RICH MAN

RICH MAN
BAIK-BAIK SAJA



Azka terbangun dari


tidurnya, ia sudah tak lagi dalam keadaan memeluk Nagita. Entah ia


merasa perempuan itu berbeda. Atau dirinyalah yang sebenarnya sudah


bermain api dibelakang istrinya. Azka membalikkan tubuhnya agar


telentang, posisi yang tadinya tengkurap tiba-tiba telentang dan menatap


langit-langit kamarnya. Azka merasa sakit sakit saat mengingat kejadian


ia mengkhianati istrinya. Tetapi satu posisi, ia begitu mencintai


Nagita, sisi lainnya ia juga menginginkan Deana. Cinta yang dahulu


pernah membuatnya bertekuk lutut. Sedangkan saat ini sikap Nagita sangat


berubah, perempuan yang selalu membangunkannya dengan ciuman. Untuk


pertama kalinya tidak melakukan hal itu.


Ia bangun dari tempat


tidurnya dan menarik handuk yang sudah tergantung. Hendak membersihkan


diri dan berlama-lama di kamar mandi mungkin terasa menyenangkan


baginya. Azka benar-benar bimbang dengan perasaannya sendiri. Tidak bisa


meyakini dirinya sendiri dengan satu perasaan saja. Mengapa semua itu


terjadi dengannya? Seharusnya ia bisa menjaga hati istrinya yang tengah


mengandung.


Beberapa saat setelah


mandi. Ia keluar dari kamarnya dan menemukan Nagita bersama mamanya di


dapur sedang menyiapkan sarapan. Tanpa mempedulikan mamanya, ia memeluk


Nagita dari belakang. Menenggelamkan kepalanya pada leher istrinya dan


mengusap perut istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan. "Maaf,"


hanya itu yang keluar dari mulutnya. Suaranya begitu parau mengingat


kejadian semalam. Namun apa yang bisa dilakukan saat Deana menggodanya.


Ia benar-benar tak bisa mengendalikan nafsunya sendiri.


Nagita yang merasakan


embusan napas Azka yang begitu berat terdiam. Membiarkan pelukan


suaminya masih erat diperutnya. Sekilas dia melihat mama mertuanya hanya


menggeleng dan tersenyum. Bagaimanapun juga ia masih menghargai


mertuanya. Dan membiarkan Azka tidak mengetahui hal yang terjadi


semalam.


"Mas, ada mama,"


"Sebentar saja, sayang,"


Azka benar-benar tidak


tahu harus memposisikan dirinya seperti apalagi saat ada dua wanita


dalam hidupnya yang begitu ia cintai.


Tanpa pikir panjang Nagita melepaskan pelukan Azka dan meninggalkannya ke meja makan. Laki-laki itu masih berdiri kaku.


Azka semakin bingung


dengan perasaannya. Haruskah ia melepaskan Deana dan bersungguh-sungguh


mencintai Nagita. ataukah ia harus melepaskan Nagita, perempuan yang


sudah memberikannya kebahagiaan. Akan tetapi selalu saja Deana yang ada


dalam hatinya. Saat dengan Deana, sama sekali ia akan lupa dengan


istrinya sendiri.


Ia bersandar di kulkas


sambil menatap istrinya. Perempuan itu terlihat berjalan susah dengan


keadaan perutnya yang membesar. Azka menarik napas panjang. Ia pun


melangkah menuju ke ruang makan dan memegang tangan istrinya. "Mas mau


ngomong,"


Nagita menoleh, "Ngomong apa, Mas?" perempuan itu masih bisa tersenyum saat hatinya sudah dibuat hancur.


Azka menatap mata istrinya yang terlihat sedikit sembab. "Ayo ke kamar! Mas mau ngomong!"


"Aku sibuk," Nagita menepis tangan Azka. Hal yang tak pernah diduga oleh Azka.


"Nagita, sikap kamu berubah!"


"Perasaan kamu aja Mas,


aku nggak pernah berubah sama sekali kok. Masih seperti dulu, masih jadi


istri yang selalu kamu buat bahagia. Masih seperti-" suaranya tercekat.


Azka yang mendengar itu terdiam.


"Nagita! apa yang terjadi?"


"Nggak apa-apa, Mas. Akhir-akhir ini aku lagi malas ngomong. Perut aku sedikit sakit,"


"Ayo kita ke dokter, saya nggak mau kamu kenapa-kenapa Nagita!"


"Nggak. Terima kasih,"


Novi melihat menantunya


begitu merasa sangat kasihan. Pasalnya, perempuan itu masih bisa menahan


diri dan tidak berkata kasar. Justru diam, tak mengatakan apa pun.


Bahkan sama sekali tak menyinggung perihal kebohongan Azka. Novi menatap


putranya dengan tatapan penuh makna. Berharap putra kesayangannya itu


peka dengan apa yang terjadi.


Azka tak ingin


memaksakan apa yang tidak diinginkan oleh Nagita. ia pun menarik kursi


dan langsung duduk. Sementara itu istrinya tetap melayani dengan sangat


baik. Nampak jelas terlihat di mata istrinya, bahwa perempuan itu


menangis. Azka menatap lekat, tetapi seolah mereka tak pernah bertemu


mata sekalipun.


Papanya turun dari


kamarnya. Disusul oleh Naura dan juga suaminya. Azka yang berencana


ingin ke kantor pagi itu mengurungkan niatnya sebab tidak ingin terjadi


apa-apa dengan istrinya. Tetapi dengan sikap Nagita seperti itu, azka


bertambah khawatir.


Sarapan pun di mulai.


Yang biasanya ribut dengan percakapan mereka semua tentang pekerjaan dan


kegiatan sehari-hari. Semuanya nampak bungkam. Terlebih tak ada


percakapan sama sekali. Azka menatap semuanya satu persatu secara


bergiliran. Seolah orang-orang tak peduli dengan kehadirannya.


"Gita, nanti siang kita pulang,"


Perempuan itu menoleh.


Dan seketika mengangguk. Azka benar-benar tak bisa mengerti dengan


perasaan perempuan itu. Sedikit-sedikit manja, bahkan bersikap dingin.


Untuk kali ini, ia tidak mengerti dengan keadaan itu. Ia hanya diam


tanpa berkata apa-apa.


"Ma, Pa, Kak Naura, Kak Reno, Gita duluan ya,"


Azka menatap istrinya


yang tak menyapanya pagi itu. Nagita langsung pergi ke kamarnya dan


mengunci pintu. Di belakang pintu, ia menyandarkan tubuhnya dan


menangis. Siapa yang tahu bahwa di dalam sana ia sedang menangis.


Azka hendak beranjak dari duduknya. Namun ditahan begitu saja oleh Naura. Ia pun kembali duduk dan melanjutkan sarapannya.


"Kalian semua ini kenapa?"


"Kakak yang kenapa?" Reno menimpali.


"Maksudnya?"


"Berhentilah


bermain-main dengan perasaan perempuan. Apa kakak sendiri tidak paham


juga? Sudah sejauh ini kakak menyakiti hati istri kakak sendiri, apa


yang harus disembunyikan lagi? Apa Kak Azka puas dengan jalang itu? Puas


meniduri perempuan itu tanpa harus berpikir bahwa di sini ada istri


kakak yang tengah mengandung buah dari sifat bejat itu?"


Azka bangun dari tempat duduknya dan langsung menarik kerah kemeja Reno. "Siapa yang kamu sebut jalang brengsek?"


Reno menepis tangan Azka dan membenarkan kerah kemejanya yang berantakan.


"Jangan pernah sentuh suami Naura dan mengotori dia dengan sifat brengsek itu,"


"Naura, diam!" ucap mamanya dingin.


Azka yang kesal dengan


hal itu langsung pergi begitu saja. Ia hendak masuk ke dalam kamarnya.


Tetapi ia mendengar Nagita terisak dan ia duduk dibelakang pintu. Azka


yakini bahwa perempuan itu sedang berada di belakang pintu. Mereka


saling membelakangi. Azka duduk di sana sambil terus mendengarkan isakan


istrinya.


"Sayang, Mama harus


gimana? Mama capek, Mama harus bertahan demi kamu. Mama nggak mau


berjuang sendirian tanpa Papa. Tapi caranya gimana? Ini sakit, sayang.


Mama minta maaf nggak bisa bertahan sama Papa. Hati Mama sakit, sayang.


Hey jagoan, cepat keluar. setelah itu Mama janji akan bahagiain kamu,


Mama nggak akan ngrepotin Papa lagi. Sayang, Mama akan besarin kamu


sendirian. Maaf suatu saat kamu harus terpisah dari Papa kamu karena


Mama. Ini demi kebaikan kamu juga, Mama nggak mau kamu sampai


kenapa-kenapa. Apalagi sampai terganggu dengan masalah yang Mama nggak


bisa hadapi,"


Azka menyandarkan kepalanya dipintu. ia mengangkat sebelah lututnya dan menaruh tangan kanannya.


"Mama janji, setelah


kamu lahir kira pergi jauh dari hidup Papa. Mama tahu Papa nggak pernah


akan berjuang bareng. Mama tahu mungkin Mama nggak bisa ngasih kamu


barang mewah, tapi Mama janji akan penuhi semua kebutuhan kamu. Jagoan


Mama, harus berjuang ya. Demi Mama, meskipun nanti kamu nggak pernah


tahu siapa Papa kamu. setidaknya di dalam perut, kamu sudah merasakan


kehadiran Papa. Mama nggak bisa bertahan, kita punya Om Dimas sayang.


Hanya itu keluarga yang Mama punya. Tempat Mama pulang, mungkin kelak


Mama akan kenalin ke eyang. Tapi Mama nggak janji kenalin ke Papa."


Lama suara itu tak terdengar. Azka diam, tiba-tiba air matanya menetes.


"Saya sudah sejauh


ini mengkhianati kamu, Nagita. Apa yang saya lakukan diluar seolah kamu


rasakan di sini. Saya tahu Nagita, kamu nggak pernah bahagia sama saya.


Tapi jauh dalam hati saya, saya mencintai kamu. kamu nggak pernah tahu


itu, hanya saja entah kenapa terkadang saya goyah, justru saya adalah


orang yang paling jahat menyakiti kamu. kamu harus tahu, saya mencintai


kamu. meski tidak saya ungkapkan. Maaf, saya harus melampiaskan semuanya


pada perempuan lain. Saya memang memiliki perempuan lain, semua


hanyalah pelampiasan. Meski saya mencintai dia, kamu sering mengacaukan


pikiran saya. Saat saya mencari perempuan itu, rasa takut itu selalu


ada, saat saya menjauhi perempuan itu, saya merasa sedang pura-pura


mencintai kamu. karena hati dan pikiran saya tertuju padanya. Jujur,


saya bahagia. Anak kita, bagaimana cara menghadapi dua hati yang harus


saya cintai sekaligus?" gumamnya dalam hati dan terus bersandar di balik pintu. Azka bangun dari tempat duduknya dan berlalu begitu saja.


"Jaga Nagita, Ma!"


"Azka, kamu mau kemana?"


"Pergi, Ma."


"Azka, jangan pernah


kamu temui lagi perempuan itu! Apa nggak cukup kamu bohongi Nagita


kemarin dengan alasan bertemu klien, justru kamu bertemu dengan Deana?


Dia lihat itu Azka. Sekarang apalagi? Belum puas kamu?"


Tubuh Azka membatu. Kini ia sadar bahwa hal yang terjadi pada Nagita adalah semua itu ada sumbernya.


"Ma, Azka mau akhiri semuanya sama Deana. Azka akan akhiri hubungan ini, Ma. Nagita sudah cukup aku buat menderita,"


Novi melihat putra


kesayangannya menangis langsung mengizinkan. Selama ini ia tak pernah


melihat putranya menangis seperti itu. Bahkan saat banyak pikiran Azka


lebih sering pulang dalam keadaan mabuk. Tetapi saat itu, justru Novi


melihat putranya meneteskan air mata dan menyebut nama Nagita dengan


begitu lembut.


******


Azka tiba di apartemen


Deana. Justru saat masuk, ia menemukan perempuan itu tidur bersama pria


lain. Azka selama ini sudah percaya dengan Deana, justru perempuan itu


mengkhianatinya begitu saja.


"Bagus!"


Deana langsung melotot


terkejut melihat Azka yang datang sepagi itu. Dia menutup tubuhnya


dengan selimut sementara pria yang di sana masih tertidur.


"Azka aku bisa jelasin,"


"Bagus, Deana. Perempuan licik kayak kamu nggak seharusnya aku percaya dari awal,"


"Kamu bisa berduaan dengan istri kamu,Azka sedangkan aku? Aku cuman cadangan kamu, apa kamu lupa itu?"


"sadar diri kan? Kalau selama ini kamu hanya pemuas nafsu. Mulai detik ini juga, jangan pernah ganggu hidup aku lagi, Deana!"


"Apa adil buat aku? Kamu


punya istri, justru kamu berduaan sama dia. Sedangkan aku? Aku nggak


boleh dekat dengan pria manapun, kamu egois."


"Nggak harus nyerahin tubuh kamu juga? Berapa banyak yang kamu butuhin uang? Apa kurang dari aku?"


"Azka, aku bisa jelasin. Tolong dengerin,"


"Sebelum kamu ngomong, bersihin sisa sperma yang ada diperutmu itu! Atau memang sebaiknya aku pergi? Kita putus, Deana."


"Nggak, aku nggak terima, Azka."


"Adil kan? Aku sama


istri aku, apa aku pernah membuat kamu sekotor itu? Menjijikkan sekali


saat melihat semua tubuhmu dipenuhi dengan tanda itu. Aku muak, Deana.


Sudah cukup!"


"Azka, berhenti!" teriak Deana.


"Beruntunglah aku selalu


pakai pengaman saat bercinta bukan? Jadi aku tak membuang spermaku pada


perempuan yang salah. Nagita beruntung, tapi aku yang buta cinta.


Selama ini aku nyakitin hati istri aku, itu karena kamu, sialan!"


Azka berbalik dan membanting pintu kamar dan berlalu begitu saja. Dan ia memiliki alasan untuk lepas dari Deana saat itu juga.


Azka menyetir dengan riang saat berhasil melepas cintanya. Ia harus pulang, pada perempuan yang selalu saja sabar menghadapinya.


Ia tiba di rumah dan


langsung berlari menuju kamarnya. Di sana, ia mendapati perempuan yang


ia cari sedang merapikan tempat tidurnya. Azka langsung bersimpuh dan


meminta maaf.


"Maafin, saya. Nagita, saya minta maaf,"


Nagita menundukkan kepalanya melihat suaminya yang memeluk kakinya. Nagita sontak terduduk di ujung ranjang.


"Mas, kamu kenapa?"


"Saya minta maaf. Karena sudah menyakiti perasaan kamu,"


Nagita terdiam, "Ayo bangun, Mas,"


"Saya minta maaf sudah


bermain-main dibelakang kamu. saya akui, saya memiliki perempuan lain.


Saya tidak tahu akan seperti ini rasanya, Nagita. Saya minta maaf,"


Nagita membantu Azka berdiri. "Maafin Nagita juga, Mas. Gita belum bisa, kasih waktu untuk Gita percaya sama, Mas!"


Azka memegang kedua pipi


Nagita dan berusaha mencium perempuan itu. Tapi sayangnya Nagita


mengalihkan pandangannya. Azka mengerti alasan Nagita menolak. Ia pun


mencium kening istrinya. Tak terasa air matanya terjatuh kembali.


Ia memeluk istrinya erat.


"Mas, kamu nangis?"


"Seperti ini sebentar, saja,"


Nagita tak membalas pelukan itu sama sekali.


"Mas, kasihan adek. Jangan erat peluknya!"


"Terbuat dari apa


hatimu? Justru kamu tidak membahas hal yang menyakitkan. Kamu masih bisa


tenang dengan keadaan seperti ini. Terbuat dari apa hatiku? Saat ingin


mencintaimu, justru tergoda dengan perempuan lain. Mengapa hatiku


melihat pada perempuan lain, saat perempuan yang ada didepanku adalah


perempuan yang begitu sempurna di kirim Tuhan untuk melengkapiku.


Mengapa aku baru menyadari semua itu sekarang? Saat kepercayaan padanya


telah hancur. Namun ia masih bersikap baik-baik saja." Gumamnya.


Terkadang banyak


seseorang merasa baik-baik saja meski hatinya begitu dilukai. Memilih


tesenyum menyembunyikan tangis. Memilih membohongi orang lain dan


menyiksa diri agar orang tahu bahwa ia baik-baik saja. Meski baik-baik


saja adalah hal yang pura-pura.


"Mas, temenin renang!"


Azka menangguk.


"Tapi Mas, ikut renang ya!"


Untuk kedua kalinya Azka mengangguk.


"Maaf, kalau Gita belum


bisa percaya sepenuhnya sama Mas. Mas sudah berani bohong. Jadi Gita


harus latih Mas dulu biar nggak bohong,"


"terima kasih."


"Ayo, Mas. Kita harus turun, kita renang. Nggak boleh ada yang nangis lagi."


"Maafkan aku atas


sikapku yang juga harus pura-pura. Lantas bagaimana caraku untuk


menerima semuanya? Aku mempercaimu, kamu khianati. Aku mencintaimu, kamu


hancurkan. Aku sudah sangat yakin denganmu. Kamu buat berantakan.


Terkadang apa yang datang memang tidak selalu menetap. Apa yang dimulai


dengan buruk akan tetap berakhir buruk. Tak akan berakhir dengan


bahagia. Maaf jika perasaanku mulai pudar. Maaf bila perasaan itu tak


dapat bertahan. Aku akan pergi, saat semua kamu anggap baik-baik saja,


aku bersedia terluka. Demi kita yang akan usai, kelak." –Nagita.