
Dua tahun lebih usia
pernikahan mereka. Teddy tetaplah menjadi dia yang sangat menyayangi anak
tirinya. Hari itu ia izin pada Nagita untuk menjemput Rey untuk berlibur
bersama dengan mereka di Jepang. Nagita yang masih sibuk kuliah, perempuan itu
mengizinkannya dan dia juga mengatakan sangat merindukan Rey. Terlebih Teddy
juga sangat ingin melihat keadaan rumah baru yang akan ditempatinya nanti
ketika pulang.
Reynand yang sudah
kelas tiga SD. Semakin tahun berlalu. Anak itu juga semakin mengerti dengan
dirinya dan juga Nagita. Namun, untuk memberkan kejutan karena hanya pulang
satu tahun sekali, Teddy ingin anaknya menikmati masa liburannya di Jepang
bertiga dengan keluarga barunya.
“Mar, pinjam mobil lo,
bentar!”
“Jemput Rey?”
“Iya, sekalian mau ajak
dia lihat rumah baru, sebelum berangkat ke Jepang lagi,”
“Papa tiri terbaik yang
pernahgue temui, yaitu lo, Teddy. Nggak nyangka aja gue lo sebegitu sayangnya
sama Rey, salut gue sama lo,”
“Gimanapun juga gue kan
udah jadi Papanya dia. Jadi nggak ada salahnya dong, yakali gue cuman pengin
Mamanya, terus anaknya ditelantarin. Lagian ya, kalau gue cuman pengin Nagita
terus dia terlantar seperti itu, gue juga yang dosa. Udah ah, gue mau jemput
dia,”
“Belum libur tuh anak
kayaknya,”
“Lusa sih katanya. gue
selalu ambil cuti tepat saat dia libur kenaikan kelas, biar bisa bawa dia ke
Jepang,”
“Suka lo sama rumah
baru?”
“Suka kok.
Ngomong-ngomong makasih banget ya, lo udah bantuin gue buat desaign,”
“Elah lo itu kayak
orang asing aja. Ya udah kunci mobil ada di kamar gue, ambil sendiri sana. Gue
jagain anak gue, kalau sampai anak gue nangis, yang ada Luna ngerujak gue
ntar,”
“Lo suami takut istri
sekarang, padahal lo itu mantan brengsek,”
“Gini-gini gue nggak
mau ya anak perempuan gue disakitin orang. Udah tobat gue. Sebrengsek apa pun
pria, kalau udah jadi ayah, pasti bakalan berubah. Terlebih kalau punya anak
cewek, kalau lo punya anak cewek dan masa lalu lo itu main cewek, ya lo bakalan
berubah karena kesadaran diri sendiri. Kalau nggak berubah, itu namanya lo
nyari karma untuk diri sendiri,”
“Nikmati masa-masa lo
jadi seorang ayah. Gue pamit ya.”
Teddy langsung
mengambil kunci mobil ke dalam kamar Damar. Semua gaji yang ia terima selalu ia
sisihkan untuk menabung untuk menyelesaikan rumahnya yang sedang dalam proses
pembangunan. Sedikit demi sedikit ia mampu menyelesaikannya. Namun kali ini
karena mendengar kabar baik anaknya yang selalu mendapat juara satu setiap
semester dan kenaikan kelas. Teddy berencana membelikan hadiah mobil untuk
anaknya, agar Dimas tidak terlalu kewalahan sendiri dalam mengurus Rey dan
mengantar-jemput anak itu.
Teddy telah tiba di
rumah Dimas, ia keluar dari mobilnya. Saat hendak mengetuk pintu.
“Papa!” Teddy menoleh
ke belakang saat mendapati Reynand yang berlari mendekatinya.
“Anak Papa udah ke
mana, hm?”
“Rey pembagian raport,
Papa,”
“Terus? Anak Papa juara
berapa?”
Rey langsung
mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. Ia duduk di ruang tamu, di sana ada
Viona yang menyambut kedatangannya. Rey langsung mengeluarkan raportnya dan
diberikan langsung kepadanya.
Perlahan Teddy membuka
lembar demi lembar nilai hasil Rey selama ini. Teddy tersenyum saat mendapati
anaknya mendapat peringkat pertama lagi.
“Tos dulu!” Teddy
mengangkat tangannya dan langsung disambut oleh Rey.
“Jadi, anak Papa
liburnya kapan?”
“Besok udah mulai libur
Pa, jadi kan Mama pernah janji kalau Rey dapat juara, Papa yang bakalan jemput
dan ajak Rey ke Jepang, benar kan, Pa?”
Teddy mengelus kepala
anaknya, “Tentu saja. Kita ke Jepang, ketemu sama Mama, tapi sekarang kita
jalan-jalan yuk! Rey ganti baju ya!”
“Eh iya, Rey tadi lupa
salaman, Pa,” anak itu langsung mengulurkan tangannya dan disambut langsung
oleh Teddy. Ia mencium kepala anaknya dan anak itu langsung berlari ke
kamarnya.
“Gimana soal Nagita di
sana, kak?” ucap Viona sambil meletakkan minuman di atas meja.
“Dia semakin membaik,
sebentar lagi aku yakin dia bakalan selesai. Dia sudah berusaha dengan keras
selama ini. Belajar tengah malam, bahkan seringkali ketiduran. Kamar yang
berantakan karena untuk berlatih menjadi desaigner seperti yang dia inginkan,”
“Aku harap kakak selalu
mendukung apa pun keinginan dia. Rey juga di sini sangat luar biasa semangatnya
dalam belajar, setiap kali Kak Dimas nyuruh, dia langsung pergi ke kamarnya
untuk belajar, bahkan Kak Dimas nemenin dia belajar sampai ketiduran juga. Tadi
hasil raportnya gimana?”
“Juara satu lagi. Aku
bangga sama dia, anak itu juga terlihat sangat ceria. Ohya, Azka masih sering
cariin dia?”
“Masih, tapi Rey agak
kurang gimana gitu sekarang. Setelah kalian menikah, Rey tidak pernah membahas
Azka lagi. Kalau dulu tetap, dia bahkan pengin tinggal sama Azka, tapi semenjak
menikah, Azka bahkan hampir satu tahun ini dia tidak datang,”
“Jangan larang kalau
misalnya dia mau ketemu,”
“Kami nggak pernah
larang kok, justru anak itu sendiri yang bilang kalau pengin lihat Mamanya
bahagia dan mau buktikan kepada Mamanya, kalau dia dan Mamanya bisa menjadi
lebih baik lagi. Nggak bakalan mau dibuat nangis lagi, dia sering cerita pada
kami, kalau dia pengin tinggal sama kalian berdua,”
“Iya, Viona. Setelah
Nagita lulus nanti, aku usahakan akan pindah. Tinggal sama dia, kasihan juga
kalau dia dititip terus seperti sekarang. Ohya, kamu masih bayar bis sekolah
untuk dia?”
“Masih. Kak Dimas nggak
mungkin bisa antar-jemput dia setiap hari,”
“Vio, aku berencana
belikan Rey mobil. Biar anak itu di antar-jemput dengan baik. Kalian juga nggak
kerepotan,”
“Apa itu nggak terlalu
berlebihan?”
“Nggak kok. Biar Rey
juga bisa semakin semangat belajarnya. Karena kenaikan kelas ke kelas empat,
Rey harus belajar lebih baik lagi. Nanti sopirnya bisa antar dia ke toko buku,
ke manapun dia mau. Kamu juga temani dia!”
“Tentu saja.
Ngomong-ngomong kalian sudah punya rencana lain untuk kedepannya dan saat
tinggal bersama nanti?”
“Tentu saja, Vio. Aku
sudah memikirkan semua itu. Dan lagi aku sudah memikirkan bagaimana nantinya
bisa mendidik Rey berdua dengan Nagita. Jangan dibeda-bedakan. Sudah cukup bagi
Rey mengalami trauma dan sakit-sakitan membahas Azka,”
“Kakak tahu itu?”
“Kak Dimas pernah
cerita. Dia sangat khawatir sama anak yang satu ini. Terlebih aku, aku juga
sangat khawatir waktu aku tahu kalau Rey ternyata memiliki trauma yang sangat
berat terhadap Azka. Tetapi anak itu tetap mau menemui Azka,”
“Papa, nanti ada
kembang api kayak di film-film nggak?”
Teddy langsung
menghentikan pembahasannya mengenai Azka bersama dengan Viona. Ia melihat anak
itu keluar dari kamarnya dengan mengenakan celana jeans selutut dan kemeja
biru.
“Sini, anak Papa pernah lihat memang?”
“Pernah dong, tapi
cuman di televisi,” Rey langsung duduk dipangkuannya.
“Iya, pasti ada. Nanti
kita ke tempat diadakannya festival oke, dulu Papa sama Mama juga pernah datang
untuk lihat festival,”
“Waktu kalian jadian
kan?” tukas Viona. Teddy mengangguk malu karena di sana ia mencium Nagita untuk
pertama kalinya dan menyatakan cintanya pada perempuan itu.
“Waah, Papa nggak
“Nanti di ajakin kok,
ohya kita berangkatnya besok ya! Biar bisa lama-lama sama Mama di sana, lebih
cepat lebih baik, kan?”
“Boleh, Pa. Rey kangen
sama Mama,”
“Anak baik. Jadi Rey
nggak boleh nakal di sini ya!”
Anak itu mengangguk. Ia
langsung berpamitan dan mengajak Rey pergi, ia mengajak anaknya untuk
jalan-jalan. Baru saja keluar dari pintu. Azka berdiri di luar sana sambil
menatap dirinya yang tengah menggendong Rey.
“Daddy!”
“Rey mau ke mana?”
“Rey mau pergi
jalan-jalan sama, Papa,”
“Sejak kapan pria ini
jadi Papamu, nak?” Azka menampakkan raut wajah ketidaksukaannya terhadap Teddy.
“Papa, Rey takut!”
Teddy memicingkan matanya saat Azka terlihat menahan emosinya. Ia langsung
menurunkan Rey dan menyuruh Viona mengajak anak itu masuk ke dalam rumah.
“Pria bangsat, kenapa
kamu berada di sini? Dan kamu mengajari anakku memanggilmu dengan sebutan,
Papa? Kamu menjijikkan, Teddy. Kamu itu adik sahabat aku, kenapa kamu di sini
dan mengajak Rey pergi?”
Teddy menarik kerah
kemeja Azka. Ia tidak ingin ada keributan di sana. Sudah lama sekali ia
menantikan pria itu datang dengan gagahnya seperti sekarang ini. Justru setelah
dua tahun lebih menikah, pria itu datang dan langsung menampakkan raut wajah
tidak suka.
“Jelasin, Teddy! Ada
hubungan apa kamu sama, Nagita?”
“Aku dan Nagita sudah
menikah, lalu sekarang apalagi? Kamu sendiri yang menghancurkan hidup perempuan
itu. Kamu menghancurkan hidup Rey, dia masih anak-anak, dia nggak tahu apa-apa.
Sekarang kamu datang tiba-tiba dan langsung marah seperti sekarang, itu gunanya
apa?”
“Tahu apa kamu tentang
hidupku dengan, Nagita?”
Baru saja tangan Azka hendak
melayangkan pukulan untuknya. Teddy langsung menahannya dengan tangannya.
“Nggak semua hal bisa diselesaikan dengan kekerasan, Azka. Dan aku sudah tahu
segalanya, semua masa lalu kamu dan juga Nagita. Nggak ada yang disembunyikan,
Rey juga pernah cerita. Ternyata anak itu benar, begini kelakuan Daddy yang
sangat membanggakan dirinya menjadi pria yang paling tangguh itu? Berpikir
sangat dangkal bahwa semuanya bisa diselesaikan dengan kekerasan, nggak salah
Rey itu menerimaku sebagai Papa barunya, ternyata kelakuan Daddy Azka yang
terhormat itu seperti ini,”
“Ada hak apa kamu
menikahi, Nagita tanpa seizinku?” nada suara Azka meninggi. Teddy langsung
mendorong tubuh Azka menjauh.
“Jangan pernah berpikir
bahwa kamu bisa mengambil Nagita dan juga Rey. Mereka adalah keluargaku
sekarang, meskipun Rey adalah anak kandungmu. Tapi dia sudah seperti anakku
sendiri,”
“Bajingan,” Azka
langsung melayangkan pukulannya dan mengenai pipi Teddy.
Cuih
Teddy mengusap darah
yang keluar dari pipinya, demi apa pun juga. Ia akan tetap memperjuangkan
Nagita, dan anaknya. Tidak akan pernah lagi ada Azka yang mengganggu rumah
tangganya kelak.
“Ck, benar saja, Azka.
Semuanya adalah takdir bukan? Kamu menceraikan Nagita, sekarang dia istriku.
Kamu menyia-nyiakan Rey, sekarang dia adalah anakku. Apalagi sekarang? Mau
datang dan pura-pura menyesal atas tindakan kamu selama ini sama dia? Mau
datang untuk meminta maaf karena kamu sudah menyesal dan tak mendapati
perempuan jalangmu itu kembali lagi, begitu?”
“Teddy, bangsat!” Azka
semakin murka dan memukulinya dengan membabi buta. Teddy yang tadinya sudah
enggan dengan pria itu akhirnya melawan dan memukul Azka kembali. Sebagai
mantan suami, tak seharusnya Azka bersikap seperti itu. Barangkali itu adalah
penyesalan yang dialami oleh pria itu yang membuat Teddy mengerti bahwa Azka
emosi karena dirinya yang berhasil merebut Nagita.
“Azka, Teddy!” keduanya
menoleh saat Dimas datang berlari menuju keduanya. Azka yang baru saja hendak
melayangkan pukulan, namun diurungkan. Wajah Teddy penuh memar dan juga Azka
tak kalah bedanya dengan Teddy. Namun luka yang dialami Teddy lebih parah.
“Ada apa ini? Kenapa
kalian bertengkar? Azka, kamu ngapain datang?”
“Mau jemput, Rey.
Karena dia bakalan libur sekolah, kan,”
“Masih ingat kamu punya
anak? Waktu anak kamu ngebutuhin, kamu ke mana?”
“Aku kerja,”
“Iya kamu memang gila
kerja. Kamu bahkan lupa sama anak kamu sendiri, sudah berapa lama kamu nggak
kunjungi, Rey?”
“Itu, aku-“
“Apa yang kamu tahu
tentang pertumbuhan, Rey? Belum puas juga? Tolong Azka, sudahi semuanya. Jangan
lagi datang, Rey waktu itu sakit, makanya aku antar untuk ketemu sama kamu. Dan
satu tahun yang lalu, dia pengin kamu yang mewakilinya mengambil raport di
sekolah. Tapi apa hasilnya? Kamu bahkan mengabaikan pesan yang aku kirim,”
“Aku bisa jelasin
kenapa aku nggak bisa datang, Dimas. Dan sekarang apa benar bahwa Nagita sudah
menikah lagi?”
“Iya. Nagita sudah
menikah, dan Teddy adalah suaminya. Rey sudah hidup dengan sangat baik, kamu
tidak perlu lagi mencarinya, untuk apa mencarinya jika kamu hanya datang pada
saat kamu yang butuh. Saat anak kamu yang butuh, kamu ke mana?”
“Aku-“
“Pergilah, Azka! Aku
tidak ingin melihat keributan di sini. semua orang juga tahu kalau Teddy
suaminya Nagita, nggak ada yang ditutupi lagi. Ingat juga bahwa selama ini kamu
yang menyia-nyiakan Rey. Sekarang anak itu sudah lebih baik, bahkan kamu jangan
pernah khawatir tentang pendidikannya, Teddy sudah memberikan yang terbaik
untuknya,”
“Kelak aku akan
mengambil, Rey,” ucap Azka dan pergi begitu saja.
Teddy menahan rasa
sakit diperutnya akibat tendangan Azka tadi. Ia juga lansung dibantu masuk oleh
Dimas. Kakak iparnya itu berencana untuk mewakili Rey mengambil raport, namun
justru anak itu sudah pulang sekolah.
Teddy langsung duduk di
sofa.
“Viona, ambilkan obat
luka!” ucap Dimas.
Rey langsung keluar
dari kamar dan langsung memeluk dirinya. “Papa baik-baik aja kan?”
Ia melihat anaknya itu
ketakutan dan menangis. Teddy mengelus kepala anaknya dan memeluknya sambil
menahan rasa sakit akibat pukulan, Azka.
“Rey takut kalau Daddy
datang lagi. Setiap kali Daddy datang, pasti berantem. Rey nggak mau sama,
Daddy,” ucap anak itu sambil terisak.
“Papa nggak apa-apa
sayang. Daddy cuman salah paham,”
“Apalagi kalau Mama di
sini, pasti Daddy bakalan marah-marah lagi, ya kan, Om?”
“Rey, jangan pikirkan
hal itu ya! Papa itu baik-baik aja kok. Kan besok kita mau ke Jepang. Rey nggak
boleh nangis. Masa anak Papa nangis, cengeng banget tahu nggak,”
Anak itu mengusap air
matanya dan langsung memeluk Teddy lebih erat lagi. Teddy merasakan tubuh Rey
bergetar saat memeluknya. Ia membalas pelukan anak itu dan menenangkannya.
Sementara itu Dimas mengernyitkan dahi karena Rey tidak pernah setakut itu
kepada Azka.
“Papa janji, sebentar
lagi, kita akan tinggal bersama. Pergi dari sini, kita akan pergi jauh. Daddy
nggak bakalan nemuin, Rey. Kita bakalan hidup bahagia sayang, Rey jangan pernah
takut. Di sini ada Papa yang bakalan berusaha untuk sayang sama Rey,”
“Janji ya kalau kita
nggak usah ketemu, Daddy lagi?” anak itu mendongakan kepalanya saat berada di
pelukan Teddy.
“Iya, Papa janji
sayang.”
Teddy membiarkan Viona
mengobati lukanya, sementara itu Rey terus menempel di lengan kanannya. Melihat
ketakutan anak itu, Teddy yakin bahwa Rey benar-benar memiliki gangguan
psikologis karena sangat trauma dengan pukulan.
“Papa bakalan bantu
sembuhin, Rey. Papa janji, setelah ini kita bakalan pindah.” Ucapnya dalam hati
saat anak itu semakin erat memeluknya.
*NOTE: Saat sudah mencintai orang beserta masa lalunya, itu berarti sudah siap menerima ketika suatu waktu masa lalu itu datang lagi.