RICH MAN

RICH MAN
MASALAH



Dua tahun lebih usia


pernikahan mereka. Teddy tetaplah menjadi dia yang sangat menyayangi anak


tirinya. Hari itu ia izin pada Nagita untuk menjemput Rey untuk berlibur


bersama dengan mereka di Jepang. Nagita yang masih sibuk kuliah, perempuan itu


mengizinkannya dan dia juga mengatakan sangat merindukan Rey. Terlebih Teddy


juga sangat ingin melihat keadaan rumah baru yang akan ditempatinya nanti


ketika pulang.


Reynand yang sudah


kelas tiga SD. Semakin tahun berlalu. Anak itu juga semakin mengerti dengan


dirinya dan juga Nagita. Namun, untuk memberkan kejutan karena hanya pulang


satu tahun sekali, Teddy ingin anaknya menikmati masa liburannya di Jepang


bertiga dengan keluarga barunya.


“Mar, pinjam mobil lo,


bentar!”


“Jemput Rey?”


“Iya, sekalian mau ajak


dia lihat rumah baru, sebelum berangkat ke Jepang lagi,”


“Papa tiri terbaik yang


pernahgue temui, yaitu lo, Teddy. Nggak nyangka aja gue lo sebegitu sayangnya


sama Rey, salut gue sama lo,”


“Gimanapun juga gue kan


udah jadi Papanya dia. Jadi nggak ada salahnya dong, yakali gue cuman pengin


Mamanya, terus anaknya ditelantarin. Lagian ya, kalau gue cuman pengin Nagita


terus dia terlantar seperti itu, gue juga yang dosa. Udah ah, gue mau jemput


dia,”


“Belum libur tuh anak


kayaknya,”


“Lusa sih katanya. gue


selalu ambil cuti tepat saat dia libur kenaikan kelas, biar bisa bawa dia ke


Jepang,”


“Suka lo sama rumah


baru?”


“Suka kok.


Ngomong-ngomong makasih banget ya, lo udah bantuin gue buat desaign,”


“Elah lo itu kayak


orang asing aja. Ya udah kunci mobil ada di kamar gue, ambil sendiri sana. Gue


jagain anak gue, kalau sampai anak gue nangis, yang ada Luna ngerujak gue


ntar,”


“Lo suami takut istri


sekarang, padahal lo itu mantan brengsek,”


“Gini-gini gue nggak


mau ya anak perempuan gue disakitin orang. Udah tobat gue. Sebrengsek apa pun


pria, kalau udah jadi ayah, pasti bakalan berubah. Terlebih kalau punya anak


cewek, kalau lo punya anak cewek dan masa lalu lo itu main cewek, ya lo bakalan


berubah karena kesadaran diri sendiri. Kalau nggak berubah, itu namanya lo


nyari karma untuk diri sendiri,”


“Nikmati masa-masa lo


jadi seorang ayah. Gue pamit ya.”


Teddy langsung


mengambil kunci mobil ke dalam kamar Damar. Semua gaji yang ia terima selalu ia


sisihkan untuk menabung untuk menyelesaikan rumahnya yang sedang dalam proses


pembangunan. Sedikit demi sedikit ia mampu menyelesaikannya. Namun kali ini


karena mendengar kabar baik anaknya yang selalu mendapat juara satu setiap


semester dan kenaikan kelas. Teddy berencana membelikan hadiah mobil untuk


anaknya, agar Dimas tidak terlalu kewalahan sendiri dalam mengurus Rey dan


mengantar-jemput anak itu.


Teddy telah tiba di


rumah Dimas, ia keluar dari mobilnya. Saat hendak mengetuk pintu.


“Papa!” Teddy menoleh


ke belakang saat mendapati Reynand yang berlari mendekatinya.


“Anak Papa udah ke


mana, hm?”


“Rey pembagian raport,


Papa,”


“Terus? Anak Papa juara


berapa?”


Rey langsung


mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. Ia duduk di ruang tamu, di sana ada


Viona yang menyambut kedatangannya. Rey langsung mengeluarkan raportnya dan


diberikan langsung kepadanya.


Perlahan Teddy membuka


lembar demi lembar nilai hasil Rey selama ini. Teddy tersenyum saat mendapati


anaknya mendapat peringkat pertama lagi.


“Tos dulu!” Teddy


mengangkat tangannya dan langsung disambut oleh Rey.


“Jadi, anak Papa


liburnya kapan?”


“Besok udah mulai libur


Pa, jadi kan Mama pernah janji kalau Rey dapat juara, Papa yang bakalan jemput


dan ajak Rey ke Jepang, benar kan, Pa?”


Teddy mengelus kepala


anaknya, “Tentu saja. Kita ke Jepang, ketemu sama Mama, tapi sekarang kita


jalan-jalan yuk! Rey ganti baju ya!”


“Eh iya, Rey tadi lupa


salaman, Pa,” anak itu langsung mengulurkan tangannya dan disambut langsung


oleh Teddy. Ia mencium kepala anaknya dan anak itu langsung berlari ke


kamarnya.


“Gimana soal Nagita di


sana, kak?” ucap Viona sambil meletakkan minuman di atas meja.


“Dia semakin membaik,


sebentar lagi aku yakin dia bakalan selesai. Dia sudah berusaha dengan keras


selama ini. Belajar tengah malam, bahkan seringkali ketiduran. Kamar yang


berantakan karena untuk berlatih menjadi desaigner seperti yang dia inginkan,”


“Aku harap kakak selalu


mendukung apa pun keinginan dia. Rey juga di sini sangat luar biasa semangatnya


dalam belajar, setiap kali Kak Dimas nyuruh, dia langsung pergi ke kamarnya


untuk belajar, bahkan Kak Dimas nemenin dia belajar sampai ketiduran juga. Tadi


hasil raportnya gimana?”


“Juara satu lagi. Aku


bangga sama dia, anak itu juga terlihat sangat ceria. Ohya, Azka masih sering


cariin dia?”


“Masih, tapi Rey agak


kurang gimana gitu sekarang. Setelah kalian menikah, Rey tidak pernah membahas


Azka lagi. Kalau dulu tetap, dia bahkan pengin tinggal sama Azka, tapi semenjak


menikah, Azka bahkan hampir satu tahun ini dia tidak datang,”


“Jangan larang kalau


misalnya dia mau ketemu,”


“Kami nggak pernah


larang kok, justru anak itu sendiri yang bilang kalau pengin lihat Mamanya


bahagia dan mau buktikan kepada Mamanya, kalau dia dan Mamanya bisa menjadi


lebih baik lagi. Nggak bakalan mau dibuat nangis lagi, dia sering cerita pada


kami, kalau dia pengin tinggal sama kalian berdua,”


“Iya, Viona. Setelah


Nagita lulus nanti, aku usahakan akan pindah. Tinggal sama dia, kasihan juga


kalau dia dititip terus seperti sekarang. Ohya, kamu masih bayar bis sekolah


untuk dia?”


“Masih. Kak Dimas nggak


mungkin bisa antar-jemput dia setiap hari,”


“Vio, aku berencana


belikan Rey mobil. Biar anak itu di antar-jemput dengan baik. Kalian juga nggak


kerepotan,”


“Apa itu nggak terlalu


berlebihan?”


“Nggak kok. Biar Rey


juga bisa semakin semangat belajarnya. Karena kenaikan kelas ke kelas empat,


Rey harus belajar lebih baik lagi. Nanti sopirnya bisa antar dia ke toko buku,


ke manapun dia mau. Kamu juga temani dia!”


“Tentu saja.


Ngomong-ngomong kalian sudah punya rencana lain untuk kedepannya dan saat


tinggal bersama nanti?”


“Tentu saja, Vio. Aku


sudah memikirkan semua itu. Dan lagi aku sudah memikirkan bagaimana nantinya


bisa mendidik Rey berdua dengan Nagita. Jangan dibeda-bedakan. Sudah cukup bagi


Rey mengalami trauma dan sakit-sakitan membahas Azka,”


“Kakak tahu itu?”


“Kak Dimas pernah


cerita. Dia sangat khawatir sama anak yang satu ini. Terlebih aku, aku juga


sangat khawatir waktu aku tahu kalau Rey ternyata memiliki trauma yang sangat


berat terhadap Azka. Tetapi anak itu tetap mau menemui Azka,”


“Papa, nanti ada


kembang api kayak di film-film nggak?”


 


 


Teddy langsung


menghentikan pembahasannya mengenai Azka bersama dengan Viona. Ia melihat anak


itu keluar dari kamarnya dengan mengenakan celana jeans selutut dan kemeja


biru.


“Sini, anak Papa pernah lihat memang?”


“Pernah dong, tapi


cuman di televisi,” Rey langsung duduk dipangkuannya.


“Iya, pasti ada. Nanti


kita ke tempat diadakannya festival oke, dulu Papa sama Mama juga pernah datang


untuk lihat festival,”


“Waktu kalian jadian


kan?” tukas Viona. Teddy mengangguk malu karena di sana ia mencium Nagita untuk


pertama kalinya dan menyatakan cintanya pada perempuan itu.


“Waah, Papa nggak


“Nanti di ajakin kok,


ohya kita berangkatnya besok ya! Biar bisa lama-lama sama Mama di sana, lebih


cepat lebih baik, kan?”


“Boleh, Pa. Rey kangen


sama Mama,”


“Anak baik. Jadi Rey


nggak boleh nakal di sini ya!”


Anak itu mengangguk. Ia


langsung berpamitan dan mengajak Rey pergi, ia mengajak anaknya untuk


jalan-jalan. Baru saja keluar dari pintu. Azka berdiri di luar sana sambil


menatap dirinya yang tengah menggendong Rey.


“Daddy!”


“Rey mau ke mana?”


“Rey mau pergi


jalan-jalan sama, Papa,”


“Sejak kapan pria ini


jadi Papamu, nak?” Azka menampakkan raut wajah ketidaksukaannya terhadap Teddy.


“Papa, Rey takut!”


Teddy memicingkan matanya saat Azka terlihat menahan emosinya. Ia langsung


menurunkan Rey dan menyuruh Viona mengajak anak itu masuk ke dalam rumah.


“Pria bangsat, kenapa


kamu berada di sini? Dan kamu mengajari anakku memanggilmu dengan sebutan,


Papa? Kamu menjijikkan, Teddy. Kamu itu adik sahabat aku, kenapa kamu di sini


dan mengajak Rey pergi?”


Teddy menarik kerah


kemeja Azka. Ia tidak ingin ada keributan di sana. Sudah lama sekali ia


menantikan pria itu datang dengan gagahnya seperti sekarang ini. Justru setelah


dua tahun lebih menikah, pria itu datang dan langsung menampakkan raut wajah


tidak suka.


“Jelasin, Teddy! Ada


hubungan apa kamu sama, Nagita?”


“Aku dan Nagita sudah


menikah, lalu sekarang apalagi? Kamu sendiri yang menghancurkan hidup perempuan


itu. Kamu menghancurkan hidup Rey, dia masih anak-anak, dia nggak tahu apa-apa.


Sekarang kamu datang tiba-tiba dan langsung marah seperti sekarang, itu gunanya


apa?”


“Tahu apa kamu tentang


hidupku dengan, Nagita?”


Baru saja tangan Azka hendak


melayangkan pukulan untuknya. Teddy langsung menahannya dengan tangannya.


“Nggak semua hal bisa diselesaikan dengan kekerasan, Azka. Dan aku sudah tahu


segalanya, semua masa lalu kamu dan juga Nagita. Nggak ada yang disembunyikan,


Rey juga pernah cerita. Ternyata anak itu benar, begini kelakuan Daddy yang


sangat membanggakan dirinya menjadi pria yang paling tangguh itu? Berpikir


sangat dangkal bahwa semuanya bisa diselesaikan dengan kekerasan, nggak salah


Rey itu menerimaku sebagai Papa barunya, ternyata kelakuan Daddy Azka yang


terhormat itu seperti ini,”


“Ada hak apa kamu


menikahi, Nagita tanpa seizinku?” nada suara Azka meninggi. Teddy langsung


mendorong tubuh Azka menjauh.


“Jangan pernah berpikir


bahwa kamu bisa mengambil Nagita dan juga Rey. Mereka adalah keluargaku


sekarang, meskipun Rey adalah anak kandungmu. Tapi dia sudah seperti anakku


sendiri,”


“Bajingan,” Azka


langsung melayangkan pukulannya dan mengenai pipi Teddy.


Cuih


Teddy mengusap darah


yang keluar dari pipinya, demi apa pun juga. Ia akan tetap memperjuangkan


Nagita, dan anaknya. Tidak akan pernah lagi ada Azka yang mengganggu rumah


tangganya kelak.


“Ck, benar saja, Azka.


Semuanya adalah takdir bukan? Kamu menceraikan Nagita, sekarang dia istriku.


Kamu menyia-nyiakan Rey, sekarang dia adalah anakku. Apalagi sekarang? Mau


datang dan pura-pura menyesal atas tindakan kamu selama ini sama dia? Mau


datang untuk meminta maaf karena kamu sudah menyesal dan tak mendapati


perempuan jalangmu itu kembali lagi, begitu?”


“Teddy, bangsat!” Azka


semakin murka dan memukulinya dengan membabi buta. Teddy yang tadinya sudah


enggan dengan pria itu akhirnya melawan dan memukul Azka kembali. Sebagai


mantan suami, tak seharusnya Azka bersikap seperti itu. Barangkali itu adalah


penyesalan yang dialami oleh pria itu yang membuat Teddy mengerti bahwa Azka


emosi karena dirinya yang berhasil merebut Nagita.


“Azka, Teddy!” keduanya


menoleh saat Dimas datang berlari menuju keduanya. Azka yang baru saja hendak


melayangkan pukulan, namun diurungkan. Wajah Teddy penuh memar dan juga Azka


tak kalah bedanya dengan Teddy. Namun luka yang dialami Teddy lebih parah.


“Ada apa ini? Kenapa


kalian bertengkar? Azka, kamu ngapain datang?”


“Mau jemput, Rey.


Karena dia bakalan libur sekolah, kan,”


“Masih ingat kamu punya


anak? Waktu anak kamu ngebutuhin, kamu ke mana?”


“Aku kerja,”


“Iya kamu memang gila


kerja. Kamu bahkan lupa sama anak kamu sendiri, sudah berapa lama kamu nggak


kunjungi, Rey?”


“Itu, aku-“


“Apa yang kamu tahu


tentang pertumbuhan, Rey? Belum puas juga? Tolong Azka, sudahi semuanya. Jangan


lagi datang, Rey waktu itu sakit, makanya aku antar untuk ketemu sama kamu. Dan


satu tahun yang lalu, dia pengin kamu yang mewakilinya mengambil raport di


sekolah. Tapi apa hasilnya? Kamu bahkan mengabaikan pesan yang aku kirim,”


“Aku bisa jelasin


kenapa aku nggak bisa datang, Dimas. Dan sekarang apa benar bahwa Nagita sudah


menikah lagi?”


“Iya. Nagita sudah


menikah, dan Teddy adalah suaminya. Rey sudah hidup dengan sangat baik, kamu


tidak perlu lagi mencarinya, untuk apa mencarinya jika kamu hanya datang pada


saat kamu yang butuh. Saat anak kamu yang butuh, kamu ke mana?”


“Aku-“


“Pergilah, Azka! Aku


tidak ingin melihat keributan di sini. semua orang juga tahu kalau Teddy


suaminya Nagita, nggak ada yang ditutupi lagi. Ingat juga bahwa selama ini kamu


yang menyia-nyiakan Rey. Sekarang anak itu sudah lebih baik, bahkan kamu jangan


pernah khawatir tentang pendidikannya, Teddy sudah memberikan yang terbaik


untuknya,”


“Kelak aku akan


mengambil, Rey,” ucap Azka dan pergi begitu saja.


Teddy menahan rasa


sakit diperutnya akibat tendangan Azka tadi. Ia juga lansung dibantu masuk oleh


Dimas. Kakak iparnya itu berencana untuk mewakili Rey mengambil raport, namun


justru anak itu sudah pulang sekolah.


Teddy langsung duduk di


sofa.


“Viona, ambilkan obat


luka!” ucap Dimas.


Rey langsung keluar


dari kamar dan langsung memeluk dirinya. “Papa baik-baik aja kan?”


Ia melihat anaknya itu


ketakutan dan menangis. Teddy mengelus kepala anaknya dan memeluknya sambil


menahan rasa sakit akibat pukulan, Azka.


“Rey takut kalau Daddy


datang lagi. Setiap kali Daddy datang, pasti berantem. Rey nggak mau sama,


Daddy,” ucap anak itu sambil terisak.


“Papa nggak apa-apa


sayang. Daddy cuman salah paham,”


“Apalagi kalau Mama di


sini, pasti Daddy bakalan marah-marah lagi, ya kan, Om?”


“Rey, jangan pikirkan


hal itu ya! Papa itu baik-baik aja kok. Kan besok kita mau ke Jepang. Rey nggak


boleh nangis. Masa anak Papa nangis, cengeng banget tahu nggak,”


Anak itu mengusap air


matanya dan langsung memeluk Teddy lebih erat lagi. Teddy merasakan tubuh Rey


bergetar saat memeluknya. Ia membalas pelukan anak itu dan menenangkannya.


Sementara itu Dimas mengernyitkan dahi karena Rey tidak pernah setakut itu


kepada Azka.


“Papa janji, sebentar


lagi, kita akan tinggal bersama. Pergi dari sini, kita akan pergi jauh. Daddy


nggak bakalan nemuin, Rey. Kita bakalan hidup bahagia sayang, Rey jangan pernah


takut. Di sini ada Papa yang bakalan berusaha untuk sayang sama Rey,”


“Janji ya kalau kita


nggak usah ketemu, Daddy lagi?” anak itu mendongakan kepalanya saat berada di


pelukan Teddy.


“Iya, Papa janji


sayang.”


Teddy membiarkan Viona


mengobati lukanya, sementara itu Rey terus menempel di lengan kanannya. Melihat


ketakutan anak itu, Teddy yakin bahwa Rey benar-benar memiliki gangguan


psikologis karena sangat trauma dengan pukulan.


“Papa bakalan bantu


sembuhin, Rey. Papa janji, setelah ini kita bakalan pindah.” Ucapnya dalam hati


saat anak itu semakin erat memeluknya.


 


*NOTE: Saat sudah mencintai orang beserta masa lalunya, itu berarti sudah siap menerima ketika suatu waktu masa lalu itu datang lagi.