RICH MAN

RICH MAN
BUKAN DIA



Malam itu, di kediaman Azka yang di mana tempat berkumpulnya para keluarga yang lainnya. Persiapan untuk melamar seorang perempuan yang akan dipinang oleh Reynand nanti.


Azka sudah menetapkan pilihannya pada Marwa sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Dimas beberapa hari lalu.


"Rey beneran enggak ikut nih?" tanya Reno yang khawatir pria itu akan kecewa atau bahkan menolak permintaan orang tuanya.


Azka sendiri sudah sangat yakin dengan pilihannya kali ini. "Aku yakin dengan semua ini, Reno. Entah ketika Reynand menolak nanti. Aku sudah tidak peduli lagi," tuturnya.


Nagita yang sudah bersiap sedari tadi menunggu yang lainnya untuk berangkat bersama. Sengaja dia tidak mengajak si kembar agar anak itu diam saja di rumah bersama dengan Clara dan juga Amanda.


Leo ikut untuk memastikan bahwa perempuan itu bukanlah perempuan masa lalu yang pernah menyakiti hati Reynand dahulu. Bagaimana mungkin itu adalah perempuan yang sama? Karena dari nama dan juga ciri-ciri yang disebutkan sedikitpun tidak ada yang menyangkut soal Bintang seperti dulu.


Sebagai seorang anak laki-laki yang juga memiliki hak untuk mendapatkan kebahagiaan tersendiri, Leo merasa itu sangat tidak adil ketika orang tua kakak sepupunya itu begitu keras kepala ingin menjodohkan Reynand dengan perempuan asing yang dia juga tidak tahu.


Leo hanya bisa pasrah, jika dia berbicara tentu saja tidak akan ada yang membelanya. Karena sudah dipastikan semua orang telah setuju dengan lamaran kali ini yang akan berlangsung malam itu juga.


Leo kemudian teringat kembali dengan ucapan Reynand beberapa tahun lalu mengenai penantiannya yang tak kunjung juga usai. Sebenarnya sudah sangat lama dia menginginkan untuk pergi dari ingatan itu, tetapi seolah bayangan tentang perempuan itu selalu saja mengikutinya.


Leo pun tahu bahwa sepupunya itu sangat ingin melupakan perempuan yang sudah mengacaukan hatinya. Tetapi tidak bisa, karena semua yang telah dilakukan oleh Reynand akan kembali lagi pada sedia kala. Yaitu ingatan tentang perempuan itu melekat begitu kuat dalam ingatannya.


Mereka semua beranjak dari tempat duduk dan segera berangkat ke kediaman perempuan itu.


Sejujurnya dia sangat bersyukur jika saja sepupunya itu benar-benar mampu bahagia dengan perempuan pilihan orang tuanya nanti. tetapi jika tidak? Leo adalah orang pertama yang menginginkan sepupunya bisa melupakan Bintang dan mencoba menerima perempuan baru untuk hadir ke dalam hidupnya.


Sepanjang perjalanan, tidak ada pembahasan yang lebih penting dibandingkan dengan membahas rencana pernikahan yang akan digelar dua minggu lagi setelah lamaran. Karena sudah dipastikan bahwa lamaran itu akan disetujui, namun untuk hal itu. Azka tidak ingin buru-buru perihal itu. Ia hanya ingin melihat sejauh mana perempuan itu akan menerima lamaran yang dia tujukan untuk Reynand.


Apa yang bisa dilakukan oleh seorang Leo di dalam mobil selain menerima perbincangan itu. Dia tida ingin terlalu banyak berkomentar sebelum melihat perempuan yang akan menjadi calon istri kakak sepupunya.


Setibanya di rumah itu. Mereka disambut dengan sangat ramah oleh keluarga itu. Leo yang langsung melemparkan tatapannya pada perempuan yang sedang berdiri di samping orang tuanya mengenakan pakaian serba hitam itu. Dia mulai merasa sangat tidak nyaman karena baru saja bertemu, perempuan itu menundukkan kepalanya.


Marwa yang melihat pria muda yang bersama beberapa orang itu hanya menunduk malu.


"Bukan dia, Marwa. Tapi kakak sepupunya, dia enggak ikut," ucap orang tuanya. perempuan itu langsung mengangguk dan masuk ke ruang tamu untuk menemani orang tuanya. Sungguh dia sempat berpikir bahwa yang tadi berpapasan dengannya adalah calon suaminya. tetapi setelah orang tuanya berkata demikian, dia mengenyahkan pikiran itu lagi.


Mereka mulai berbincang di ruang tamu dengan rencana-rencana yang mereka susun. Soal lamaran sudah dipastikan sudah diterima. Dan kini tinggal menentukan tanggal pernikahan mereka berdua.


Marwa memejamkan matanya sambil menunduk. "Ya Allah, jika memang ini yang terbaik. Maka yakinkanlah hamba dengan perasaan ini," ucapnya dalam hati.


Dimas yang melihat beberapa kali perempuan itu memejamkan mata dan terlihat ingin menangis. "Marwa, kamu menolak ini?"


sontak perempuan itu langsung menatap ke arah Dimas dan menggeleng. Dia bahkan belum pernah berbicara sekalipun. Karena semua telah direncanakan oleh Papanya.


Namun, untuk kedua kalinya perempuan itu menggeleng.


Leo yang melihat tingkah perempuan itu kesal karena tidak pernah mendengar suara perempuan itu sekalipun. Barangkali jika mendengar suara itu, dia bisa mengenali perempuan tersebut. Akan tetapi tidak pernah dia dengar perempuan itu bicara sedikit pun.


Mereka pun akhirnya memperkenalkan diri satu persatu. Azka dan Nagita juga memperkenalkan diri sebagai orang tua Reynand yang akan menjadi mertua bagi perempuan itu. Seperti biasa, perempuan itu hanya menunduk malu.


Leo menarik napas karena sudah mati penasaran dengan perempuan tersebut.


"Jadi kapan mau dibuka cadarnya?" celetuk Leo yang membuat perempuan itu terperanjat dan menatapnya sekilas lalu menunduk kembali.


Perempuan itu menatap kedua orang tuanya sebagai kode bahwa dia masih malu untuk melakukan itu. Azka dan Nagita yang malu dengan ucapan Leo tetapi juga setuju dengan apa yang dikatakan keponakannya.


Bahkan Naura, dia mencubit Leo yang berkata ketus waktu itu. "Kebiasaan banget ngomongnya enggak dijaga!" bisik Naura. Tetapi dia juga penasaran. "Tapi Mama juga penasaran sih," bisiknya pada leo.


"Ya Mama juga harus tahu kan calon untuk Kak Rey. Kita semua harus tahu dong, masa enggak boleh di buka gitu, Ma. Nanti dibuka pas nikah, eh maaf-maaf nih ya, kita bukan bicara soal fisik, tapi gimana nanti kalau Kak Rey enggak nerima?"


Naura mengangguk setuju dan berbisik dengan putranya. "Ngomongin apa kalian dari tadi nempel melulu perasaan?" tanya Reno yang membuat anak dan Mama itu langsung duduk tegak dan tetap fokus pada pembicaraan. Suasana mereka yang tadinya sedang asyik mengobrol dirusak begitu saja oleh Reno.


"Ayo sayang buka!" perintah kedua orang tuanya.


Perempuan itu nampak ragu untuk melakukan hal yang diperintahkan oleh orang tuanya dan juga itu untuk pertama kalinya dia akan membuka cadarnya pada orang lain selain kepada orang tuanya.


Dia menarik napas panjang sembari berdoa dan melafalkan doa untuk membuka cadarnya.


Leo yang merasa tenggorokannya sangat kering karena sedari tadi menelan air liurnya sendiri karena penasaran dengan perempuan itu yang sangat lama untuk sekadar membuka cadarnya.


Suasana di tempat itu menjadi tegang dan hening. Perlahan perempuan itu mengangkat tangannya untuk membuka ikat cadarnya yang ada dibelakang.


Leo langsung meraih gelas minuman yang ada di depannya karena merasa sangat haus. Dia meneguk minuman itu, dia melirik perempuan itu dan berusaha menelan minumannya.


"Eh."


Ucap Leo yang langsung tersedak dengan minumannya setelah melihat perempuan cantik yang mulai mengangkat kepalanya dan menatap ke mereka.


"Minum tuh pelan-pelan!"


"Akhirnya, Kak Rey menemukan calon pengantin yang sesuai sama dirinya," ucapnya pelan untuk mengalihkan tatapan orang yang langsung mengarah kepadanya.


*Jangan lupa tekan tanda love ya, biar kalian bisa tetap tahu kalau author up. Hehe, sekadar mengingatkan. Ceritanya masih panjang, jadi kalau ditebak-tebak nanti malah enggak sesuai, kan sakit. Kayak ceritaku yang disebelah, lebih baik nikmati saja. Nanti kalau tebakannya salah, ujung-ujungnya hina authornya. Karena enggak semua pembaca bisa dimanjakan, pemikiran kita juga bisa jadi berbeda. Sekadar mengingatkan aja sih, hehehe. Biar enggak berakhir kecewa.