
Setibanya di rumah. Reynand meletakkan tangan kanannya di atas kepala sambil menatapi langit-langit kamarnya yang berwarna putih, serta pencahayaan yang tidak terlalu terang di sana. Dia sengaja mematikan lampu kamarnya. Malam terasa semakin menyedihkan, andai dahulu dia tahu bahwa patah hati itu semenyakitkan itu, Reynand tak ingin merasakan hal itu. Tetapi apalah daya, barangkali itu merupakan hal yang mampu memberinya pelajaran yang menyakitkan itu agar menjadi orang yang jauh lebih baik lagi.
Lelaki itu menarik napas. Di bawah sana, ada Erlangga yang tengah membaca Al-Qur'an. Dia mendengarkan adik sepupunya membaca dengan sangat fasih, bagaimana dengan dirinya yang dahulu sudah menghafal beberapa juz namun hilang begitu saja hanya karena ketika dia jatuh cinta. Jangankan untuk mengulang hafalannya, untuk membaca Al-Qur'an pun Rey sudah jarang semenjak dia mengenal gadis itu.
Waktu berharganya begitu banyak untuk Bintang dibandingkan dengan mengajarkan adik-adiknya mengaji. Dan barangkali itu yang membuat mamanya sempat kesal waktu itu.
Rey bangun dan melihat adiknya yang sedang membaca Al-Qur'an dengan lampu kecil yang dicolokkan ke USB powerbank. Rey sudah menyuruh adiknya untuk menyalakan lampu kamar. Tetapi adiknya itu menolak dan tetap menggunakan lampu kecil itu.
Lelaki itu menyalakan lampu dan duduk disebelah Erlangga. "Kak?" Erlangga menoleh dan langsung menatap Rey dengan lekat.
"Ngaji bareng ya," ucapnya. Mereka pun mulai membaca Al-Qur'an bersamaan. Bacaan Erlangga sudah cukup baik karena setiap hari selalu diajarkan oleh papanya. Begitupun dengan Lyla yang sudah sangat lancar.
Rey sendiri bahkan kadang menyesali perbuatannya yang pernah menyakiti hati perempuan yang telah melahirkannya itu.
Beberapa saat kemudian mereka pun selesai mengaji bersama. Rey yang memilih untuk tetap di kamar. Sedangkan Erlangga keluar dari kamar. Rey pun kembali lagi ke atas ranjang dan berbaring di sana.
"Rey, ayo makan dulu!"
Rey menoleh ke sumber suara dan menemukan mamanya yang sedang menuju ke arahnya. Rey sendiri merasa sangat benci terhadap dirinya sendiri karena pernah membentak perempuan itu.
Mendengarkan setiap apa yang dikatakan oleh ustadz tadi, Rey berusaha untuk mengakui kesalahannya dan tidak lagi membahas soal Bintang pada orang tuanya.
Lelaki itu langsung bangun dari tempat tidurnya dan memeluk mamanya yang duduk dipinggiran ranjang. "Sayang kenapa?"
Rey menggesek-gesekkan dagunya pada bahu perempuan itu. Dia mengusap punggung mamanya. Perempuan yang telah merawatnya dengan baik dan pernah memberikan kasih sayang di saat dirinya dahulu harus terpisah dari papanya. Bahkan perempuan itu juga yang paling sabar telah menghadapi sikapnya yang kekanakan itu.
Nagita terdiam tak berkomentar apa pun. Dia membalas pelukan anaknya. Barangkali anaknya butuh didengarkan saat ini, dia tidak pernah mendengarkan anaknya bercerita banyak hal. Mungkin saja kali ini Rey bisa bercerita.
"Cerita sama Mama apa yang terjadi, Nak!"
"Rey, cuman minta maaf atas kejadian di mana waktu itu aku bentak Mama. Sampai Mama nangis karena perbuatan aku,"
Nagita mengusap belakang kepala anaknya. "Rey, kejadian itu sudah Mama lupain. Mama enggak pernah menyimpan dendam terhadap anak Mama. Mama senang banget ketika kakak itu kembali lagi menjadi seorang anak yang berusaha untuk berbakti lagi kepada kedua orang tua, Mama enggak mau itu terjadi lagi karena enggak mau kedua adikmu ikut membentak Mama nanti," jelas Nagita.
Reynand mengangguk dalam pelukan mamanya. Air matanya pun menetes, pasalnya beberapa hari lagi dia akan terpisah untuk menuntut ilmu menjadi lebih baik lagi dan belajar dengan lebih giat lagi dari apa yang pernah terjadi sebelumnya.
"Enggak boleh nangis ya!" Nagita merasakan anaknya yang menangis dengan air mata yang membasahi bajunya. Dia mengangkat kepala anaknya dan memegang kedua pipi anaknya.
Menatap lekat ke dalam mata itu. Sudah begitu banyak kesedihan yang dialami oleh Reynand selama ini. Nagita sendiri ingin marah terhadap perempuan yang telah berhasil mencampakkan Reynand. Tapi mau bagaimana lagi, dia hanyalah orang tua yang hanya berhak untuk mendidik anaknya, bukan untuk menghakimi anak orang lain.
"Janji sama Mama dan Papa sayang, enggak bakalan ngelakuin hal yang menyebalkan lagi. Didik adik-adik dengan baik, Mama sama Papa pasti akan selalu sayang. Selalu di sisi kalian semua,"
Nagita mencium kening anaknya. Sudah lama sekali dia tidak melakukan hal itu. Dia merasakan bagaimana rasa yang dialami oleh anaknya, benar kata Azka, Rey butuh di dengarkan. Rey butuh teman untuk bercerita, dan selama ini mereka berdua tidak pernah lakukan itu karena anaknya selalu saja menyendiri.
"Jangan pernah biarkan siapa pun menyakitimu. Sebagai orang tua, kami selalu berusaha untuk tetap bersikap baik kepadamu. tidak ada orang tua yang tega melihat anaknya terluka, termasuk Mama dan Papa. Sudah begitu banyak beban dan derita hidup yang pernah kakak alami. Jangan lagi dirasakan semua perih itu! Mama hanya ingin melakukan yang terbaik, mencintai anak-anak dan juga ingin selalu ada. Menjadi pelindung dari segala ketidakmampuan semua anak-anak Mama. Biarlah Mama yang rasakan semua pedih itu, asal jangan anak Mama," Nagita mengusap pipi anaknya dan menyeka air mata Reynand.
"Maafin aku, Ma,"
"Sudah Mama maafin,"
Nagita memperbaiki posisi duduknya dan mempersilakan Reynand tidur di pahanya. Sambil mengusap kepala anak pertamanya. Nagita menatap putranya dengan tatapan yang tidak tega.
Reynand pun terlelap di pangkuan Nagita. Azka masuk ke dalam kamar dan melipat kedua tangannya di depan dada sambil bersandar di belakang pintu.
"Sudah lama enggak gini ya, Ma?" tanya Azka sambil menyaksikan Reynand yang tidur di pangkuan Nagita.
Perempuan itu mengangguk sambil melambaikan tangan agar suaminya mendekat ke arahnya.
"Papa cium Rey!"
"Mama, Rey udah besar,"
"Pa, ayo lakukan!" ucapnya lirih,
Azka menatap ke arah istrinya sejenak kemudian melakukan apa yang diperintahkan oleh istrinya. Seketika itu dia melihat istrinya meneteskan air mata.
"Mama kenapa?"
"Pa, Mama kangen kita yang dulu, yang di mana kita selalu saja berkumpul seperti ini. Enggak terasa ya anak-anak sudah besar seperti sekarang. Begitu banyak hal yang pernah kita lewati bersama,"
Azka duduk berjongkok di bawah istrinya sambil memegangi tangan kanan istrinya dan tangan kanan Nagita mengusap kepala Reynand. "Tetaplah seperti ini sayang. Kamu sudah berhasil menjadi rumah untukku, dan Rey adalah penguatku. Sekarang bertambah lagi," ucap Azka sembari mencium tangan istrinya. Nagita mengusap wajah Azka dengan lembut.
"Papa, terima kasih sudah selalu bersama dalam keadaan apa pun dan dalam suasana apa pun sudah menemani Mama sepanjang waktu,"
"Suka duka kita jalani berdua. Bukan hanya bahagia yang boleh dinikmati berdua bukan?"
Nagita menggantikan pahanya dengan bantal dan menyelimuti Reynand. Dia pun berdiri dan langsung memeluk Azka. Dia menangis sesenggukkan dipelukan suaminya. "Kenapa nangis?"
"Nangis bahagia karena bisa memiliki suami seperti Papa. Walaupun pada awalnya kita lalui ini semua dengan begitu banyak pedih, dan air mata,"
"Itulah hidup, yang di mana enggak semuanya manis,"
Azka memegang kedua pipi istrinya dan siap untuk mencium bibir istrinya.
Ceklek
"Ups, maaf,"
Dimas muncul dari balik pintu dan melihat kedua insan itu hendak berciuman. "Dimas," panggil Azka dengan ekspresi kesal.
"Lanjut aja enggak apa-apa. Aku pergi, maaf ganggu. Tadinya mau manggil kalian makan malam,"
Dimas merasa kikuk setelah melihat kejadian tadi. Dia pun memilih untuk keluar. Ketika istrinya hendak memanggil Nagita dan Azka, dia menarik istrinya agar tidak melanjutkan langkahnya menuju kamar Erlangga yang juga ditempati oleh Rey saat ini. Mungkin saja Azka dan Nagita butuh waktu beberapa saat.
Selama ini dia bahagia melihat keduanya bahagia. Dan itu yang diinginkan oleh Dimas, tanggung jawabnya sebagai kakak sudah digantikan oleh Azka yang merangkap menjadi satu. Terkadang menjadi sosok Ayah untuk Nagita seperti yang selalu diceritakan oleh adiknya itu. Sungguh, walaupun pernah mengalami masa lalu yang pahit. Dimas tetap percaya bahwa Azka yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk memiliki Nagita.