RICH MAN

RICH MAN
DIBUTUHKAN



Semakin hari sifat Rey berubah menjadi pria yang tidak peduli terhadap dirinya. Bahkan menegurnya pada saat dia dibutuhkan saja. Seperti membantu pria itu mengikat dasinya.


Tidur seolah merasa sendirian saat Rey tidak pernah memeluknya lagi. Barangkali pria itu sudah terbiasa dengan kesendirian selama ditinggalkan oleh dirinya.


“Lusa aku ke luar negeri, kamu di rumah Mama untuk sementara waktu,” tiba-tibat Rey berkata demikian dan membuat Marwa menunduk kemudian mengangguk.


“Kalau aku ke rumah orang tua aku, boleh?”


“Nggak,”


Dia hanya menunduk. Suami yang dia hadapi sekarang ini bukan Rey yang dulu. Entah apa yang membuat pria itu berubah drastic dan seolah tidak peduli lagi dengan dirinya dan membuat Marwa sedikit kecewa dengan suaminya yang sekarang ini. Tidak pernah dia dapati suaminya seperti ini. Rey yang dulu selalu saja lembut kepada dirinya. Tidak pernah berkata kasar atapun memarahinya. Akan tetapi sangat berbeda dengan sekarang ini.


“Mas, kapan kita syukuran untuk tujuh bulanan,”


“Perut kamu belum tujuh bulan kok,”


Rey juga tidak tahu mengapa dengan dirinya yang sama sekali tidak mencintai istrinya lagi. Bahkan ketika ke luar negeri nanti. Bukan untuk perjalanan bisnisnya itu semua karena ajakan Alin untuk pergi ke salah satu pameran terbesar yang ada di korea selatan. Di sana keduanya akan berlibur sekaligus.


Jika mengajak Marwa, tentu saja itu tidak akan baik bagi kandungannya. Jadi karena pekerjaannya yang kian menyiksa, Rey akhirnya menyetujui ajakan Alin sekalian dia refreshing.


Rey tersenyum sinis, dia mengingat bagaimana Alin selalu memperlakukannya dengan begitu baik. Bahkan sebelum Marwa pulang, tapi kali ini dia harus bersembunyi dan menonaktifkan ponselnya jika berada di rumah. Karena dia tidak ingin bertengkar, karena hubugannya dengan Alin hanya sebatas berteman. Tidak lebih.


Pria itu tidak dapat menghindar saat Alin membantunya tentang banyak hal. Terutama karena Alin yang memperkenalkan dia dengan beberapa orang hingga akhirnya dia memiliki proyek baru dan tidak bekerja sama lagi dengan papa Alin. Ketika ditanya perihal mengapa perempuan itu tidak memberikan proyek tersebut kepada papanya. Dengan singkatnya perempuan itu menjawab karena ingin membantu Rey serta istrinya, dari situlah dia tidak bisa menolak ajakan Alin. Karena perempuan itu juga membantunya banyak hal.


Dengan perasaan yang sepertinya memang ingin menghindari istrinya. Akhirnya Rey pun beranjak dari tempat duduknya memasang sepatu tadi. “Mas aku udah buatin sarapan, bekal makan siang juga,”


“Kamu pikir aku anak kecil bawa bekal segala?”


Marwa hanya bisa mengigit bibir bawahnya. Sudah beberapa hari sikap Rey dingin terhadap dirinya. Tidak ada kehangatan semenjak dia pulang. Bahkan suaminya selalu saja pulang malam. Rey yang selalu membangunkannya ketika ketiduran di ruang tamu. Marwa tidak pernah menemukan sisi hangat suaminya lagi.


baru beberapa saat kemudian Marwa hanya bisa tersenyum. “Sial, berangkatnya nanti sore. Batal berangkat lusa,” ucap Rey kemudian berbalik. “Kamu siapin barang-barang bawaan aku ya!”


dia hanya mengangguk mendengar perintah suaminya. Marwa berjalan pelan karena perutnya yang semakin membesar itu. Dengan langkah gontai dia ke kamar menyiapkan semuanya. “Kamu hari ini ke rumah Mama ya, aku nggak bisa nemenin,”


“Berapa lama kamu di sana, Mas?”


“Dua minggu sih sepertinya,”


Dia tidak menjawab apa-apa. Marwa kemudian mulai mengeluarkan barang-barang yang akan dibawa oleh suaminya. “Kenapa mendadak gini sih, Mas?”


“Tiket udah dipesan. Aku mana tahu, katanya lusa. Tapi malah hari ini, aku nggak bisa antar kamu ke rumah Mama. Kamu naik taksi ya!”


“Iya, Mas,”


“Kamu ada uang buat ke sana?”


“Ada kok, Mas,” ucapnya. Karena ucapan beberapa hari yang lalu, dia menjadi sangat malu untuk menerima uang dari suaminya lagi. Marwa tidak ingin memberatkan suaminya, apalagi dia tidak tahu harus berbuat apa ketika Rey menyinggung soal dirinya yang menunggu penghasilan suami.


Ada rasa sedih saat itu juga. Apalagi ketika Rey memintanya untuk tinggal di rumah sang mama mertua. “Hubungi bibi, libur dulu selama aku di sana,” ucap Rey kemudian keluar dan menjawab telepon. Sedangkan di kamar, Marwa masih menyiapkan barang yang akan dibawa oleh suaminya.


Tidak berselang lama. Rey masuk lagi ke kamar dan merebahkan diri di atas kasur. “Kamu nggak jadi kerja, Mas?”


“Aku istirahat karena perjalanan nanti. Jadi, aku hubungi beberapa orang di kantor untuk gantiin aku sementara,”


“Oh, ya udah Mas. Nanti setelah kamu berangkat, aku berangkat ke rumah Mama,”


“Kamu berangkat sekarang aja. Aku mau berangkat nanti, mau tidur dulu,”


“Kamu sarapan dulu, Mas,”


“Ntar aja. Kamu berangkat sana!”


Marwa langsung membawa tasnya karena tadi dia menyiapkan barangnya juga untuk di bawa ke rumah mertuanya. “Aku berangkat, Mas,” pamit Marwa bersalaman kepada suaminya. Akan tetapi respon Rey tidak seperti biasanya mencium kening istrinya. Justru hanya salaman biasa.


Rey meminta Marwa berangkat lebih awal karena dia akan dijemput oleh Alin nantinya. Bagaimana mungkin dia bisa membiarkan istrinya tetap berada di rumah sedangkan perempuanitu akan datang nantinya.


Sesuai dengan perintah suaminya, dia pun langsung menuju rumah mertuanya dan di sana ada kedua adiknya yang menyambutnya. Baru saja Marwa masuk, kedua adiknya langsung memeluknya dengan pelukan yang sangat merindukan kehadiran dirinya. “Kakak kenapa lama banget nggak ke rumah?”


Marwa menggandeng kedua adiknya sambil membawa barang itu. Akan tetapi baru saja dia hendak menggandeng tangan Nabila, anak itu langsung mengambil tas bawaan Marwa. “Kakak nggak boleh bawa barang berat kata Mama,”


“Mama sekarang di mana?”


“Mama ke pasar, katanya Papa pengin makanan apalah pokoknya. Tadi dengar kalau Papa minta dimasakin sesuatu untuk nanti malam,”


“Kalian nggak sekolah?”


Dia hanya ber-oh ria kemudian langsung menuju ruang keluarga. “Kakak nginep nggak?”


Marwa tersenyum, “Kakak nginap sampai dua mingguan, sambil nunggu Kak Rey pulang,”


“Loh, kakak di titip di sini?”


“Iya, Kak Rey kan pergi jauh banget. Jadi karena nggak mau terjadi apa-apa sama kakak dan calon keponakan kalian. Jadi kakak kalian itu titip kakak di sini, sambil nemenin kalian belajar. Terus bantu-bantu Mama siapin sarapan untuk kalian bertiga,”


Nabila menyeringai karena dia sangat bahagia jika Marwa mengunjungi mereka berdua. Apalagi nanti ketika menginap, mereka berdua pasti akan tidur bersama dengan Marwa.


“Ya udah kakak istirahat aja!” ucap Nabila membawakan barang bawaan kakak iparnya. Perempuan itu sangat bahagia memiliki adik ipar yang seperti si kembar karena selalu saja mengerti dengan keadaannya.


Beberapa menit kemudian Marwa istirahat di kamar beberapa menit kemudian dia membereskan pakaiannya di masukkan ke dalam lemari.


Suara pintu kamarnya diketuk. Marwa berjalan pelan dan membuka pintu kamarnya, tanpa ada suara sebelumnya, namun baru saja dia membuka pintu. Clara langsung memeluknya begitu erat. “Kakak, kangen,” ucap Clara yang mencium Marwa bergiliran. Seperti biasanya, Clara memang seperti itu kepadanya. “Tadi tuh Mama nyuruh aku ke sini buat antarin kue pesanan si kembar. Semalam mereka telpon, terus semalam Mama langsung buatin. Eh paginya disuruh ke sini. Tahunya ada Kak Marwa, kakak apa kabar?” tanya Clara yang antusias melihat kedatangan Marwa di sana.


“Baru aja, ini baru selesai rapiin barang,”


“Tadi di bawah karena Nabila bilang kalau kakak ada di sini. Aku langsung datang ke kamar kakak,”


“Iya, karena itu diminta sama kakak kamu. Di suruh nginap di sini selama dua minggu,”


“Sekali-sekali ke rumah Oma dong! Oma kangen tahu sama kakak,” keluh Clara yang meminta Marwa ke sana.


bunyi bel rumah terdengar begitu nyaring membuat Marwa mengajak Clara untuk turun ke bawah dan mengecek siapa yang datang. Barangkali mama mertuanya yang pulang dari pasar membeli bahan-bahan masakan seperti yang diminta oleh papa mertuanya. Usia kandungannya yang semakin menua, Marwa memang merasa sedikit kesulitan ketika berjalan. Tidak seperti dulu bahwa dia berjalan dengan bebas. Kini ada bayi yang tumbuh di dalam perutnya. Buah cintanya dengan sang suami. Anak yang sudah dinanti-nantikan oleh suaminya itu. Berharap bahwa segera keluar dengan keadaan sehat dan bisa merawatnya dengan baik.


Keduanya tiba di bawah dan Clara memilih untuk membuka pintu, Marwa yang berada di jarak beberapa meter dari tempat Clara itu dia mengikuti ke mana gadis itu pergi. Benar saja, ketika membuka pintu yang datang justru mama mertuanya dengan barang bawaan yang begitu banyak dibantu oleh sopir mereka.


“Sayang, datang kok nggak bilang-bilang?” tanya Nagita dan langsung memanggil bibi membawa semua keperluan dapur. Untuk urusan dapur, Nagita tidak pernah memerintahkan bibi ke pasar. Dia selalu meluangkan waktu untuk itu. Karena jika meminta bibi yang membeli, kadang begitu banyak barang yang lupa dibelinya.


Nagita mengajak keduanya duduk di ruang tamu. “Rey ke mana?”


“Mas Rey pergi, ada urusan. Dia bilang pergi selama dua minggu,”


“Nggak seperti biasanya dia pergi lama ninggalin kamu,” tanya Nagita kemudian membantu Marwa duduk di sofa dengan perlahan. Dia begitu menyayangi perempuan ini, karena sifatnya yang selalu saja lembut. Tidak pernah meninggikan suaranya walaupun pernah bertengkar dengan Rey. Dia begitu pintar mengatur keadaan.


Nagita memperlakukan Marwa begitu baik karena selama ini menantunya itu selalu saja menurut terhadap apa saja yang diperintahkan olehnya. “Nggak apa-apa. Nanti kita omongin tentang tujuh bulanan kamu sama Papa ya sayang. Clara juga harus bantuin,”


Gadis itu mengangguk dan begitu semangat membantu kakak sepupunya. “Tante, boleh nggak bawa Kak Marwa ke rumah Oma? Oma kangen banget, dia sering cerita. Apalagi Opa, dia kangen sama Kak Rey. Tapi nggak pernah ke sana. Dia lebih banyak meluangkan waktunya untuk kerja,”


Nagita melihat ke arah menantunya. “Ya sudah, bawa aja. Tapi nanti pulangnya kamu antarin ya! Nginapnya nanti aja kalau Leo sama Amanda ke sana. Biar Marwa bisa lihat anaknya, Leo,”


“Jadi nanti pulangnya sore, tante?”


“Iya pulangnya sore aja, karena nanti tante sama Om ada urusan sama Marwa. Ada yang harus dibicarain sama dia,”


Di tengah perbincangan ketiga orang itu. Nabila hanya bisa melihat ekspresi kakaknya yang sepertinya memaksakan diri untuk tersenyum di saat seperti ini. “Nabila ikut ke rumah Oma, nanti Salsabila temenin Mama di sini ya!”


“Ikut,” rengek Salsabila.


“Ya udah kalian pergi aja. Mama juga mau istirahat, tapi pulangnya jangan sampai telat ya. Kasihan nanti Papa nyariin kalian bertiga. Papa senang kalau Marwa di sini,” ucap Nagita kemudian membiarkan keempatnya pergi.


“Ohya tante, kue yang dipesan sama mereka berdua udah aku titipin sama bibi. Jadi tante cicipin ya!”


“Iya sayang. Ini juga yang dua senang banget ngrepotin tantenya. Padahal mamanya sendiri bisa buat, tapi malah nggak mau dibuatin,” Nagita tersenyum melihat kelakuan anaknya.


“Rasanya pasti beda tante. Buatan Mama dan juga buatan Mama aku,” ucap Clara sambil menyeringai.


Marwa berpamitan untuk mengambil tasnya ke kamar sebelum mereka pergi.


Beberapa menit kemudian perempuan itu kembali lagi. “Ma, aku pergi ya,”


“Jaga adik kamu baik-baik ya! Jangan sampai kelelahan! Istirahat juga di sana, ingat kandungan kamu. Makan juga jangan malu-malu di sana. Nggak boleh sampai nggak makan,” pesan mertuanya. Marwa pun bersalaman dan kemudian disusul oleh tiga perempuan cantik yang ada disebelahnya.


 


 


Mereka bertiga mengucap salam sebelum pergi.