RICH MAN

RICH MAN
KANDIDAT



Sebuah taksi berhenti di rumah Azka dan juga Nagita. Seorang pria keluar dari taksi itu sambil membawa beberapa barang yang sengaja di bawa olehnya. Dia adalah Erlangga. Putra pertama Dimas yang berencana untuk menginap di rumah tantenya.


Dengan penampilan yang serba sederhana. Lelaki berusia belasan tahun itu berdiri di depan pintu, pertama-tama dia merasa sangat asing jika harus diminta oleh kedua orang tuanya untuk berkunjung ke rumah itu.


Dengan perlahan, dia berusaha untuk meyakinkan diri menekan tombol bel. Baru saja dia hendak menekan, tetapi tante Nagita sudah membuka pintu.


"Erlangga sama siapa kemari?" ucap perempuan itu spontan setelah melihat Erlangga datang.


"Sendirian, tante. Om ada?"


"Ada tuh di dalam, ayo masuk!"


Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah yang selalu saja nampak begitu rapi. Erlangga sendiri tahu bahwa Rey sudah tidak tinggal di rumah lagi karena memilih tinggal di apartemen belajar hidup mandiri. Erlangga tahu bahwa kakak sepupunya itu akan selalu bersikap sok paling bijak. Apalagi dia tahu sendiri bahwa sepupunya memiliki masalah perihal hati.


"Om," Erlangga langsung duduk disebelah Azka yang sedang sibuk dengan beberapa file. "Sibuk banget sampai enggak tahu aku datang," ucap Erlangga karena melihat om nya sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sore itu dia berencana berlibur di sana karena kesepian di rumah. Orang tuanya memilih untuk pulang kampung, sedangkan dia memilih untuk menginap di rumah Nagita.


"Angga, kapan datang?" ucap Azka, membuat lelaki yang ada disebelahnya itu langsung merapikan rambutnya.


"Om, aku dari tadi nyapa, loh. Om aja yang sok sibuk gitu sama pekerjaan Om. Memangnya aku ini enggak terlihat, Om?"


Azka memukul bahu Erlangga dengan map itu, hingga lelaki itu pura-pura mengaduh kesakitan. Dia melihat beberapa ada foto seorang perempuan berserta dengan biodata lengkap.


"Nyari karyawan Om? Kok Om yang milih kandidatnya?"


Azka menoleh dan melepaskan kaca mata yang sedang dia gunakan dan meletakkan lembaran itu. "Bukan, Om lagi milih kandidat yang di mana akan dijodohkan untuk kakak kamu, bayangkan saja dia terus saja dingin sama perempuan, Om khawatir kalau dia enggak bisa dapat pasangan kalau gitu caranya,"


Erlangga tertawa mendengar pernyataan Azka yang sedang berencana untuk mencarikan jodoh untuk Rey. "Apa enggak ada kandidat lain?"


"Ini udah banyak,"


"Ohya, umur kak Rey berapa sih? Kok mau dinikahkan?"


"25 tahun, Angga. Tapi bukan karena dia itu belum pantas nikah. Om hanya mau dia mendapatkan yang terbaik dan bisa ngelupain itu perempuan,"


Erlangga mengangguk paham, dia tahu bahwa Rey memiliki masalah bersama dengan seorang perempuan yang dia sendiri tidak ketahui siapa yang telah berhasil menghancurkan perasaannya hingga saat ini.


"Kalau memang itu yang terbaik, silakan. Tapi kalau Rey enggak cinta sama istrinya gimana? Yang ada malah nyakitin tuh hati perempuan,"


"Makanya Om nyari yang karakternya baik dulu, lembut minimal. Kamu tahu kakak kamu sedingin es,"


"Papa beneran mau cariin Rey istri?"


"Memangnya Papa bercanda? Enggak, Ma. Papa serius mau cariin dia, Papa enggak bercanda. Apa pun alasannya, Ma. Rey akan tetap menikah dengan perempuan pilihan, Papa,"


Erlangga sedikit mengerti dengan apa yang dirasakan oleh orang tua itu. Dia tak berbicara banyak hal. "Minimal ngomong sama kak Rey, kalau emang dia setuju, ya sudah kita tinggal lanjutin aja gitu, apakah bakalan dilanjut apa gimana. Jangan hanya mengambil putusan sepihak, karena enggak bakalan adil buat dia,"


Nagita mengangguk sebagai memberi jawaban atas apa yang dikatakan oleh erlangga tadi, dia juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh keponakannya itu.


"Om sudah pikirkan konsekuensinya seperti apa, Angga. Jadi Om enggak bakalan juga mau nyakitin hati anak orang gitu aja, Om juga mikirin gimana kedepannya,"


"Mending ngomong sama Papa. Karena Papa kan temannya banyak, jadi enggak usahlah Om itu pusing, nanti salah yang ada. Hmm setahu aku Kak Rey juga nurut sama Papa, mending kalau mau jodohin dia, ngomong dulu sama Papa, siapa tahu Papa punya kandidat yang lebih baik kan, sesuai sama karakter kak Reynand," usul Erlangga. Azka dan Nagita pun mengangguk bersamaan.


Sebagai orang tua yang memiliki anak seusia Reynand, bukan karena ingin buru-buru untuk mendapatkan menantu, tetapi mereka berdua tidak tahan jika melihat Reynand pergi pagi pulang pagi, bukan ke kelab. Melainkan dia menyibukkan diri bekerja. Jika anaknya terus saja seperti itu, tidak menutup kemungkinan bahwa tubuh anaknya segera tumbang, dia tidak ingin hal itu terjadi pada Reynand.


Mungkin Rey sering berbicara pada mereka, tetapi terlihat dari raut wajah pria itu, bahwa dia sedang berbicara dengan masa lalunya sendiri yang belum pernah ditemui lagi hingga saat itu. Untuk mengisi rasa kesepian, siapa pun bisa. Bahkan saat suasana begitu ramai, hanya hati yang tidak bisa dijelaskan bagaimana rasa kesepian itu nyata. Nagita dan Azka sangat paham, bahwa malam hari anaknya selalu berdiri sambil menatap langit.


Keduanya sering membuktikan bahwa anak itu masih menyimpan kenangan masa lalu yang belum juga usai. Mereka memastikan bahwa itu ada sangkut pautnya dengan masa lalu Reynand.


Azka sendiri pernah mengikuti dari belakang. Saat Reynand datang ke salah satu taman membawa bunga, hingga malam. Lelaki itu masih menunggu, Azka tahu bahwa itu belum bisa membuat Reynand berhenti begitu saja.


Menyekolahkan Reynand ke tempat yang jauh lebih baik, bahkan mengasingkan Reynand ke luar negeri. Tetapi tetap saja, setiap tahun anaknya itu pulang hanya untuk pergi ke taman itu kemudian pergi lagi.


Bukanlah menjadi rahasia yang benar-benar tertutup lagi bagi Azka. Anaknya juga sudah berhasil mendirikan sebuah perusahaan tanpa bantuan darinya. Semua itu murni dari hasil kerja keras Rey, tetapi untuk urusan hati. Satupun tidak ada perempuan yang berhasil menerobos dinding pertahanan Reynand.


Begitu kuat ingatan perempuan itu hingga kini membuat anaknya menjadi pribadi yang berbeda. Reynand yang dahulunya adalah pria yang begitu hangat dan selalu ramah, tiba-tiba berubah menjadi dingin dan jarang menyapa orang lain seperti dulu.


"Kriteria tante sama Om kayak gimana?" celetuk Erlangga.


Azka dan Nagita saling tatap. "Hmm yang bisa mengerti keadaan kakak kamu," jawab Nagita santai.


"Aku ada kandidat, tapi aku yakin ini akan menjadi ujian berat. Buat kalian juga, karena Kak Rey sendiri kan masih terjebak sama hati dia di masa lalu. Kalau nanti mereka bertengkar, kalian harus siap menjadi penenang dan menenangkan keduanya,"


"Kamu kenal di mana?"


"Gurunya si Lyla, Om. Nanti kalian pasti akan tercengang, tunggu aja. Gimana? Mau enggak?" tawar Erlangga.


Kedua pasangan itu pun menantikan di mana Erlangga akan mencari tahu latar belakang guru adiknya yang beberapa kali menjadi sorotannya.