bulan tidak sekolah.


Hari pertama Bintang masuk sekolah, dirinya menjadi murid baru di salah satu sekolah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.


"Papa ke kantor dulu ya! Kamu baik-baik di sini, semoga betah di sekolah barunya, sayang!"


Bintang bersalaman dan berusaha menerima keadaannya. Apalagi orang-orang suruhan papanya telah berjanji akan membawanya ke tempat Mamanya. Dan dia juga sudah diancam oleh Papanya. Jika kabur dari sekolah, maka Mamanya akan dicelakai. Mendengar kata itu, ia tidak ingin lagi membuat masalah yang dapat membahayakan mamanya.


Bintang melihat absen baru yang di sana sudah ada namanya. Bintang tersenyum kecut saat mendapat kelas di XI IPA 1, yang di mana bahwa dia yakini tempat itu merupakan tempat anak-anak unggulan yang kepintarannya sudah di bagi sesuai kelas, dan di sanalah para juara berkumpul untuk saingan lagi.


Bintang di bawa masuk ke kelas oleh Bu Wulan, selaku guru BK. Saat berada di kelas, teman-temannya bersorak begitu ia masuk ke kelas. Setelah memperkenalkan diri, Bintang pun di persilakan duduk di depan seorang anak laki-laki yang membuatnya menundukkan kepala karena canggung.


Ingin sekali rasanya ia bercengkrama dengan teman-teman yang lainnya. Terlihat begitu akrab satu sama lain, tetapi dirinya tidak bisa mendapatkan teman di hari pertama. Satu-satunya pelarian Bintang adalah perpustakaan.


Di dalam perpustakaan, Bintang membaca Novel dan tengah asyik dengan kegiatannya. Namun saat dirinya sedang asyik membaca, teman sekelasnya yang duduk dibelakangnya itu pun menghampirinya, dengan sangat ramah anak itu berusaha mengajaknya mengobrol. Tapi karena masih canggung, Bintang hanya mengeluarkan suara beberapa kali saja.


Bintang yang mendengar pembicaraan para gadis yang lainnya sedang membicarakan anak laki-laki yang sedang duduk didepannya kini. Dia adalah salah satu anak yang cukup populer karena kepintarannya. Di dalam hati Bintang, anak itu merupakan anak yang sombong karena begitu terkenal di kalangan para gadis yang lainnya.


Bintang kembali lagi ke kelas dan sibuk membaca bukunya di sana.


Beberapa waktu kemudian, anak laki-laki itu datang lagi dan menghampirinya, memberikan minuman dalam kemasan kotak. Namun Bintang menggeleng karena tidak suka cokelat, kemudian susu itu pun di tukar oleh anak laki-laki itu.


Percakapan itu begitu membuat Bintang salah tingkah, bahkan untuk pertama kalinya dia mendapatkan teman laki-laki selama ini. Papanya selalu saja membatasinya dalam bergaul, namun kini setelah bercengkarama cukup panjang, Bintang yakin bahwa anak laki-laki yang ada di depannya ini sangatlah baik. Walaupun pada awalnya dia menilai anak laki-laki itu sangat sombong.


"Kenapa senyum?"


"Memangnya kamu keberatan kalau aku senyum?"


"Aku enggak suka,"


"Enggak suka kenapa?"


"Kamu terlihat mesum," Bintang langsung menundukkan kepalanya saat berkata demikian.


"Waaah, Bintang kamu ini gadis langka yang nyebut aku mesum,"


"Biarin. Panggil aku Aira, jangan panggil aku Bintang,"


"Kalau aku maunya kamu jadi Bintang cuman buat aku, memangnya aku salah?"


Terdengar begitu sangat konyol saat Reynand berkata demikian, tapi bagaimana pun juga Rey hanya ingin akrab dengan teman sekelasnya bukan bermaksud untuk gombal terhadap temannya.


"Kamu Rey, kan?"


"Iya, aku Rey,"


"Bisa panggil aku dengan nama Aira saja? Aku enggak suka panggilan Bintang!"


"Aku pastikan bahwa aku saja yang manggil kamu seperti itu,"


"Aku enggak suka,"


"Kenapa?"


"Pokoknya aku enggak suka,"


"Ya sudah, Aira," Bintang menunduk lagi dan wajahnya merona dibalik buku yang dia baca tersebut. Tapi karena merasa ada yang janggal dengan itu, Bintang memejamkan matanya ketika dirinya tersadar bahwa buku yang dia baca itu terbalik.


"Aku pergi dulu ya!"


Rey beranjak dari depan Bintang. Rona pipi gadis itu langsung memerah ketika Rey pergi, hal pertama yang dirasakan oleh Bintang ketika berdekatan dengan Rey adalah, jantungnya berdebar sangat kencang.


Perasaan yang baru pertama kali dia rasakan saat itu, sebelumnya Bintang tidak pernah merasakan hal yang seperti itu. Jangankan berdebar saat berdekatan dengan seorang laki-laki. Dirinya selalu dibatasi oleh papanya untuk bergaul.


Jam pelajaran pun di mulai, Bintang fokus pada pelajarannya. Tetapi tetap saja dirinya tidak mengerti dengan pelajaran yang dijelaskan oleh gurunya. Bintang hanya mengangguk-ngangguk tanpa paham sedikit pun.


"Kalau kesulitan, nanti aku bantu," bisik Reynand dari belakangnya. Bintang mengangguk, dia berusaha fokus ke papan tulis dan mendengarkan penjelasan guru yang mengajar di sana.


Bintang merasa risih karena punggungnya sedang didorong menggunakan suatu benda oleh Rey dari belakang.


"Apa sih?"


Bintang menoleh dan disodorkan buku oleh Rey. Bintang mengambilnya dan langsung tercengang dengan yang dia lihat. Reynand mengerjakan beberapa soal yang ada di buku tersebut.


"Bintang, ayo kerjakan soal di depan!"


"Syukurlah kamu mengerti," puji gurunya. Bintang kembali ke tempat duduknya dan menoleh ke belakang.


"Terima kasih, Rey,"


"Kalau ada apa-apa, kamu tinggal bilang sama aku!"


"Kalau aku minta diajarin terus gimana?"


"Boleh, kapan pun boleh,"


Bintang tersenyum saat mendapatkan teman pertama di sekolahnya, dia adalah Rey. Seorang anak laki-laki yang namanya sudah cukup terkenal karena prestasinya. Bintang merasa sangat bahagia di hari pertamanya masuk ke sekolah itu.


Jam pulang pun telah tiba, seperti biasa Bintang akan ditunggu oleh beberapa pengawal papanya. Sebenarnya dia merasa risih dengan hal itu, ditambah lagi dengan jumlah mereka yang tidak sedikit. Di depan gerbang sekolah mereka semua telah menunggu.


"Itu siapa yang pakai pakaian serba hitam?"


Bintang menoleh saat Rey berkata demikian.


"Itu suruhan Papa," ucapnya lirih.


"Kamu pulang sama mereka?"


"Aku ikut kamu, ya?"


"Loh, nanti kamu dimarahi, Bintang,"


"Enggak, aku enggak mau sama mereka,"


"Kenapa?"


"Itu bukan orang yang biasa jagain aku, itu suruhan Mama tiri aku,"


"Kamu punya Mama tiri?"


"Iya, aku boleh ya?"


Bintang melihat Rey nampak berpikir, "Ayolah, mumpung aku bawa mobil,"


Bintang tersenyum dan mengikuti Rey. Kali ini ia bisa bebas dari segerombolan orang-orang suruhan mama tirinya. Bintang sebisa mungkin memperlihatkan senyuman di wajahnya.


Di dalam mobil, Rey membuka jaketnya dan meletakkannya di atas paha Bintang. "Eh, kenapa?"


"Rok kamu terlalu pendek, jangan anggap itu hal yang remeh ya! Aku ini walaupun teman sekelas kamu, aku enggak suka,"


"Ini biasa aja, Rey. Semua perempuan juga pakai,"


"Bisa kan kamu itu tutup itu, bukan cuman sama aku, tapi dihadapan orang lain,"


Bintang pun tak melihat Rey menatah ke arahnya waktu itu. Sampai melewati gerbang sekolah dan melewati orang-orang suruhan mama tirinya itu. Bintang menutupi pahanya seperti perintah Rey.


"Rey, kenapa kamu enggak suka?"


"Enggak sayang kamu tuh? Semua orang bisa lihat paha putih kamu, pemandangan gratis, gitu?"


"Rey!" panggil Bintang pelan.


"Aku cuman enggak mau lihat, Bintang,"


"Aku Aira,"


"Kamu Bintang, tetap Bintang, aku enggak mau panggil kamu Aira, kenapa?"


"Terserah,"


Bintang tak ingin berdebat dengan anak laki-laki yang ada disampingnya itu. "Kamu aku antarin ke mana?"


"Aku turun di depan, Rey. Aku pulang naik taksi, aku mau ke kantor Papa,"


"Yakin? Aku antar kamu ke rumah deh,"


"Enggak, terima kasih tumpangannya."


Rey berhenti di pinggir jalan dan Bintang langsung melampaikan tangan sambil memperbaiki penutup roknya dengan jaket Rey. Dia pun langsung bergegas menuju taksi yang sudah dia berhentikan tadi.


Bintang menghubungi orang-orang suruhan papanya untuk menjemputnya di depan kompleksnya, Bintang tahu semenjak dirinya menerima perempuan itu sebagai mama tirinya, dia harus berhadapan dengan beberapa orang yang bisa dikatakan itu sangat kasar terhadap Bintang.