RICH MAN

RICH MAN
TAK TERDUGA



Setelah beberapa lama


berlibur, mereka memutuskan untuk kembali lagi karena Reynand akan kembali pada


aktivitas sekolahnya. Nagita tidak ingin berlama-lama lagi untuk membiarkan Rey


tetap liburan. Nanti akan ada waktunya untuk liburan lagi. Setelah memberi


penjelasan kepada Rey, anak itu berhasil mereka yakinkan. Dan saat itu juga


Nagita dan juga Rey telah tiba di rumah. Di sana belum ada Dimas dan juga Viona


kembali ke rumah mereka.


Siang itu setelah


mereka tiba di rumah. Nagita langsung membiarkan Rey untuk istirahat. Beberapa


hari lagi ulang tahun Rey yang ke-6. Itu artinya untuk pertama kali Rey akan


merayakan ulang tahun tanpa kehadiran Azka.


Damar yang juga berada


di rumah itu melihat Nagita duduk di ruang tamu sambil menyandarkan kepala di


sandaran sofa.


“Kamu mikirin apa?”


Nagita menoleh, “Nggak


apa-apa,”


“Rey sebentar lagi


ulang tahun, kita rayakan bareng ya!”


“Eh? Nggak usah,”


“Nggak usah di tolak,


Nagita. Meskipun aku sadar bahwa nggak bisa gantikan Azka dalam hidup kamu,


setidaknya kamu bisa terima pemberian aku,”


Nagita membenarkan


posisi duduknya yang tadi bersandar langsung berhadapan dengan Damar.


“Damar, sebenarnya niat


kamu bantuin aku ituu ikhlas atau berharap ada yang kembali?”


“Aku nggak harapin


apa-apa, Nagita. Aku cuman pengin kamu itu bahagia sama anak kamu, bukan


berarti aku minta apa-apa semenjak bantu kamu, ngajakin Rey liburan dan segala


macam. Ayo kita bahagiakan Rey, aku tahu bukan hakku seperti ini. Tapi aku tahu


bagaimana rasanya tanpa seorang Papa,”


“Kamu?”


“Sudahlah. Aku ini kepala


keluarga Nagita, segala hal yang berkaitan dengan keperluan adik-adikku, semua


aku yang memberikannya. Termasuk kamu, aku sudah anggap kamu seperti adik aku


sendiri. Adik perempuanku juga sama, aku membiayai dia soal pendidikan. Dan


satu hal lagi, aku tidak pernah merasa bahwa ini adalah beban, apalagi untuk


Rey, cobalah lihat dia, kamu berjuang seorang diri. Walaupun ada Dimas di sisi


kamu. Nggak selamanya kasih sayang Dimas itu sama seperti sebelumnya. Mengingat


sekarang dia sudah menikah, dan apa kamu sudah bersedia untuk menempuh


pendidikan lagi?”


Nagita berpikir, ia


mengingat bahwa Rey kini adalah tanggungannya seorang diri. Ia harus


membesarkan Rey sendirian dan biaya pendidikan yang mungkin nanti akan menjadi


sangat berat baginya. Traumanya terhadap cinta masih membekas.


“Iya, aku akan usahakan


bagi waktu,”


“Di Amerika mau?”


“Di sini saja, Mar. Aku


mau awasi Rey juga,”


“Okelah, seenggaknya


kamu itu setuju dengan apa yang aku inginkan. Nagita, aku nggak pernah berpikir


bahwa akan menagih semua ini. Aku ikhlas bantuin kamu sama Dimas, ikhlas


bantuin kamu sama Rey, ingat dia masih sangat kecil. Nggak selamanya dia bisa


lupa dengan Daddy-nya. Dan lagi, kamu juga harus berkuat diri saat suatu hari


nanti Rey mencari keberadaan Azka. Dan kamu masih berhak untuk bahagia. Meski


bukan dengan Azka,tetapi buktikan padanya. Perempuan yang ia remehkan hari


lalu, akan menjadi lebih baik lagi kedepannya, bukan untuk di sakiti. Tetapi


untuk di kagumi. Jika waktu mengembalikan Azka, itu adalah pilihan kamu. Menerima


dia yang telah menyakiti kamu, atau mencari kebahagiaan tersendiri kamu bersama


dengan Rey. Soal ucapannya mengenai Papa baru dan menggantikan Azka, sungguh di


dalam hati aku nggak pernah mau menyinggung soal itu. Jika pun benar Rey


menginginkan hal itu, tentu saja itu bukan aku yang akan menggantikannya. Kamu


ada waktu untuk mencari pasangan lagi. Kamu masih muda, cantik. Benar bahwa


dulu usia di mana kamu belum waktunya menikah harus menghadapi semua ini


sendirian, Azka yang sangat dewasa, yang harusnya pria itu mampu mendidik dan


membimbing kamu, justru menyakiti hati kamu,”


“Barang kali memang


sudah waktunya berpisah bukan? Aku sama Rey bahagia,” ucapnya menguatkan diri.


Jauh di dalam hatinya, ia masih sangat kecewa dengan Azka. Di dalam rumah


tangga yang selama ini ia anggap baik-baik saja justru tersembunyi sebuah


rahasia yang di mana hingga saat itu juga Azka tidak pernah mampu melupakan


masa lalunya.


“Jangan pura-pura untuk


merasa kuat, Nagita. Terkadang baik-baik saja adalah hal yang pura-pura,”


“Aku ngerti. Dan saat


hari terakhir kita liburan waktu itu, Azka menghubungiku lagi,”


“Tujuannya?”


“Mengajak Rey untuk


bertemu. Tapi aku menolaknya karena Rey sudah sering kali di kecewakan. Saat


itu dia pernah berjanji akan menjemput Rey, hingga malam tiba dia tidak datang


juga. Dan hari itu Rey mulai membencinya,”


“Sudahlah. Hati kamu


sudah cukup untuk kecewa. Suatu saat jika memang ada pria yang menerima


kehadiran Rey, silakan diterima. Jangan ditolak, itu berarti dia menganggap


bahwa Rey juga merupakan tanggung jawabnya,”


Nagita mengangguk. Ia


beranjak dari tempat duduknya menuju dapur menyiapkan minuman untuk Damar. Pria


itu sudah banyak sekali membantunya. Bahkan saat ini setelah kedekatan mereka


beberapa minggu yang lalu, mereka semakin dekat dan ia perlahan bisa


mengikhlaskan perceraiannya dengan Azka.


Ia kembali lagi dan


menemukan Damar sedang berbaring di sofa. Ia meletakkan minuman itu di atas


meja dan membiarkan Damar istirahat di sana. Karena perjalanan panjang mereka


yang teramat lama. Membuat Nagita juga merasa kelelahan.


*****


Nagita terbangun dari


tidurnya sore itu, ia mengerjapkan matanya berusaha mencari kesadaran. Ia


mengucek-ngucek matanya dan langsung ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Ia


masih melihat Damar tertidur di sofa ruang tamu. Karena selama berlibur, Damar


sangat jarang tidur karena terlalu banyak mengajak mereka jalan-jalan.


Nagita keluar dari


rumahnya mencari keberadaan Rey. Anak itu juga terdengar tertawa sangat bebas


sore itu.


“Rey?”


Nagita baru saja


keluar, dan menemukan Rey tengah bermain bola bersama dengan Azka. Pria itu


datang lagi saat dirinya merasa sudah sangat membaik.


“Mama, Papa datang,”


“Daddy sayang,” ucap


Azka.


“Iya, Daddy maksud


Rey,”


“Rey, masuk!”


“Tapi, Ma. Rey pengin


main sama Daddy,”


“Mama bilang masuk!”


“Jangan teriak sama,


Rey,”


“Rey, dengerin Mama.


Mama bilang masuk!”


Anak itu langsung


menghampirinya dan masuk ke dalam rumah. Ia mendekati Azka dan langsung


mengambil bola itu dan menyerahkannya kepada Azka.


“Sudah cukup kamu


datang kemari, Mas. Aku harap kamu nggak ganggu kehidupanku sama, Rey. Aku


nggak butuh sama kamu, aku bisa besarin Rey sendirian,”


“Nagita dengerin aku


ngomong!”


“Apa yang harus di


dengerin lagi? Kamu mau bilang kalau selama ini kamu nyesel udah sia-siain anak


kamu? Kamu nyesel kalau selama ini kamu udah abaikan Rey, dan sekarang semejak


pergi, kamu merasa sangat kesepian, gitu?”


“Nagita, bagaimanapun


juga Rey anak aku,”


“Sekarang kamu aku Rey


anak kamu. Tapi kamu sudah menyakiti hati dia, bukan cuman aku. Dan aku nggak


yakin kalau cuman Rey anak kamu, mungkin diluaran sana masih banyak Rey yang


lain lahir dari rahim perempuan-perempuan yang kamu tiduri, bahkan aku bodoh


sekali ngasih kamu kesempatan,”


“Nagita, aku mencintai


kamu,”


“Bagaimana dengan,


Deana?”


Hingga akhirnya pria


itu terdiam. Nagita mengerti jika sudah membahas hal itu, Azka langsung tidak


bisa menjawab apa pun.


“Sekali saja, Azka.


Biarin aku bahagia dengan Rey, nggak semestinya kamu itu buat aku kayak gini


terus. Kamu bukan siapa-siapa lagi. Dan soal Rey, dia sudah dapat pengakuan


kamu saja itu sudah cukup. Bagaimana pun juga Rey tetap anak aku, Mas. Jangan


lagi kamu hadir, Rey sudah cukup kamu buat menderita dengan janji-janji kamu,”


Nagita hampir saja


menjatuhkan air matanya lagi. Tetapi kali ini ia menahan dirinya agar kuat,


tidak lemah lagi di depan Azka. Hatinya sudah terlalu sakit berada di dekat


pria itu. Bahkan dia tidak bisa menampakkan dirinya yang cengeng seperti waktu


itu. Saat terakhir di mana Azka mencium sebelum melepaskan dirinya.


Ia berbalik, namun Azka


begitu saja menariknya dan merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan Azka. Ia


memberontak tetapi hingga akhirnya ia terdiam saat itu juga. Tenaganya sudah


habis untuk melawan.


“Nagita, Azka. Kalian


Nagita langsung menoleh


ke sumber suara. Yang di sana ada Dimas yang baru saja pulang dari bulan


madunya dan langsung menarik Azka dan memukulnya.


“Nagita bukan lagi


hakmu, untuk apa kamu memeluknya lagi? Apa kamu hanya untuk merayunya? Azka,


pergilah. Jangan ganggu kehidupan Nagita lagi. Aku sudah muak melihat wajahmu


yang terus memelas saat datang kemari,”


“Kak, sudah jangan


dipukuli lagi, aku nggak apa-apa.” Cegah Nagita yang berusaha melepaskan Dimas


yang terus memukuli Azka.


“Masih ada nyalimu


untuk datang lagi?”


“Kak, ayo masuk!”


Nagita menarik tubuh


Dimas dan pria itu langsung pergi begitu saja. Nagita menundukkan kepalanya


saat berada di dalam rumah. “Katakan Nagita, kenapa dia ada di sini?” bentak


Dimas yang membuat Damar langsung terbangun dari tidurnya. Sedangkan Nagita


hanya menunduk tak berani menatap ke arah mata Dimas.


“Papa datang waktu Rey


main sama teman-teman,” jelas Rey yang tiba-tiba muncul dari kamarnya.


“Rey kenapa ketemu sama


Papa?”


“Rey kangen Papa,”


“Bukannya Rey bilang


nggak mau ketemu, Papa?” bentaknya. Nagita tak pernah menemukan Dimas semarah


itu sebelumnya. Kali ini ia harus bersabar dan menerima kenyataan bahwa Dimas


benar-benar membenci kehadiran Azka saat ini.


“Ada apa sih, Dimas?”


Damar berusaha mengumpulkan kesadarannya dan memegangi kepalanya yang sakit.


“Azka datang lagi,”


“Kenapa bisa?”


“Dia datang menemui


Rey, tapi tadi aku menemukan dia memeluk Nagita,”


“Benar begitu Nagita?”


tanya Damar.


“I-iya,” ucapnya pelan


dan gugup. Rey langsung mendekati Nagita dan memeluknya.


“Mama nggak salah, Rey


yang salah udah ketemu sama Papa, Mama nggak sengaja. Bahkan Mama marahin Rey


waktu ketemu, Papa,”


Nagita melihat ke arah


putranya. Ia langsung memeluk putranya.


“Rey nggak salah


sayang, nggak apa-apa kok. Sekarang Rey masuk kamar,”


“Rey nggak mau Mama di


marahin sama Om Dimas gara-gara Rey yang ketemu sama Papa,”


Dimas hanya terdiam.


Begitupun dengan Damar yang tadinya sempat berubah ekspresi karena semenjak


Dimas menceritakan bahwa Azka datang lagi. Pria itu sungguh langsung berubah


menjadi tidak suka.


Nagita mengajak Rey


untuk masuk kamar. Begitupun dengan Viona yang mengajaknya untuk ke kamar


mengajak Rey.


Ia membiarkan kedua


pria itu berbincang. Sedangkan mereka bertiga sudah ada di kamar dan Nagita


hanya memeluk Rey. Berusaha menguatkan diri di sana dan ditenangkan oleh Viona.


“Nagita, sebenarnya apa


yang terjadi? Kenapa tiba-tiba dia datang lagi?”


“Dia bilang ketemu sama


Rey,”


“Kamu tahu Kak Dimas


itu benci banget sama dia. Kenapa kamu malah mau dipeluk sama dia?”


“Aku sudah berusaha


menolak. Tapi dia terus saja memelukku, Viona. Aku harus bagaimana saat seperti


itu? Azka akan terus berusaha kalau aku terus melawan,”


“Tapi ingat, status


kalian bukan suami istri lagi. Rey juga sudah menjadi tanggung jawab kamu. Kak


Dimas sangat marah dengan kejadian tadi,”


“Tapi, aku sama sekali


nggak ada niat buat ngelanjutin itu semua, Na,”


“Niat atau nggak. Yang


jelas apa yang dilihat oleh Kak Dimas, maka itu akan selalu benar. Tidak peduli


dengan penjelasan kamu. Maka dia akan terus mengikuti apa yang menurutnya itu


benar,”


“Viona, bisa kan kamu


yakinkan Kak Dimas?”


“Aku nggak bisa,


Nagita. Karena ini juga demi kebaikan kamu,”


“Tapi yang tadi itu


salah paham,”


“Yakinkan saja hatimu,


sudah mampu atau belum melupakan Azka. Ingat Nagita, semakin kamu berusaha


untuk melupakan dia. Maka dia akan terus kembali lagi untuk menemui kamu,”


“Aku mengerti.”


****


Malam tiba, waktunya


untuk makan malam. Kedua perempuan itu telah mempersiapkan makanan untuk mereka


berlima. Damar yang masih ditahan oleh Dimas di sana hanya ikut dengan apa yang


dilakukan oleh Dimas.


Hingga pada saat mereka


berkumpul. Semua makanan sudah tersaji dan acara makan malam pun sudah di


mulai. Semenjak dirinya menikah dengan Viona. Ia terlalu sensitif terhadap


Nagita karena tidak ingin kesalahan yang sama terulang lagi. Ia harus menjaga


tiga orang sekalipun. Bahkan nanti saat Viona dan dirinya dikaruniai seorang


anak, tentu itu akan menjadi semakin sulit lagi.


Memang selama ini Dimas


tidak pernah merasa bahwa Nagita adalah bebannya. Tetapi bagaimanapun juga ia


ingin yang terbaik untuk Nagita. Sudah cukup baginya melihat adik semata


wayangnya terluka oleh pria itu. Dimas sendiri tahu bahwa Nagita sangat


mencintai Azka. Tetapi ia tidak ingin melihat laki-laki itu seolah


mempermainkan hati Nagita begitu saja. Ia sudah cukup melihat adiknya menangis


karena pria tidak bertanggung jawab itu. Bahkan dengan rela menceraikan Nagita


demi perempuan lain.


Dimas sudah mengambil


keputusan matang dan akan mengirim Nagita ke luar negeri seperti yang telah di


bicarakannya tadi sore bersama dengan Damar. Bahkan pria itu sudah memiliki


teman di sana. Dan ia akan menitipkan dan membiayai segala keperluan Nagita


selama berada di sana.


“Nagita, lusa kamu akan


berangkat ke Jepang,” ucapnya saat itu juga. Membuat Nagita terkejut dan


menjatuhkan sendoknya.


“Maksudnya apa?”


“Kamu akan tinggal


selama beberapa tahun di sana. Rey akan tetap di sini sama kakak, kamu


berangkat di temani oleh Damar,”


“Damar ini apa-apaan?”


“Maaf Nagita. Aku nggak


bisa tahan kamu lagi di sini. Cukup lukanya, aku juga nggak tahan lihat kamu


seperti ini. Azka akan semakin kurang ajar datang dan pergi semaunya menyakiti


kamu,”


“Tapi, bisakan aku bawa


Rey?”


“Nggak, Nagita. Rey


akan tetap di sini,”


“Jepang. Tapi aku nggak


bisa bahasa Jepang,”


“Kita kursus di sana.


Aku akan menyiapkannya,”


“Tapi aku nggak kenal


siapa-siapa, Damar.”


“Aku akan menyiapkan


seseorang yang akan memudahkanmu selama berada di sana,”


“Aku usahakan nggak


bakalan ketemu dia lagi,”


“Kamu yang nggak


bakalan ketemu sama dia, tapi dia yang akan terus mencari keberadaan kamu.


Biarlah Rey di sini, Nagita. Kejar apa yang belum kamu capai. Aku sama Viona


akan didik Rey dengan baik. Kamu cukup belajar, dan buktikan bahwa kamu akan


menjadi perempuan yang sangat hebat. Yang bisa dibanggakan oleh Rey, yang bisa


membuat putramu bahagia. Lupakan dia selama kamu berada di sana!”


Perempuan itu hanya


mengangguk lesu. Waktunya hanya tinggal dua hari bersama dengan putranya. Dimas


melakukan itu juga demi kebaikan Rey dan juga Nagita.


“Mama mau ke mana?”


“Mama akan sekolah


lagi, Rey,” jawab Dimas. Ia tidak tega memisahkan kedua orang itu. Tetapi mau


tidak mau demi kebaikan keduanya. Ia harus memaksakan itu semua.


“Rey ikut, ya Ma?”


“Mama mau sekolah yang


rajin di sana. Nanti kalau sudah lulus. Pasti Mama bakalan balik lagi sama kita.”


Jelas Viona.


“Jepangnya di bagian


mana?”


“Antara Tokyo atau


Kyoto, tunggu saja kabarnya,  Nagita.”


Jawab Damar dingin.


Nagita mengangguk.


Dimas yang melihat itu langsung merasa iba, tetapi ia tidak bisa lagi melihat


Nagita terus dirutuki dengan perasaan itu kepada Azka. Memisahkan Rey dan


Nagita bukan berarti menciptakan kebencian bagi keduanya. Tetapi itu semua demi


Nagita agar bisa lebih lepas dari Azka.