RICH MAN

RICH MAN
KEBOHONGAN ITU



Maaf yang udah lama nunggu karena author sedang ujian. Hehehe, mohon maaf sebesar-besarnya ya.


Jangan lupa vote dan like ya, hehehe.


 


 


“Mas sarapan dulu!” Marwa memanggil Rey yang tengah berenang sepagi itu.


“Kamu kenapa sih, Mas?”


“Tau,”


Perempuan itu menarik napasnya dalam-dalam kemudian mengembuskannya secara perlahan dia pun tidak mengerti dengan suaminya yang tiba-tiba berubah seperti itu.


“Mas, ayo sarapan!”


“Enggak,” Rey menekankan setiap kata kemudian menjauhi istrinya. Sejujurnya dia sangat cemburu dengan pernyataan Dhyo kemarin, dia menyelam dan andai saja dia bisa menelan semua air yang ada di kolam itu, Rey sudah melakukannya karena hatinya benar-benar panas mendengarkan ucapan pria mengenai dia adalah masa lalu istrinya.


Setelah melihat istrinya beranjak meninggalkan dia sendirian, Rey duduk dipinggiran kolam. “Hah, memangnya siapa kamu berani-beraninya mau dekati istri aku?” ucap Rey kesal. Dia cemburu, dia kini merasakan cemburu yang benar-benar membuatnya sesak. “Sekeren apa sih kamu? Memangnya aku nggak bisa apa ngalahin kamu? Sampai kamu percaya diri bilang kalau kamu pernah mencintai istri aku dan tidak menutup kemungkinan kamu bakalan ngerayu dia lagi,” gerutu Rey. Tiba-tiba saja dia dipasangkan handuk oleh istrinya.


“Mas, kamu kenapa sih? Ngomong sendiri dari tadi?”


“Marwa, Dhyo mantan kamu?”


Marwa melotot, “Mantan apa?”


“Mantan pacar kamu,”


“Kapan aku pernah pacaran?”


“Mana aku tahu, siapa tau sebelum aku kamu pernah sama dia,”


Marwa mengerucutkan bibirnya. “Mas itu sinting ya, katanya mau perbaiki rumah tangga. Tapi cemburunya itu keterlaluan, apa Mas nggak mikir kalau memang dia itu mantan aku. Mungkin aku bakalan perlakukan dia dengan istimewa,”


“Siapa tahu kamu polos karena ada aku,”


“Mas, udah deh jangan ngomong gitu. Kamu mau lihat aku benar-benar pergi dari hidup kamu?” ancamnya. Padahal kenyataan itu memang akan dia lakukan, memberikan Rey kebahagiaan terakhir adalah niat Marwa. Sebenarnya berat, akan tetapi tingkah Rey membuatnya sakit. Walaupun pernah meminta maaf, tidak semua kesalahan itu mampu dimaafkan oleh hati. Dan tidak semua kesalahan itu mampu dilupakan oleh ingatan begitu saja. Terkadang ingatan bisa melupakan, tapi rasa sakit selalu datang mengingatkan.


“Marwa,” suara serak Rey membuat istrinya menoleh begitu saja.


“Kenapa, Mas?”


“Maaf,” Rey memainkan jemarinya sambil menunduk. “Maaf atas kesalahan aku,”


Setiap kali ucapan maaf itu terlontarkan dari mulut suaminya, sontak kecewa itu teringat lagi dan membuka luka lama dihati Marwa.


“Kenapa kamu bisa bilang begitu, Mas?”


“Aku nggak tahu lagi harus gimana sama kamu. Ada hal yang bikin aku hancur seperti sekarang ini,”


“Kalau memang ada hal yang bikin kamu sakit dan menderita kamu punya tempat untuk kamu cerita,”


“Marwa, mau kita sama-sama lagi?”


“Kalau ada niat baik kamu buat perbaiki semuanya aku bisa, Mas. Tapi yang harus kamu tahu adalah nggak semua kesalahan itu bisa diberi maaf. Kesempatan itu kadang cuman datang satu kali, dan manfaatkan itu dengan sebaik mungkin, Mas,”


“Aku tahu kalau selama ini aku salah,”


“Dan kamu tahu yang paling menyedihkan di dunia ini, Mas?”


Rey terdiam sejenak, “Yaitu ketika kita berusaha percaya sama orang lain yang bisa menjaga hati kita. Justru orang tersebut berkhianat dan mengingkari semua janjinya, adalah hal yang paling bodoh adalah ketika kita selalu percaya bahwa dia selalu jujur tanpa pernah kita tahu apa yang dia lakukan di luar sana. kadang orang lain berpikir tidak apa jika dibahagiakan dengan kebohongan, akan tetapi seiring berjalannya waktu kebohongan itu akan terungkap. Dan sebagian orang juga beranggapan bahwa lebih baik berkata jujur walaupun itu menyakitkan. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda-beda, bahkan aku pernah berada di kedua posisi itu, Mas. Yaitu memilih bodoh dan tidak tahu apa-apa dibandingkan dengan tahu tapi menyakitkan,”


“Jika memang perasaan kamu ragu dengan semua ini. Pada kenyataannya aku telah berani untuk berkata jujur meskipun itu membuat hubungan kita merenggang, aku rela sakit. Bahkan aku rela merasakan semua sakit kamu kalau waktu itu bisa dikembalikan. Lebih baik aku yang ngerasain sakit,”


“Perempuan ngerasain sakit itu identik diam. Dan jauh lebih pandai menyembunyikan rasa sakitnya dibandingkan dengan laki-laki. Mas masih cemburu sama Dhyo yang artinya Mas nggak bisa sembunyikan rasa cemburu Mas di depan aku. Sedangkan aku, Mas? Beberapa bulan aku cuman diam dan perhatikan tingkah kamu, Mas. Aku diam saat kamu di luar sana main sama perempuan lain,”


“Jangan bahas!”


“Sekalipun kamu lakukan kesalahan itu udah lama, Mas. Seandainya itu puluhan tahun yang lalu, aku bakalan selalu inget, Mas. Kamu nggak bisa larang aku ngomong gini,”


“Ya ampun, Marwa,”


“Sekalipun kamu punya cucu dan cara kamu paling nyakitin di hati aku, Mas. Tentu aku bakalan tetap ingat,”


“Aku sudah minta maaf berapa kali lagi, sih?”


“Andai maaf itu bisa hapus sakit hati aku. Andai maaf itu bisa mengembalikan kepercayaan aku sama kamu, Mas. Aku bakalan maafin, tapi maaf itu cuman untuk nerima kesalahan orang lain tapi nggak bisa bawa pergi sama lukanya,”


Reno melepaskan genggamannya dan membiarkan Marwa pergi dari sana. “Andai aku tahu bakalan hancurin hati kamu sedalam ini. Aku nggak bakalan pernah main-main tentang kepercayaan itu,” ucapnya setelah Marwa berlalu.


Perempuan itu langsung masuk ke dalam rumah dan mengusap air matanya. Ketika hendak ke dapur dia bertemu dengan mama mertuanya di sana. “Kenapa lagi, sayang? Cerita sama Mama!”


Dia tidak kuasa menahan tangisnya hingga saat itu dia langsung memeluk mama mertuanya dengan erat. “Kenapa, hmmm?”


“Maafin aku, Ma,”


Nagita yang prihatin dengan keadaan menantunya yang saat itu apalagi tengah hamil besar dan tinggal menunggu hari akan melahirkan. “Kamu berantem lagi? Kalau memang iya, kamu butuh waktu untuk sendiri dan nenangin pikiran kamu,”


“Kenapa setiap kali aku di dekat, Mas Rey semuanya jadi kacau,”


“Maksud kamu?”


“Tentang dia yang udah nyakitin aku,”


Nagita sebagai seorang perempuan juga tahu bahwa dikhianati adalah hal yang paling menyakitkan di dalam hidupnya. Apalagi dia pernah merasakan hal itu, “Mama ngerti, Nak. Masuk kamar! Jangan sampai Papa lihat kamu, yang ada nanti kalian bakalan di suruh turun berdua terus dimarahin lagi. Biar nanti Mama yang ngomong sama Rey. Jangan pikirkan apa-apa lagi ya! Lihat perut kamu udah besar banget,”


 


 


Nagita mengusap air mata Marwa kemudian menggosok punggung Marwa menenangkan perempuan itu. “Dah sana masuk! Kasihan sama adik bayinya kalau Mama nangis terus, ya kan sayang,” ucap Nagita sambil membungkuk dan mengelus perut menantunya. Nagita berusaha menenangkan itu semua. Bagaimanapun juga dia sadar bahwa hancurnya hubungan ini karena ulah dari perbuatan Rey sendiri.