RICH MAN

RICH MAN
AKAN DI LINDUNGI



Dua remaja remaji itu sedang duduk di sebuah kafe pusat kota Jakarta. Semenjak pertemuan tadi dan semenjak Rey menjemput Bintang, bahkan hingga di kafe tersebut keduanya masih sibuk dengan pikiran masing-masing. Gadis itu nampak membuang pandangan ke tempat lain. Pun begitu dengan Rey yang tidak tahu harus mencari topik pembicaraan seperti apa, dia memesan minuman dan beberapa makanan.


Mereka memang pergi bersama, tapi apa gunanya jika terus diam dan tidak bertegur sapa sama sekali.


Di luar jendela kafe, nampak hujan turun sangat deras. Sore itu banyak sekali orang-orang yang berusaha untuk mencari tempat berteduh, ada pula yang rela tubuhnya diguyur hujan tanpa mencari tempat berteduh. Namun, di sana ada beberapa kendaraan bermotor yang mengenakan jas hujan dan tetap menerobos lebatnya hujan sore itu.


"Sebenarnya kita ini apa?" Rey membuka pembicaraan, bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya dan juga Bintang.


Dulu, sebelum bertemu dengan Bintang, kehidupannya tidak pernah merasa ada kebimbangan sedikit pun. Dia menjalani hidup dengan sangat baik, apalagi dengan kehadiran kedua adiknya dan juga lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan gadis itu sekarang. Hingga kini, Rey masih belum memperkenalkan Bintang kepada orang tuanya, dia hanya ingin berteman dengan baik. Masih belum ingin menjalin suatu hubungan yang bisa membuat keduanya menjadi semakin renggang nantinya.


Tak ada tanggapan apa pun dari Bintang, Rey mendengus dan berdecak kesal. "Bintang?"


Gadis itu menatapnya sekilas, "Eh iya? Kamu bilang apa? Sorry, aku lagi lihatin mereka," Ternyata gadis itu tak menanggapi ucapannya sama sekali, Reynand menarik napas panjang dan langsung meraih sedotan itu dan meneguk minumannya. Dia hampir saja ingin menanyakan status hubungan mereka.


"Kamu kenapa dari tadi diam saja?"


"Aku lihatin mereka yang rela hujan-hujanan, Rey. Coba kamu lihat, ada orang yang mendorong gerobaknya sambil hujan-hujanan, itu pedagang es sih sepertinya," Bintang menunjuk salah satu pria paruh baya yang basah sambil mendorong gerobaknya dipinggiran kafe tempat mereka nongkrong.


"Terus, kamu mau ngapain?"


Gadis itu berdiri, "Minimal kita itu tawari makanan atau minuman hangat untuk menghangatkan badan dia, kita nongkorng di tempat mahal begini bukan berarti kita enggak boleh tidak peduli sama orang, tapi ya kita tawari apa saja yang barangkali bermanfaat buat dia,"


Rey mengangguk pelan dan berdiri kemudian mengikuti ke mana Bintang pergi, dia membiarkan minumannya ada di sana dan memesankan minuman hangat dan beberapa makanan untuk pria paruh baya itu. Dan beberapa saat kemudian, seorang anak kecil yang mungkin usianya baru tujuh tahun berlari mendekati seorang pria tersebut, "Nak, maaf Bapak tinggal karena harus buru-buru selamatin jualan, Bapak,"


Anak kecil itu nampak sedang mengusap wajahnya sambil membersihkan sisa air yang ada di wajahnya, anak laki-laki sedang membawa jualannya juga.


"Ayo, masuk!" ajak Bintang.


"Enggak usah, Non,"


"Bapak, kita minum kopi atau apa aja," tawar Bintang. Namun, tetap saja pria itu menolak.


"Pak, aku lapar,"


Rey menoleh ke arah anak kecil itu dan mengingat bahwa di dalam tidak ada makanan yang mengenyangkan, di sebelahnya ada restoran yang cukup terkenal.


"Bawa ke sebelah, nanti aku nyusul, Bintang!" perintah Rey. Dia pun masuk kembali dan langsung membayar minuman yang tadi mereka minum dan juga minuman yang batal dia pesan. Rey bergegas meninggalkan tempat itu kemudian pindah ke restoran yang ada di sebelah kafe tersebut.


Rey melangkah menuju Bintang yang dan kedua orang tersebut, dia duduk di sana sementara Bintang izin untuk memesankan mereka makanan. "Adik kecil namanya siapa?"


"Rendi, kak,"


"Pakai ini ya, Pak, Rendi, kalian pasti kedinginan!"


Rey menyerahkan jaketnya dan mengantarkan kedua orang itu ke kamar mandi untuk mengganti bajunya, untuk bawahan, Rey tidak punya celana di dalam mobilnya. Dia hanya membawa jaket yang selalu di bawanya.


"Mbak, ada mesin pengering enggak?" ucapnya pada salah satu karyawan.


"Ada, Mas. Di sebelah toilet perempuan, di lorong itu ya!" Rey menoleh sesaat dan menemukan mesin cuci di sana.


"Pak, Bisa pinjam pakiannya sebentar? Saya keringkan dulu," izin Rey. Namun pria itu ragu, Rey meyakinkan dan hingga pada akhirnya pria paruh baya itu langsung menyerahkan celananya, baju dan bersembunyi dibalik pintu. Begitupun dengan Rendi.


Rey langsung izin sebentar untuk mengeringkan baju dan juga celana keduanya yang benar-benar membuat Reynand kasihan. Dia membayangkan bagaimana jika adiknya yang berada di posisi itu, Bintang benar bahwa tidak ada alasan untuk tidak peduli sama orang lain.


Tiga menit berlalu, Rey langsung membawa pakaian yang tadi dia keringkan kepada dua pria itu. "Terima kasih, Nak," Rey hanya membalas dengan senyuman dan mengajak keduanya untuk ke meja makan lagi.


Di sana sudah ada Bintang dengan makanan yang sudah tersaji begitu banyak di atas meja. Melihat Bintang yang menyambut mereka berdua dengan senyuman khasnya, Rey pun membalas dengan senyuman dan duduk berhadapan dengan kedua orang itu.


"Bapak enggak punya uang untuk bayar,"


Rey tersenyum dan mengelus pundak pria itu.


"Biar saya yang bayar, Bapak sama Rendi makan dengan tenang,"


"Tapi ini pasti mahal, kalian dapat uang dari orang tua kalian, kan? Gimana sama orang tua kalian?"


"Pak, Bapak jangan khawatir. Bukankah berbagi itu juga termasuk kebaikan? Dan tidak ada salahnya kita membagi makanan bukan? Saya kali ini ingin berbagi makanan sama Bapak dan juga Rendi, jadi kalian makan sepuasnya, Papa saya enggak bakalan marah hanya karena ini,"


Kedua laki-laki itu nampak makan dengan sangat lahap. Rey justru sangat senang bisa berbagi seperti ini. Beberapa menit kemudian setelah hujan reda, kedua orang itu pamit untuk lanjut berjualan. Rey pun memberikan sedikit rezekinya kepada pria paruh baya itu.


Tadi, pria itu menolak, namun Rey tetap memberikan sejumlah uang itu kepada pria tersebut untuk menambah modal. Rey hanya tersenyum setelah pria itu menerima uang yang dia berikan.


Bintang kemudian menceritakan kisahnya yang ingin sekali melihat orang tuanya utuh kembali, mendengar cerita pria itu tadi tentang istrinya, Bintang sempat menangis dan Rey melihat itu dengan tatapan iba. Tentang perceraian, bagaimana pun juga dia pernah merasakan bagaimana pahitinya perceraian orang tua.


"Bintang, jika suatu waktu kamu mau mencari Mama kamu, aku siap untuk bantuin kamu,"


Bintang menatapnya lekat, "Kamu serius, kan?"


"Iya, aku serius. Kita akan cari bareng-bareng."


Rey hanya ingin Bintang bahagia, dia peduli terhadap Bintang. Namun terkadang saat seseorang mulai peduli dengan orang lain, itu hanya akan menambah beban pada hidupnya. Tetapi jika itu untuk kebaikan orang lain, Rey akan berusaha untuk membantu. Tidak peduli seberapa sering orang merendahkannya dan mencemooh usahanya dalam membantu Bintang. Dia tidak akan peduli, dia akan melindungi Bintang. Akan tetap bersama di sisi gadis itu.