
Azka terbangun dari
tidurnya, ia sudah tak lagi dalam keadaan memeluk Nagita. Entah ia
merasa perempuan itu berbeda. Atau dirinyalah yang sebenarnya sudah
bermain api dibelakang istrinya. Azka membalikkan tubuhnya agar
telentang, posisi yang tadinya tengkurap tiba-tiba telentang dan menatap
langit-langit kamarnya. Azka merasa sakit sakit saat mengingat kejadian
ia mengkhianati istrinya. Tetapi satu posisi, ia begitu mencintai
Nagita, sisi lainnya ia juga menginginkan Deana. Cinta yang dahulu
pernah membuatnya bertekuk lutut. Sedangkan saat ini sikap Nagita sangat
berubah, perempuan yang selalu membangunkannya dengan ciuman. Untuk
pertama kalinya tidak melakukan hal itu.
Ia bangun dari tempat
tidurnya dan menarik handuk yang sudah tergantung. Hendak membersihkan
diri dan berlama-lama di kamar mandi mungkin terasa menyenangkan
baginya. Azka benar-benar bimbang dengan perasaannya sendiri. Tidak bisa
meyakini dirinya sendiri dengan satu perasaan saja. Mengapa semua itu
terjadi dengannya? Seharusnya ia bisa menjaga hati istrinya yang tengah
mengandung.
Beberapa saat setelah
mandi. Ia keluar dari kamarnya dan menemukan Nagita bersama mamanya di
dapur sedang menyiapkan sarapan. Tanpa mempedulikan mamanya, ia memeluk
Nagita dari belakang. Menenggelamkan kepalanya pada leher istrinya dan
mengusap perut istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan. "Maaf,"
hanya itu yang keluar dari mulutnya. Suaranya begitu parau mengingat
kejadian semalam. Namun apa yang bisa dilakukan saat Deana menggodanya.
Ia benar-benar tak bisa mengendalikan nafsunya sendiri.
Nagita yang merasakan
embusan napas Azka yang begitu berat terdiam. Membiarkan pelukan
suaminya masih erat diperutnya. Sekilas dia melihat mama mertuanya hanya
menggeleng dan tersenyum. Bagaimanapun juga ia masih menghargai
mertuanya. Dan membiarkan Azka tidak mengetahui hal yang terjadi
semalam.
"Mas, ada mama,"
"Sebentar saja, sayang,"
Azka benar-benar tidak
tahu harus memposisikan dirinya seperti apalagi saat ada dua wanita
dalam hidupnya yang begitu ia cintai.
Tanpa pikir panjang Nagita melepaskan pelukan Azka dan meninggalkannya ke meja makan. Laki-laki itu masih berdiri kaku.
Azka semakin bingung
dengan perasaannya. Haruskah ia melepaskan Deana dan bersungguh-sungguh
mencintai Nagita. ataukah ia harus melepaskan Nagita, perempuan yang
sudah memberikannya kebahagiaan. Akan tetapi selalu saja Deana yang ada
dalam hatinya. Saat dengan Deana, sama sekali ia akan lupa dengan
istrinya sendiri.
Ia bersandar di kulkas
sambil menatap istrinya. Perempuan itu terlihat berjalan susah dengan
keadaan perutnya yang membesar. Azka menarik napas panjang. Ia pun
melangkah menuju ke ruang makan dan memegang tangan istrinya. "Mas mau
ngomong,"
Nagita menoleh, "Ngomong apa, Mas?" perempuan itu masih bisa tersenyum saat hatinya sudah dibuat hancur.
Azka menatap mata istrinya yang terlihat sedikit sembab. "Ayo ke kamar! Mas mau ngomong!"
"Aku sibuk," Nagita menepis tangan Azka. Hal yang tak pernah diduga oleh Azka.
"Nagita, sikap kamu berubah!"
"Perasaan kamu aja Mas,
aku nggak pernah berubah sama sekali kok. Masih seperti dulu, masih jadi
istri yang selalu kamu buat bahagia. Masih seperti-" suaranya tercekat.
Azka yang mendengar itu terdiam.
"Nagita! apa yang terjadi?"
"Nggak apa-apa, Mas. Akhir-akhir ini aku lagi malas ngomong. Perut aku sedikit sakit,"
"Ayo kita ke dokter, saya nggak mau kamu kenapa-kenapa Nagita!"
"Nggak. Terima kasih,"
Novi melihat menantunya
begitu merasa sangat kasihan. Pasalnya, perempuan itu masih bisa menahan
diri dan tidak berkata kasar. Justru diam, tak mengatakan apa pun.
Bahkan sama sekali tak menyinggung perihal kebohongan Azka. Novi menatap
putranya dengan tatapan penuh makna. Berharap putra kesayangannya itu
peka dengan apa yang terjadi.
Azka tak ingin
memaksakan apa yang tidak diinginkan oleh Nagita. ia pun menarik kursi
dan langsung duduk. Sementara itu istrinya tetap melayani dengan sangat
baik. Nampak jelas terlihat di mata istrinya, bahwa perempuan itu
menangis. Azka menatap lekat, tetapi seolah mereka tak pernah bertemu
mata sekalipun.
Papanya turun dari
kamarnya. Disusul oleh Naura dan juga suaminya. Azka yang berencana
ingin ke kantor pagi itu mengurungkan niatnya sebab tidak ingin terjadi
apa-apa dengan istrinya. Tetapi dengan sikap Nagita seperti itu, azka
bertambah khawatir.
Sarapan pun di mulai.
Yang biasanya ribut dengan percakapan mereka semua tentang pekerjaan dan
kegiatan sehari-hari. Semuanya nampak bungkam. Terlebih tak ada
percakapan sama sekali. Azka menatap semuanya satu persatu secara
bergiliran. Seolah orang-orang tak peduli dengan kehadirannya.
"Gita, nanti siang kita pulang,"
Perempuan itu menoleh.
Dan seketika mengangguk. Azka benar-benar tak bisa mengerti dengan
perasaan perempuan itu. Sedikit-sedikit manja, bahkan bersikap dingin.
Untuk kali ini, ia tidak mengerti dengan keadaan itu. Ia hanya diam
tanpa berkata apa-apa.
"Ma, Pa, Kak Naura, Kak Reno, Gita duluan ya,"
Azka menatap istrinya
yang tak menyapanya pagi itu. Nagita langsung pergi ke kamarnya dan
mengunci pintu. Di belakang pintu, ia menyandarkan tubuhnya dan
menangis. Siapa yang tahu bahwa di dalam sana ia sedang menangis.
Azka hendak beranjak dari duduknya. Namun ditahan begitu saja oleh Naura. Ia pun kembali duduk dan melanjutkan sarapannya.
"Kalian semua ini kenapa?"
"Kakak yang kenapa?" Reno menimpali.
"Maksudnya?"
"Berhentilah
bermain-main dengan perasaan perempuan. Apa kakak sendiri tidak paham
juga? Sudah sejauh ini kakak menyakiti hati istri kakak sendiri, apa
yang harus disembunyikan lagi? Apa Kak Azka puas dengan jalang itu? Puas
meniduri perempuan itu tanpa harus berpikir bahwa di sini ada istri
kakak yang tengah mengandung buah dari sifat bejat itu?"
Azka bangun dari tempat duduknya dan langsung menarik kerah kemeja Reno. "Siapa yang kamu sebut jalang brengsek?"
Reno menepis tangan Azka dan membenarkan kerah kemejanya yang berantakan.
"Jangan pernah sentuh suami Naura dan mengotori dia dengan sifat brengsek itu,"
"Naura, diam!" ucap mamanya dingin.
Azka yang kesal dengan
hal itu langsung pergi begitu saja. Ia hendak masuk ke dalam kamarnya.
Tetapi ia mendengar Nagita terisak dan ia duduk dibelakang pintu. Azka
yakini bahwa perempuan itu sedang berada di belakang pintu. Mereka
saling membelakangi. Azka duduk di sana sambil terus mendengarkan isakan
istrinya.
"Sayang, Mama harus
gimana? Mama capek, Mama harus bertahan demi kamu. Mama nggak mau
berjuang sendirian tanpa Papa. Tapi caranya gimana? Ini sakit, sayang.
Mama minta maaf nggak bisa bertahan sama Papa. Hati Mama sakit, sayang.
Hey jagoan, cepat keluar. setelah itu Mama janji akan bahagiain kamu,
Mama nggak akan ngrepotin Papa lagi. Sayang, Mama akan besarin kamu
sendirian. Maaf suatu saat kamu harus terpisah dari Papa kamu karena
Mama. Ini demi kebaikan kamu juga, Mama nggak mau kamu sampai
kenapa-kenapa. Apalagi sampai terganggu dengan masalah yang Mama nggak
bisa hadapi,"
Azka menyandarkan kepalanya dipintu. ia mengangkat sebelah lututnya dan menaruh tangan kanannya.
"Mama janji, setelah
kamu lahir kira pergi jauh dari hidup Papa. Mama tahu Papa nggak pernah
akan berjuang bareng. Mama tahu mungkin Mama nggak bisa ngasih kamu
barang mewah, tapi Mama janji akan penuhi semua kebutuhan kamu. Jagoan
Mama, harus berjuang ya. Demi Mama, meskipun nanti kamu nggak pernah
tahu siapa Papa kamu. setidaknya di dalam perut, kamu sudah merasakan
kehadiran Papa. Mama nggak bisa bertahan, kita punya Om Dimas sayang.
Hanya itu keluarga yang Mama punya. Tempat Mama pulang, mungkin kelak
Mama akan kenalin ke eyang. Tapi Mama nggak janji kenalin ke Papa."
Lama suara itu tak terdengar. Azka diam, tiba-tiba air matanya menetes.
"Saya sudah sejauh
ini mengkhianati kamu, Nagita. Apa yang saya lakukan diluar seolah kamu
rasakan di sini. Saya tahu Nagita, kamu nggak pernah bahagia sama saya.
Tapi jauh dalam hati saya, saya mencintai kamu. kamu nggak pernah tahu
itu, hanya saja entah kenapa terkadang saya goyah, justru saya adalah
orang yang paling jahat menyakiti kamu. kamu harus tahu, saya mencintai
kamu. meski tidak saya ungkapkan. Maaf, saya harus melampiaskan semuanya
pada perempuan lain. Saya memang memiliki perempuan lain, semua
hanyalah pelampiasan. Meski saya mencintai dia, kamu sering mengacaukan
pikiran saya. Saat saya mencari perempuan itu, rasa takut itu selalu
ada, saat saya menjauhi perempuan itu, saya merasa sedang pura-pura
mencintai kamu. karena hati dan pikiran saya tertuju padanya. Jujur,
saya bahagia. Anak kita, bagaimana cara menghadapi dua hati yang harus
saya cintai sekaligus?" gumamnya dalam hati dan terus bersandar di balik pintu. Azka bangun dari tempat duduknya dan berlalu begitu saja.
"Jaga Nagita, Ma!"
"Azka, kamu mau kemana?"
"Pergi, Ma."
"Azka, jangan pernah
kamu temui lagi perempuan itu! Apa nggak cukup kamu bohongi Nagita
kemarin dengan alasan bertemu klien, justru kamu bertemu dengan Deana?
Dia lihat itu Azka. Sekarang apalagi? Belum puas kamu?"
Tubuh Azka membatu. Kini ia sadar bahwa hal yang terjadi pada Nagita adalah semua itu ada sumbernya.
"Ma, Azka mau akhiri semuanya sama Deana. Azka akan akhiri hubungan ini, Ma. Nagita sudah cukup aku buat menderita,"
Novi melihat putra
kesayangannya menangis langsung mengizinkan. Selama ini ia tak pernah
melihat putranya menangis seperti itu. Bahkan saat banyak pikiran Azka
lebih sering pulang dalam keadaan mabuk. Tetapi saat itu, justru Novi
melihat putranya meneteskan air mata dan menyebut nama Nagita dengan
begitu lembut.
******
Azka tiba di apartemen
Deana. Justru saat masuk, ia menemukan perempuan itu tidur bersama pria
lain. Azka selama ini sudah percaya dengan Deana, justru perempuan itu
mengkhianatinya begitu saja.
"Bagus!"
Deana langsung melotot
terkejut melihat Azka yang datang sepagi itu. Dia menutup tubuhnya
dengan selimut sementara pria yang di sana masih tertidur.
"Azka aku bisa jelasin,"
"Bagus, Deana. Perempuan licik kayak kamu nggak seharusnya aku percaya dari awal,"
"Kamu bisa berduaan dengan istri kamu,Azka sedangkan aku? Aku cuman cadangan kamu, apa kamu lupa itu?"
"sadar diri kan? Kalau selama ini kamu hanya pemuas nafsu. Mulai detik ini juga, jangan pernah ganggu hidup aku lagi, Deana!"
"Apa adil buat aku? Kamu
punya istri, justru kamu berduaan sama dia. Sedangkan aku? Aku nggak
boleh dekat dengan pria manapun, kamu egois."
"Nggak harus nyerahin tubuh kamu juga? Berapa banyak yang kamu butuhin uang? Apa kurang dari aku?"
"Azka, aku bisa jelasin. Tolong dengerin,"
"Sebelum kamu ngomong, bersihin sisa sperma yang ada diperutmu itu! Atau memang sebaiknya aku pergi? Kita putus, Deana."
"Nggak, aku nggak terima, Azka."
"Adil kan? Aku sama
istri aku, apa aku pernah membuat kamu sekotor itu? Menjijikkan sekali
saat melihat semua tubuhmu dipenuhi dengan tanda itu. Aku muak, Deana.
Sudah cukup!"
"Azka, berhenti!" teriak Deana.
"Beruntunglah aku selalu
pakai pengaman saat bercinta bukan? Jadi aku tak membuang spermaku pada
perempuan yang salah. Nagita beruntung, tapi aku yang buta cinta.
Selama ini aku nyakitin hati istri aku, itu karena kamu, sialan!"
Azka berbalik dan membanting pintu kamar dan berlalu begitu saja. Dan ia memiliki alasan untuk lepas dari Deana saat itu juga.
Azka menyetir dengan riang saat berhasil melepas cintanya. Ia harus pulang, pada perempuan yang selalu saja sabar menghadapinya.
Ia tiba di rumah dan
langsung berlari menuju kamarnya. Di sana, ia mendapati perempuan yang
ia cari sedang merapikan tempat tidurnya. Azka langsung bersimpuh dan
meminta maaf.
"Maafin, saya. Nagita, saya minta maaf,"
Nagita menundukkan kepalanya melihat suaminya yang memeluk kakinya. Nagita sontak terduduk di ujung ranjang.
"Mas, kamu kenapa?"
"Saya minta maaf. Karena sudah menyakiti perasaan kamu,"
Nagita terdiam, "Ayo bangun, Mas,"
"Saya minta maaf sudah
bermain-main dibelakang kamu. saya akui, saya memiliki perempuan lain.
Saya tidak tahu akan seperti ini rasanya, Nagita. Saya minta maaf,"
Nagita membantu Azka berdiri. "Maafin Nagita juga, Mas. Gita belum bisa, kasih waktu untuk Gita percaya sama, Mas!"
Azka memegang kedua pipi
Nagita dan berusaha mencium perempuan itu. Tapi sayangnya Nagita
mengalihkan pandangannya. Azka mengerti alasan Nagita menolak. Ia pun
mencium kening istrinya. Tak terasa air matanya terjatuh kembali.
Ia memeluk istrinya erat.
"Mas, kamu nangis?"
"Seperti ini sebentar, saja,"
Nagita tak membalas pelukan itu sama sekali.
"Mas, kasihan adek. Jangan erat peluknya!"
"Terbuat dari apa
hatimu? Justru kamu tidak membahas hal yang menyakitkan. Kamu masih bisa
tenang dengan keadaan seperti ini. Terbuat dari apa hatiku? Saat ingin
mencintaimu, justru tergoda dengan perempuan lain. Mengapa hatiku
melihat pada perempuan lain, saat perempuan yang ada didepanku adalah
perempuan yang begitu sempurna di kirim Tuhan untuk melengkapiku.
Mengapa aku baru menyadari semua itu sekarang? Saat kepercayaan padanya
telah hancur. Namun ia masih bersikap baik-baik saja." Gumamnya.
Terkadang banyak
seseorang merasa baik-baik saja meski hatinya begitu dilukai. Memilih
tesenyum menyembunyikan tangis. Memilih membohongi orang lain dan
menyiksa diri agar orang tahu bahwa ia baik-baik saja. Meski baik-baik
saja adalah hal yang pura-pura.
"Mas, temenin renang!"
Azka menangguk.
"Tapi Mas, ikut renang ya!"
Untuk kedua kalinya Azka mengangguk.
"Maaf, kalau Gita belum
bisa percaya sepenuhnya sama Mas. Mas sudah berani bohong. Jadi Gita
harus latih Mas dulu biar nggak bohong,"
"terima kasih."
"Ayo, Mas. Kita harus turun, kita renang. Nggak boleh ada yang nangis lagi."
"Maafkan aku atas
sikapku yang juga harus pura-pura. Lantas bagaimana caraku untuk
menerima semuanya? Aku mempercaimu, kamu khianati. Aku mencintaimu, kamu
hancurkan. Aku sudah sangat yakin denganmu. Kamu buat berantakan.
Terkadang apa yang datang memang tidak selalu menetap. Apa yang dimulai
dengan buruk akan tetap berakhir buruk. Tak akan berakhir dengan
bahagia. Maaf jika perasaanku mulai pudar. Maaf bila perasaan itu tak
dapat bertahan. Aku akan pergi, saat semua kamu anggap baik-baik saja,
aku bersedia terluka. Demi kita yang akan usai, kelak." –Nagita.