
Setelah beberapa lama
berlibur, mereka memutuskan untuk kembali lagi karena Reynand akan kembali pada
aktivitas sekolahnya. Nagita tidak ingin berlama-lama lagi untuk membiarkan Rey
tetap liburan. Nanti akan ada waktunya untuk liburan lagi. Setelah memberi
penjelasan kepada Rey, anak itu berhasil mereka yakinkan. Dan saat itu juga
Nagita dan juga Rey telah tiba di rumah. Di sana belum ada Dimas dan juga Viona
kembali ke rumah mereka.
Siang itu setelah
mereka tiba di rumah. Nagita langsung membiarkan Rey untuk istirahat. Beberapa
hari lagi ulang tahun Rey yang ke-6. Itu artinya untuk pertama kali Rey akan
merayakan ulang tahun tanpa kehadiran Azka.
Damar yang juga berada
di rumah itu melihat Nagita duduk di ruang tamu sambil menyandarkan kepala di
sandaran sofa.
“Kamu mikirin apa?”
Nagita menoleh, “Nggak
apa-apa,”
“Rey sebentar lagi
ulang tahun, kita rayakan bareng ya!”
“Eh? Nggak usah,”
“Nggak usah di tolak,
Nagita. Meskipun aku sadar bahwa nggak bisa gantikan Azka dalam hidup kamu,
setidaknya kamu bisa terima pemberian aku,”
Nagita membenarkan
posisi duduknya yang tadi bersandar langsung berhadapan dengan Damar.
“Damar, sebenarnya niat
kamu bantuin aku ituu ikhlas atau berharap ada yang kembali?”
“Aku nggak harapin
apa-apa, Nagita. Aku cuman pengin kamu itu bahagia sama anak kamu, bukan
berarti aku minta apa-apa semenjak bantu kamu, ngajakin Rey liburan dan segala
macam. Ayo kita bahagiakan Rey, aku tahu bukan hakku seperti ini. Tapi aku tahu
bagaimana rasanya tanpa seorang Papa,”
“Kamu?”
“Sudahlah. Aku ini kepala
keluarga Nagita, segala hal yang berkaitan dengan keperluan adik-adikku, semua
aku yang memberikannya. Termasuk kamu, aku sudah anggap kamu seperti adik aku
sendiri. Adik perempuanku juga sama, aku membiayai dia soal pendidikan. Dan
satu hal lagi, aku tidak pernah merasa bahwa ini adalah beban, apalagi untuk
Rey, cobalah lihat dia, kamu berjuang seorang diri. Walaupun ada Dimas di sisi
kamu. Nggak selamanya kasih sayang Dimas itu sama seperti sebelumnya. Mengingat
sekarang dia sudah menikah, dan apa kamu sudah bersedia untuk menempuh
pendidikan lagi?”
Nagita berpikir, ia
mengingat bahwa Rey kini adalah tanggungannya seorang diri. Ia harus
membesarkan Rey sendirian dan biaya pendidikan yang mungkin nanti akan menjadi
sangat berat baginya. Traumanya terhadap cinta masih membekas.
“Iya, aku akan usahakan
bagi waktu,”
“Di Amerika mau?”
“Di sini saja, Mar. Aku
mau awasi Rey juga,”
“Okelah, seenggaknya
kamu itu setuju dengan apa yang aku inginkan. Nagita, aku nggak pernah berpikir
bahwa akan menagih semua ini. Aku ikhlas bantuin kamu sama Dimas, ikhlas
bantuin kamu sama Rey, ingat dia masih sangat kecil. Nggak selamanya dia bisa
lupa dengan Daddy-nya. Dan lagi, kamu juga harus berkuat diri saat suatu hari
nanti Rey mencari keberadaan Azka. Dan kamu masih berhak untuk bahagia. Meski
bukan dengan Azka,tetapi buktikan padanya. Perempuan yang ia remehkan hari
lalu, akan menjadi lebih baik lagi kedepannya, bukan untuk di sakiti. Tetapi
untuk di kagumi. Jika waktu mengembalikan Azka, itu adalah pilihan kamu. Menerima
dia yang telah menyakiti kamu, atau mencari kebahagiaan tersendiri kamu bersama
dengan Rey. Soal ucapannya mengenai Papa baru dan menggantikan Azka, sungguh di
dalam hati aku nggak pernah mau menyinggung soal itu. Jika pun benar Rey
menginginkan hal itu, tentu saja itu bukan aku yang akan menggantikannya. Kamu
ada waktu untuk mencari pasangan lagi. Kamu masih muda, cantik. Benar bahwa
dulu usia di mana kamu belum waktunya menikah harus menghadapi semua ini
sendirian, Azka yang sangat dewasa, yang harusnya pria itu mampu mendidik dan
membimbing kamu, justru menyakiti hati kamu,”
“Barang kali memang
sudah waktunya berpisah bukan? Aku sama Rey bahagia,” ucapnya menguatkan diri.
Jauh di dalam hatinya, ia masih sangat kecewa dengan Azka. Di dalam rumah
tangga yang selama ini ia anggap baik-baik saja justru tersembunyi sebuah
rahasia yang di mana hingga saat itu juga Azka tidak pernah mampu melupakan
masa lalunya.
“Jangan pura-pura untuk
merasa kuat, Nagita. Terkadang baik-baik saja adalah hal yang pura-pura,”
“Aku ngerti. Dan saat
hari terakhir kita liburan waktu itu, Azka menghubungiku lagi,”
“Tujuannya?”
“Mengajak Rey untuk
bertemu. Tapi aku menolaknya karena Rey sudah sering kali di kecewakan. Saat
itu dia pernah berjanji akan menjemput Rey, hingga malam tiba dia tidak datang
juga. Dan hari itu Rey mulai membencinya,”
“Sudahlah. Hati kamu
sudah cukup untuk kecewa. Suatu saat jika memang ada pria yang menerima
kehadiran Rey, silakan diterima. Jangan ditolak, itu berarti dia menganggap
bahwa Rey juga merupakan tanggung jawabnya,”
Nagita mengangguk. Ia
beranjak dari tempat duduknya menuju dapur menyiapkan minuman untuk Damar. Pria
itu sudah banyak sekali membantunya. Bahkan saat ini setelah kedekatan mereka
beberapa minggu yang lalu, mereka semakin dekat dan ia perlahan bisa
mengikhlaskan perceraiannya dengan Azka.
Ia kembali lagi dan
menemukan Damar sedang berbaring di sofa. Ia meletakkan minuman itu di atas
meja dan membiarkan Damar istirahat di sana. Karena perjalanan panjang mereka
yang teramat lama. Membuat Nagita juga merasa kelelahan.
*****
Nagita terbangun dari
tidurnya sore itu, ia mengerjapkan matanya berusaha mencari kesadaran. Ia
mengucek-ngucek matanya dan langsung ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Ia
masih melihat Damar tertidur di sofa ruang tamu. Karena selama berlibur, Damar
sangat jarang tidur karena terlalu banyak mengajak mereka jalan-jalan.
Nagita keluar dari
rumahnya mencari keberadaan Rey. Anak itu juga terdengar tertawa sangat bebas
sore itu.
“Rey?”
Nagita baru saja
keluar, dan menemukan Rey tengah bermain bola bersama dengan Azka. Pria itu
datang lagi saat dirinya merasa sudah sangat membaik.
“Mama, Papa datang,”
“Daddy sayang,” ucap
Azka.
“Iya, Daddy maksud
Rey,”
“Rey, masuk!”
“Tapi, Ma. Rey pengin
main sama Daddy,”
“Mama bilang masuk!”
“Jangan teriak sama,
Rey,”
“Rey, dengerin Mama.
Mama bilang masuk!”
Anak itu langsung
menghampirinya dan masuk ke dalam rumah. Ia mendekati Azka dan langsung
mengambil bola itu dan menyerahkannya kepada Azka.
“Sudah cukup kamu
datang kemari, Mas. Aku harap kamu nggak ganggu kehidupanku sama, Rey. Aku
nggak butuh sama kamu, aku bisa besarin Rey sendirian,”
“Nagita dengerin aku
ngomong!”
“Apa yang harus di
dengerin lagi? Kamu mau bilang kalau selama ini kamu nyesel udah sia-siain anak
kamu? Kamu nyesel kalau selama ini kamu udah abaikan Rey, dan sekarang semejak
pergi, kamu merasa sangat kesepian, gitu?”
“Nagita, bagaimanapun
juga Rey anak aku,”
“Sekarang kamu aku Rey
anak kamu. Tapi kamu sudah menyakiti hati dia, bukan cuman aku. Dan aku nggak
yakin kalau cuman Rey anak kamu, mungkin diluaran sana masih banyak Rey yang
lain lahir dari rahim perempuan-perempuan yang kamu tiduri, bahkan aku bodoh
sekali ngasih kamu kesempatan,”
“Nagita, aku mencintai
kamu,”
“Bagaimana dengan,
Deana?”
Hingga akhirnya pria
itu terdiam. Nagita mengerti jika sudah membahas hal itu, Azka langsung tidak
bisa menjawab apa pun.
“Sekali saja, Azka.
Biarin aku bahagia dengan Rey, nggak semestinya kamu itu buat aku kayak gini
terus. Kamu bukan siapa-siapa lagi. Dan soal Rey, dia sudah dapat pengakuan
kamu saja itu sudah cukup. Bagaimana pun juga Rey tetap anak aku, Mas. Jangan
lagi kamu hadir, Rey sudah cukup kamu buat menderita dengan janji-janji kamu,”
Nagita hampir saja
menjatuhkan air matanya lagi. Tetapi kali ini ia menahan dirinya agar kuat,
tidak lemah lagi di depan Azka. Hatinya sudah terlalu sakit berada di dekat
pria itu. Bahkan dia tidak bisa menampakkan dirinya yang cengeng seperti waktu
itu. Saat terakhir di mana Azka mencium sebelum melepaskan dirinya.
Ia berbalik, namun Azka
begitu saja menariknya dan merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan Azka. Ia
memberontak tetapi hingga akhirnya ia terdiam saat itu juga. Tenaganya sudah
habis untuk melawan.
“Nagita, Azka. Kalian
Nagita langsung menoleh
ke sumber suara. Yang di sana ada Dimas yang baru saja pulang dari bulan
madunya dan langsung menarik Azka dan memukulnya.
“Nagita bukan lagi
hakmu, untuk apa kamu memeluknya lagi? Apa kamu hanya untuk merayunya? Azka,
pergilah. Jangan ganggu kehidupan Nagita lagi. Aku sudah muak melihat wajahmu
yang terus memelas saat datang kemari,”
“Kak, sudah jangan
dipukuli lagi, aku nggak apa-apa.” Cegah Nagita yang berusaha melepaskan Dimas
yang terus memukuli Azka.
“Masih ada nyalimu
untuk datang lagi?”
“Kak, ayo masuk!”
Nagita menarik tubuh
Dimas dan pria itu langsung pergi begitu saja. Nagita menundukkan kepalanya
saat berada di dalam rumah. “Katakan Nagita, kenapa dia ada di sini?” bentak
Dimas yang membuat Damar langsung terbangun dari tidurnya. Sedangkan Nagita
hanya menunduk tak berani menatap ke arah mata Dimas.
“Papa datang waktu Rey
main sama teman-teman,” jelas Rey yang tiba-tiba muncul dari kamarnya.
“Rey kenapa ketemu sama
Papa?”
“Rey kangen Papa,”
“Bukannya Rey bilang
nggak mau ketemu, Papa?” bentaknya. Nagita tak pernah menemukan Dimas semarah
itu sebelumnya. Kali ini ia harus bersabar dan menerima kenyataan bahwa Dimas
benar-benar membenci kehadiran Azka saat ini.
“Ada apa sih, Dimas?”
Damar berusaha mengumpulkan kesadarannya dan memegangi kepalanya yang sakit.
“Azka datang lagi,”
“Kenapa bisa?”
“Dia datang menemui
Rey, tapi tadi aku menemukan dia memeluk Nagita,”
“Benar begitu Nagita?”
tanya Damar.
“I-iya,” ucapnya pelan
dan gugup. Rey langsung mendekati Nagita dan memeluknya.
“Mama nggak salah, Rey
yang salah udah ketemu sama Papa, Mama nggak sengaja. Bahkan Mama marahin Rey
waktu ketemu, Papa,”
Nagita melihat ke arah
putranya. Ia langsung memeluk putranya.
“Rey nggak salah
sayang, nggak apa-apa kok. Sekarang Rey masuk kamar,”
“Rey nggak mau Mama di
marahin sama Om Dimas gara-gara Rey yang ketemu sama Papa,”
Dimas hanya terdiam.
Begitupun dengan Damar yang tadinya sempat berubah ekspresi karena semenjak
Dimas menceritakan bahwa Azka datang lagi. Pria itu sungguh langsung berubah
menjadi tidak suka.
Nagita mengajak Rey
untuk masuk kamar. Begitupun dengan Viona yang mengajaknya untuk ke kamar
mengajak Rey.
Ia membiarkan kedua
pria itu berbincang. Sedangkan mereka bertiga sudah ada di kamar dan Nagita
hanya memeluk Rey. Berusaha menguatkan diri di sana dan ditenangkan oleh Viona.
“Nagita, sebenarnya apa
yang terjadi? Kenapa tiba-tiba dia datang lagi?”
“Dia bilang ketemu sama
Rey,”
“Kamu tahu Kak Dimas
itu benci banget sama dia. Kenapa kamu malah mau dipeluk sama dia?”
“Aku sudah berusaha
menolak. Tapi dia terus saja memelukku, Viona. Aku harus bagaimana saat seperti
itu? Azka akan terus berusaha kalau aku terus melawan,”
“Tapi ingat, status
kalian bukan suami istri lagi. Rey juga sudah menjadi tanggung jawab kamu. Kak
Dimas sangat marah dengan kejadian tadi,”
“Tapi, aku sama sekali
nggak ada niat buat ngelanjutin itu semua, Na,”
“Niat atau nggak. Yang
jelas apa yang dilihat oleh Kak Dimas, maka itu akan selalu benar. Tidak peduli
dengan penjelasan kamu. Maka dia akan terus mengikuti apa yang menurutnya itu
benar,”
“Viona, bisa kan kamu
yakinkan Kak Dimas?”
“Aku nggak bisa,
Nagita. Karena ini juga demi kebaikan kamu,”
“Tapi yang tadi itu
salah paham,”
“Yakinkan saja hatimu,
sudah mampu atau belum melupakan Azka. Ingat Nagita, semakin kamu berusaha
untuk melupakan dia. Maka dia akan terus kembali lagi untuk menemui kamu,”
“Aku mengerti.”
****
Malam tiba, waktunya
untuk makan malam. Kedua perempuan itu telah mempersiapkan makanan untuk mereka
berlima. Damar yang masih ditahan oleh Dimas di sana hanya ikut dengan apa yang
dilakukan oleh Dimas.
Hingga pada saat mereka
berkumpul. Semua makanan sudah tersaji dan acara makan malam pun sudah di
mulai. Semenjak dirinya menikah dengan Viona. Ia terlalu sensitif terhadap
Nagita karena tidak ingin kesalahan yang sama terulang lagi. Ia harus menjaga
tiga orang sekalipun. Bahkan nanti saat Viona dan dirinya dikaruniai seorang
anak, tentu itu akan menjadi semakin sulit lagi.
Memang selama ini Dimas
tidak pernah merasa bahwa Nagita adalah bebannya. Tetapi bagaimanapun juga ia
ingin yang terbaik untuk Nagita. Sudah cukup baginya melihat adik semata
wayangnya terluka oleh pria itu. Dimas sendiri tahu bahwa Nagita sangat
mencintai Azka. Tetapi ia tidak ingin melihat laki-laki itu seolah
mempermainkan hati Nagita begitu saja. Ia sudah cukup melihat adiknya menangis
karena pria tidak bertanggung jawab itu. Bahkan dengan rela menceraikan Nagita
demi perempuan lain.
Dimas sudah mengambil
keputusan matang dan akan mengirim Nagita ke luar negeri seperti yang telah di
bicarakannya tadi sore bersama dengan Damar. Bahkan pria itu sudah memiliki
teman di sana. Dan ia akan menitipkan dan membiayai segala keperluan Nagita
selama berada di sana.
“Nagita, lusa kamu akan
berangkat ke Jepang,” ucapnya saat itu juga. Membuat Nagita terkejut dan
menjatuhkan sendoknya.
“Maksudnya apa?”
“Kamu akan tinggal
selama beberapa tahun di sana. Rey akan tetap di sini sama kakak, kamu
berangkat di temani oleh Damar,”
“Damar ini apa-apaan?”
“Maaf Nagita. Aku nggak
bisa tahan kamu lagi di sini. Cukup lukanya, aku juga nggak tahan lihat kamu
seperti ini. Azka akan semakin kurang ajar datang dan pergi semaunya menyakiti
kamu,”
“Tapi, bisakan aku bawa
Rey?”
“Nggak, Nagita. Rey
akan tetap di sini,”
“Jepang. Tapi aku nggak
bisa bahasa Jepang,”
“Kita kursus di sana.
Aku akan menyiapkannya,”
“Tapi aku nggak kenal
siapa-siapa, Damar.”
“Aku akan menyiapkan
seseorang yang akan memudahkanmu selama berada di sana,”
“Aku usahakan nggak
bakalan ketemu dia lagi,”
“Kamu yang nggak
bakalan ketemu sama dia, tapi dia yang akan terus mencari keberadaan kamu.
Biarlah Rey di sini, Nagita. Kejar apa yang belum kamu capai. Aku sama Viona
akan didik Rey dengan baik. Kamu cukup belajar, dan buktikan bahwa kamu akan
menjadi perempuan yang sangat hebat. Yang bisa dibanggakan oleh Rey, yang bisa
membuat putramu bahagia. Lupakan dia selama kamu berada di sana!”
Perempuan itu hanya
mengangguk lesu. Waktunya hanya tinggal dua hari bersama dengan putranya. Dimas
melakukan itu juga demi kebaikan Rey dan juga Nagita.
“Mama mau ke mana?”
“Mama akan sekolah
lagi, Rey,” jawab Dimas. Ia tidak tega memisahkan kedua orang itu. Tetapi mau
tidak mau demi kebaikan keduanya. Ia harus memaksakan itu semua.
“Rey ikut, ya Ma?”
“Mama mau sekolah yang
rajin di sana. Nanti kalau sudah lulus. Pasti Mama bakalan balik lagi sama kita.”
Jelas Viona.
“Jepangnya di bagian
mana?”
“Antara Tokyo atau
Kyoto, tunggu saja kabarnya, Nagita.”
Jawab Damar dingin.
Nagita mengangguk.
Dimas yang melihat itu langsung merasa iba, tetapi ia tidak bisa lagi melihat
Nagita terus dirutuki dengan perasaan itu kepada Azka. Memisahkan Rey dan
Nagita bukan berarti menciptakan kebencian bagi keduanya. Tetapi itu semua demi
Nagita agar bisa lebih lepas dari Azka.